DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Romantisnya Dhev Di Tengah Amarahnya


Nala menyembunyikan rasa takutnya saat ditatap oleh Dhev. Gadis itu berjalan, mendekati Dhev, ikut duduk di lantai lalu memberikan air minum dingin yang dibawanya.


"Minumlah, siapa tau bisa meredakan panasnya hati om," kata Nala dan Dhev menerimanya, meminumnya sampai habis.


Setelah itu, Dhev mengembalikan gelas kosong tersebut pada Nala. Nala pun beringsut bangun, tidak ingin mengganggu dan Nala ingin memberikan ruang untuk suaminya yang sedang terbakar emosi.


"Mau kemana?" tanya Dhev tanpa melihat ke arah Nala.


"Ke dapur, naruh gelas," alasan Nala, gadis yang sudah rapih dengan dress tanpa lengan, panjang selutut, berwarna peach itu tersenyum, menunjukkan gigi rapinya.


"Alasan, kan kamu bisa taruh di meja dulu!" Kali ini Dhev menatap Nala.


"Aku takut, astaga, kenapa aku bisa setakut ini, takut salah ngomong, takut salah gerak," batin Nala seraya meletakkan gelas itu di meja nakas.


"Aku melupakan bekalmu, maafkan aku," kata Dhev dan Nala tidak menyangka, disaat marahnya Dhev masih teringat dengan urusan bekal makan siangnya.


Nala hanya diam, bukan marah tetapi mau menjawab apalagi.


"Mau sampai kapan kamu memanggilku om?" tanya Dhev.


Pria tampan yang mulai mereda dari emosinya itu berdiri dan membawa Nala ke depan cermin besar yang di kamarnya.


"Aku enggak tua-tua amat, berhenti panggil aku om!" kata Dhev.


Nala yang sedang menatap Dhev di cermin itu semakin terpesona dengan tampannya Dhev. Dhev yang berdiri dibelakang Nala itu meraih tangan Nala, menggenggamnya.


Masih sangat terasa dingin dan Dhev menyimpulkan kalau Nala sedang ketakutan atau karena baru saja memegang gelas dingin.


"Astaga, kenapa tanganmu dingin sekali?" kata Dhev. Nala segera melepaskan tangan suaminya itu.


"Kan baru pegang gelas dingin, jadi tanganku ikutan dingin," kilah Nala, gadis yang rambutnya dibiarkan terurai itu menundukkan kepala, tak ingin ketahuan oleh Dhev kalau pipinya merona.


"Aku enggak marah sama kamu, jangan takut! Kecuali kamu melakukan kesalahan," kata Dhev, pria itu menatap Nala di cerminnya.


"Bagaimana caranya, biar aku tau enggak melakukan kesalahan?" tanya Nala, gadis itu kembali menatap Dhev.


"Jadi dirimu sendiri!" bisik Dhev dan Nala merasakan sensasi aneh saat nafas Dhev menyapu lehernya.


Dhev menyadari itu, tetapi yang ada di kepalanya saat ini adalah membereskan Arnold, sedangkan untuk bercinta masih ada banyak kesempatan yang menanti.


"Aku pergi dulu," kata Dhev, pria itu melepaskan tangan Nala, pergi meninggalkannya di kamar.


Setelah terlepas dari suaminya, Nala seolah baru bisa bernafas dengan lega dan leluasa.


Nala mendudukkan dirinya di tepi ranjang, mengusap dadanya yang masih berdisko.


"Astaga, Om. Kenapa selalu bikin aku deg-degan."


****


Dhev yang sedang menuruni tangga itu tidak lagi melihat Nindy di ruang tengah, tidak mengurus Nindy lagi, pria itu menghubungi Doni dan memintanya untuk segera ke rumah lama.


Dhev juga meminta Doni untuk membawa bekal makan siangnya.


Sementara itu, Nindy sedang menangis, begitu juga dengan Amira, Amira merasa sangat kecewa pada Nindy yang tidak dapat mendengar ucapan kakaknya yang selalu melarang keluar malam.


Amira mengunci dirinya di kamar.


"Nindy, Nindy. Betapa malunya mamah, pasti almarhum papah kamu kecewa berat dengan apa yang kamu lakukan," lirih Amira, wanita itu duduk di tepi ranjang, memandang foto keluarganya saat Dhev wisuda, di foto itu keluarga Amira masih lengkap.


Lalu Amira melihat ke arah pintu, Nala memanggilnya.


"Bu," lirih Nala dari balik pintu.


"Nala pergi menjemput Ken," kata Nala.


"Iya, maaf. Ibu enggak bisa ikut," kata Amira dengan suara seraknya.


"Enggak papa, Bu," sahut Nala.


Setelah itu, Nala meminta pada Dadang untuk diantarkan ke sekolah Ken.


****


"Jahat kamu, jahat!" teriak Nindy.


Ya, baru saja Nindy meminta pada Arnold untuk datang ke rumah dan meminta maaf pada Dhev.


Tetapi apa jawaban Arnold? Arnold menertawakan Nindy.


Dan mengingatkan kalau Nindy juga menikmati setiap sentuhan dari Arnold.


Hati Nindy saat ini seperti teriris.


"Pantas saja dulu Kak Ana hampir mati bunuh diri, ternyata rasanya sakit, sakit sekali, Arnold! Kamu jahat!" Nindy menangis meraung di kamarnya sendiri.


Melupakan sakit di kepala dan bekas tamparan dari Amira. Hatinya lebih sakit dan sangat sakit saat teringat dengan Arnold yang menertawakannya.


"Kali ini bukan gue yang mencoba mengakhiri hidup, tapi hidupmu yang harus berakhir, Arnold!" geram Nindy seraya mencengkram seprei yang sudah berantakan.


****


Selesai dengan urusan kantor, Doni yang baru saja masuk ke ruangan Dhev itu terkejut saat melihat Jimin sudah menghabiskan bekal makan siang bosnya.


"Astaga, anda mencari masalah, Tuan," kata Doni seraya merebut kotak nasi yang berada di tangan Jimin.


"Kenapa? Apa Dhev akan menggantung ku hanya karena bekal?" tanya Jimin dengan mulut yang masih mengunyah.


Mendengar itu, Doni hanya mengambil gambar Jimin untuk dijadikan barang bukti apabila Dhev mengamuk nanti.


Doni yang mengetahui kalau bekal itu sangat berarti menjadi was-was.


"Lagi marah aja masih inget sama bekal, itu sesuatu banget! Jangan-jangan bekal ini buatan istri kecilnya," lirih Doni seraya keluar dari ruangan Dhev.


"Apa, istri kecil? Doni ini membicarakan apa!" Jimin merasa ingin tau dan menghubungi Dhev. Tetapi panggilannya selalu ditolak oleh Dhev.


"Wah, songong ini anak!" gerutu Jimin.


Jimin pun meminum air putih yang berada di meja Dhev. Menenggaknya sampai habis tak tersisa.


Setelah itu Jimin kembali ke kantornya, berniat akan menemui Dhev setelah pulang kerja nanti.


"Kebetulan, kangen juga sama Nala dan Ken," kata Jimin dalam hati.


****


Sementara itu, ada Darwin yang sedang dilanda kegalauan, pasalnya, Ririn semakin susah dihubungi.


"Rin, lo kenapa berubah? Apa udah ada yang lain di hati lo?" tanya Darwin, pria itu duduk di bawah pohon, di area parkir kampusnya seraya melihat-lihat memori lamanya bersama dengan Ririn.


"Gue harus cari tau," kata Darwin, pria itu yang baru saja selesai dengan kuliahnya beranjak dari duduknya.


Tanpa memberitahu Ririn kalau dirinya akan datang ke rumah, dengan perasaan galaunya, Darwin berharap kalau tidak menemukan kesalahan apapun dalam hubungannya.


Tetapi lain dengan kenyataan, sampainya Darwin ke depan gang rumah Ririn, dirinya seperti di tampar oleh kenyataan.


Matanya sendiri melihat Ririn keluar dari mobil hitam dan terlihat seorang pria yang berada di bangku kemudi.


"Siapa lelaki itu?" tanya Darwin dalam. hati.


Darwin mengajak hati dan otaknya untuk tetap berpikir positif. Tetapi, tetap saja air matanya menetes saat hatinya mencoba mengelak atas kenyataan yang ada.


"Pulang Darwin! Cukup sampai di sini, besok kita cari tau lagi," kata hati Darwin.


Darwin pergi membawa lukanya.


****


Di rumah lama, Dhev yang sudah menunggu Doni itu merasa kecewa karena sudah menahan lapar tetapi yang dibawanya adalah kotak kosong.


"Jimiiiin!" teriak Dhev.


Bersambung.


Jangan lupa, like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih atas dukungannya.