
"Dia memelukku sangat erat. Aku tidak bisa bergerak semalaman." gumam Davina yang sudah bangun lebih dulu.
Davina berniat bangun pagi menyiapkan sarapan untuk Marvin. Setelah mandi, ia pun bergegas menuju ke dapur.
"Pagi Nona, ada yang bisa saya bantu?" sapa Mira yang sudah sibuk didapur.
"Emm.. Aku mau menyiapkan sarapan untuk Marvin. Kira-kira apa makanan yang disukainya?" tanya Davina malu-malu.
Mira tersenyum tipis melihat tingkah lucu istri dari majikannya.
"Tuan tidak pernah pilih-pilih makanan, Nona. Tapi untuk sarapan biasanya Tuan hanya makan karbohidrat ringan." jawab Mira menjelaskan.
"Nona bisa membuat sandwich, roti panggang, kentang goreng atau semacamnya." tambah Mira lagi yang diangguki kepala Davina.
"Baik. Terimakasih Mira." ucap Davina lembut.
"Sama-sama Nona. Biar saya membantu Nona." sahut Mira antusias.
"Baiklah." kata Davina.
Kurang lebih 30 menit Davina berkutik didapur. Mira membantunya untuk menyajikan omelete dan sosis panggang, serta smoothie goji berry.
Setelah siap, Davina bergegas kembali ke kamar untuk membangunkan Marvin.
"Selamat pagi, Nek." sapa Davina saat bertemu Julia dikoridor rumah.
"Pagi, Sayang. Pagi sekali, sudah sarapan?" tanya Julia.
"Iya sebentar lagi, Nek. Mau membangunkan Marvin dulu." jawab Davina kikuk.
"Oh, baguslah. Cepat bangunkan anak itu, kita makan pagi bersama." ajak Julia.
"Baik, Nek." sahut Davina kemudian bergegas menuju kamarnya.
"Apa yang dia lakukan didapur?" tanya Julia bergumam.
"Pagi Nyonya Besar. Tadi Nona baru saja selesai membuat sarapan untuk Tuan Muda." ucap Mira memberitahu.
"Wow, benarkah?" tanya Julia tak percaya.
"Iya Nyonya. Ini masakannya. Saya hanya membantu menunjukkan bahan dan alat masaknya." jawab Mira antusias.
"Ternyata gadis itu baik juga. Aku jadi lega dengan hubungan mereka. Kau bantu saja dia kalau ingin masak sesuatu. Pokoknya kau juga harus ikut andil untuk mempererat hubungan mereka. Aku sudah tidak sabar ingin punya cicit." ucap Julia penuh harap.
"Siap Nyonya, akan saya laksanakan." sahut Mira bersemangat.
"Tidurnya nyenyak sekali. Bagaimana caraku membangunkannya ya?" gumam Davina melihat Marvin yang masih terlelap.
"Mas.. Bangun." ucap Davina namun tidak ada pergerakan dari Marvin sama sekali.
"Kalau aku berteriak nanti dia marah. Kalau aku menyentuhnya nanti dia salah paham." batin Davina kebingungan.
Davina melihat jendela yang masih tertutup. Davina membuka tirainya perlahan sehingga sinar matahari mulai memasuki kamar. Namun tetap saja Marvin tidak terbangun dari tidurnya.
"Pria ini benar-benar." batin Davina kesal.
Davina sempat terdiam sejenak, berpikir cara apa yang harus ia lakukan untuk membangunkan suaminya.
Davina memberanikan diri untuk mendekati Marvin yang masih terpejam.
"Mas.. Bangun yuk. Sudah pagi." bisik Davina.
"Aaaaa...!" pekik Davina saat tiba-tiba Marvin bangun dan menarik tangannya.
Saat ini posisi Davina berada diatas tubuh Marvin. Untung saja tangan Davina dengan cepat menopang tubuhnya, jika tidak mungkin posisi keduanya tidak bisa dijelaskan. Kedua wajah mereka saling berdekatan, mereka saling menatap cukup lama.
"Padahal dia baru saja bangun tidur tapi kenapa malah semakin tampan." batin Davina yang terpesona dengan paras suaminya.
"Ehm.. Sampai kapan kau mau memandangiku? Bukannya niatmu tadi mau membangunkanku?" tanya Marvin menyadarkan Davina.
"Eh.. Aku.. Iya, bangun Mas." sahut Davina gugup.
"Lalu sampai kapan kau akan berada diatasku? Bagaimana caraku bangun kalau posisinya begini." tanya Marvin lagi.
"Eh, iya. Maaf." kata Davina bergegas bangun dengan canggung.
"Apa yang lucu?" tanya Davina.
"Ekspresimu menggemaskan sekali kalau gugup seperti itu. Kita sudah menikah, Sayang. Kenapa kau masih saja canggung kalau kita berdekatan?" goda Marvin.
"I-iya sih.. tapi tetap saja aku malu." sahut Davina dengan menundukkan wajahnya.
Marvin tersenyum tipis, ia tak mempermasalahkan jika Davina belum terbiasa dengan sentuhan diantara mereka. Marvin bisa memaklumi kalau istrinya masih membutuhkan waktu untuk menerima dirinya.
"Jadi kau darimana? Kenapa sudah rapi?" tanya Marvin mencoba mengalihkan pembicaraan agar Davina tidak semakin canggung.
"Dari dapur, menyiapkan sarapan untukmu." jawab Davina membuat Marvin terkejut.
"Oh ya? Hem.. Rupanya kau sudah mulai menjalankan peranmu sebagai istri ya?" goda Marvin.
"Tentu saja. Tapi maaf, aku belum tahu seleramu. Kalau kau nanti tidak menyukainya, kau bilang saja. Aku akan membuatkan makanan kesukaanmu." ucap Davina.
"Hem.. Aku jadi makin penasaran bagaimana keahlian memasak istriku ini. Kalau begitu aku mandi dulu. Tolong siapkan pakaian santai untukku. Hari ini aku tidak ke perusahaan." pinta Marvin lembut.
"Kenapa kau tidak ke perusahaan? Memang tidak ada yang perlu kau kerjakan?" tanya Davina heran.
"Bukannya kau juga tidak ada kuliah hari ini? Memangnya tidak boleh kalau aku ingin menemani istriku seharian ini?" kata Marvin balik bertanya.
"Jadi dia tahu kalau aku menganggur hari ini dan menyempatkan waktu untuk menemaniku. Pria ini benar-benar tidak bisa ditebak." gumam Davina dalam hati.
"Baiklah. Kalau begitu kau mandilah dulu." sahut Davina yang langsung dituruti oleh Marvin.
"Pelan-pelan istriku. Aku akan membuatmu benar-benar jatuh cinta padaku." batin Marvin menyeringai.
...****************...
"Bagaimana kabar putriku?" tanya Adam menelpon Orkan.
"Nona baik-baik saja Tuan. Hanya saja sepertinya seseorang sedang menyelidiki Tuan Marvin. Untuk sementara Nona masih aman, Tuan." jawab Orkan menjelaskan.
"Kau tahu siapa orang itu?" tanya Adam.
"Tuan Anton, salah satu mitra bisnis Tuan Marvin." jawab Orkan.
"Anton? Apakah yang kau maksud Antonius Millano?" tanya Adam memastikan.
"Iya benar Tuan. Apakah Tuan mengenalnya?" tanya Orkan penasaran.
"Sial! Pergerakkannya lebih cepat dari yang ku kira." ucap Adam kesal.
"Ada apa Tuan? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Orkan panik.
"Kau pastikan keselamatan putri dan menantuku. Jangan sampai identitas Vina terbongkar. Satu lagi tambahkan pengawal bayangan untuk mereka. Aku tidak ingin mereka terluka sedikitpun. Kau paham kan?" titah Adam tegas.
"Baik Tuan." sahut Orkan patuh.
"Cepat hubungi aku jika ada pergerakan dari Anton lagi. Kau pantau dia 24 jam, aku tidak ingin kecolongan sedikitpun." perintah Adam lagi.
"Baik Tuan." kata Orkan setelah itu panggilan telpon berakhir.
"Darwin!" panggil Adam.
"Iya Tuan? Ada apa?" tanya Darwin segera saat melihat kepanikan diwajah Adam.
"Kita harus menjalankan rencana kita lebih cepat. Dia sudah mulai bergerak dan menemukan Davina." ucap Adam membuat Darwin terkejut.
"Bukankah identitas nona Davina aman, Tuan?" tanya Darwin tak percaya.
"Kau benar untuk sementara ini identitas putriku belum terbongkar. Tapi Anton sudah menyelidiki Marvin, dia pasti tahu keberadaan Davina. Kemampuan Anton tidak bisa kita anggap remeh. Sebelum dia menemukan kebenarannya maka kita harus segera bertindak." ucap Adam tegas.
"Tapi Tuan kalau kita bergerak sekarang bukankah itu justru bisa membongkar identitas Nona? Tuan Anton pasti akan sangat mudah mengungkapnya." sahut Darwin mengingatkan.
"Kau benar. Aku hampir saja melakukan hal yang ceroboh. Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Adam dengan memberikan tatapan tajam.
"Tuan tenang saja. Saya punya rencana B." jawab Darwin dengan tersenyum aneh.
-BERSAMBUNG