Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 78 Keras Kepala


"Rupanya kau sangat peduli dengan suamimu." sapa Anton dengan senyuman aneh.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan Tuan?" tanya Davina datar.


"Tenang saja, jangan terburu-buru. Mari kita bicara baik-baik, Nona Muda Carlos." ucap Anton menyeringai.


Davina menatap Anton dingin, ia sudah menebak kalau pria yang saat ini duduk dihadapannya pasti sudah menyelidiki dan mengetahui identitasnya.


"Benarkan ucapanku? Kau adalah putri Adam Carlos?" tanya Anton.


"Sepertinya Anda sangat tertarik dengan kehidupan pribadiku. Apakah Anda tidak punya pekerjaan?" sindir Davina.


"Haha.. Kau benar-benar mirip dengan ayahmu. Memang darah Carlos tidak perlu diragukan lagi." kekeh Anton.


Davina hanya menatap datar Anton tanpa menanggapi membuat pria itu tersenyum tipis.


"Apakah kau tidak penasaran kenapa aku mengajakmu bertemu?" tanya Anton.


"Tidak usah berbelit-belit. Katakan saja langsung maksud Tuan." jawab Davina malas meladeni.


Anton kembali terkekeh kemudian meminta Robert untuk meninggalkan mereka yang saat ini berada di ruang VIP sebuah restoran mewah.


"Baiklah. Aku hanya ingin mengajukan penawaran denganmu. Kuharap kali ini kau tidak menolakku seperti beberapa waktu yang lalu." ucap Anton.


"Tergantung, apakah itu menguntungkan bagiku atau tidak." sahut Davina santai.


Anton menyeringai, sungguh ia kagum dengan ketenangan gadis muda dihadapannya itu. Andai saja Davina bukan anak dari musuhnya, mungkin ia akan menganggapnya sebagai putrinya sendiri.


"Kau gadis yang pemberani. Sayang sekali kau adalah putri dari Adam Carlos. Maka aku terpaksa harus mengusikmu." ucap Anton lagi.


"Jika Tuan mempunyai masalah dengan orangtuaku, harusnya Tuan menghadapinya secara langsung. Apakah Tuan tidak berani berhadapan dengannya sehingga harus melibatkanku?" cibir Davina membuat Anton terdiam.


"Kau benar. Kekuatanku belum cukup untuk menandingi ayahmu. Maka dari itu aku menemuimu." jawab Anton jujur.


"Dasar pengecut!" umpat Davina.


"Lagi-lagi kau mengolokku, gadis kecil." ucap Anton terkekeh.


"Terserah kalau kau menyebutku pengecut, aku mengakuinya kalau yang kau katakan memang benar." tambah Anton membuat Davina memandangnya aneh.


"Kalau kau begitu peduli dengan suamimu, kau harus membujuk ayahmu untuk memberiku satu markas miliknya beserta anak buahnya." ucap Anton tanpa rasa malu.


"Kalau aku tidak mau?" tanya Davina.


"Maka jangan salahkan aku menyakiti suamimu." jawab Anton menyeringai.


"Apakah Tuan berpikir aku sebodoh itu? Atau Tuan meremehkan kekuatan suamiku?" tanya Davina memancing gelak tawa Anton.


"Bukankah sudah dua kali aku hampir mengambil nyawanya, kau tidak mungkin tidak ingat kan?" kata Anton mengingatkan.


"Iya, aku ingat. Dan dua kali juga Tuan gagal." sahut Davina lagi-lagi membuat senyum Anton mengembang.


"Aku hanya memberikan peringatan kecil untuknya. Lagipula dua kali itu kau yang menyelamatkannya bukan? Bagaimana jika tidak ada kau? Bukankah kau sudah akan mendengar berita duka dari keluarga Harris?" ucap Anton kali ini membuat Davina terdiam.


"Sepertinya kau benar-benar mencintai suamimu." kata Anton.


Davina mendongakkan wajahnya mencoba mencerna perkataan Anton.


"Cinta? Apakah benar aku sudah jatuh cinta padanya?" gumam Davina dalam hati.


"Apakah kau sedang mempertanyakannya didalam hatimu? Rupanya anak dari Carlos belum bisa mengartikan perasaannya sendiri." kata Anton membuat Davina mengerutkan keningnya.


"Kenapa pria tua ini bisa menebak isi hatiku? Aku harus lebih waspada lagi." batin Davina.


"Jika Tuan mempunyai permasalahan dengan ayahku, lebih baik Tuan menyelesaikannya sendiri." ucap Davina.


"Aku tidak ingin terlibat dengan masa lalu Tuan dan ayahku." tambah Davina lagi.


"Bagaimana kalau keselamatan suamimu?" tanya Anton.


"Maka aku pastikan Tuan tidak akan bisa menyakitinya sedikitpun." jawab Davina dengan tatapan tajam.


"Ckck.. Rupanya pria Harris begitu lemah sampai-sampai membutuhkan perlindungan seorang wanita." ucap Anton mencemooh.


"Wanita bisa seribu kali lebih tangguh dari yang Anda pikirkan, Tuan." sahut Davina.


"Sepertinya tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan lagi. Permisi." pamit Davina begitu saja meninggalkan Anton.


"Benar-benar gadis istimewa. Lihatlah Riana, dia mirip sekali denganmu." gumam Anton tersenyum tipis.


BRUK!


"Aaawww....!" ringis Davina saat tanpa sengaja


 menabrak seseorang.


"Kenapa kau disini?" tanya seorang pria yang suaranya sudah familiar ditelinganya.


Davina juga bisa mencium aroma khas pria itu.


"Hai, Mas..." sapa Davina kikuk sambil mengelus dahinya yang terasa sakit karena terbentur dada kekar suaminya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Bukankah kau bilang hari ini ada kuliah? Kenapa malah berada disini?" tanya Marvin menatap Davina penuh selidik.


"A-anu... Ayo kita makan dulu, Mas. Aku lapar." ajak Davina mencoba mengalihkan pembicaraan.


Marvin bisa menilai kalau istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Tadi ia juga melihat Robert yang berjaga di depan pintu ruangan dimana Davina baru saja keluar.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Marvin lagi dengan nada meninggi.


Davina menatap wajah Marvin yang terlihat emosi, ia tahu kalau pria itu marah. Terlebih dirinya sudah membohongi suaminya sendiri.


"Aku akan menceritakannya, tapi kita cari tempat dulu ya?" bujuk Davina tak ingin suaminya itu semakin meledak.


"Mas.. Jangan marah, oke? Ayo makan dulu, aku benar-benar lapar." rayu Davina dengan wajah memelas.


Marvin menghela nafas. Sebenarnya ia kecewa karena istrinya sudah berbohong padanya. Namun melihat wajah imut Davina membuatnya tak tega untuk meluapkan emosinya dan mau tidak mau Marvin harus menuruti keinginan istri tercintanya itu.


"Baiklah." ucap Marvin membuat Davina lega.


Davina merangkul lengan suaminya dengan antusias lalu memesan sebuah ruang VIP masih di restoran yang sama.


Setelah memesan makanan dan pelayan meninggalkan mereka, Davina bisa merasakan hawa dingin didalam ruangan. Tatapan Marvin yang menunggu penjelasannya membuat Davina bergidik ngeri.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku akan menceritakan yang sebenarnya." ucap Davina tak berani memandang wajah suaminya.


Marvin menghembuskan nafas kasar kemudian membelai lembut rambut panjang istrinya.


"Katakan." kata Marvin.


Davina mengatur nafasnya, ia juga sudah mempersiapkan telinganya untuk mendengar omelan Marvin.


"Tadi aku bertemu dengan Anton." ucap Davina seketika Marvin membulatkan matanya.


"Kenapa kau bertemu dengannya lagi? Ada urusan apa? Sepertinya kau senang sekali membahayakan diri." tanya Marvin tersulut emosi.


"Gawat! Sepertinya dia benar-benar marah. Bagaimana ini?" batin Davina panik.


"A-aku..."


"Sudah kubilang jangan ikut campur urusanku. Kenapa kau keras kepala sekali?" kata Marvin kali ini membuat Davina terhenyak kaget.


Davina tahu Marvin pasti akan marah namun tidak menyangka jika Marvin akan berkata seperti itu padanya.


"Kau bilang aku keras kepala?" tanya Davina.


"Iya, kalau bukan keras kepala lalu apa? Bukankah benar yang kukatakan?" sahut Marvin kali ini membuat Davina ikut emosi.


"Apakah menemui orang yang ingin mencelakai suamiku itu kau sebut keras kepala? Apakah aku tidak boleh mengkhawatirkanmu?" tanya Davina kali ini membuat Marvin tertegun.


"Apakah kau akan membiarkan orang yang kau sayangi dalam bahaya? Apa kau tidak ingin melindunginya?" tanya Davina lagi-lagi membuat Marvin kembali tertegun.


"Kenapa kau diam? Jawab aku! Apakah melindungi orang yang kita sayangi itu disebut keras kepala?" tanya Davina semakin tak kuasa menahan emosinya.


Marvin berdiri dari duduknya lalu berjongkok disamping kursi istrinya dan menarik tubuh Davina kedalam pelukannya.


"Lepaskan aku! Jawab dulu pertanyaanku!" berontak Davina.


"Ssttt.. Tenanglah sayang, biarkan aku memelukmu." ucap Marvin lirih namun tak menghentikan upaya Davina untuk melepaskan diri.


Dengan cepat Marvin menarik wajah istrinya lalu ******* bibir ranum Davina.


"Emmh...emmhh..."


Davina mencoba melepaskan diri namun gagal. Serangan Marvin begitu kuat yang akhirnya membuatnya pasrah mengikuti permainan suaminya. Marvin tersenyum tipis saat Davina tidak lagi memberontak dan membuatnya memagut bibir istrinya semakin ganas.


-BERSAMBUNG