Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 19 Mely Si Rempong


"Nona maafkan saya lengah." ucap Orkan menemui Davina setelah dibebaskan oleh pengawal Marvin.


"Tidak apa-apa. Kau baik-baik saja?" tanya Davina menatap Orkan yang tidak mengalami luka sama sekali.


"Saya baik-baik saja Nona." jawab Orkan.


"Bagaimana kau bisa dilumpuhkan oleh mereka?" tanya Davina penasaran.


Menurut Davina, Orkan memiliki kemampuan yang tidak perlu diragukan lagi. Davina heran bagaimana para pengawal Marvin bisa dengan mudah menangkap Orkan. Padahal ayah Davina tidak akan menempatkan seseorang yang lemah untuk menjaga Davina.


"Saya tidak tahu Nona. Saat saya sadar, saya sudah berada didalam ruangan yang gelap." ucap Orkan.


Davina dapat melihat gerak-gerik Orkan yang mencurigakan.


"Kau yakin dengan yang kau katakan?" tanya Davina memberikan tatapan tajam kepada Orkan.


"Iya Nona." jawab Orkan yang nampak menutupi kegugupannya.


"Baiklah. Jangan sampai kau berani bermain denganku." ucap Davina penuh ancaman kemudian meninggalkan Orkan begitu saja.


"Maafkan saya Nona." kata Orkan lirih menatap kepergian Davina.


Sebenarnya pengawal Marvin tidak melakukan penyerangan apapun kepada Orkan. Thomas hanya menemuinya untuk berdiskusi dan mengajaknya bekerjasama. Thomas sudah menceritakan tujuan Marvin ingin bertemu dengan Davina. Awalnya Orkan menolak, namun setelah melapor dan mendapat izin dari Adam barulah Orkan setuju untuk bersandiwara dengan para pengawal Marvin.


Davina bukanlah gadis yang bodoh. Davina merupakan orang yang sangat peka dan teliti dengan hal-hal yang disengaja ataupun tidak. Insting Davina benar-benar tajam dan tidak bisa dimanipulasi. Hanya saja Davina tidak ingin mempermasalahkan ketidakjujuran Orkan hari ini. Davina tahu pasti ada sebuah alasan dibalik tindakan Orkan. Davina masih bisa mentoleransi kalau itu tidak membahayakan bagi dirinya.


"Jika aku terus melakukan perlawanan pasti Marvin akan curiga dan mulai menyelidikiku." gumam Davina.


"Aku tidak boleh lengah dan harus mengikuti permainannya."


"Tapi bagaimana aku memulainya?" tanya Davina dalam hati.


"Haruskah berpura-pura bodoh saat berhadapan dengannya? Tidak mungkin! Aku tidak mau dibodohi orang tua itu."


"Untuk apa aku memikirkannya? Lagipula seorang Marvin pasti hanya ingin bermain-main saja denganku."


Davina yang disibukkan dengan pikiran tentang bagaimana menghadapi Marvin tidak terasa kalau taxi yang ia tumpangi sudah sampai didepan kosnya.


"Nona sudah sampai tujuan." ucap sopir taxi.


"Baik Pak, terimakasih. Kembalian buat bapak saja." kata Davina menyerahkan uang kepada sopir pria paruh baya kemudian segera turun yang langsung disambut oleh Mely.


"Nona darimana saja?" tanya Mely panik.


"Kenapa ponsel Nona tidak aktif?" tanya Mely lagi yang sedari tadi menelpon namun tidak tersambung.


Davina tersenyum tipis kemudian berlalu begitu saja membuat Mely semakin panik.


"Nona tidak apa-apa kan?" tanya Mely memastikan sambil membuntuti Davina yang akan menuju kekamarnya.


"Kau bisa lihat aku baik-baik saja kan?" ucap Davina yang diikuti gerakan mata Mely memeriksa kondisi tubuh majikannya.


"Lalu dimana barang belanjaan Nona? Bukannya tadi Nona bilang ingin belanja?" tanya Mely yang melihat Davina pulang dengan tangan kosong.


"Astaga! Pasti tertinggal diruangan pria mesum tadi!" gumam Davina yang terdengar samar ditelinga Mely.


"Nona bilang apa?" tanya Mely.


"Aku tidak bilang apa-apa." sahut Davina dingin.


Tin Tin


Tiba-tiba terdengar suara klakson dari mobil yang berhenti didepan kos. Mobil yang plat nomornya tidak asing lagi bagi Davina.


Seorang pria berbadan kekar turun dari mobil dengan membawa tas belanjaan milik Davina.


"Permisi Nona, Tuan memintaku mengantarkan barang Nona yang tertinggal." ucap Thomas sopan.


"Bagaimana kau tahu kalau aku disini?" tanya Davina curiga.


"Maaf Nona. Saat saya ingin mengejar, saya melihat Nona sudah menaiki taxi lalu saya mengikutinya." jawab Thomas jujur.


Davina terdiam sejenak kemudian menghela nafas.


"Baiklah. Terimakasih." ucap Davina.


"Oh iya Tuan juga berpesan kalau tidak bisa menemui Nona sampai wajahnya benar-benar pulih. Tapi mohon Nona untuk menerima telponnya jika Tuan menghubungi Nona." kata Thomas sesuai dengan titah majikannya.


"Sampaikan saja pada Tuanmu kalau aku tidak punya waktu untuk meladeninya." ucap Davina ketus.


"Baik akan saya sampaikan. Permisi Nona." pamit Thomas kemudian memberikan senyuman kepada Davina.


"Ternyata jawaban Nona Davina persis seperti yang diprediksi Tuan Marvin. Sepertinya tuan mudaku ini tidak akan mudah untuk menaklukan gadis pujaannya. Semangat Tuan!" batin Thomas terkekeh lalu segera melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah sakit.


"Bukankah itu pengawal Tuan Marvin yang ada dirumah sakit kemarin?" tanya Mely kembali setelah Thomas pergi.


Davina menganggukkan kepalanya kemudian meninggalkan Mely menuju kamarnya.


"Nona tunggu! Apa tadi Nona menjenguk Tuan Marvin?" tanya Mely mencoba mengejar Davina.


"Sejak kapan kau jadi kepo dengan urusan pribadiku?" tanya Davina tanpa menatap Mely.


"Apakah Nona sudah jadian dengan Tuan Marvin? Secepat itu?" tanya Mely yang sudah muncul aura ibu-ibu yang suka menggosip.


PLETAK!


Davina menyentil jidat Mely membuatnya meringis.


"Jangan-jangan benar yang aku katakan?" tanya Mely semakin ingin tahu.


"Jangan kebanyakan menonton drama! Isi otakmu jadi aneh. Sepertinya aku harus mencari pengawal pribadi yang lain." ucap Davina dengan senyum tipis.


"Jangan Nona! Cukup Mely saja yang mendampingi dan menemani Nona. Apa Nona tega meninggalkan aku yang sudah bersama Nona selama ini?" kata Mely penuh drama.


"Jika kau tidak berhenti bicara, aku akan benar-benar menggantimu dengan orang lain." ancam Davina seketika Mely membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


Davina ingin sekali rasanya menertawakan Mely namun ia memilih untuk menahannya. Davina belum puas melihat wajah ketakutan Mely. Davina ingin memberi sedikit hukuman kepada Mely agar pengawal pribadinya itu kembali fokus dengan tugas utamanya.


BRAK!


Davina masuk kekamarnya dan membanting pintu lumayan keras. Sengaja untuk membuat Mely kaget.


"Astaga Nona marah. Mati aku kalau aku benar-benar dipecat." ucap Mely panik.


"Nona maafkan saya. Nona ampuni saya!" teriak Mely dengan suara memelas.


Didalam kamar, Davina sudah yang tidak kuat menahan tawa akhirnya tertawa sepuasnya mengingat wajah Mely yang panik karena ancamannya.


"Mau bermain-main denganku? Kau salah orang, Mely." kata Davina terkekeh puas.


Davina bukanlah orang yang kejam dan seenaknya memecat bawahannya. Davina tidak akan melakukan itu jika bawahannya tidak melakukan kesalahan fatal.


Sifat Davina ini sama seperti Adam, ayahnya. Walaupun Adam punya kekuasaan tinggi dan kekuatan besar namun tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak adil dan melanggar norma. Dunia hitam yang dipimpin Adam bukanlah untuk melakukan perbuatan dan pekerjaan ilegal. Tapi justru untuk memusnahkan kumpulan sindikat-sindikat kriminal yang berbahaya. Untuk itulah banyak pelaku kejahatan yang mulai bersekongkol membentuk kekuatan untuk melawan Carlos. Hal itu merupakan salah satu alasan Adam untuk menyembunyikan Davina. Adam tidak ingin Davina menjadi sasaran pembalasan dendam dari orang-orang yang tidak terima dengannya.


Davina tidak mempermasalahkan keputusan orangtuanya untuk menyembunyikan identitasnya. Bahkan dalam data diri Davina tertulis jika dirinya adalah anak dari panti asuhan tanpa mengetahui siapa orangtuanya. Davina sudah biasa dengan ejekan dari teman-teman bahkan orang lain yang menghinanya karena asal-usulnya tidak jelas. Bagi Davina cemoohan orang-orang tidaklah penting untuknya. Justru Davina merasa beruntung dengan keputusan orangtuanya yang menjadikannya perempuan kuat dan mandiri. Bukan menjadi seorang anak yang hanya mengandalkan perlindungan orangtuanya.


-BERSAMBUNG