Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 79 Kelinci Liar


"Terimakasih." lirih Marvin mendekap Davina erat.


"Untuk apa? Bukankah kau tadi marah padaku?" tanya Davina bingung.


"Terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku. Maaf aku tadi terbawa emosi, aku takut kau dalam bahaya. Tapi sekarang aku menyadari ternyata didalam hatimu sudah ada diriku. Aku senang mendengarnya." jawab Marvin lembut.


"Cih! Percaya diri sekali." cibir Davina.


"Masih tidak mau mengaku?" tanya Marvin melepaskan pelukannya lalu menatap Davina dengan lekat.


"Kau itu terlalu percaya diri." jawab Davina dingin.


"Haiissh.. Aku baru sadar ternyata istriku tsundere." ucap Marvin membuat Davina melotot.


"Apa? Kau bilang aku apa?" tanya Davina tak terima.


"Ya... Kau tsundere." jawab Marvin terkekeh.


"Darimana kau mendengar kata-kata itu?" tanya Davina penasaran.


"Entahlah. Aku hanya pernah mendengar Johan mengucapkannya." jawab Marvin jujur.


"Memangnya kau tahu apa artinya?" tanya Davina.


"Seperti dirimu bukan? Mau tapi malu? Emm.. Lebih tepatnya kau berlagak cuek, tidak peduli padaku padahal didalam hatimu sangat mengkhawatirkanku. Begitu kan?" goda Marvin seketika membuat wajah Davina memerah.


"Lihatlah pipimu yang merah itu benar-benar menggemaskan." goda Marvin lagi.


"Hentikan atau aku akan marah padamu." ancam Davina membuat Marvin terkekeh.


"Istriku benar-benar menarik." lirih Marvin tersenyum puas.


"Aku jadi tidak sabar bagaimana kau akan menerimaku sepenuhnya." batin Marvin.


"Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya. Aku pikir aku bisa mengatasinya sendiri. Maaf jika keputusanku justru membuatmu marah." ucap Davina bersalah.


Marvin menghela nafas setelah itu tersenyum.


"Aku mengerti. Tapi aku tidak ingin kau melakukan hal yang membahayakan dirimu. Tidak ada lagi lain kali." kata Marvin tegas.


Davina menatap Marvin serius setelah itu menganggukkan kepalanya.


"Maafkan aku." lirih Davina.


"Tidak ada maaf, kau tidak bersalah. Terimakasih atas perhatianmu. Tapi kedepannya kau harus membicarakannya kepadaku lebih dulu, apapun itu. Kau bisa berjanji padaku?" pinta Marvin lembut dengan tatapan teduh.


"Baiklah." sahut Davina tersenyum.


"Sepertinya aku harus lebih lincah untuk mengimbangi kelinci kecilku yang liar ini." batin Marvin penuh tekad.


Marvin tahu kalau Davina bukanlah gadis biasa yang mudah patuh maka dari itu dia harus memiliki persiapan.


"Aku harus bertanya pada Ayah apa yang terjadi sebenarnya baru aku bisa memastikan keselamatan Marvin." gumam Davina bertekad.


...****************...


"Tuan Anton sepertinya sudah mengetahui identitas Nona, Tuan." ucap Darwin memberitahu.


"Pria itu benar-benar punya kemampuan. Apa dia mengancam keselamatan putriku?" tanya Adam dingin.


"Sepertinya begitu Tuan. Saya mendapat kabar bahwa Nona bertemu lagi dengan Tuan Anton." jawab Darwin.


"Sial! Aku harus memberitahu Marvin agar lebih waspada." gumam Adam kesal.


"Bagaimana keadaan putriku?" tanya Adam.


"Nona baik-baik saja, Tuan." jawab Darwin.


"Ada perintah apa Tuan?" tanya Darwin lagi yang melihat Adam hanya diam tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Aku sedang memikirkannya. Kau kembalilah mengawasi pria itu dan putriku." titah Adam.


"Baik Tuan." sahut Darwin patuh kemudian pamit undur diri untuk kembali melaksanakan tugasnya.


"Apa terjadi sesuatu? Wajahmu jelek sekali." tanya Sera sembari mengantar secangkir kopi dan meletakkannya diatas meja kerja suaminya.


Adam menghembuskan nafas kasar setelah itu menarik Sera agar duduk dipangkuannya.


"Ada masalah?" tanya Sera lembut.


"Anton sudah berani mengusik putri kita." jawab Adam lirih.


"Bagaimana dengan Marvin? Kau sudah memberinya peringatan?" tanya Sera khawatir.


"Belum. Nanti aku akan menelponnya." jawab Adam.


Sera menghela nafas kemudian mengecup lembut kening suaminya.


"Kau tidak ingin memberitahu putri kita tentang masalalumu dengan Anton?" tanya Sera hati-hati.


"Apa itu perlu?" tanya Adam mengernyitkan keningnya.


"Mungkin saja. Kau seharusnya paham dengan sifat putrimu. Kalau bukan karena keinginan Vina sendiri, aku rasa Anton tidak akan bisa menemuinya." jawab Sera membuat Adam tersadar.


"Kau benar, Sayang. Apa sebenarnya yang dipikirkan putri kita itu?" tanya Adam penasaran.


"Entahlah. Putrimu itu tidak bisa ditebak. Aku khawatir menantu kita akan kerepotan menghadapinya." jawab Sera.


"Haha.. Kau benar istriku. Bagaimana kalau kita besok ke kota A? Aku juga ingin menyelesaikan kesalahpahaman di masalalu. Aku tidak ingin anak dan menantu kita dijadikan korban oleh Anton." ajak Adam.


"Baiklah." sahut Sera.


"Kalau begitu malam ini aku harus meminta jatah terlebih dahulu." bisik Adam.


"Astaga! Ingat umurmu!" cela Sera.


"Umur hanyalah angka. Staminaku tetap muda. Bagiamana kalau kita coba?" goda Adam.


"Dasar tak tahu malu!" umpat Sera yang hendak melarikan diri namun kalah cepat dengan Adam yang sudah menarik tubuhnya sehingga tak mampu berkutik.


"Hentikan! Bagaimana kalau Darwin tiba-tiba masuk?" kata Sera mencari alasan.


"Kalau begitu kita ke kamar." ucap Adam bersemangat menggendong istrinya.


"Turunkan aku! Malu kalau dilihat anak buahmu!" berontak Sera.


"Diamlah atau kau ingin aku melakukannya disini?" perkataan Adam seketika membuat Sera terdiam, Adam menyeringai puas.


"Dasar pria tua mesum!" umpat Sera dalam hati.


...****************...


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba saham kita merosot?" tanya Andreas.


"Ada serangan dari keluarga Harris, Tuan. Bahkan ada beberapa klien yang membatalkan kerjasama dengan kita." jawab salah satu karyawan.


"Apa? Kau bilang keluarga Harris? Bukankah dia dari kota A? Bagaimana mungkin bisa memberi pengaruh dikota ini?" tanya Andreas tak percaya.


"Meskipun dari kota A tapi keluarga Harris sudah menguasai negara ini, Tuan. Bahkan kedudukannya juga sangat berpengaruh didunia bisnis." jawab karyawan itu lagi.


"Sial! Apakah ada dari kalian yang menyinggungnya? Aku sama sekali tidak mengenalnya, kenapa menargetkanku?" tanya Andreas marah.


"Kami tidak tahu, Tuan." jawab karyawan serempak.


"Tuan, saham perusahaan Wijaya juga merosot." bisik orang kepercayaan Andreas.


"Sial! Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Andreas emosi memukul meja sangat keras membuat semua orang yang ada diruangan meeting itu tersentak kaget.


"Kalian semua bubar! Pantau terus saham kita. Usahakan tahan semua klien yang ingin membatalkan kerjasama. Aku akan segera mencari solusinya." titah Andreas tegas.


"Baik Tuan." sahut mereka kompak setelah itu memberikan hormat kepada Andreas yang bergegas meninggalkan ruangan.


"Bagaimana bisa kita melawan Harris? Siapa sih yang berani menyinggungnya? Aku tidak ingin jadi pengangguran." ucap seorang karyawan wanita.


"Sepertinya ini bukan masalah kecil. Semoga Tuan Andreas bisa mengatasinya." harap salah satu karyawan.


"Kebetulan sekali, perusahaan besan Tuan Andreas juga mengalami hal serupa. Apakah ini berkaitan dengan putri Wijaya?" bisik yang lain.


"Bisa jadi. Aku rasa gadis itu benar-benar bermasalah. Aku dengar pernikahan mereka terjadi karena hamil duluan." kata yang lain.


"Ssst! Hentikan gosip kalian kalau tidak ingin kehilangan pekerjaan!" ucap salah seorang pria memperingatkan.


"Gawat! Ayo kita kembali bekerja." sahut karyawan wanita yang tadi bergosip bergegas kembali keruangannya diikuti karyawan yang lain.


"Semoga saja Tuan Andreas bisa membalikkan keadaan." harap beberapa karyawan dalam hati.


-BERSAMBUNG


Apa kabar Readers? Masih setia menunggu kelanjutan kisah Marvin dan Davina kan? Maaf Minthor lama gak update karena fokus dengan pekerjaan dan juga hpnya baru selesai service 😅


Minthor harap Readers tetap antusias bacanya ya 😘 Terimakasih sudah sabar menunggu. Minthor akan lanjut update ceritanya 🖤