
Sesampainya di bandung, Doni pun menuju ke vila yang sudah ia sewa.
Doni mengajak anak dan istrinya untuk beristirahat lebih dulu sebelum jalan-jalan sore. Nindy pun menurut, ia membawa Fakhri ke kamar sedangkan suster membereskan barang-barang yang masih tertinggal di mobil.
Doni pun menyusul Nindy dan Fakhri, ketiganya menjatuhkan diri di ranjang empuk tersebut.
Doni membelai wajah Fakhri yang terlelap, setelah itu Doni melepaskan jaket dan celana jeans yang ia kenakan, merasa lelah dan ingin ikut istirahat.
Doni pun menyusul keduanya dengan perlahan supaya Fakhri tidak terkejut.
Berbeda dengan Alif, pria kecil itu nampak tak terurus, ibunya sibuk menyetrika dan Alif berada di atas kasur lantai dengan mainan gigit-gigitannya.
Sesekali Mae berhenti menyetrika untuk mengambil Alif yang mulai merangkak kemana-mana.
"Yang anteng, Nak! Ibu sedang bekerja, buat beli susu dan kamu!" kata Mae seraya kembali meletakkan Alif di atas kasur lepek tersebut.
Adelia yang bekerja di tempat sama itu mendengar apa yang diucapkan oleh Mae lalu menimpalinya.
"Kalau gue jadi lo! Udah gue buang tuh laki! Masa bininya yang kerja dia enak-enakkan main terus! Mana kerja harus bawa anak lagi! Seenggaknya tuh ya, kalau bini yang kerja suami bantu jaga anak. Ini mah boro-boro jaga anak, kerjaan di rumah aja utuh! Mae... Mae, malang bener nasib lo!"
"Mau gimana lagi, Kak. Mae cinta sama suami Mae," jawab Mae yang sudah kembali menyetrika.
"Hidup itu enggak makan cinta, Mae!"
"Iya, sih. Tapi enggak papa, aku ikhlas kok, kak," kata Mae seraya tersenyum.
"Dikasih tau ngeyel!" ketus Adelia yang juga sedang menyetrika.
Sore hari telah tiba, Mae mengajak Alif untuk mandi lebih dulu di kamar mandi laundry ia bekerja, setiap hari Mae memandikan Alif di sana.
"Aku harus mengurusmu dengan baik, karena mereka juga mengurus anakku dengan baik," kata Mae dalam hati seraya mengusapkan busa sabun di tubuh Alif.
Selesai dengan mandi, Mae mendapatkan hadiah kecil dari bosnya.
"Mae, ini untuk Alif," kata bos Mae yang baru datang.
"Maaf... Mae, ini bekas anak saya dulu waktu bayi, semoga bermanfaat ya, Mae!" kata bos seraya meletakkan baby walker bekas itu di dekat kasur lepek.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak bu bos, ini juga saya udah senang," jawab Mae seraya membuka baby walker yang masih terlipat itu.
"Adel, kamu jangan ngiri ya, kalau kamu punya bayi juga saya kasih hadiah," kata bos seraya menatap Adelia yang masih menyetrika.
Adelia hanya tersenyum.
****
Sore ini, Doni membawa keluarga kecilnya untuk jalan-jalan ke susu lembang.
"Maaf, ya. Liburannya sambil kerja, nanti habis ini ketemu klien," kata Doni yang sedang menggendong Fakhri dengan tangan kiri menggenggam tangan Nindy.
"Enggak papa, kok. Gini aja aku udah senang, nanti kalau libur panjang kita bisa liburan lagi," kata Nindy dan Doni sangat senang saat mendengar ucapan Nindy yang terasa menyejukkan hati.
Tidak menyangka kalau Nindy ternyata bisa berubah menjadi dewasa dan keibuan.
Selesai dengan berfoto, makan bersama, minum susu bersama, sekarang, Doni mengajak keluarga kecilnya untuk pulang ke villa.
Sesampainya di villa, Doni segera mengajak Nindy untuk bersiap ikut bersamanya menemui klien.
Nindy pun mengiyakan, Nindy meminta pada suster untuk menjaga Fakhri di villa.
Tidak mungkin mengajak Fakhri, Nindy takut anaknya akan kelelahan.
Singkat cerita, sekarang, Doni dan Nindy sudah berada di resto yang dijanjikan.
Doni pun mengatakan kalau dirinya mewakili Tuannya yang tidak bisa hadir karena sedang bulan madu yang tertunda.
****
Di Turki, Dhev baru saja sampai di hotel, pria itu memeluk istrinya dari belakang, menemani Nala yang sedang memandangi keindahan turkey dari jendela kamarnya.
Nala pun mengiyakan dan mengecup pipi suaminya yang berada di bahunya.
"Maaf, baru sempat ajak kamu jalan-jalan," lanjut Dhev.
"Enggak papa, aku enggak pernah masalahin ini, yang penting kamu setia dan selalu cinta sama aku, aku udah bahagia!"
"Memang, mamah enggak salah carikan istri untukku!" kata Dhev dan sekarang Dhev memutar balikkan tubuh istrinya, membawanya hanyut dalam belaian mesra yang ia ciptakan.
Tangan Dhev yang tak dapat diam itu sudah mendarat di gundukan kembar Nala dengan tangan satunya menopang tubuh istrinya. Membantunya agar tetap mampu berdiri saat lututnya terasa lemas dan tubuhnya menggelinjang, rasanya seperti ada sengatan kecil, sengatan yang memabukkan.
Dhev pun mulai melepaskan apa yang melekat di tubuhnya lalu menggendong Nala, membawanya ke ranjang.
Dhev baru akan mulai pertempuran yang sesungguhnya, tetapi, ia harus diganggu oleh ponselnya yang terus berdering.
"Terima dulu, Mas. Siapa tau penting," kata Nala seraya mendorong dada bidang suaminya yang sudah mulai berkeringat.
Dhev pun meraih ponselnya yang tergeletak di meja depan televisi.
Amira yang menghubunginya.
Terdengar suara tangis dari Amira yang tak mampu menyampaikan apa yang harus disampaikan.
"Mah, ada apa? Kenapa mamah menangis?" tanya Dhev, pria itu masih berpikir santai, berpikir kalau Amira hanya merindukan anak-anaknya yang sedang jauh darinya.
"A-adik kamu!" ucap Amira dengan terbata masih dengan menangis.
Tidak lama kemudian Amira jatuh pingsan membuat Dhev menjadi khawatir di tengah bulan madunya.
Dhev pun menghubungi asisten rumah tangga dan Rasiah yang menerima.
"Tuan, Non Nindy mengalami kecelakaan!" kata Rasiah, ia pun menangis setelah mengatakan apa yang telah terjadi.
Mendengar adiknya kecelakaan, Dhev menjadi lemas, walau ia membenci adiknya tetap ia selalu berharap yang terbaik untuknya.
Dhev terduduk di atas meja depan televisi, mencoba menghubungi Doni tetapi Doni yang tidak sadarkan diri itu tidak dapat menjawab panggilan dari tuannya.
****
Amira yang lemas setelah mendengar kabar itu diantarkan oleh Dadang ke rumah sakit bandung.
Dan kabar kecelakaan itu tidak hanya di dengar oleh keluarga Amira, kecelakaan itu menjadi tranding topik dan Arnold pun melihat berita itu di sela-sela bekerjanya.
"Apa? Nindy mengalami kecelakaan maut?" Arnold yang tercengang itu berdiri, menatap layar televisi yang berada di tempat cuci motornya.
Ia juga mengira kalau sesuatu telah terjadi pada anaknya yang bersama dengan Nindy.
Doni pun segera mengambil jaketnya dan meminjam mobil tetangga untuk pergi menemui Nindy di bandung.
Singkat cerita, malam yang dingin ini diiringi tangis, Amira menangis pilu di samping Nindy yang masih belum sadarkan diri. Sementara Doni, pria itu tak dapat diselamatkan karena kehilangan banyak darah.
Amira pun kembali jatuh pingsan. Tak kuasa melihat jasad Doni, menantu yang sangat ia sayangi karena telah menerima anaknya dengan apa adanya.
Amira merasakan sesak di dadanya dan Dadang segera memanggil dokter, meminta pertolongan untuk Amira yang sangat lemah.
Sementara itu, dalam komanya, Nindy selalu mendengar kata cinta yang diucapkan oleh Doni untuk yang terakhir kalinya. Kata cinta yang membuat dirinya kuat untuk bertahan, tetapi apakah Nindy mampu untuk bangun setelah mengetahui apa yang terjadi dengan Doni?
Kebahagiaan seolah tak ingin berlama-lama singgah di istana Nindy.
Bersambung.
Innalillahi untuk Doni...
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan difavoritkan, ya.
Terimakasih sudah membaca 😢