
Drt Drt
Ponsel Davina tiba-tiba bergetar. Dengan cepat ia melihat ponselnya yang terdapat nama Luna sedang menelponnya.
"Apakah itu suamimu?" tanya Anton.
"Bukan urusan Anda." jawab Davina ketus.
"Hei, bersikaplah sopan kepadaku anak muda." ucap Anton.
"Ingin bertemu saya dengan cara seperti ini apakah itu yang Anda maksud dengan kesopanan Tuan?" sindir Davina.
Anton semakin tertarik dengan gadis muda yang ada dihadapannya. Keberanian gadis itu benar-benar membuatnya kagum.
"Aku bisa membuatmu menghilang malam ini dan tak bisa bertemu dengan suamimu lagi. Jadi maukah kau bekerja sama denganku?" tanya Anton mencoba memberikan penawaran lagi.
"Jawabanku tetap sama Tuan. Itu bukan urusanku. Sebaiknya Anda bicara saja dengan suamiku dan mencoba membujuknya sendiri." jawab Davina tak peduli dengan Anton yang semakin geram.
"Kau tidak takut kehilangan nyawamu?" tanya Anton penuh ancaman.
"Untuk apa aku takut? Justru Tuan yang harusnya takut nanti menyesal karena sudah melenyapkan gadis yang tak bersalah." jawab Davina santai.
Para bawahan Anton yang ada diruangan itu ingin sekali bertepuk tangan dengan keberanian Davina. Baru kali ini ada yang berani membantah setiap ucapan Antonius Millano tanpa gentar sedikitpun.
"Kau benar. Aku tidak akan tega menyakiti orang yang tak bersalah." ucap Anton.
Meskipun Anton terkenal kejam namun dia tidak pernah menyakiti seseorang tanpa alasan. Niatnya mencelakai Marvin juga karena pria itu selalu menolak tawaran yang ia berikan. Padahal Anton sangat membutuhkan partner yang seimbang dan itu ia dapati pada seorang Marvin Harris. Semua itu ia lakukan agar mendapatkan dukungan kekuatan untuk melawan Adam Carlos, lawan yang selalu ia incar selama ini.
"Pulanglah, Nak. Kali ini aku akan melepaskanmu." kata Anton meminta dua bawahan yang tadi membawa Davina, mengantarkan gadis itu kembali.
"Robert kau lihat kan keberanian gadis itu?" tanya Anton kepada orang kepercayaannya.
"Iya Tuan." jawab Robert yang sedari tadi terkejut karena ada orang yang berani melawan Tuannya, terlebih orang itu adalah seorang gadis muda.
"Aku jadi penasaran siapa dia sebenarnya. Identitasnya tidak bisa kita akses, aku yakin dia pasti bukan orang biasa." ucap Anton mengingat ketenangan dan keberanian dimata Davina saat berbicara dengannya.
Bahkan Anton bisa melihat tidak ada sedikitpun ketakutan yang terlintas dimata gadis itu saat dirinya mengancam nyawanya.
"Saya akan coba menyelidikinya lagi Tuan." sahut Robert.
Sebenarnya Robert sudah berkali-kali mencoba untuk mencari tahu identitas Davina namun hasilnya selalu nihil meskipun ada banyak hacker handal yang bekerja di keluarga Millano. Semua akses tentang informasi pribadi Davina tertutup saat ia ingin menyelidiki gadis itu. Tebakan Robert juga sama dengan Anton bahwa Davina bukanlah gadis biasa. Pasti ada kekuatan hebat yang melindungi gadis itu.
...****************...
"Kau darimana saja sih, Vin? Aku sudah menunggumu sampai jamuran." tanya Luna menggerutu.
"Maaf.. Tiba-tiba aku ada urusan mendadak." jawab Davina santai.
"Hah.. Aku pikir kau lupa. Kau juga tidak mengangkat telponku." ucap Luna kesal.
"Aku tidak sempat memegang ponsel." kata Davina berbohong.
"Kali ini aku yang mentraktirmu sebagai rasa bersalahku karena sudah membuatmu lama menunggu. Kau bebas pesan apa saja." ucap Davina mencoba mengalihkan pembicaraan agar Luna tidak bertanya macam-macam lagi.
"Ah kau memang sahabatku yang paling pengertian." kata Luna yang moodnya langsung kembali dengan cepat.
Davina terkekeh melihat emosi temannya itu yang sangat mudah dibujuk. Apalagi kalau soal traktiran pasti Luna tidak akan bisa marah padanya.
"Bagaimana kehidupan rumah tanggamu, Vin?" tanya Luna.
"Haha kau ini. Apa salahnya kalau aku ingin tahu bagaimana kehidupanmu yang sudah menikah. Apa si Tuan Harris benar-benar memperlakukanmu dengan baik? Aku dengar ada rumor kalau seorang Marvin tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Bahkan semua wanita yang awalnya memujanya akan mundur saat tahu sifat asli pria itu." kata Luna.
"Aku tidak tahu kalau image suamiku ternyata seburuk itu." batin Davina kemudian terkekeh.
"Kenapa kau malah tertawa? Aku serius dengan apa yang kukatakan." tanya Luna heran.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Kehidupan kami sangat baik. Lain kali jangan mendengarkan rumor-rumor yang hanya akan meracuni otakmu. Aku tidak ingin memiliki teman yang tidak waras." ucap Davina kemudian tertawa saat melihat Luna yang sedang kesal.
"Aku itu peduli padamu tapi kau malah mengataiku. Kau benar-benar kejam, Vina!" protes Luna tak terima.
"Hahaha aku hanya bercanda, Lun. Sudahlah jangan dibahas lagi. Sekarang aku ingin lihat bagaimana kau menghabiskan semua makanan ini." ucap Davina yang melihat meja dipenuhi dengan pesanan.
"Kau tenang saja. Lambungku sangat fleksibel, dia pasti bisa menampung semua ini." sahut Luna percaya diri.
"Oh oke. Aku mau melihatnya." tantang Davina membuat Luna memanyunkan bibirnya.
Tanpa pikir panjang Luna langsung menyantap hidangan yang ada dihadapannya untuk membuktikan perkataannya pada Davina. Namun baru piring ketiga, perut Luna sudah terasa sangat penuh. Davina tertawa kecil saat melihat Luna sudah mulai kesusahan menelan.
"Sudah. Jangan dipaksakan. Aku tidak ingin kau mati kekenyangan." ucap Davina membuat Luna kembali tak terima.
"Aku akan membuktikan padamu kalau aku sanggup menghabiskan semua ini." kata Luna tak begitu jelas karena mulutnya penuh dengan makanan.
Davina bisa menangkap maksud perkataan Luna dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terserah kau saja." sahut Davina kemudian menyantap camilan yang ia pesan dan juga meneguk minumannya.
Luna kembali memasukkan makanan ke mulutnya dengan susah payah. Sampai piring yang ke 7, Luna pun mengangkat tangannya tanda menyerah. Masih tersisa dua piring namun perut dan mulut gadis itu sudah tidak mampu menampungnya lagi.
"Dasar keras kepala." ucap Davina kemudian menyerahkan segelas minuman kepada Luna.
Dengan cepat Luna meneguk habis dan bersendawa dengan keras membuat para pengunjung kafe yang memdengarnya menatap tajam kepadanya.
"Ups.. Maaf kelepasan." kata Luna segera menutup mulutnya kemudian tersenyum kikuk.
Davina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan konyol Luna.
"Jangan memaksakan dirimu lagi." ucap Davina.
Luna mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Davina sambil mengelus-elus perutnya yang kekenyangan.
"Jangan menyiksa dirimu." kata Davina lagi.
"Aku tidak menyiksa diri. Aku hanya ingin membuktikan kalau kau tidak boleh meremehkanku." sahut Luna.
"Sejak kapan aku meremehkanmu, Luna?" tanya Davina heran.
"Kau memang tidak meremehkanku, Vina. Tapi sudah selama ini kita berteman, kau masih menjaga jarak denganku. Bahkan kau tidak dengan terbuka menceritakan apapun tentangmu tidak seperti aku yang selalu berkeluh kesah padamu." jawab Luna membuat Davina tertegun.
"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku." kata Luna lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Davina heran.
"Tentang identitasmu." jawab Luna.
...****************...
-BERSAMBUNG