Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 92 Celaka


"Kalian yakin tidak ingin bermalam disini? Ibu akan memesankan kamar untuk kalian." tanya Sera memastikan.


"Tidak perlu, Bu. Kami kemarin sudah tidak tidur dirumah, kasihan Nenek." jawab Davina.


"Baiklah, kalian berhati-hatilah. Hari sudah gelap, jangan ngebut bawa mobilnya." ucap Sera memperingatkan.


"Baik, Bu." sahut Davina dan Marvin bersamaan.


"Lindungi putriku." bisik Adam yang diangguki kepala oleh Marvin setelah itu keduanya pun berpamitan.


"Kenapa firasatku tidak enak ya, Yah?" ucap Sera jujur.


"Tenangkan dirimu, berdoalah untuk keselamatan mereka." sahut Adam yang sebenarnya juga merasakan firasat yang sama dengan istrinya.


Marvin dan Davina sudah melajukan mobilnya, tak jauh saat mereka keluar dari hotel, ada mobil yang mengikuti mereka.


"Apakah kita diikuti?" tanya Davina.


"Kau peka sekali. Ya, sepertinya kali ini mereka tidak akan melepaskan kita dengan mudah." jawab Marvin serius.


"Lagi-lagi orangnya Anton?" tebak Davina.


"Belum bisa dipastikan." jawab Marvin kemudian mendial nomor Johan.


"Jo, kami diikuti. Utus beberapa orang untuk bersiap jika sesuatu terjadi." titah Marvin sekaligus mengirimkan lokasinya.


"Baik, Tuan. Kami akan segera menyusul untuk melindungi Tuan dan Nona." sahut Johan patuh segera menggerakkan anak buahnya.


"Apakah kau siap?" tanya Marvin kepada istrinya.


"Tentu. Kau fokuslah dengan kemudimu. Cari jalan yang tidak terlalu ramai agar tidak melibatkan banyak orang." jawab Davina.


Marvin tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya mengikuti instruksi istrinya.


Selama 10 menit aksi kejar-kejaran mobil masih terus berlanjut.


"Sial! Apa sebenarnya maunya mereka?" tanya Marvin kesal.


"Sepertinya mereka masih menunggu perintah." tebak Davina.


"Jangan terpancing emosi. Anggap saja kau sedang bermain bombom car." ucap Davina.


"Apa kau tidak punya rasa takut sama sekali?" tanya Marvin heran dengan ucapan Davina yang tak gentar sedikitpun malah menganggap peristiwa menegangkan saat ini layaknya permainan.


"Ada kau. Kau pasti akan melindungiku kan?" ucap Davina.


"Tentu. Terimakasih sudah percaya padaku." sahut Marvin tersenyum.


"Mas, awas!" teriak Davina.


"Sial! Aku lengah." umpat Marvin.


Marvin tidak menyadari jika mobil yang mengikuti dibelakangnya tiba-tiba menyalip dan menghantam mobilnya. Marvin dengan cepat kembali menguasai setirnya namun kalah kecepatan dengan kendaraan yang datang dari arah berlawanan.


"Aku pasti akan melindungimu." ucap Marvin bergegas menarik tubuh Davina dan memeluknya.


BRRAAKK!!


"Kau!" pekik Marvin.


"Baguslah kalau kau baik-baik saja." lirih Davina.


Kecelakaan terjadi begitu saja tanpa bisa dihindarkan.


"Kenapa, kenapa kau! Sayang, kau harus baik-baik saja." teriak Marvin panik saat tiba-tiba Davina memutar tubuh dan merelakan dirinya terhantam mobil dari depan.


Davina hanya tersenyum lalu sesaat kemudian memejamkan matanya.


"Sayang, kau harus bertahan. Aku mohon." pekik Marvin panik saat darah keluar dari pelipis Davina.


"Sadarlah. Kau harus tetap sadar, Sayang." pinta Marvin mencoba menjaga istrinya agar tidak pingsan.


Marvin berusaha membuka pintu mobilnya untuk segera menyelamatkan istrinya.


"Tuan, maaf kami terlambat." kata Orkan yang baru saja tiba.


"Cepat bantu kami keluar, aku harus membawa istriku ke rumah sakit." perintah Marvin.


"Baik Tuan." sahut Orkan dibantu beberapa pengawal yang lain.


"Baik Tuan." sahut mereka serempak.


Marvin segera menggendong Davina untuk berpindah mobil. Dengan segera Orkan membuka pintu mobil dan melaju kerumah sakit.


"Kenapa kau melakukan ini, Sayang? Lagi-lagi kau yang melindungiku. Kenapa kau tak mengizinkan aku yang terluka?" tanya Marvin memeluk tubuh Davina yang sudah tak sadarkan diri.


"Kumohon, kau harus baik-baik saja. Jangan buat aku menyesal seumur hidup." ucap Marvin lirih yang tak terasa airmatanya pun telah jatuh menetes.


"Tuan tenanglah, Nona pasti akan baik-baik saja." kata Orkan mencoba menghibur Marvin.


"Kau fokus saja dengan kemudimu. Tambah kecepatan." titah Marvin.


"Baik, Tuan." sahut Orkan patuh.


Setelah sampai dirumah sakit, Marvin langsung turun menggendong Davina dan berteriak memanggil dokter.


"Dokter, cepat selamatkan istriku!" teriak Marvin histeris membuatnya menjadi pusat perhatian.


"Baik Tuan Muda Harris." sahut salah seorang dokter yang merupakan orang kepercayaan keluarga Harris.


Dengan cepat dua orang perawat datang dengan membawa ranjang pansien. Perlahan Marvin meletakkan tubuh Davina dan mengikuti dokter keruang ICU.


"Maaf, Tuan Muda silahkan menunggu diluar." ucap dokter pria paruh baya itu.


"Tolong selamatkan istriku, Dok." pinta Marvin memelas.


"Kami pasti akan melakukan yang terbaik." sahut dokter itu lalu masuk keruangan dan menutupnya.


Marvin sangat mengkhawatirkan kondisi Davina. Sudah 20 menit berlalu namun pintu ICU tak kunjung terbuka. Marvin mondar-mandir dengan perasaan ketakutan yang semakin kuat.


"Tuan tenanglah." ucap Orkan.


"Bagaimana aku bisa tenang? Dia lagi-lagi berkorban untuk diriku. A-aku bukanlah suami yang bisa diandalkan." teriak Marvin menyalahkan dirinya sendiri setelah itu ia terduduk dilantai dengan airmata yang kembali mengalir diwajahnya.


"Saya tahu perasaan Tuan. Tapi saya sangat mengenal Nona. Nona pasti akan baik-baik saja. Tuan jangan menyalahkan diri Tuan lagi." ucap Orkan mencoba menghibur Marvin.


"Kau tidak tahu hancurnya perasaanku. Baru saja dia menerimaku sepenuhnya namun malah seperti ini." kata Marvin tergugu.


Orkan merasa teriris melihat kesedihan Marvin.


"Jangan menyalahkan dirimu, Nak." ucap Sera yang baru saja datang membuat Marvin mengangkat wajahnya.


"Bu, a-aku gagal melindungi Davina. Maafkan aku, Bu. Harusnya aku yang berada diruangan itu bukan Davina." kata Marvin terisak.


Sera bisa merasakan perasaan bersalah Marvin.


"Jangan jadi pria lemah! Jangan sampai putriku melihat sisi lembekmu ini. Kau ingin membuat pengorbanan istrimu sia-sia?" tanya Adam menyela.


"A-ayah, maaf aku gagal." ucap Marvin bersalah.


"Semua sudah terjadi. Aku tahu kau pasti sudah berusaha untuk melindunginya. Dan aku juga tahu bagaimana keras kepalanya putriku. Saat ini yang paling penting adalah mendoakan Davina baik-baik saja." kata Adam.


"Tenangkan dirimu lalu ceritakan kronologinya padaku." ucap Adam lagi.


"Ba-baik, Ayah." sahut Marvin.


Setelah merasa lebih baik, Marvin pun menceritakan kejadiannya kepada Adam.


"Sial! Ternyata peringatanku tidak cukup! Aku akan membuat perhitungan dengannya." umpat Adam marah.


"Ayah, jangan terbawa emosi. Selesaikanlah dengan kepala dingin. Aku tidak ingin keadaan ini menjadi semakin parah." ucap Sera menenangkan.


"Tapi dia lagi-lagi berani melukai putriku!" kata Adam tak terima.


"Masih ada beberapa orang yang memeriksa dilokasi, Yah. Dan belum ada kabar yang bisa memastikan kalau Anton terlibat." sela Marvin.


"Tidak perlu diperiksa lagi, itu sudah pasti dia." kata Adam yakin.


"Ayah jangan gegabah. Kita tunggu kabar dulu baru bertindak." ucap Sera mengingatkan.


"Apa yang dikatakan Ibu benar, Ayah." kata Marvin setuju.


"Baiklah. Tapi kalau terbukti bahwa dia dalangnya, aku pastikan akan membuatnya menghilang dari muka bumi ini." ucap Adam bengis.


-BERSAMBUNG