
"Lagian, masa cuma gara-gara sepeda aja lo tega usir Nala!" kata Jimin seraya terus memperhatikan Nala dan Kenzo yang sedang melepas rindu.
"Sok tau, lagian bukan karena sepeda, sepeda Ana balik, utuh enggak kurang," jawab Dhev, kemudian pria itu mengajak Jimin untuk pergi ke acara pesta.
Kolega Dhev mengundangnya.
"Lo pergi aja sana, gue mau sama mereka di rumah," jawab Jimin seraya dagu menunjuk pada Nala dan Kenzo yang sedang seru di dapur, Kenzo meminta nasi goreng buatan Nala.
"Gue pergi sendiri mana seru, mana yang ngundang pesta perawan tua, lo tau kan kalau gue ganteng, banyak yang ngejar-ngejar gue!"
Dan obrolan Dhev dengan Jimin itu terdengar sampai dapur, Nala yang mendengar itu seolah ingin muntah.
"Ada ya orang ngaku ganteng gitu," batin Nala yang sedang mengupas bawang merah dan bawang putih.
Lalu, Nala kembali fokus pada Kenzo yang merengek padanya. Meminta Nala untuk kembali ke rumah.
"Enggak bisa, sayang. Nanti ayah kamu marah kalau tante pulang,"
"Ayah emang nyebelin," kata Kenzo yang sedang duduk di kursi meja makan. Melipat tangannya di atas meja dengan bibir yang mengerucut.
"Iya udah, nyebelin juga ayah kamu, Ken. Nanti kamu nginep di sini, ya."
"Iya, Ken udah bawa baju," jawab Ken dengan antusias.
****
"Jadi karena apa lo ngusir Nala?"
Mendengar pertanyaan itu Dhev terdiam.
"Ditanyain malah diem!" gerutu Jimin yang sedang memainkan ponsel.
Karena baru saja mendapatkan uang yang cukup banyak, Jimin memesankan banyak makanan untuk semua orang.
Pizza dan makanan cepat saji lainnya beserta aneka minuman segar.
"Lo inget yang di acara reuni? Masa gue dibilang sugar dady. Gue malu lah! Tuh anak temennya Nala, tapi gue juga enggak tau kenapa dia bisa begitu," jawab Dhev seraya menyetel televisi.
"Astaga, cuma masalah itu doang?" Jimin menggelengkan kepala.
****
"Kalian ini gimana, sih. Udah gue tinggal beberapa hari tapi belum juga bisa dapetin gadis itu buat gue, mengecewakan!" Arnold menganggap si bos kelab malam itu payah.
"Gadis itu bukan pekerja di sini," jawab si bos seraya menghisap dalam rokok yang diapitnya lalu membuang asap tersebut tepat di wajah Arnold.
"Payah! Nggak sesuai pesanan! Gue berhenti jadi pelanggan lo!" kata Arnold seraya bangun dari duduknya, pergi meninggalkan meja mini bar.
Setelah itu, si bos memanggil anak buahnya, memintanya untuk mencari Ririn.
"Tapi, bos. Ini bisa disebut penculikan, kalau anak itu lapor polisi gimana?"
"Saya suruh cari ya cari!" bentak si bos seraya menggebrak meja mini bar, si bos pun bangun dari duduknya.
"Gue enggak mau kehilangan pelanggan!" kata si bos dalam hati.
****
Di perjalanan, Arnold semakin penasaran dengan Ririn yang sama sekali tak menghubunginya walau sudah menerima kartu nama Arnold.
Ya, walau Ririn tidak bisa melupakan Arnold, Ririn tetap memilih untuk bersama Darwin yang bukan pemain perempuan.
Ririn yakin kalau Darwin adalah yang terbaik untuknya.
Sekarang, Ririn yang baru saja pulang bekerja itu turun dari motor Darwin.
"Makasih, ya. Lo selalu antar jemput gue," kata Ririn seraya melepaskan helm lalu memberikannya pada Darwin.
"Lo langsung pulang aja, ya. Enggak usah mampir, udah malem."
Darwin yang sangat mencintai Ririn itu pun menurutinya.
Sekarang, Darwin memarkirkan motornya dan bertepatan dengan papah Ririn yang baru pulang dari bekerja.
Darwin menyapa dan menganggukkan kepala, tetapi hanya rasa malu yang Darwin selalu dapat karena selalu tak pernah dianggap ada oleh papah Ririn.
Tanpa semua sadari, sebenarnya ada yang mengintai rumah itu.
Anak buah si bos sempat melihat Ririn sedang membonceng Darwin dan mengikutinya.
"Di sini tempatnya, ayo sekarang kita pulang!" kata salah satu anak buah si bos. Lalu keduanya pergi meninggalkan gang rumah Ririn.
****
"Dibawa kemana Kenzo, Dhev?" Akira merasa khawatir, takut kalau Dhev akan membuangnya.
"Jangan berpikiran seperti itu, walau bagaimana pun Ken adalah anaknya, tidak akan mungkin Dhev tega membuang darah dagingnya sendiri!"
Amira berjalan bolak-balik di depan pintu kamarnya. Kemudian Amira mengambil ponselnya untuk menghubungi Dhev.
"Dhev, di mana kalian?" tanya Amira.
"Di apartemen Jim," jawab singkat Dhev.
"Anak kamu mana, Dhev?"
"Ada, mamah tenang aja," kata Dhev yang kemudian menyudahi teleponnya.
"Kebiasaan, belum selesai ngomong udah dimatiin aja!" gerutu Amira seraya menatap layar ponselnya.
****
Di apartemen, Nala sedang membaca dongeng sebelum tidur untuk Ken yang sudah berada di kamarnya dan Ken pun tertidur pulas.
Nala yang sudah mengantuk itu pun segera ikut tertidur dengan buku dongeng yang ada di dadanya.
Dhev membuka pintu kamar Nala, melihat pemandangan indah dan Dhev kembali melihat Ana dalam diri Nala.
"Tidak, Dhev. Dia bukan Ana," batin Dhev, kemudian Dhev kembali menutup pintu kamar itu.
Terlihat Jimin pun sudah tertidur di karpet depan televisi. Dhev kembali ke sofa, duduk dan mengusap wajahnya.
"Kenapa setiap kali melihat Nala aku teringat dengan Ana? Mereka sangat mirip, Nala masih kecil tapi keibuan, apa aku harus kembali membawa Nala pulang untuk Ken?" tanya Dhev dalam hati.
"Tapi bagaimana dengan gosip? Aku tidak tahan dengan gosip!" lanjut Dhev. Pria itu masih memikirkan langkah yang akan diambilnya.
"Kenapa aku harus memikirkan gosip, aku hanya perlu jaga jarak saja dengan anak itu, bukankah aku sudah berjanji akan melakukan yang terbaik untuk Ken, aku akan berdamai dengan keadaan! Mencoba mengalah demi Ken!" Dhev masih berbicara dalam hati.
Setelah tau apa keputusannya, sekarang Dhev memilih untuk ikut tidur.
****
Keesokannya.
Setelah sarapan dan Nala siap bekerja Dhev menahannya.
Masih di meja makan, Dhev menyuruh Nala untuk berhenti bekerja.
"Enggak usah berangkat! Di rumah aja!" kata Dhev seraya menatap Nala yang masih duduk di kursinya.
"Siapa om nyuruh-nyuruh aku?" tanya Nala, gadis itu yakin Dhev sedang berbicara dengannya karena hanya Nala yang masih bekerja di hari minggu.
"Ayahnya Ken!" jawab Dhev singkat kemudian menyeruput teh hangatnya.
Sementara Jimin dan Ken hanya memperhatikan. Kedua pria itu menangkap seolah akan terjadi pertengkaran diantara Dhev dan Nala.
Namun semuanya salah, tidak ada pertengkaran tetapi hanya pemaksaan.
"Kembali ke rumah dan aku enggak mau ada jawaban lain selain 'iya'."
Nala menggelengkan kepala.
"Baguslah, dia sendiri yang ngusir dia sendiri yang minta aku balik, emang seharusnya begitu, kan?" Nala berbicara dalam hati.
Nala yang tidak ada takutnya dengan Dhev itu tidak langsung menurutinya. Sepertinya Nala senang apabila membuat Dhev marah-marah.
"Enggak mau!" Nala melipat tangannya di dada menatap Dhev yang juga sedang menatapnya.
"Benar-benar!" batin Dhev.
"Cuma dia doang emang enggak ada takutnya sama aku!" Dhev masih berbicara di dalam hati.
Lalu Dhev mengalihkan pandangannya pada Jimin yang membela Nala.
"Apaaan sih. Lo main nyuruh aja! Udah bagus dia tinggal di sini!" protes Jimin yang tak mau ditinggal Nala.
"Om!" panggil Kenzo seraya menatap Jimin dan Jimin merasa tidak tega setelah melihat Kenzo yang lebih membutuhkan Nala dari pada dirinya.
Mau kah Nala kembali?
Bersambung.
Maaf ya kalau banyak typo.
Terus dukung author dengan vote, like, komen dan jangan lupa untuk difavoritkan, ya. Terimakasih^^