
"Ayo dimakan, Ken! Enak loh!" kata Nala seraya kembali memasukkan sesuap nasi goreng ke mulutnya.
Dhev tersenyum melihat istrinya sangat menyukai masakannya. Lalu, Dhev segera melahap nasi goreng miliknya yang sudah berada di tangan.
Hap! Dan seketika, Dhev seolah makan garam, sangat asin. Dhev segera memuntahkan yang ada di mulutnya.
Rupanya, saat abang nasi goreng mengatakan untuk ditambah micin, bukan micin yang Dhev masukkan tetapi garam.
"Enak kan, Yah? Pasti ketagihan!" ledek Ken seraya terkekeh, menertawakan Dhev sampai hampir sakit perut.
Dhev segera meminta minum pada penjual nasi goreng, setelah itu, Dhev berniat untuk mengambil nasi goreng Nala, baginya, itu tidak layak untuk dimakan.
Tetapi, saat Dhev selesai dengan minumnya, Nala juga sudah selesai dengan makannya.
Dhev dan Ken hanya menatap datar Nala.
"Alhamdulillah," ucap Nala yang ngidamnya keturutan. Ia tersenyum bahagia pada suaminya yang terdiam, menatapnya tanpa expresi.
****
Di rutan, Arnold mendapatkan tamu, saat menemuinya, Arnold terdiam, terlihat gadis yang dirindukan itu ada di depan matanya.
Ya, Ririn berada di depan Arnold yang meneteskan air mata, air mata kerinduan.
"Dari mana lo tau kalau gue ada di sini?" tanya Arnold.
"Hapus air mata lo! Lo enggak pantes nangis!" jawab Ririn, "dan tidak penting dari mana gue tau!" lanjutnya.
Padahal di dalam hati, Ririn juga menahan tangis, merasa kalau Arnold sangat jahat dengan tidak memberitahunya, tersadar kalau Ririn bukanlah siapa-siapanya, hanya gadis bayaran untuk menemani setiap tidurnya. Hubungan keduanya tanpa status, lalu atas dasar apa Ririn harus marah dan kecewa. Begitu lah pikirnya.
Keduanya hanya diam, Arnold tak berani menatap Ririn, pria itu menundukkan kepala.
Lalu, Ririn membuka suaranya.
"Sebentar lagi gue mau nikah! Sama sahabat lo, Jimin!" kata Ririn.
Arnold yang mendengar itu hanya mengepalkan tangan di bawah meja sana.
Ingin melarang, tapi siapa dirinya, bukan siapa-siapa. Arnold hanya menganggukkan kepala.
"Semoga bahagia," kata Arnold seraya menatap Ririn, berpikir kalau itu adalah untuk terakhir kalinya bertemu dengan Ririn sebelum ia menjadi milik orang lain.
Ririn hanya diam, karena di dalam hatinya sama sekali tidak ada Jimin, itu hanya pernikahan palsu.
Ririn meletakkan paper bag di atas meja, berisi roti dan makanan ringan lainnya.
Tanpa sepatah kata, Ririn pergi dari sana.
Di luar, Ririn meneteskan air mata lalu segera mengusapnya.
"Dia bukan siapa-siapa! Harus ingat itu, hubungan kami selama ini hanya karena uang, tidak lebih!" batin Ririn, gadis itu mencoba mematahkan hatinya yang diam-diam memiliki rasa pada Arnold.
Di dalam, Arnold mengambil paper bag itu, setelah kembali ke sel, Arnold membagikan camilan itu pada sesama teman napi.
Arnold memilih duduk di pojok, diam, menatap roti yang ia ambil, teringat dengan ucapan Ririn yang memberitahu kalau dirinya akan menikah.
"Baguslah, dia layak hidup dengan baik, Jim juga bukan pria sembarangan, dia anak orang kaya, pasti terjamin hidupnya!" batin Arnold. Pria yang terlihat merana itu menggigit roti yang ada di tangannya, mengunyahnya dan saat akan menelan, roti itu seolah terhenti di tenggorokan. Arnold pun menangis sesenggukan, membuat semua teman sesama napinya itu melihat ke arahnya.
****
Hari pertunangan pun tiba, Nala, Dhev dan Ken menghadiri acara pesta tersebut.
Mereka memberikan selamat pada sepasang calon pengantin baru itu.
"Terimakasih," kata Ririn seraya cipika-cipiki dengan Nala.
Setelah itu, Nala melihat ada kue yang terpajang, kue itu belum terpotong dan Nala membisikkan sesuatu di telinga Dhev, Nala ingin segera mencicipi kue tersebut.
"Astaga, itu yang punya aja belum colek!" kata Dhev.
"Ada apa Dhev?" tanya Jim yang menghampirinya.
Nala dan Dhev tersenyum.
"Enggak papa, kita enggak bisa lama-lama, Jim. Dia sedang hamil, takut kecapean!" kata Dhev.
"Wah, jagoan, kamu mau jadi kakak!" kata Jim pada Kenzo seraya mengusap pucuk kepalanya.
"Om, nanti rambut ku jadi berantakan!" protes Kenzo seraya merapikan rambutnya.
"Sok ganteng kamu, kaya ayah mu!"
"Emang ganteng," jawab Dhev tidak mau kalah.
"Narsis!" kata Nala seraya mencubit pinggang Dhev.
"Kamu sendiri mengakui, kok!" kata Dhev seraya merengkuh pinggang istrinya.
Kemudian, Dhev melepaskannya saat ada teman-teman masa sekolahnya ikut menghadiri acara pesta tersebut.
Dhev bersalaman dan mengenalkan Nala pada semua temannya.
Lalu, ada Monic yang tiba-tiba mengajak Dhev untuk cipika-cipiki.
"Selamat, ya!" kata Monic.
"Nikah enggak bilang-bilang lo!" kata Monic seraya tidak mau melepaskan tangan Dhev.
Dhev sendiri menyadari kalau ada yang kegerahan saat melihat tangannya tak kunjung dilepaskan oleh Monic.
"Maaf, itu tangan bisa lepas, enggak?" tanya Nala pada Monic.
Dalam hati, Dhev sangat senang melihat istrinya itu sangat berani, bukan memilih diam lalu menerima.
Kejadian itu membuat Nala melupakan kue yang tadi diinginkan, sekarang, Nala mengajak Dhev dan Ken pulang.
"Gadis kecil, pegang tangan aja masa enggak boleh!" kata Monic seraya bergantian menyalami Nala.
"Hm!" jawab Nala, ia tak mau menanggapi Monic, merasa kurang suka pada gadis itu, mungkin rasa kurang sukanya akan bertambah apabila mengetahui Monic adalah seorang janda dan sudah lama mengagumi Dhev.
"Ayo, sayang!" kata Dhev seraya menggandeng tangan Nala dan Ken, mereka pamit pada Jimin dan Ririn, tidak tertinggal orang tua Jimin.
Di sana Nala tidak melihat orang tua Ririn, ingin menanyakan tetapi sekarang Nala sudah berada di luar.
"Sudahlah, mungkin mamah sama papahnya lagi di toilet!" batin Nala.
****
Di apartemen, Doni yang baru pulang bekerja itu tak melihat Nindy.
"Kemana anak itu?" tanyanya pada diri sendiri.
Doni pun segera meletakkan tas kerjanya, memilih untuk mandi. Selesai dengan mandinya, Doni yang sedang duduk di sofa depan televisi seraya meminum minuman kaleng itu melihat Nindy yang baru kembali.
"Dari mana?" tanya Doni seraya melihat ke arah Nindy.
"Dari rumah sakit, periksa kehamilan," jawab Nindy seraya ikut duduk di sofa.
"Lain kali kabari aku! Aku bisa mengantar!" kata Doni seraya kembali menatap layar televisi.
"Jangan terlalu perhatian, aku takut!" batin Nindy. Gadis itu tersenyum, ikut menatap layar televisi.
"Kalau begitu, aku mau siapkan makan malam dulu!" kata Nindy seraya bangun.
"Jangan capek-capek! Aku udah biasa apapun sendiri, santai saja!" kata Doni seraya menolehkan kepala, menatap Nindy yang bangun dari duduknya.
"Oh. Ok!" jawab Nindy yang kemudian pergi ke kamarnya.
Di kamar, Nindy mengira kalau Doni tidak menyukai keberadaannya, pemikirannya itu membuatnya sedih lalu menangis.
Padahal, kenyataannya adalah, Doni tidak enak apabila harus dilayani oleh Nindy selayaknya suami, Doni juga tidak tega kalau adik dari bosnya harus mengerjakan pekerjaan rumah.
Dapatkah Doni dan Nindy saling memahami?
Bersambung.
Jangan lupa klik likenya setelah baca, ya. Terimakasih ❤
Bagi yang mau vote/gift dipersilahkan ☺