
Drt Drt
Terdapat panggilan video masuk dari Mely, Davina segera mengangkatnya kebetulan sekali Marvin sedang berada dikamar mandi.
"Nona mau pilih yang mana? Saya bingung, pilihannya banyak sekali." tanya Mely sembari menunjukkan isi toko.
"Pilihkan saja warna yang tidak mencolok dan jangan terlalu terbuka." jawab Davina.
"Apa yang terbuka?" tanya Marvin sontak membuat Davina terkejut dan mematikan panggilan videonya.
"Ah tidak, mungkin kau salah dengar. Aku dan Mely sedang membahas ujian besok lusa." jawab Davina asal.
"Benarkah?" tanya Marvin penuh selidik.
Davina dengan cepat menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kenapa Nona malah mematikan ponselnya? Aku harus pilih yang mana ini?" tanya Mely bingung.
Sebuah pesan masuk dari Davina dan segera Mely membacanya.
"Carikan saja yang cocok untukku. Aku percaya pada pilihanmu. Setelah itu kirimkan kemari."
"Haih Nona ini aneh sekali. Tapi tidak apa-apa, sepertinya aku akan segera mempunyai keponakan." gumam Mely senang.
Mely membeli 3 helai gaun malam dengan warna dan model yang berbeda. Lalu segera menuju tempat yang sudah Davina kirimkan lokasinya.
"Kenapa dengan kelinciku ini? Aku merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan." gumam Marvin.
TING TONG
"Sepertinya Johan sudah datang." ucap Marvin hendak membukakan pintu namun segera ditahan oleh Davina.
"Biar aku saja. Kau duduklah." cegah Davina.
Marvin mengerutkan keningnya semakin merasa aneh dengan sikap Davina.
"Baiklah." sahut Marvin mengikuti ucapan istrinya.
CEKLEK!
"Selamat malam Nona, ini pakaian ganti yang dipesan oleh Tuan." ucap Johan sopan.
"Oke terimakasih, Jo." sahut Davina ramah.
"Kalau begitu saya permisi dulu Nona. Selamat bersenang-senang Nona dan Tuan." pamit Johan.
"Bersenang-senang? Apa maksud perkataannya?" tanya Davina bingung.
"Sayang, ada apa? Johan sudah kembali?" tanya Marvin seketika membuat Davina tersadar.
"Ah iya, sudah. Ini pakaian yang ia bawakan." jawab Davina sembari menyerahkan sebuah kantong kepada Marvin.
BRUK!
"Aww.. Maaf Nona saya tidak hati-hati. Nona baik-baik saja?" tanya Johan yang tidak sengaja menabrak seseorang saat hendak masuk ke dalam lift.
"Ma-maaf mungkin saya yang kurang hati-hati." ucap gadis itu.
Johan membantu gadis itu berdiri namun betapa terkejutnya dia saat melihat siapa gadis yang ia tabrak tidak sengaja itu.
"KAU!" teriak Mely.
"Rupanya kau? Aku menyesal sudah membantumu. Lain kali kalau jalan, mata juga dipakai." kata Johan ketus.
"Apa kau bilang? Dasar tidak tahu diri. Kau yang menabrakku malah menyalahkanku. Aku juga tidak butuh bantuanmu." sahut Mely kesal dengan mengibaskan tangan dan mendorong tubuh Johan cukup keras.
"Tenaga wanita ini kuat juga." batin Johan meringis merasakan sakit dibahunya karena menabrak dinding.
"Sial sekali harus bertemu pria menyebalkan itu." gerutu Mely dalam hati.
TING TONG
"Ini pasti Mely." batin Davina.
"Siapa lagi yang datang?" tanya Marvin mengernyitkan keningnya.
"Biar aku saja yang melihatnya. Kau bisa membersihkan diri dan ganti pakaian saja dulu." ucap Davina.
"Baiklah kalau begitu." sahut Marvin patuh lalu masuk ke kamar mandi.
CEKLEK!
"Kenapa wajahmu jelek sekali?" tanya Davina.
"Tadi bertemu dengan orang gila." jawab Mely asal membuat Davina terkekeh.
"Benarkah?" goda Davina.
"Ini pesanan Nona. Aku membeli 3 helai, tidak tahu mana yang Nona suka." ucap Mely menyerahkan sebuah kantong belanjaan kepada Davina.
"Baiklah, terimakasih." sahut Davina.
"Eh tunggu Nona!" cegah Mely saat Davina hendak menutup pintu kamarnya.
"Emm.. Nona sudah yakin akan melakukannya sekarang? Nona sudah siap?" tanya Mely membuat Davina membulatkan matanya.
"Apa maksdumu?" tanya Davina menatap tajam.
"Ah Nona masih saja malu-malu. Semangat ya Nona. Aku sudah tidak sabar untuk menggendong keponakanku." goda Mely.
BRAK!
Davina menutup pintu kamar cukup keras membuat Mely berjingkat kaget.
"Astaga! Kalau malu ya malu saja Nona, jangan membuatku jantungan. Haha Nona lucu sekali. Aku sudah tidak sabar menunggu kabar baik." batin Mely terkekeh kemudian meninggalkan kamar majikannya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Marvin membuat Davina terkejut segera menyembunyikan kantongnya dibelakang punggungnya.
"I-itu tadi orang tidak jelas. Sepertinya salah kamar." jawab Davina gugup.
"Kau tidak apa-apa kan? Apa orang itu melakukan sesuatu yang membahayakan?" tanya Marvin khawatir.
"Oh tidak, aku baik-baik saja. Dimana pakaian gantiku?" tanya Davina mengalihkan pembicaraan.
"Aku meninggalkannnya dikamar mandi." jawab Marvin.
"Baiklah." sahut Davina segera berlari ke kamar mandi membuat Marvin memandangnya heran.
"Kenapa malam ini aku merasa dia aneh sekali? Perasaan sore tadi dia masih bersikap normal dan menenangkan kegugupanku." gumam Marvin kebingungan.
"Sial! Apa-apaan ini?" tanya Davina saat membuka gaun malam yang dipilih Mely begitu tipis dan terbuka.
"Ini sama saja aku telanjang. Dasar Mely!" umpat Davina.
"Apakah benar malam ini aku harus memakainya? Bagaimana kalau Marvin menertawakanku? Atau dia malah jijik melihatku?" tanya Davina dalam hati.
"Sial, hanya ini yang terlihat paling tertutup." ucap Davina memilih gaun malam berwarna hitam.
"Benar-benar memalukan." gumam Davina.
Marvin merasa curiga saat Davina tidak kunjung keluar dari kamar mandi.
"Sayang? Kenapa lama sekali? Kau baik-baik saja kan?" tanya Marvin sembari mengetuk pintu kamar mandi.
"Ah iya, aku baik-baik saja. Aku mau sekalian mandi dulu." jawab Davina.
"Baiklah." sahut Marvin setelah itu kembali merebahkan diri ke kasur dan memainkan ponselnya.
"Huuh... Apakah malam ini aku benar-benar yakin melakukannya?" tanya Davina ragu.
"Tapi melihat ekspresi Marvin, aku tidak tega. Dia pasti selama ini menderita menahannya." gumam Davina mengingat suaminya.
"Tapi aku belum berpengalaman sama sekali. Haduuh bagaimana ini? Apakah Marvin juga sama?" tanya Davina lagi.
"Ayolah Vina, kalian sudah menikah. Wajar kalau ingin melakukannya." ucap Davina memantapkan hatinya.
Perlahan Davina membuka pakaiannya lalu membersihkan diri. Davina mengambil gaun hitam itu lalu memakainya.
"Astaga, apa-apaan ini? Apakah Marvin akan mengolokku?" tanya Davina saat melihat dirinya dicermin.
Seketika wajah Davina memerah membayangkan apa yang terjadi malam ini.
"Aaahh! Apa yang aku pikirkan?" gerutu Davina merutuki dirinya sendiri.
Setelah merenung cukup lama, Davina akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi. Davina melapisi gaun malamnya dengan bathrope.
CEKLEK!
"Sayang, kenapa belum berganti pakaian? Apa kau tidak menyukainya? Aku akan meminta Johan mencarikan yang lain." ucap Marvin hendak menelpon namun Davina segera menghampirinya.
"Ti-tidak perlu, Mas." sahut Davina mengambil ponsel Marvin dan meletakkannya keatas nakas.
Marvin memandang Davina yang terlihat semakin cantik saat tersenyum kepadanya.
"Ada apa? Ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Marvin seketika menggeser tubuhnya dan menarik Davina kesisinya.
"Emm.. Aku.." jawab Davina terjeda.
"Apa, istriku? Katakanlah." ucap Marvin lembut.
CUP!
Tiba-tiba Davina mengecup bibir Marvin membuat pria itu membulatkan matanya. Davina menundukkan wajahnya malu-malu.
"Sayang, kau menggodaku?" tanya Marvin.
"Ya bisa dibilang begitu." jawab Davina tidak berani mengangkat wajahnya yang sudah memerah.
"Kau tahu apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau aku lepas kendali?" tanya Marvin.
"A-aku siap, Mas." jawab Davina gugup.
-BERSAMBUNG