
Fai lebih memilih mengejar Fakhri karena perasaan Fai mengatakan kalau Mae tidak menyukainya.
Fai meraih lengan Fakhri dan Fakhri mengibaskan tangan Fai.
Fakhri mendadak jadi dingin dan keras sekeras batu.
"Dia kenapa sih? Enggak biasanya kaya gitu!" kata Adila yang berada di samping Fai.
"Enggak tau gue juga," jawab Fai yang kemudian segera mengajak Adila karena kelas sebentar lagi akan mulai.
Di kelas, Adila ingin menceritakan kalau dirinya dijodohkan, tetapi, Adila menahan itu, ia merasa gengsi dan takut ditertawakan Fai.
****
Jam istirahat, Alif pulang dengan membawakan soto ayam juga nasi untuk Mae.
Andra pun memprotes Alif.
"Beli kok buat sendiri aja! Buat bapak mana?"
"Makanya, jadi laki itu keluar rumah sana, cari kerja, bukan keluar buat nongkrong doang!" jawab Alif seraya meninggalkan Andra yang duduk di teras ditemani secangkir kopi.
Alif mencari Mae dan Mae sedang meringkuk di kamar.
"Bu," lirih Alif yang berdiri di pintu.
Mae tetap pada posisinya, ia tak menoleh sedikitpun, wanita lusuh itu sedang menangisi Fakhri yang tak mau mengenalnya.
Alif pun menjadi bertanya-tanya, apa yang membuat ibunya mendadak berubah.
****
Di rumah sakit, Jimin dan Ririn menjenguk Amira yang masih dirawat, Jimin juga menanyakan soal Kenzo padanya.
"Dhev, lo yakin Kenzo bakal balik dengan mobilnya lo ambil?"
"Ya, kalau perempuan itu matre kan mana mau sama Ken yang miskin!" jawab Dhev. Keduanya berada di kantin supaya aman dari Amira, sedangkan Amira belum mengetahui kalau Ken tidak di rumah.
Amira yang tak melihatnya mengira kalau anak itu sedang sibuk.
"Terus, Kita-kita ini udah tua Dhev, siapa yang jadi penerus di perusahaan? Jujur, gue harus dapat mantu yang bisa diandalkan!" kata Jimin yang kemudian menyeruput kopi susunya.
"Siapa lagi, Ken yang akan menjadi penerusnya, haha!" jawab Dhev.
"Terus perusahaan lo?"
"Itu dia, gue maunya Ken tetap ada di perusahaan, gue mau dia jadi penerus dan Fakhri menggantikan posisi Arnold nantinya, bisa lah Ken diandalkan sama kita."
Jimin mengangguk mengerti.
"Tapi gue kurang resep sama Fakhri, dia kaya enggak kompeten, kaya beda sama Arnold, apa dia niru Nindy, secara kan Nindy enggak begitu pintar," gumam Dhev.
"Bisa jadi, kan pasti mirip salah satunya."
Mendengar kata mirip membuat Dhev membayangkan wajah Fakhri yang tak memiliki kemiripan dengan kedua orang tuanya.
Justru Dhev teringat dengan Alif yang baru semalam ia temui.
****
Siang ini, Arnold menjemput Fakhri dan mengajaknya ke kantor, di kantor, Arnold menjelaskan jika dirinya sudah tua nanti Fakhri lah yang menggantikan dirinya untuk menjadi pendamping Kenzo.
Mendengar itu, Fakhri jadi teringat siapa dirinya yang sebenarnya.
"Gue harus pastiin lebih dulu, gue engga sabar sama hasil tes DNAnya!" batin Fakhri yang terlihat sedang berpikir.
"Udah, enggak usah pusing, nanti paman ajarkan semuanya sampai kamu bisa jadi tangan kanan yang hebat!" Arnold menepuk punggung Fakhri dan Fakhri pun menganggukkan kepala.
****
Sementara itu, Alif yang masih memiliki jam istirahat menjemput Fai dan sesampainya di sana, Fai menceritakan apa yang dilihatnya tadi.
"Ada hubungan apa ibu sama Fakhri? Sejak kapan mereka saling kenal?" batin Alif seraya memberikan helm untuk Fai.
Kemudian terdengar suara klakson dari mobil Adila.
"Woy, makin lengket aja lo!" kata Adila yang menurunkan kaca mobilnya.
Fai yang sudah duduk di belakang Alif itu pun memeluknya.
"Iya dong, emang lo aja yang pacaran!" kata Fai dan Adila pun hanya menaikan sudut bibirnya lalu memilih untuk pergi.
"Fai, gue cuma bisa antar jemput, habis itu gue langsung balik kerja, ya!" kata Alif dan Fai pun menganggukkan kepala.
"Tapi nanti kalau bosen pulang sendiri enggak papa?" tanya Alif yang sudah mulai mengendarai motornya.
Fai menganggukkan dan Alif melihat itu dari kaca spion.
"Cewek cantik, manis, baik gini kok bisa-bisanya ibu enggak suka, aneh!" batin Alif.
"Alif, pulang kerja nanti kita jengukin omah, ya! Sekalian gue mau kenalin lo sama Omah!" kata Fai.
"Iya," jawab Alif singkat.
Sesampainya di tempat kerja, Fai mentraktir minuman segar untuk semua karyawan Arnold dan itu membuat semua senang dengan keberadaan Fai.
****
Sudah berkeliling mencari pekerjaan tetapi tak ada lowongan sama sekali untuk Kenzo, Ken mencari pekerjaan sampai larut malam dan sekarang merasa lelah.
Ken kembali ke kos dan di sana ia melihat Rama yang sedang membuka gerbang.
"Itu anak bukannya pacar Adila? Di sini juga dia? Kok gue enggak liat dari kemarin!" batin Ken, pria itu memperhatikan Rama seraya memarkirkan motornya.
Sebelum masuk ke kos, Ken memeriksa ponselnya, ia mencari pesan dari Bila dan tak mendapatkan apa yang dicari.
Ken pun mengirim pesan padanya.
"Bil, aku habis cari kerja, baru pulang, lelah, do'ain aku ya biar cepat dapat kerja!"
Bila yang membaca pesan itu hanya membalas iya dan semangat.
"Itu aja?" tanya Ken.
"Mau gimana lagi, Ken?" tanya Bila.
"Kissnya mana, biar aku semangat!"
Bila pun mengirim stiker kiss lalu tak membalasnya lagi.
Ken hanya menarik nafas dalam lalu masuk ke kamar kosnya.
Ken yang baru duduk di tepi ranjang itu mengirim pesan pada Ruri, ia menanyakan pekerjaan pada sahabatnya dan Ruri menjawab tidak ada.
Setelah menjawab itu, Ruri mengirim pesan pada Dhev.
"Om, Kenzo nanyain kerjaan, Ruri bilang enggak ada, sesuai perintah om."
Dhev yang sedang menjaga Amira itu membalas, "Bagus!"
Dhev akan membuat ken menjadi susah supaya matanya terbuka dan dapat melihat siapa Bila sebenarnya.
****
Di kos Bila, ia sedang makan malam bersama dengan teman-teman yang berada di kos putri tersebut.
"Seandainya, Keluarga cowok gue datang dan nawarin duit, gue pasti pilih duit, tapi kok mereka sama sekali enggak ngelakuin itu, ya? Justru bikin anaknya susah! Gue jadi ragu buat bertahan!"
"Ngarep banget sih lo! Udah kaya di dunia novel aja! Ini uang 2M dan tinggalkan anakku! Gitu?" kata salah satu teman Bila dan membuat semua orang berada di kamar kos Bila itu tertawa.
"Bertahan aja, siapa tau nanti keluarga Ken lama-lama luluh sama hubungan kalian!" timpal salah satu teman Bila yang lainnya.
"Iya kalau luluh, kalau enggak luluh, gue harus nunggu sampai kapan? Keburu jadi perawan tua gue!" jawab Bila seraya melahap mie ayam yang menjadi menu makan malam ini.
"Yakin lo masih perawan? Kerjaan lo aja ke kelab mulu, kadang pulang kadang enggak, ragu gue!" timpal teman Bila yang lainnya lagi.
"Jangan kenceng-kenceng! Awalnya itu kecelakaan, kalian tau enggak siapa yang merawanin gue?" tanya Bila yang seolah tak memiliki rasa merasa malu.
"Penting amat buat tau!" cibir temannya.
"Penting lah, cowok itu musuh bebuyutan Kenzo, namanya Kenji! Gue enggak bayangin kalau Ken sampai tau!"
"Gila lo!" kata temannya yang tadi mencibir.
Beralih ke rumah sakit, sepulang bekerja, Alif mengantarkan Fai ke rumah sakit dan merasa sudah tanggung berada di sana, Alif yang teringat dengan Nindy pun menjenguknya.
Apakah kali ini akan ada perubahan pada Nindy?
Bersambung.
like dan komen ya all 🤗, like itu gratis kok 🙂
Maafkeun typonya ya ✌🙏