Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 105 Bagaikan Perangko


"Maaf Nenek melakukannya tanpa meminta persetujuanmu lebih dulu." ucap Julia yang kini berada didalam mobil yang sama dengan Davina, Marvin dan Johan sebagai sopirnya.


"Tidak apa-apa, Nek." sahut Davina ramah.


"Setelah ini apa rencanamu selanjutnya? Jika kau ingin bekerja kau bisa bekerja bersama suamimu." kata Julia.


"Dalam waktu dekat ini Vina mau pulang ke kota K dulu, Nek. Vina merindukan Ayah dan Ibu." jawab Davina.


"Ah kau benar. Marvin temanilah istrimu untuk bertemu orangtuanya." ucap Julia tiba-tiba nadanya menjadi sendu.


Davina menatap Marvin yang hanya menghendikkan bahunya.


"Kalau Nenek tidak keberatan, Nenek bisa ikut bersama kami." ajak Davina.


"Benarkah?" tanya Julia bersemangat.


"Tentu saja. Ibu pasti akan sangat senang dengan kedatangan Nenek." ucap Davina dengan senyum manisnya.


"Baiklah. Kapan kita berangkat?" tanya Julia.


"Lusa, Nek. Aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan lebih dulu." jawab Marvin kali ini ikut bicara.


"Oke, Nenek akan bersiap-siap." sahut Julia bersemangat.


Davina dan Marvin saling bertatapan lalu tersenyum.


Sebelum kembali ke mansion, mereka menyempatkan untuk makan siang terlebih dahulu disebuah restoran yang merupakan milik keluarga Harris. Kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh para karyawan di restoran itu.


"Nanti malam tidak ada acara kan?" tanya Davina tiba-tiba.


"Ada apa? Kau punya janji dengan siapa?" tanya Marvin penuh selidik.


"Emm.. Luna mengajakku makan malam." jawab Davina membaca pesan teks yang baru saja dikirimkan oleh Luna.


"Tidak boleh." sahut Marvin ketus.


"Astaga. Kali ini saja. Lagipula setelah ini kita akan ke kota K." ucap Davina.


"Baiklah. Tapi aku yang mengantarmu." kata Marvin.


"Oke, deal." sahut Davina setuju.


"Nak, besok temani Nenek berbelanja untuk membelikan oleh-oleh untuk orangtuamu ya." sela Julia.


"Baik, Nek." sahut Davina.


Setelah makan siang berakhir, mereka kembali ke mansion dan menuju kamar masing-masing.


"Apa kau lelah, Sayang?" tanya Marvin melepas jasnya.


"Lumayan." jawab Davina tak acuh.


"Bagaimana kalau kita berolahraga sebentar?" ajak Marvin dengan senyum menyeringai.


"Olahraga?" tanya Davina kebingungan.


"Iya, misalnya seperti ini." jawab Marvin yang tiba-tiba mendekat.


"Hentikan, Mas. Badanku lengket semua, aku mau mandi." berontak Davina yang paham dengan maksud suaminya.


"Kita bisa mandi bersama." ajak Marvin dengan ekspresi nakalnya.


"Tidak mau." tolak Davina lagi.


"Ayolah, kau tidak boleh menolak kali ini." ucap Marvin yang langsung mengangkat tubuh istrinya.


"Mas, turunkan aku!" teriak Davina namun tak digubris oleh Marvin.


Marvin membawa Davina kedalam kamar mandi dan menurunkannya di bathup. Davina memanyunkan bibir karena kesal dengan tingkah suaminya.


"Jangan cemberut seperti itu. Kau membuatku ingin menciummu." goda Marvin.


"Cih! Dasar menyebalkan." omel Davina.


Marvin terkekeh kemudian mulai melepas pakaiannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Davina kaget.


"Tadi sudah kubilang mandi bersama kan? Kau ingin aku membantu melepas pakaianmu juga?" tanya Marvin.


"Dasar tidak tahu malu!" umpat Davina kesal.


"Tapi kalau istriku ingin lebih, aku juga siap." bisik Marvin seketika membuat tubuh Davina meremang.


"Sial! Pria ini benar-benar menggodaku." batin Davina segera memalingkan wajahnya.


Siang itu adegan mandi bersama pun selesai. Tentu saja tidak hanya sekedar mandi.


"Marvin sialan! Buas sekali sampai membuatku kehabisan tenaga." umpat Davina.


"Apakah kau lelah, Sayangku?" tanya Marvin.


"Masih saja bertanya." jawab Davina ketus.


Marvin terkekeh kemudian menarik tubuh Davina kedalam pelukannya.


"Istirahatlah, istriku. Aku mencintaimu." ucap Marvin lembut lalu mengecup kening istrinya.


"Hem.." sahut Davina yang kini tubuhnya terasa sangat lemah karena ulah Marvin.


Tak berselang lama kedua sejoli itu pun tertidur.


...****************...


"Tentu saja, putri kita akan pulang esok lusa." jawab Sera bahagia.


"Kita sudah melewatkan wisuda putri kita, aku merasa sedih akan hal itu." ucap Sera.


"Itu juga permintaan putrimu sendiri kan? Sepertinya kita harus menyiapkan pesta penyambutan untuk putri kita." kata Adam.


"Aku setuju." sahut Sera sepakat dengan ide suaminya.


"Aku akan meminta Darwin menyiapkan semuanya. Kita harus menyiapkan pesta meriah." ucap Adam bertekad.


"Apakah tidak apa-apa? Bagaimana kalau Vina tidak setuju?" tanya Sera khawatir.


"Tenang saja, istriku. Aku sudah memastikan semuanya aman. Aku sudah tidak sabar untuk mengumumkan putriku pada dunia." jawab Adam antusias.


"Aku hanya takut putri kita belum siap menerimanya." ucap Sera lirih.


"Aku mengerti perasaanmu, Sayang. Tapi mau sekarang atau nanti tidak bisa merubah identitasnya sebagai keturunan Carlos bukan? Cepat atau lambat semua orang juga akan mengetahuinya." kata Adam menjelaskan.


Sera menganggukkan kepalanya lalu menghela nafas.


"Aku hanya ingin putriku hidup bahagia." harap Sera.


"Kau harus tahu putrimu itu sangat bisa diandalkan. Terlebih sekarang ada Marvin disisinya. Kita memang harus tetap waspada tapi jangan terlalu khawatir." ucap Adam.


"Ayah benar. Ah, aku jadi tidak sabar ingin menggendong cucu." kata Sera.


"Aku juga begitu, Sayang." sahut Adam.


...****************...


Saat ini Davina, Marvin, Luna dan Johan sudah berada disebuah resto untuk makan malam.


"Aku pikir kita hanya akan makan berdua. Tatapan mata suamimu benar-benar menakutkan." bisik Luna hati-hati.


Davina terkekeh pelan kemudian memberikan tatapan tajam kepada Marvin.


"Oh iya, kau ingin bekerja di HF Company kan?" tanya Davina.


Luna melirik sekilas kemudian menganggukkan kepalanya.


"Mas, kau bisa membantu temanku ini kan?" tanya Davina kepada Marvin.


"Itu tergantung kemampuannya sendiri." jawab Marvin dingin.


Davina hanya menghela nafas lalu melirik kearah Luna yang menundukkan wajahnya.


"Kau itu bisa tidak memasang ekspresi yang bersahabat? Lihat temanku ketakutan." bisik Davina.


"Bukan urusanku." sahut Marvin ketus.


"Astaga, kau ini benar-benar." gerutu Davina kesal.


"Kau sudah menyiapkan semuanya, Lun?" tanya Davina.


"I-iya, Vina." jawab Luna terbata.


"Santai saja, suamiku memang begitu tampangnya. Kau tidak perlu takut." ucap Davina.


Luna menatap Davina lalu menganggukkan kepalanya.


Makan malam berlalu dalam waktu singkat karena ulah Marvin yang selalu menempel pada Davina.


"Kau tunggu di mobil dulu. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Luna." ucap Davina.


"10 menit." sahut Marvin membuat Davina mendengus kesal.


"Sepertinya Tuan Marvin sangat mencintaimu. Dia tidak bisa jauh-jauh darimu." ucap Luna memperhatikan.


"Iya, terkadang sampai membuatku tidak bebas." sahut Davina kesal.


"Aku masih sangat penasaran bagaimana kalian bisa menikah? Aku masih ingat kalau kau tidak begitu tertarik padanya." tanya Luna penasaran.


"Ceritanya panjang. Aku juga tidak tahu kenapa menerimanya." jawab Davina.


"Tapi kalian pasangan yang cocok. Kau cantik, Tuan Marvin juga tampan meskipun agak menakutkan sih. Ah aku jadi iri, kapan aku bertemu dengan pangeranku?" curhat Luna memancing tawa kecil Davina.


"Kalau sudah bertemu jodohnya." jawab Davina membuat Luna mengerucutkan bibirnya.


"Tapi kau benar-benar sudah jatuh cinta pada pria itu?" tanya Luna lagi.


"Mungkin." jawab Davina asal.


"Kalian juga sudah melakukan itu kan?" tanya Luna seketika membuat wajah Davina memerah.


Luna terkekeh melihat Davina yang menyembunyikan wajahnya.


"Aku tidak menyangka kalau temanku yang sangat galak ini bisa malu-malu juga." ledek Luna terkekeh.


"Syukurlah, aku harap kalian bahagia. Meskipun aku masih sedikit kecewa karena kau menyembunyikannya dariku. Aku merasa bukanlah teman yang baik untukmu." kata Luna.


"Maaf, Lun. Ada banyak hal yang memang tidak bisa kuceritakan padamu." sahut Davina tak enak hati.


"Apakah masih ada banyak rahasia yang kau sembunyikan dariku?" tanya Luna yang dijawab anggukkan kepala Davina.


"Aku tahu pasti ada alasan dibaliknya, kan? Tidak masalah, asal kita masih bisa berteman baik." kata Luna.


"Terimakasih, Lun." sahut Davina dengan senyum manisnya.


-BERSAMBUNG