
Beberapa bulan kemudian, di rumah Dhev, Nindy mendapatkan tamu yang mencari keberadaan Alif dan Fakhri.
Tamu itu adalah Aleena dan Alana, Seolah mengerti kebingungan Nindy, dua gadis itu pun memperkenalkan dirinya.
"Selamat sore, Tante. Saya Aleena dan ini Alana adik saya," kata Aleena seraya melihat ke arah Alana.
"Oh, kalian kembar?" tanya Nindy dan Aleena pun menganggukkan kepala.
"Ada perlu apa?" tanya Nindy dengan lembut.
"Saya cari Fakhri," jawab Aleena sementara Alana menjawab kalau dirinya mencari Alif.
"Anak-anak yang manis," puji Nindy dan setelah itu Nindy pun mengajak keduanya untuk masuk.
Nindy menjelaskan kalau dua pemuda itu sedang bekerja. Kemudian, Nindy mencoba menghubungi Alif dan Fakhri.
Seraya menunggu, Nindy menemani keduanya di ruang tamu, Nindy bertanya banyak hal termasuk dari mana keduanya mengenal putranya.
Aleena dan Alana pun menjelaskan.
Tidak lama kemudian, Alif dan Fakhri pun datang.
Keduanya bertemu di gerbang rumah Dhev.
"Lo ditelpon mamah juga?" tanya Fakhri dan Alif yang baru saja keluar dari mobil itu menjawab iya.
Keduanya pun berjalan beriringan dan sesampainya di pintu, Alif yang memang lebih dekat dengan Alana itu memanggil, "Alana." Pada gadis yang ia yakini kalau yang sedang ditatapnya itu adalah Alana.
Begitu juga dengan Fakhri, ia memanggil Aleena dengan menatap gadis yang ia yakini kalau itu adalah Aleena, sayangnya, keduanya salah mengira.
Aleena yang ditatap oleh Alif itu pun mengatakan kalau dirinya adalah Aleena.
Nindy yang melihat itu merasa pusing sendiri dan membayangkan kalau ternyata keduanya adalah jodoh dari anak-anaknya pasti akan terjadi banyak hal tak terduga.
"Semoga enggak salah masuk kamar," gumam Nindy seraya bangun dari duduk. Nindy pun pamit pada anak-anak untuk kembali ke dalam, tidak ingin mengganggu.
Setelah itu, Alana dan Aleena meminta pada dua pemuda itu untuk diantarkan berkeliling Kota Jakarta karena keduanya baru menginjakkan kakinya di Kota tersebut.
Alif pun mengajak Alana dan Fakhri mengajak Aleena.
Aleena merasa senang karena pergi menggunakan motor, baginya itu menambah kemesraan karena dengan begitu Aleena dapat memeluk Fakhri dari belakang.
Sementara itu, Alana merasa nyaman dengan Alif karena tidak perlu kepanasan atau terkena angin dan itu membuat penampilannya tetap rapih.
"Alif," lirih Alana memanggil pria yang sedang fokus menyetir itu.
"Iya," jawab Alif seraya melirik sekilas pada Alana, terlihat Alana sedang menatapnya lalu tersenyum.
Alana ingin mengutarakan perasaannya karena selama ini hanya dekat dengan Alif dan Alif sama sekali belum pernah mengatakan isi hatinya, padahal bagi Alana keduanya sudah sangat dekat.
Dan kedatangan Alana ke Jakarta adalah untuk memastikan hubungannya dengan Alif.
Alana yang akan mengutarakan perasaannya lebih dulu itu merasa panas dingin dan hatinya berdebar-debar tak menentu.
Berbeda dengan Fakhri dan Aleena, keduanya sudah menjalin kasih, Fakhri dan Aleena yang terus bertukar kabar itu akhirnya jadian melalui chat.
Dan setelah beberapa bulan LDR, sekarang Aleena menemui Fakhri karena akan dijodohkan, maksud kedatangan Aleena adalah ingin meminta kepastian apakah Fakhri serius dengannya atau tidak.
Mendengar kata dijodohkan, Fakhri pun menjawab kalau dirinya sangat serius dan akan melamar Aleena.
"Tapi, acara nanti digelar di mana?" tanya Fakhri, ia sangat ingin pesta pernikahannya digelar di Jakarta.
Fakhri pun menepikan motornya di sebuah parkiran kafe dan sekarang keduanya sudah duduk di kursi kafe yang terletak di sudut ruangan.
"Kalau gitu aku setuju," jawab Aleena.
"Kamu serius? Enggak papa? Keluarga kamu keberatan enggak?" tanya Fakhri seraya menatap Aleena yang juga menatapnya.
"Enggak, mereka bebas, tapi dengan satu syarat," kata Aleena.
"Itu bukan bebas kalau ada syaratnya, apa syaratnya?" tanya Fakhri, ia sangat penasaran dan takut kalau syarat itu sangat berat.
"Kita harus bantu Alana menemukan jodoh, biar kita bisa resepsi bareng!"
"Apa? Bukannya dia deket sama Alif? Emang enggak pacaran?"
"Wah, digantung dong si Alana, kasian juga," kata Fakhri seraya menerima jus yang baru datang.
****
Alif dan Alana pergi menonton bioskop bersama, keduanya memilih genre horor dan Alana sebenarnya tidak menyukai horor, tetapi, demi Alif, Alana pun mengiyakan, mengikuti saja apa yang Alif inginkan.
Di dalam gedung, Alana mengambil kesempatan dalam kesempitan, gadis itu bersembunyi di lengan Alif ketika layar bioskop mempertontonkan adegan yang menyeramkan.
Alif pun mengusap kepala Alana dan itu semakin membuat Alana merasa nyaman di dekat Alif.
Alana menatap Alif dan keduanya saling menatap, Alana memejamkan mata saat wajah Alif semakin dekat, Alana sudah berdebar, ia menunggu bibir Alif mendarat manis di bibirnya.
Namun, yang terjadi adalah, Alif membenarkan jaket Alana yang terbuka di bagian bahunya, Alif tidak ingin tubuh Alana terekspos.
Sedikit merasa kesal karena ternyata apa yang dipikirkan itu tidak menjadi kenyataan, Alana pun membawa wajah Alif ke wajahnya dan Alana yang memulai lebih dulu mengecup bibir Alif.
Alif membulatkan matanya tak percaya kalau Alana akan melakukan itu.
Setelahnya, Alana segera melepaskan ciuman itu dan keluar dari gedung bioskop.
Sementara itu, Alif yang masih terkejut hanya bisa terdiam, kemudian yang duduk di bangku sebelah Alif itu mengingatkan untuk mengejarnya.
"Kejar, Mas. Mungkin dia malu!" kata si pemuda sebelah Alif.
Alif tak menjawab apapun, ia segera bangun dan mengejar Alana, Alana sendiri sedang berdiri di depan pintu lift menunggu pintu itu terbuka.
"Alana!" seru Alif seraya berjalan cepat ke arahnya.
Alana yang malu itu memalingkan wajahnya ke arah lain seraya merapikan anak rambutnya.
"Tadi itu apa maksudnya?" tanya Alif seraya meraih lengan Alana.
"Enggak tau," jawab Alana seraya melepaskan tangan Alif, wajahnya masih memerah karena telah memulai lebih dulu, padahal diantara keduanya tidak ada hubungan yang pasti.
Alif pun membawa wajah Alana untuk melihat ke arahnya dan Alif membalas kecupan itu, seketika keduanya menjadi perhatian pengunjung mall tersebut.
Suara sorak sorai terdengar dan ada juga yang menyerukan untuk segera menikah.
Alif pun segera melamar Alana di tempat itu juga.
"Kamu mau jadi istriku?" tanya Alif seraya menggenggam tangan Alana.
"Terima!" teriak pengunjung mall.
Alana yang menatap Alif pun menjawab iya, karena itulah yang selama ini Alana tunggu.
****
Setelah bertunangan, sekarang acara pernikahan itu digelar di salah satu hotel berbintang di Kota Jakarta.
Aleena dan Alana begitu cantik dengan gaun pengantinnya.
Keduanya berjalan beriringan dengan Fai yang berada di tengah,menjadi pengiring dan menuntun kedua mempelai itu ke pelaminan.
Sementara itu, Fakhri dan Alif merasa bingung, bingung untuk mengenali mana calon istrinya. Keduanya sama, begitu sulit membedakannya.
"Awas ke tuker!" ledek Fai pada saudaranya.
"Jangan sampai ketukar!" kata Aleena dan Fakhri pun mengerti kalau yang baru saja berbicara adalah calonnya, karena Aleena selalu mengingatkan itu pada Fakhri.
Fakhri pun mengulurkan tangannya pada Aleena dan Aleena merasa senang karena Fakhri dapat mengenalinya.
Sekarang, kedua pasangan itu duduk di depan Pak Penghulu, mengucapkan ijab kabul secara bergantian.
Dan keduanya sekarang sudah resmi menjadi suami dan istri.
Selamat 🥳🥳.
Like dan komen ya, all.
Jangan lupa dukung karya ini 🤗🤗
Terimakasih sudah membaca🙂