
"Yah, ayo kita menjenguk Vina." ajak Sera.
"Lebih baik tanyakan dulu kepada anak kita bagaimana kalau kita berkunjung. Takutnya kalau kita tiba-tiba muncul akan membuat Vina marah." ucap Adam memperingatkan.
"Pasti Vina tidak memperbolehkan kita kesana, Yah." kata Sera.
"Nah itu kamu tahu, Sayang." ucap Adam lembut sembari membelai rambut istrinya.
"Aku khawatir dengan Vina, Yah. Baru saja putus cinta, aku takut terjadi sesuatu pada putri kita." kata Sera khawatir.
"Sepertinya kau sudah lupa bagaimana sifat anak kita." ucap Adam seketika menyadarkan Sera.
"Ayah benar. Mungkin aku yang terlalu cemas dan merindukannya." lirih Sera kemudian menyenderkan kepalanya dibahu Adam.
"Bersabarlah. Bulan depan anak kita sudah libur semester. Kau bisa melepaskan rindumu sepuasnya." kata Adam mengingatkan.
"Hemm.. Baiklah. Tak terasa anak kita sudah 20 tahun ya, Yah. Aku merasa baru kemarin menimang dan menyusuinya." ucap Sera mengenang masa-masa Davina masih bayi.
"Ya, aku juga merasa baru kemarin menggendong dan mengajarinya berjalan. Ternyata sekarang putri kita sudah beranjak dewasa. Sepertinya sebentar lagi aku juga akan diduakan." kata Adam terkekeh pelan.
"Kenapa Ayah berkata begitu?" tanya Sera heran.
"Anak kita sudah menginjak usia 20 tahun. Semakin dekat usianya untuk membina rumahtangga. Tentu saja hatinya akan mencintai pria yang akan menjadi suaminya dan melupakanku." jawab Adam sedih.
Sera membelai lembut tangan Adam kemudian memberikan senyuman manis.
"Ayah benar. Kita akan kembali menjalani kehidupan kita hanya berdua. Ah sepi sekali rasanya." ucap Sera membayangkan putrinya akan menghabiskan hidupnya dengan orang lain.
"Menurutmu bagaimana kalau Vina kita jodohkan saja?" tanya Adam meminta pertimbangan istrinya.
"Astaga. Ini sudah tahun berapa? Kenapa kau masih membahas perjodohan? Aku tidak setuju. Biarkan saja putri kita memilih pasangan yang ia sukai." tolak Sera.
"Membiarkannya memilih sendiri dan bertemu dengan pria seperti Nathan? Laki-laki bejat yang berani menyakiti putri kesayanganku? Aku tidak akan membiarkan itu terulang kembali." kata Adam kesal.
"Mungkin itu adalah pembelajaran untuk anak kita, Yah. Kau ingat bagaimana putri kita saat berpisah dengan Nathan, dia baik-baik saja. Aku rasa saat ini Vina pasti akan menjadi gadis yang lebih kuat. Dia tidak akan tertipu lagi dengan laki-laki hidung belang." ucap Sera memberi pemahaman kepada suaminya.
"Aku ingat ada anak rekanku yang masih lajang. Sepertinya dia pria yang cocok untuk Vina." kata Adam.
"Yah! Ingat kita sudah berjanji tidak akan melakukan sesuatu tanpa meminta persetujuan dari Vina kalau itu berhubungan dengan kehidupannya." Sera kembali mengingatkan.
"Aku mengingatnya. Aku akan membahas perjodohan dengan Vina saat ia pulang." kata Adam kekeh
"Terserah Ayah saja." sahut Sera pasrah.
Suaminya benar-benar keras kepala. Adam adalah seorang ayah yang sangat protektif terhadap putrinya. Walau kadang terkesan mengekang namun Adam sangat menginginkan kebahagiaan untuk Davina. Adam tidak ingin anaknya disakiti oleh siapapun. Adam akan selalu memberikan yang terbaik untuk Davina selama dirinya masih bernafas. Termasuk pendamping hidup Davina, Adam ingin memilih pria terbaik untuk putrinya. Seorang pria yang akan mencintai putrinya seperti Adam mencintai Davina.
*
*
*
"Hari ini hanya dua mata kuliah tapi kenapa aku merasa lelah sekali ya?" gumam Davina merasakan badannya terasa pegal.
"Ah iya, sepertinya aku terlalu mengerahkan tenagaku." batin Davina mengingat tendangannya pagi tadi.
"Ternyata fisikku sudah melemah. Aku harus rutin berlatih lagi." ucap Davina dalam hati.
Davina yang keluar dari gerbang kampus tiba-tiba menghentikan langkahnya. Davina melihat pria yang membuatnya kesal berada diseberang jalan.
"Pria mesum itu lagi." batin Davina.
Melihat Marvin sedang sibuk dengan ponsel ditangannya, Davina segera mempercepat langkah agar keberadaanya tidak diketahui oleh Marvin.
"Nona tolong berhenti!" teriak Marvin saat tahu kalau gadis yang ia tunggu sudah melarikan diri.
Davina tidak menghiraukan suara Marvin dan berlari agar cepat sampai dikosnya.
Langkah Davina terhenti saat tiba-tiba sebuah tangan menariknya. Davina menoleh kebelakang dan mendapati Marvin sudah memegang tangannya.
"Lepaskan tanganku kalau tidak ingin kuhabisi!" gertak Davina.
"Wow Nona cantik ini kejam sekali. Apakah Nona tega menghabisi pria setampan diriku ini?" goda Marvin yang semakin menguatkan genggamannya.
"Cih! Dasar tidak tahu malu." umpat Davina.
Davina melayangkan tendangan namun dengan cepat ditangkis oleh Marvin. Beruntung Marvin dapat membaca serangan Davina, andai terlambat sedikit saja mungkin pusaka Marvin tidak bisa diselamatkan.
"Nona tenanglah. Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Bolehkah kita berbicara sebentar?" pinta Marvin mencoba mencari kesempatan.
Davina menatap Marvin datar kemudian menampakkan senyum tipis diwajahnya.
"Baiklah. Lepaskan tanganku dulu." ucap Davina.
"Ah akhirnya kelinci ini bersifat lembut juga." batin Marvin senang.
Marvin menyetujui permintaan Davina kemudian melepaskan genggaman tangannya. Namun apa yang dipikirkan Marvin hanyalah angan-angan belaka. Tiba-tiba sebuah tendangan mengenai perutnya. Marvin terjatuh begitu saja karena tidak memprediksi serangan yang akan diberikan Davina.
"Sampai jumpa lagi Tuan." pamit Davina melambaikan tangannya kemudian berlari secepat kilat.
"Sial! Aku sudah tertipu." umpat Marvin melihat Davina sudah hilang dari pandangannya.
"Lagi-lagi aku kalah darinya." ucap Marvin lirih merasakan sakit pada perutnya.
"Luka yang kemarin belum sembuh sekarang sudah kena lagi. Benar-benar gadis tangguh." gumam Marvin kemudian berusaha berdiri lari kembali ke mobilnya.
Marvin tidak ingin menyusul ke tempat kos Davina. Kali ini Marvin memang sengaja melepaskan Davina. Marvin tidak ingin Davina akan memberikan serangan yang lebih brutal lagi kalau dirinya nekad mengejar gadis itu.
"Sepertinya aku harus mencari cara lagi. Jika tidak bisa dengan cara yang halus maka aku akan bertindak kasar untuk mendapatkanmu, kelinci kecilku." kata Marvin dengan seringai diwajahnya.
Marvin sudah menentukan berbagai rencana untuk bisa menaklukan Davina. Mungkin yang dilakukan Marvin untuk mengejar seorang gadis terkesan sangat aneh bagi sebagian orang. Namun begitulah Marvin, baru kali ini dirinya tertarik dengan wanita. Terlebih wanita yang menarik perhatiannya adalah Davina. Marvin merasakan sensasi tersendiri saat berusaha mendekati Davina. Perlawanan dan penolakan yang Davina membuat Marvin semakin tertantang untuk menaklukan gadis kecil itu.
"Gadis yang unik. Calon istriku memang berbeda dari yang lain." batin Marvin kemudian melajukan mobilnya.
Itulah Marvin, belum juga bisa mendekati Davina sudah mengatakan kalau gadis itu adalah calon istrinya.
"Tunggu aku bisa menjinakkanmu, kelinciku."
Davina yang sudah sampai di kos segera mengunci pintu kamarnya. Davina mengatur nafasnya yang masih terengah-engah setelah lari cepat dengan jarak kurang lebih 500 meter.
"Kenapa pria itu selalu berkeliaran disini sih? Merepotkan sekali." gumam Davina heran.
"Apa dia benar-benar tuan muda Harris? Kurang kerjaan sekali." gerutu Davina kesal.
"Sepertinya aku harus mencari tempat tinggal lain." batin Davina.
Hey Readers?
Bagaimana cerita Marvin yang sedang berusaha mendekati Davina?
Kira-kira berapa lama lagi ya Marvin harus berjuang?
Bisakah Davina ditaklukan?
Atau justru Marvin yang akan menyerah?
Terimakasih atas antusiasnya, terus dukung dengan like dan tinggalkan komen ya!
Jangan lupa subscribe untuk info update episodenya!
-BERSAMBUNG