
Setelah membacakan Al-quran, sekarang, Fakhri sedang membaca sebuah cerita cinta untuk Nindy. Pria muda nan lugu itu merasa kesepian di kala teringat dengan ibunya yang masih terbaring koma.
Ia juga takut kalau Dhev akan mengikuti saran dokter untuk menghentikan pengobatan Nindy (melepas semua peralatan yang membantu Nindy untuk bertahan) yang sepertinya tidak akan bangun.
Selesai membaca dua bab, Fakhri menggenggam tangan ibunya.
"Mah, bangun. Fakhri butuh mamah. Fakhri sekarang udah kuliah, banyak yang ingin Fakhri ceritakan sama mamah," ucapnya seraya menatap Nindy yang seolah sedang tertidur pulas.
Air mata kerinduan akan hangatnya keluarga menetes dari mata Fakhri yang hidupnya tak lebih indah dari seorang Alif.
Sementara itu, di pintu, Fakhri sedang diperhatikan oleh wanita tua, ia adalah neneknya.
"Nak, sudah malam. Pulanglah!" kata Amira yang sekarang sudah berada di belakang Fakhri, mengusap punggung cucunya itu.
Fakhri pun segera mencium punggung tangan Omahnya.
"Fakhri masih betah di sini, Omah!"
"Iya, Omah lupa, ini kan malam minggu, kamu pasti ingin menginap menemani mamah kamu!"
"Iya, jadi... omah saja yang pulang, jangan capek-capek. Nanti omah sakit lagi, Pakde marah lagi, Omah!"
"Iya sudah, kalau begitu Omah pulang duluan, ya. Kamu jaga diri juga jaga mamah kamu!"
"Iya, Omah." Fakhri pun bangun dari duduk, ia mengantarkan Amira sampai ke depan pintu.
Setelah itu, Amira pulang bersama dengan Rasiah dan juga Dadang.
****
Di bioskop, Fai merasa seperti mejadi obat nyamuk bagi Ken dan Bila.
Merasa sebal karena Bila selalu mencari perhatian kakaknya itu membuat Fai untuk berpindah tempat duduk, ia meminta pada Ken untuk bangun lalu ia duduk di tengah, diantara Ken dan Bila.
Bila mendengus sebal lalu kembali meminta perhatian dari Ken untuk mengambilkannya minuman dingin. Tangan Kenzo yang menyuapi Bila harus melewati depan Fai dan Fai merasa kalau usahanya untuk membuat mereka berhenti menebarkan kebucinan itu gagal.
Fai pun merebut gelas es yang ada di tangan Ken lalu menyeruput es itu sendiri.
Tanpa merasa berdosa, Fai tetap fokus menatap ke layar besar yang ada di depan matanya.
Bila hanya bisa pasrah karena Ken tidak bertindak tegas pada Fai.
Gadis berambut gelombang itu melipat tangannya di dada, memilih untuk diam dan seketika semua menjadi diam.
Sampai film selesai, Bila yang masih merajuk itu mengatakan kalau akan pulang sendiri.
Tetapi, tentu saja Ken tidak mengizinkan.
"Kak! Pokoknya antar Fai lebih dulu, Fai udah capek!" rengek Fai pada Kenzo.
"Kamu mau antar aku apa enggak itu terserah!" ucap Bila. Gadis itu merasa tidak tahan dengan sikap Fai yang kekanak-kanakan.
"Bila, Fai memang seperti itu, kamu yang waras ngalah dong!" kata Ken. Ketiganya berada di parkiran, Fai dan Bila saling memunggungi.
"Astaga! Gue dibilang enggak waras berarti?" gumam Fai dalam hati.
Lalu, Fai merasakan kalau tangannya di tarik oleh Ken, Ken membawa Fai untuk masuk dan duduk di bangku belakang.
Sementara Bila ada di depan, menemani Ken. "Sekarang antar Bila pulang dulu, setelah itu baru kita pulang!" kata Ken seraya menatap Fai dari kaca spion.
Fai tak menanggapi ucapan kakaknya, ia membuang muka ke arah luar.
Bagi Fai dengan mengantarkan Bila lebih dulu itu menandakan kalau Ken lebih memilihnya dari pada adiknya.
Sekarang, Ken mulai menancap gas dan selama perjalanan, Fai hanya diam, ia memainkan ponselnya tak mau melihat ke depan, merasa iri dengan kemesraan kakaknya.
"Gue enggak boleh pacaran! Tapi sendirinya pacaran sampai nempel-nempel gitu!" gerutu Fai yang sempat mencuri-curi pandang.
Kenzo membelokkan mobilnya ke sebuah pom bensin dan mendapati dompetnya tipis, sambil menunggu mengisi, Ken pun pergi ke ATM terdekat yang berada di area pom bensin tersebut.
Sementara itu, Bila merasa kalau ini adalah kesempatan untuk mengatakan kekesalannya pada Fai.
"Heh anak kecil! Lo liat kan, abang lo udah ketahuan mihak sama siapa, jadi, jangan macam-macam deh lo!" ucapnya seraya melihat ke belakang dengan wajah penuh kemenangan.
Mendapatkan perlakuan yang seperti itu, membuat Fai semakin tidak menyukai Bila.
Tidak lama kemudian, Kenzo pun datang dan setelah itu, pria tampan tersebut melanjutkan perjalanannya.
Kenzo pun menurutinya, Ken tidak mengira kalau ternyata Fai akan turun dari mobil.
"Fai, mau kemana?" tanya Ken seraya melongokan kepalanya.
"Urus aja pacar baru kakak!" ketus Fai seraya berlari menyebrangi jalan.
Kenzo pun tak tinggal diam, ia khawatir kalau sesuatu yang buruk terjadi dengan adiknya. Tetapi, saat Ken akan membuka pintu, Bila tak membiarkannya.
Gadis itu merasa pusing sehingga membuat Ken merasa bingung harus memilih yang mana.
"Ken, antar aku balik dulu, ya! Aku yakin adik kamu pasti aman aja, dia itu udah besar!" lirih Bila.
Ken pun berpikir kalau akan mengantarkan Bila lebih dulu lalu akan mencari adiknya.
****
Fai yang sedang kesal itu berjalan dengan menggerutu, melihat kaleng bekas membuat dirinya ingin menendang kaleng tersebut.
Benar saja, Fai menendang kaleng itu sampai mengenai seorang pemuda yang sedang duduk berkumpul dengan kawan-kawannya.
"Sialan! Woi! Jangan lari!" ucap pria muda itu yang melihat Fai sudah bersiap berlari.
Pria itu tak tinggal diam, sempat ditertawakan oleh teman-temannya karena mendapat kaleng nyasar itu ingin memberikan Fai pelajaran.
"Bukan minta maaf malah kabur!" geram pria itu seraya menarik rambut Fai dari belakang.
"Enggak sengaja, Bang!" kat Fai seraya berusaha melepaskan tangan pria itu.
"Ganti rugi! Lo harus bayar 500 ribu!"
"Dih, ogah. Lo keliatan baik-baik aja juga! Enggak usah meres lo!" kata Fai seraya menginjak kaki pria itu dengan keras lalu pergi dari sana.
Pria itu tak ingin melepaskan Fai dan terjadilah aksi kejar-kejaran. Fai menyebrang jalan tanpa melihat kanan dan kirinya, hampir tertabrak oleh motor bebek yang sedang melintas.
"Aaaaa!" teriak Fai yang terdiam karena saking terkejutnya.
"Woi, cari masalah aja lo!" gerutu pria pengendara motor bebek tersebut yang tak lain adalah Alif.
Fai pun segera naik ke motor itu dan meminta pada Alif untuk segera jalan.
"Jalan, bre! Cepet!" kata Fai dan Alif pun tak menghiraukan perintah Fai.
"Siapa lo! Turun!" kata Alif seraya menstandar motornya, ia turun lalu berkacak pinggang menatap Fai.
"Tolongin gue, bre! Gue di kejar sama cowok!"
"Bukan urusan gue, lo lepas dari buaya masuk kandang macan, tau!"
"Kakaaaak!" teriak Fai yang menyesal karena telah turun dari mobil Ken.
"Nah, ini nih! Cepet bayar!" ucap si pria yang mengejar Fai, pria itu menarik jaket Fai dari belakang dan Alif yang melihat itu tak tinggal diam, ia tak suka pada pria yang semena-mena pada perempuan.
Alif pun menahan lengan pria itu.
"Lepas!" ucap Alif seraya menatap tajam pria itu.
"Enggak usah ikut campur lo!" geram si pria seraya berusaha melepaskan tangan Alif dari lengannya.
Perkelahian pun terjadi, Fai berlindung di balik badan Alif yang kerempeng tetapi tak mudah dikalahkan oleh si pria yang mengejar Fai.
Pria itu tersungkur setelah Alif menendang burungnya dan ternyata gerombolan temannya itu menyusul untuk membantu.
"Woi! Jangan lari lo!"
Alif dan Fai pun melihat ke arah gerombolan teman si pria.
Alif yang merasa lelah karena baru saja selesai bekerja dan tidak ingin membuang waktu juga tenaganya itu memilih untuk membawa Fai kabur bersamanya.
Bersambung.
Like dan komen, ya. Jangan lupa difavoritkan juga🤗🤗
Terimakasih sudah membaca ☺