
"Om," lirih Nala saat wajah tampan itu semakin dekat.
"Hm," jawab Dhev singkat.
"Mau ngapain?" Nala semakin merasa gugup dan tidak tau apa yang akan di lakukan oleh Dhev, sempat berpikir kalau Dhev akan melakukan adegan mesra seperti di drama yang sering ditontonnya.
"Pernah ciuman?" tanya Dhev.
Dan karena gelap itu, Nala bisa menyembunyikan wajahnya yang merah merona saat mendengar pertanyaan aneh baginya.
Nala menjawab dengan jujur, ia menganggukkan kepala.
"Kapan? Om kira kamu anak polos, enggak pernah ciuman," kata Dhev yang semakin dekat dengan Nala.
"Di tepi kolam renang, sama om," jawab Nala dengan suara lirihnya. Nala sudah tidak berani lagi menatap wajah tampan itu.
"Astaga, itu bukan ciuman," kata Dhev dan Nala semakin merasa gemetar saat dirinya sudah terhimpit oleh Dhev.
Nala menyenderkan punggungnya di dinding kamar mandi.
Dhev yang ingin memberitahu apa itu ciuman segera mengecup bibir Nala. Seketika Nala membulatkan matanya.
Dan lampu pun menyala. Terlihat sudah ada Pak RT dan warga sekitar sedang menatap Dhev dan Nala.
"Wah, Pak Dhev. Ternyata sukanya gelap-gelapan, ya?" tanya Pak RT dan para tetangga pun mulai berbisik.
Nala dan Dhev yang ketangkap basah itu tidak dapat mengelak kalau keduanya tidak melakukan apapun.
Nala dan Dhev diseret oleh warga supaya keluar dari kamar mandi.
Pak RT yang bekerja sama dengan Amira itu menghubunginya.
"Halo, Bu. Anak Ibu ketangkap basah, sedang mesra-mesra-an di kamar mandi, saya tunggu kedatangan Ibu, kita harus segera menikahkan keduanya, sekarang juga!"
"Apa? Menikah?" tanya Dhev seraya melepaskan tangannya yang di pegang oleh warga.
Dhev yang bahkan belum siap untuk mendengar kata menikah lagi itu sedikit terkejut, dirinya merasa tidak melakukan apapun, hanya memberitahu apa itu ciuman yang sesungguhnya pada Nala.
Dan Nala, gadis itu pingsan setelah mendengar kata nikah. Ya Nala sadar kalau dirinya akan dinikahkan malam itu juga.
"Astaga, segala pakai pingsan lagi!"
Dhev mengusap wajahnya.
Bisik-bisik tetangga pun terdengar, ada yang mengira kalau Nala sedang hamil muda. Bisik-bisik itu didengar oleh Dhev.
"Astaga, Pak, Bu. Saya yakin dia cuma panik aja, bukan hamil muda, lagian, memangnya tidak ada jalan keluar lain selain menikah?" Dhev menatap satu persatu wajah yang menggerebeknya.
"Ada, Pak Dhev. Diarak keliling komplek mau? Terus, besok wajah Bapak udah ada di majalah, dengan judul ketahuan sedang mesum, mau?"
"Astaga." Dhev terduduk, pria itu berjongkok memegangi rambutnya. Merasa frustasi, ia hanya ingin mengerjai Nala tetapi harus menanggung akibatnya untuk seumur hidup. Ya, Dhev menganggap pernikahan adalah sakral, bukan mainan.
"Masa gue nikah sama bocah, Ya Tuhan," rintih Dhev dalam hati.
****
Tidak lama, Amira datang, seolah terkejut dengan apa yang terjadi, wanita itu langsung menjewer telinga Dhev sampai hampir putus.
"Kamu, mamah suruh nikah jawabnya enggak mau, tapi ketahuan sampai digerebek gini, bikin malu aja!" gerutu Amira dengan masih menarik telinga Dhev.
"Ampun, Mah. Dhev enggak ngapa-ngapain Nala!" Dhev melepaskan tangan Amira dari telinganya.
"Ciuman kok enggak lagi ngapa-ngapain," kata tetangga Dhev yang berjenis kelamin laki-laki.
"Saya minta maaf, Bapak-bapak, Ibu-ibu," Amira menangkupkan telapak tangannya di dada. "Saya akan menghukum keduanya," lanjut Amira.
Padahal Amira sedang menunggu Pak RT dan warga mendesak supaya keduanya dinikahkan.
"Maaf saja tidak cukup, untuk menghindari kejadian serupa yang bahkan bisa lebih, lebih baik kita nikahkan saja!" kata Pak RT dan para tetangga mengiyakannya.
Lalu, Amira melihat salah seorang warga yang merekam kejadian itu, Amira merebut ponsel tersebut dan menghapus rekamannya.
"Tolong, jangan ada yang merekam atau menyebarkan kasus ini, kalau memang harus dinikahkan saya setuju, anak saya duda masih muda, masih membutuhkan itu," kata Amira dan Dhev merasa terpojokkan, merasa Amira tidak membelanya.
"Buktinya, kamu sampai berduaan di rumah sepi ini ngapain?" tanya Amira, menatap tajam pada Dhev.
"Kawinin, kawinin," seru tetangga Dhev.
Singkat cerita, Pak RT meminta pihak dari Nala dan Amira menjelaskan kalau Nala gadis yatim piatu.
Nala yang sudah siuman dari pingsannya itu merasa bingung, menangis tidak tau harus berbuat apa lagi.
Nala merasa sangat malu.
"Ayah, Ibu. Maafkan Nala, Nala tidak bermaksud membuat kalian malu." Nala menangis, gadis yang masih duduk di sofa ruang tengah itu menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya yang menutupi wajah.
"Enggak usah nangis, enggak bakal merubah apapun!" kata Dhev, wajahnya datar tanpa ekspresi tetap memandang lurus ke depan.
"Ini semua salah om, kenapa om cium aku!"
"Kenapa kamu enggak nolak?"
Nala kembali menangis dan Amira yang sedang menyiapkan gaun dadakan itu datang seraya membawa kebaya berwarna putih.
"Ayo Nala, cepat ganti bajumu!" kata Amira, wanita itu sangat antusias. Amira juga membawa setelan jas dengan warna senada.
"Astaga, nikah dadakan aja segala ganti kostum!" protes Dhev seraya menerima jas itu.
"Bu, tapi Nala masih kecil, Nala masih takut buat menikah," kata Nala yang dibawa Amira ke salah satu kamar.
"Enggak papa, nikah itu enak, kalau enggak percaya kamu rugi," kata Amira, wanita itu merasa tidak sabar karena Nala sangat lama untuk mengganti kebayanya.
"Enaknya di mana? Om kan galak, Bu," jawab Nala.
"Galak tapi perhatian, percaya sama Ibu, Dhev jodoh terbaik untuk kamu!" kata Amira seraya memakaikan jilbab selendang pada Nala.
Merias sedikit wajah Nala dengan make-up yang ada di tasnya.
Hanya bedak dan lipstik saja sudah membuat Nala terlihat segar dan cantik.
"Enggak papa, nanti kita bikin pesta dan memanggil perias mahal, ya!" kata Amira sedangkan Nala merasa tidak yakin.
Tidak yakin akan bahagia apabila menikah dengan orang seperti Dhev yang taunya selalu marah-marah.
Malam ini tepat pukul 12 malam Dhev dan Nala dinikahkan oleh Pak RT.
Sebelum ijab kabul, Dhev menanyakan nama panjang dan nama ayah Nala. Setelah itu dengan lancar Dhev mengucapkan ijab kabul dengan sekali tarikan nafas.
"Sah, sah, sah!" seru para saksi dan warga yang mengawal pernikahan Dhev dan Nala.
"Alhamdulillah," ucap Amira seraya mengusap wajahnya dengan dua telapak tangannya.
Dhev mengulurkan tangan kanannya untuk Nala cium, tetapi Nala yang tidak mengerti itu diam saja dan Amira memberitahu kalau Nala harus mencium tangan Dhev yang sekarang sudah menjadi suaminya.
"Cium ya, Bu?"
"Iya, selamat ya, sekarang kalian sudah sah menjadi suami dan istri," kata Amira.
Selesai dengan nikah dadakan itu, Dhev yang masih merasa kesal dengan kekonyolan sendiri itu meninggalkan rumah lamanya.
"Ikuti suami kamu, sana!" kata Amira dan Nala sedikit ragu, tetapi sepertinya Dhev memang menunggu Nala di mobil.
"Nala pamit, Bu. Mang Dadang, Pak RT," kata Nala yang kemudian menyusul Dhev.
"Jalan aja lama banget, sih. Kaya keong!" kata Dhev dan Nala menutup pintu mobil itu tanpa menjawab ucapan Dhev.
Di rumah lama, sebelum pergi, Amira mengucapkan terimakasih pada Pak RT karena kerjasama yang lancar membuat pernikahan itu berjalan lancar dan sesuai keinginan Amira.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan juga, ya. Terimakasih^^
Maaf juga kalau masih banyak typo 🙏