
Waktu berlalu, setelah disibukkan dengan urusan tunangan dan pernikahan, sekarang, Jimin mengajak Ririn untuk makan bersama dengan keluarganya di apartemen.
Semua orang sudah duduk di kursi meja makan.
Di sana, orang tua Jimin menanyakan orang tua Ririn. Mendengar pertanyaan itu, Ririn menatap Jim.
"Ah, iya. Orang tua Ririn sibuk, mereka pebisnis," jawab Jimin seraya mengambilkan lauk untuk Ririn.
"Terimakasih, sayang," kata Ririn seraya tersenyum.
Sesekali, Ririn menatap foto yang terpajang di atas televisi, foto itu dapat terlihat dari kursi meja makan.
Dalam hati, Ririn ingin sekali menanyakan tentang pria yang sangat mirip dengan Arnold.
Benar saja, setelah makan malam, orang tua Ririn memilih untuk keluar dari apartemen, ingin mencari udara segar dan Ririn mengambil kesempatan untuk bertanya.
"Siapa cowok yang di tengah?" Ririn bertanya seraya memperhatikan foto itu.
Keduanya sedang duduk di sofa depan televisi.
"Sahabat gue, namanya Arnold! Tapi, sekarang udah enggak, hubungan kami udah merenggang semenjak dia salah jalan," jawab Jim seraya memperhatikan foto itu.
"Salah jalan?" tanya Ririn semakin ingin tau.
"Iya, seandainya dia enggak musuhin Dhev. Mungkin, sekarang dia yang jadi asisten pribadi Dhev! Tapi... ya sudahlah, itu pilihan Arnold!"
Ririn pun tak bertanya apa yang membuat hubungan mereka merenggang yang ingin Ririn ketahui sekarang adalah di mana pria itu.
"Oh gitu, terus sekarang dia di mana?" tanya Ririn seraya memperhatikan Jim.
"Denger-denger di penjara! Ya gitu lah, masih musuhin Dhev aja, Dhev di lawan, manusia keras dia mah!"
Ririn hanya mendengarkan dan sekarang mengerti mengapa pria yang dirindukan itu tak pernah menghubunginya lagi.
****
Di rumah Amira, Nala sendiri merasa saat tidak mengerjakan apapun, harinya menjadi terasa sangat lama.
Bahkan, hari ini sudah datang dua orang asisten untuk Nala dan Ken.
Dhev tidak ingin mengulangi yang sudah lalu, ingin menjaga istrinya lebih intens.
"Sayang, aku bosan, semua dilakukan oleh orang baru itu," rengek Nala yang sedang membaca buku di kamar, ditemani oleh Dhev yang sedang menatap layar laptopnya.
"Kenapa? Bosan kan bisa baca buku, bisa nonton televisi atau nonton drakor kesukaan!" jawab Dhev masih dengan terus menatap layar laptopnya.
"Aku enggak mau nonton drakor dulu!" jawab Nala seraya meletakkan buku novel yang baru dibelikan oleh Dhev di meja nakas.
"Kenapa?"
"Aku maunya liatin kamu terus! Biar anak kita nanti ganteng kaya ayahnya!" kata Nala seraya merangkul Dhev dari belakang.
"Haha, bisa aja kamu. Paling bisa bikin aku bahagia," kata Dhev seraya mengecup pipi Nala yang berada di dekatnya.
"Tapi aku laper," lirih Nala seraya kembali duduk, melepaskan rangkulan itu.
"Mau makan apa? Biar nanti ku carikan," tanya Dhev seraya menatap istrinya yang terlihat benar-benar bosan.
"Aku mau nasi goreng, tapi buatan kamu!" kata Nala seraya menatap Dhev.
"Aku enggak pernah masak, takut enggak enak," jawab Dhev seraya kembali ke laptopnya.
"Iya udah, aku tidur aja!" kata Nala, gadis itu merajuk karena Dhev tidak mengiyakan permintaannya.
Dhev mengira kalau Nala benar-benar tidur, tetapi lama-lama terdengar suara isak yang tertahan.
"Waktu ayah masih ada, setiap aku minta nasi goreng pasti dibuatkan!" batin Nala seraya mengusap air matanya.
Dhev melirik Nala dan mengetahui kalau istrinya tidak tidur.
"Sayang, kalau kita jalan-jalan aja gimana? Kita cari nasi goreng yang enak," ajak Dhev seraya meraih bahu Nala.
Dhev menarik lembut lengan istrinya membuatnya duduk kembali.
Nala menganggukkan kepala dan turun dari ranjang.
Keduanya keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan hati-hati.
Sesampainya di lantai bawah, Dhev dan Nala mendapatkan pertanyaan dari Amira yang baru saja keluar dari kamar, ingin mengecek cucunya di kamar atas.
"Udah tidur kok, Mah. Tadi Dhev udah cek," kata Dhev pada Amira supaya Amira tidak naik turun tangga.
"Iya sudah, terus kalian mau kemana malam-malam begini?" tanya Amira.
"Ngidam nasi goreng," jawab Dhev.
"Tunggu sebentar!" kata Amira yang kembali masuk ke kamar untuk mengambil benda kecil.
Benda itu adalah gunting lipat, Amira memberikan itu pada Nala.
"Bawa ini, kata orang, orang hamil itu diikuti sama mahluk halus dan benda ini penangkalnya!"
Nala pun menerima gunting itu dan memasukkan ke dalam kantong piyamanya.
"Terimakasih, Bu," kata Nala.
"Eh, ibu hamil itu pamali ngantongin di saku, harus dicepit di bra kamu, seperti ini!" kata Amira seraya memasangkan itu sedangkan Dhev hanya memperhatikan.
"Ingat ya, ngantongin uang koin juga enggak boleh, itu ngaruh sama bayinya nanti, kalau bayi itu cowok," kata Amira seraya mengusap lengan Nala.
"Banyak enggak bolehnya ya, Bu," kata Nala.
"Demi kebaikan, ikutin saja!"
Nala pun menganggukkan kepala.
Setelah itu, Dhev dan Nala kembali melanjutkan langkah kaki, baru saja sampai pintu, langkah Dhev dan Nala kembali terhenti saat mendengar Ken memanggilnya dari belakang.
"Ayah, Ibu, mau kemana?" tanya Ken seraya mengucek matanya, berdiri di anak tangga paling bawah.
"Eh, anak ibu kebangun," Nala melambaikan tangannya pada Ken dan Ken pun berjalan cepat menghampiri Nala.
"Ibu sama Ayah mau cari makan malam, Ken mau ikut?" tanya Dhev dan Ken menganggukkan kepala.
Sekarang, Dhev, Nala dan Kenzo sudah dalam perjalanan. Dhev melihat ada abang nasi goreng yang terlihat dagangannya sedang sepi.
"Bagaimana kalau kita beli di abang itu?" tanya Dhev seraya menunjuk gerobak yang terparkir di tepi jalan.
"Boleh," jawab Nala dan Nala tersenyum pada Dhev. Entah apa yang ada dipikiran Nala saat ini.
"Kamu kenapa?" tanya Dhev seraya memarkirkan kendaraannya.
"Kamu yang masak, kan bumbu udah ada di abangnya, semua udah siap tinggal kamu yang oseng-oseng aja, sayang. Mau yah, yah...," rengek Nala.
"Astaga, aku takut tangan ku kena minyak!" kata Dhev.
"aku yang perempuan aja enggak takut, kok. Setiap hari masak buat kamu sama Ken!" Nala menjadi cemberut seraya melepaskan sabuk pengamannya.
"Mungkin dia ngidam masakan aku!" batin Dhev seraya turun dari mobil. Menyusul Nala yang sudah duduk di kursi plastik yang abang nasi goreng sediakan.
"Bang, begini, kan istri saya lagi hamil, dia ngidam, pengen saya yang masak, boleh saya masak sendiri nasi gorengnya?" tanya Dhev yang berdiri di samping abang goreng.
Mendengar itu, Nala merasa senang karena keinginannya dituruti oleh suaminya.
"Emang Ayah bisa masak?" tanya Ken yang duduk di samping Nala.
"Liat aja, kalian pasti ketagihan!" jawab Dhev seraya mengambil sutil dari abang nasi goreng.
Dhev meminta pada abang nasi goreng tersebut untuk mengajarinya dan hal yang Dhev takutkan benar terjadi, lengan Dhev terkena sedikit minyak panas saat memecahkan telur.
Tetapi, Dhev menyembunyikan itu dari Nala, menurutnya tidak begitu panas dan ini untuk kebahagiaan istrinya.
Setelah beberapa menit, sekarang nasi goreng itu sudah siap.
Terlihat sangat menggoda dan Ken pertama yang mencicipi.
Ken merasa sedikit aneh pada nasi goreng itu, berbeda dengan Nala yang sangat lahap menikmati masakan suaminya.
Bersambung
Setelah membaca jangan lupa klik likenya, ya. Terimakasih. Jangan lupa difavoritkan juga ya☺