Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 73 Hati-Hati


"Tuan, dugaan Anda benar. Kami baru saja melacak bahwa Tuan Carlos berkunjung ke kota A dan menemui Tuan Marvin." ucap Robert memberitahu.


Anton mengepalkan tangan dan memukulkan ke pahanya dengan menghembuskan nafas kasar.


"Apa kau sudah benar-benar memastikannya?" tanya Anton.


"Sudah Tuan." sahut Robert yakin.


"Sayang sekali gadis kecil. Ternyata kau berhubungan dengan orang yang paling kubenci." gumam Anton.


"Sepertinya Nona Davina memang keturunan Tuan Carlos." tebak Robert.


"Ya aku tahu. Kau pergilah." ucap Anton.


"Bagaimana dengan rencananya, Tuan?" tanya Robert memastikan.


"Aku akan memikirkannya lagi." sahut Anton.


"Baik Tuan." sahut Robert setelah itu undur diri.


"Padahal aku sangat tertarik padamu. Pantas saja sifatmu begitu mirip dengannya." gumam Anton.


"Haaah... Awalnya aku tidak ingin menyakitimu, tapi sekarang aku tahu kau adalah anak dari musuhku." ucap Anton dengan memejamkan matanya.


...****************...


"Apakah suasana hatimu sudah lebih baik?" tanya Marvin.


"Iya. Moodku sudah kembali dan sangat-sangat baik." jawab Davina dengan senyum manis.


Davina menerima uluran tangan Marvin yang sudah turun dari kuda lebih dulu.


"Baguslah. Aku senang mendengarnya." sahut Marvin puas.


"Terimakasih Mas." ucap Davina.


"Sepertinya tidak cukup hanya dengan ucapan terimakasih." kata Marvin membuat Davina mengerutkan dahinya.


"Lalu?" tanya Davina curiga.


"Sepertinya kau harus memberiku hadiah." jawab Marvin menyeringai.


"Apakah kau ingin mengambil keuntungan dariku?" tanya Davina tak terima.


"Bukan mengambil keuntungan. Hanya mendapatkan imbalan saja." jawab Marvin santai.


"Jadi kau tidak ikhlas mengajakku kesini? Tak kusangka ternyata Tuan Muda Harris sangat-sangat perhitungan ya." cibir Davina.


"Bukan begitu maksudku. Aku hanya..."


CUP!


"Terimakasih, Mas." ucap Davina dengan mengecup pipi Marvin lembut setelah itu berlari karena malu.


"Wow.. Kelinciku sudah mulai berani." gumam Marvin senang lalu bergegas mengejar istrinya.


"Apa yang kulakukan? Benar-benar memalukan." batin Davina yang merutuki sikap bodohnya.


"Kenapa sekarang aku begitu mudah tergoda dengan pesonanya? Sepertinya aku sudah gila." gumam Davina yang terus berlari menjauhi Marvin.


GREP!


"Aaa.. Lepaskan!" teriak Davina kaget saat tangan kekar memeluk tubuhnya dari belakang.


"Kau tidak bisa kabur lagi, istriku. Apakah kau tidak mau bertanggungjawab?" ucap Marvin tepat ditelinga Davina.


"Tanggungjawab apa? Bukannya aku hanya mencium pipimu sekilas?" tanya Davina panik.


"Jadi kau mengakui kalau sudah menciumku? Lalu kenapa kau malah lari setelah melakukan itu?" tanya Marvin dengan nada menggoda.


"I-itu.. Lepaskan aku, Mas." pinta Davina gugup.


Marvin terkekeh, ia bisa melihat telinga Davina mulai memerah. Marvin tak menyangka jika istrinya yang biasanya bersikap sangat liar ternyata benar-benar gadis pemalu.


"Kenapa? Memangnya tidak boleh memeluk istriku sendiri? Lagipula kau tadi sudah menciumku, sekarang giliran aku memelukmu." ucap Marvin.


"Cih! Kau benar-benar perhitungan sekali." cibir Davina.


"Itu bukan perhitungan, Sayangku. Tapi impas." sahut Marvin dengan tawa kecil.


"Huh.. Pria aneh." umpat Davina dalam hati.


Marvin tersenyum puas saat Davina tak lagi memberontak ingin melepaskan diri. Meskipun Marvin belum bisa memastikan bagaimana perasaan Davina yang sebenarnya namun sikap istrinya yang tak lagi menolaknya sudah membuatnya cukup puas.


"Sudah belum?" tanya Davina.


"Sebentar lagi ya." pinta Marvin.


"Apakah tidak lebih baik begini?" tanya Davina setelah itu memeluk Marvin.


Marvin tercengang dengan tingkah Davina.


"Apakah istriku sudah mulai menerimaku secara terang-terangan?" tanya Marvin.


"Kau bisa menganggapnya begitu." jawab Davina yang menyembunyikan wajahnya didada bidang Marvin.


Marvin tersenyum senang dan mendekap Davina lebih erat dari sebelumnya.


"Terimakasih Sayang. I love you." ucap Marvin bersemangat.


"Iya, Mas." sahut Davina.


Marvin tak mempermasalahkan Davina yang belum mau membalas pernyataaan cintanya. Dengan penerimaan Davina sudah membuat Marvin cukup puas. Marvin merasa bahwa perjuangannya sebentar lagi akan segera membuahkan hasil.


"Sepertinya Tuan Muda benar-benar menyayangi istrinya." gumam Frans yang sedari tadi memerhatikan interaksi kedua sejoli itu.


"Aku berharap Tuan dan Nona selalu bahagia dan segera melahirkan keponakan untukku." batin Frans penuh harap.


Hari sudah mulai gelap, Marvin dan Davina memutuskan untuk segera kembali ke mansion. Namun sebelum itu, mereka mampir ke sebuah rumah makan untuk mengisi perutnya. Ya, selera makan Davina sudah kembali setelah lelah bermain bersama Marvin.


Drt Drt


Sebuah pesan masuk diponsel Davina dari nomor tak dikenal.


Davina mengerutkan keningnya saat membaca isi pesan teks itu.


"Jika kau tidak ingin terjadi sesuatu dengan suamimu. Lusa temui aku di lokasi S. Sampai jumpa gadis kecil."


Tanpa menyebutkan nama, Davina sudah bisa menebak siapa yang mengirim pesan itu.


"Sepertinya pria tua itu mulai beraksi." batin Davina.


"Ada apa, Sayang?" tanya Marvin menyadari perubahan ekspresi setelah istrinya membuka ponsel.


"Tidak apa-apa." jawab Davina segera menghapus pesan itu karena tidak ingin Marvin mengetahuinya.


"Lebih baik aku tidak memberitahu Marvin. Aku akan menemui pria itu sendiri dan membongkar apa rencananya." batin Davina penuh tekad.


Marvin tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Davina. Namun karena Davina tidak ingin memberitahunya maka Marvin tidak mau memaksa.


"Apakah Nenek baik-baik saja dirumah sendirian?" tanya Davina mengingat Julia.


"Nenek tidak sendirian. Ada Mira yang menemaninya." jawab Marvin.


"Aku tahu itu. Maksudku Nenek selalu kau tinggal ke karena pekerjaan, apakah Nenek tidak merasa kesepian? Terlebih hanya tinggal kau satu-satunya anggota keluarganya." kata Davina merasa sedih.


"Nenek baik-baik saja. Aku sibuk demi mempertahankan kejayaan keluarga Harris. Kau tidak perlu khawatir tentang Nenek." ucap Marvin santai.


"Em.. Bagaimana kalau besok aku mengajak Nenek jalan-jalan? Kebetulan aku tidak ada kuliah." tanya Davina meminta persetujuan suaminya.


"Boleh juga. Nenek pasti akan sangat senang mendengarnya. Terkadang aku juga merasa kasihan terhadap Nenek karena aku tidak punya banyak waktu untuk menemaninya." jawab Marvin.


"Baiklah. Aku mengajak Mely juga boleh kan?" tanya Davina lagi.


"Boleh. Asalkan Orkan tidak ikut." ucap Marvin teringat keberadaan pengawal pribadi istrinya.


Entah kenapa sejak mengetahui pertemuan Davina dan Orkan ditaman membuat Marvin tak suka jika pria itu berdekatan dengan istrinya.


"Lalu siapa yang akan menjadi sopirku besok?" tanya Davina.


"Aku akan meminta Thomas bersama kalian. Aku lebih percaya dengannya." jawab Marvin.


Davina mengerutkan keningnya kemudian terkekeh mengingat kecemburuan Marvin terhadap Orkan beberapa hari yang lalu.


"Astaga suamiku ini ternyata sangat menggemaskan kalau sedang cemburu." batin Davina.


"Oke, aku setuju." sahut Davina membuat Marvin puas.


"Aku juga akan meminta beberapa pengawal untuk mendampingi kalian." ucap Marvin.


"Tidak perlu seketat itu kan? Aku hanya ingin jalan-jalan bersama Nenek dan Mely." protes Davina.


"Aku tidak ingin musuh memiliki celah sedikitpun. Aku pasti akan sangat terluka kalau kalian celaka karena ketidakwaspadaanku. Aku mohon mengertilah, istriku." pinta Marvin sendu.


Davina tertegun, ia tahu Marvin sangat mengkhawatirkannya sejak bertemu dengan Anton. Terlebih lagi Adam juga memberi perintah kepada Marvin untuk melindungi dirinya.


"Baiklah. Tapi jangan menarik perhatian. Mereka cukup melindungi kami dari kejauhan." ucap Davina.


"Hem.. Baiklah." sahut Marvin setuju.


-BERSAMBUNG