
"Nona, aku merindukanmu." seru Mely bersemangat lalu memeluk Davina.
"Kau berlebihan sekali. Kita hanya tidak bertemu beberapa hari." ucap Davina terkekeh menyambut pelukan Mely.
"Hah.. Bagaimana aku tidak rindu, sebelumnya aku setiap hari berada disisi Nona. Sejak Nona menikah, aku merasa sudah tidak punya pekerjaan." kata Mely jujur.
"Bukankah aku sudah pernah membahasnya denganmu. Sementara ini fokus dulu dengan kuliahmu, setelah lulus kau bisa kembali menjagaku." ucap Davina.
"Tidak Nona, dari awal tujuanku adalah untuk melindungi Nona." tolak Mely tegas.
"Kau juga harus memikirkan masa depanmu. Lagipula orang-orangku harus pintar bukan?" ucap Davina menyeringai.
"Hah.. Baiklah, tapi sangat membosankan di kampus. Bagaimana keadaan Nona?" tanya Mely melepaskan pelukannya.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." jawab Davina.
"Mira, tolong siapkan jus segar dan beberapa camilan untuk kami." titah Davina.
"Baik Nyonya Muda." sahut Mira yang sedari tadi menunggu perintah tuannya.
"Wah Nona sudah berubah julukan. Aku juga harus memanggil Nyonya." kata Mely antusias.
"Tidak perlu. Kau bisa memanggilku seperti biasanya." elak Davina.
"Tidak mungkin. Aku juga takut kalau Tuan Muda Harris memarahiku." bisik Mely sembari melihat kekanan dan kekiri.
"Baiklah terserah kau saja." sahut Davina.
"Apa sebenarnya tujuan Nyonya memanggilku?" tanya Mely penasaran.
"Ah.. Aku hanya bosan saja. Sudah seminggu sejak keluar dari rumah sakit, suamiku masih tidak mengizinkanku keluar rumah." jawab Davina menggerutu.
"Pasti Tuan sangat mencintai Nyonya." ucap Mely senang.
"Itu sama saja mengurungku." sahut Davina memanyunkan bibirnya.
Mely tertawa kecil mengingat bagaimana Davina tidak bisa berdiam diri. Bertahun-tahun Mely hidup bersamanya, merupakan pencapaian terbesar kalau tuannya bisa satu minggu dirumah saja.
"Ingatlah Nyonya sudah punya suami sekarang, harus bisa menyesuaikan diri. Beruntung Tuan Muda sangat mencintai Nyonya. Belum lagi kalau Nyonya nanti mengandung, aku rasa Nyonya hanya bisa didalam kamar selama 9 bulan." kata Mely terkekeh.
"Kau sudah berani mengolokku?" tanya Davina dingin.
"Uppss.. Maaf Nyonya, aku hanya bercanda. Tolong Nyonya jangan menghukumku." ucap Mely panik.
"Aku tidak akan menghukummu tapi hanya ingin memberi sedikit perhitungan denganmu agar kedepannya kau tidak semakin berani didepanku." kata Davina memasang ekspresi mengerikan.
"Nyonya tolong maafkan aku. Aku tidak berani lagi." sahut Mely ketakutan.
"Hahaha sudahlah aku hanya menggodamu saja. Santailah." kata Davina sembari menepuk pundak Mely pelan.
Mely hanya menghela nafas lega.
"Lebih baik aku tidak bercanda seperti ini lagi. Tatapan Nyonya tadi menakutkan sekali." gumam Mely.
...****************...
Hari-hari berlalu dengan damai, tak terasa setelah beberapa bulan dipusingkan dengan skripsi akhirnya hari ini pun tiba. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi sudah berkumpul disebuah gedung mewah yang ada di Universitas Y.
"Tidak menyangka aku bisa melalui masa-masa sulit ini, Nyonya." ucap Mely lega.
"Sudah kubilang kau pasti bisa." sahut Davina tersenyum.
"Iya Nyonya, walaupun harus berkali-kali revisi akhirnya aku akan menjadi sarjana juga." kekeh Mely.
"Setelah ini apa rencanamu selanjutnya?" tanya Luna yang duduk disamping kanan Davina.
"Aku akan kembali ke kota K. Aku merindukan orangtuaku." jawab Davina.
"Ah.. Aku pikir kau akan lanjut bekerja. Padahal aku ingin mengajakmu melamar pekerjaan di HF Company. Kebetulan disana membutuhkan beberapa karyawan freshgraduate dan sesuai dengan jurusan kita." kata Luna.
"HF Company?" tanya Davina memastikan.
"Iya, perusahaan milik keluarga besar Harris. Meskipun terhitung belum lama berdiri tapi kesuksesannya tidak perlu diragukan lagi. Terlebih semenjak kepemimpinannya diambil oleh Marvin Harris, prestasinya sangat luar biasa. Sekarang HF Company mampu bersaing dengan perusahaan besar dinegara kita." jawab Luna antusias.
"Oh begitu." sahut Davina.
"Eh, kenapa reaksinya biasa saja?" tanya Luna heran.
"Memangnya aku harus bagaimana?" ucap Davina balik bertanya.
"Eh tunggu dulu. Aku masih ingat saat itu Marvin pernah mendekatimu kan? Bagaimana hubungan kalian sekarang? Sungguh beruntung sekali kau bisa menarik perhatiannya. Tapi kau juga harus berhati-hati menurut rumor Marvin juga pria yang kejam dan menakutkan." cerocos Luna.
"Emm... Itu.."
"Selamat kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang telah berhasil melalui tahap akhir kalian. Memang tidak mudah namun masa depan yang cerah sedang menantikan kalian." ucap MC membuat Davina dan Luna menghentikan obrolannya.
"Dihari yang berbahagia sekaligus bersejarah ini, akan kita saksikan pemilik Universitas tercinta kita untuk memberikan sambutan sepatah duapatah kata sekaligus membuka acara wisuda ini. Waktu dan tempat kami persilahkan." kata MC.
Semua mata fokus memandang wanita yang tak lain adalah Julia Harris. Meski usianya sudah tidak lagi muda namun wibawanya masih sangat kuat. Gedung yang awalnya berisik menjadi hening seketika saat Julia sudah berdiri diatas panggung.
"Terimakasih atas waktu yang diberikan. Sebuah kebanggaan bisa berdiri disini melihat wajah-wajah muda yang akan merintis masa depannya. Selain untuk memberikan selamat kepada kalian, saya juga ingin mengumumkan kabar bahagia karena cucu menantu saya juga lulus hari ini." ucap Julia seketika memancing keriuahan.
Mulai terdengar suara bisik-bisik karena penasaran siapa orang yang dimaksud oleh sang pemilik kampus.
"Siapa yang dimaksud oleh Nyonya Besar?" tanya salah satu mahasiswi.
"Hatiku sedih sekali. Ternyata Marvi Harris sudah menikah." ucap mahasiswi yang lain.
"Kenapa firasatku tidak enak ya." gumam Davina.
"Wow, sebuah kabar yang mengejutkan. Kira-kira siapa cucu menantu yang Nyonya Besar maksud?" tanya MC yang juga sangat penasaran.
Julia melirik Marvin kemudian menganggukkan kepalanya. Marvin berdiri lalu berjalan mencari keberadaan istrinya. Semua mata fokus memandang Marvin dan menebak-nebak siapakah yang bisa bersanding dengan pria itu.
"Davina Almira, dia adalah istri dari cucu tercintaku." ucap Julia membuat semua mata yang ada digedung itu tertuju kepada Davina.
"Vina? Apa-apaan ini? Bisa kau jelaskan padaku?" bisik Luna terkejut setengah mati.
"Emm.. Nanti aku akan menjelaskannya padamu." sahut Davina tak enak hati.
"Istriku, bolehkah aku mengajakmu keatas panggung?" tanya Marvin dengan membungkukkan badan dan mengulurkan tangannya.
Davina mengangguk lalu berdiri menyambut uluran tangan suaminya. Suara riuh tepuk tangan memenuhi gedung itu.
"Hah? Davina? Astaga aku pernah membuat ulahya. Bagaimana ini?" gumam salah satu mahasiswi.
"Apa-apaan ini? Dia sama sekali tidak pantas dengan pria pujaanku." ucap gadis yang lain.
Tak hanya para calon wisudawan yang terkejut dengan sosok istri Marvin Harris. Para dosen dan petinggi kampus juga tidak percaya dengan kenyataan yang ada dihadapannya.
"Gawat! Kemarin aku sempat menyulitkannya saat skripsi. Bagaimana kalau aku dimintai pertanggungjawaban." gumam dosen pebimbing Davina ketakutan.
"Kemarilah cucuku. Nenek bangga kau bisa menyelesaikan studimu dengan baik." ucap Julia memeluk Davina erat.
"Terimakasih, Nek." sahut Davina tersenyum manis.
Nasi sudah menjadi bubur, Davina yang awalnya masih ingin menyembunyikan statusnya mau tidak mau harus segera beradaptasi. Lagipula setelah ini dia juga akan meninggalkan kampus ini, jadi tidak perlu repot menangani gosip tentangnya nanti.
Suasana kembali hening saat kepala dosen akan mengumumkan lulusan terbaik.
"Davina Almira."
Lagi-lagi seluruh mata menatap kearah Davina disambut suara tepuk tangan yang meriah.
"Ah pantaslah menjadi bagian keluarga Harris." gumam salah satu mahasiswi.
"Istriku memang hebat." puji Marvin.
"Terimakasih, Mas." sahut Davina tersenyum lembut.
Acara pun selesai dengan baik meskipun sempat ada kejutan yang memancing keributan ditengah-tengah acara. Kampus sudah mulai terlihat sepi karena seluruh penghuni kampus sudah pulang dan tidak sabar merayakan kelulusan masing-masing.
"Vina! Sekarang kau bisa jelaskan padaku?" tanya Luna mengintimidasi.
Davina menoleh lalu menyengir tipis.
"Mas, tunggu aku dimobil ya. Ada yang ingin aku bicarakan dengan temanku." ucap Davina.
"Baiklah." sahut Marvin.
Luna bergidik ngeri saat Marvin sempar meliriknya dengan tatapan tajam.
"Kau benar-benar sudah menikah dengannya? Kapan? Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Luna menyerocos.
Davina hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum terpaksa.
"Kau tega sekali padaku." ucap Luna cemberut.
"Maaf, Lun. Ada beberapa alasan yang membuatku harus menyembunyikannya. Aku juga tadi sangat terkejut saat Nenek mengungkapkannya diatas panggung." sahut Davina jujur.
"Aah... Sudahlah. Tapi kau yakin dengan pria itu? Apakah selama ini kau diperlakukan dengan baik?" tanya Luna khawatir.
"Apa yang pikirkan, Luna?" tanya Davina heran.
"Emm.. Aku hanya khawatir saja karena menurut rumor Marvin Harris itu pria yang kejam dan tak berperasaan." bisik Luna hati-hati.
"Hahaha.. Kau berlebihan. Sejujurnya Marvin bukanlah pria yang seperti itu. Dia sangat baik dan lembut kepadaku." ucap Davina terkekeh.
Luna mengerutkan keningnya.
"Kau sudah jatuh cinta padanya?" pertanyaan Luna membuat Davina terdiam lalu tersenyum.
"Tentu saja." jawab Davina yakin.
Luna menghela nafas lega.
"Baguslah. Tapi aku masih kecewa karena kau sudah berbohong padaku." kata Luna cemberut.
"Bagaimana dengan makan malam?" tanya Davina menawarkan.
"Ah kau memang sahabat terbaikku." sahut Luna membuat Davina terkekeh.
Mudah sekali membujuk temannya itu hanya dengan mentraktir makan.
"Baiklah, kau yang pilih tempat dan waktunya." ucap Davina lagi.
"Benarkah? Tapi bagaimana dengan suamimu? Apa dia mengizinkanmu?" tanya Luna takut.
"Aku akan mengaturnya." jawab Davina membuat Luna lega.
-BERSAMBUNG