DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Akhirnya Haha


Selesai dengan mandi dan bersiap, sekarang, Dhev mengajak Nala ke acara peresmian lebih dulu. Di sana, Nala bertemu dengan Doni yang juga mengajak Nindy.


Nala menyapa ramah iparnya itu, lain halnya dengan Dhev, pria itu masih tak mau menyapa adiknya.


Di acara pesta, Nala merasa beruntung karena ada Nindy, di sana, ia tak mengenal tamu undangan yang lain sehingga dirinya merasa asing saat Dhev sedang berbicara dengan koleganya.


Dhev yang merasa tidak sabar itu segera mengajak Nala untuk pulang.


"Kok cepat, Mas?" tanya Nala yang melingkarkan tangannya di lengan Dhev.


"Iya yang penting kita sudah hadir, aku juga ada urusan lain," jawab Dhev.


Nala hanya memperhatikan suaminya yang sepertinya sedang senang.


Setelah itu, Dhev mengajak Nala untuk menemui Arnold, tetapi, Dhev meminta Nala untuk menunggu di dalam mobil, tentu saja, pria itu tak ingin istrinya melihat sisi buruk darinya.


Benar saja, di dalam, Dhev menertawakan Arnold yang berlutut di kakinya.


"Katakan! Aku tidak akan mengusik keluarga Dhevano, tidak akan menemui adik dari Dhev, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama!" perintah Dhev yang sedang duduk di kursi panjang.


Dhev merekam apa yang akan diucapkan oleh mantan sahabatnya itu.


merasa puas, Dhev tertawa dengan terbahak-bahak.


"Sumpah, pengen gue jejelin sandal mulutnya!" batin Arnold yang masih berlutut di depan Dhev dengan menundukkan kepala.


"Cepat! Aku udah enggak sabar!" kata Dhev setelah berhenti tertawa.


Merasa geregetan, Arnold pun bangun dari berlututnya, menahan leher Dhev dengan lengannya dan sekarang Dhev berada di bawah Arnold.


Arnold menatap tajam Dhev juga dengan sebaliknya.


Tangan Dhev memberi isyarat pada sipir yang berjaga untuk tidak ikut campur.


"Haha, kenapa? Lo enggak terima? Apa lagi gue, bangsat! Lo perkosa calon istri gue, gunain adik gue, lo culik anak gue! Setan lo!" ucap Dhev seraya berusaha bangun, tetapi, kali ini Arnold mengerahkan semua tenaganya, sehingga posisinya masih tetap sama.


"Gue minta maaf! Gue enggak akan ngusik keluarga lo lagi! Puas?" tanya Arnold seraya melepaskan Dhev.


Dhev pun bangun lalu membenarkan jas dan dasinya.


"Sangat puas!" jawab Dhev.


"Tunggu lah, Doni akan mengurus semua!" kata Dhev seraya pergi meninggalkan Arnold tidak tertinggal suara tawa yang seolah mengejek Arnold.


Arnold terduduk lesu, merasa kalau benar-benar harganya dirinya itu sudah hilang di mata Dhev.


Nala melihat Dhev yang keluar dari penjara seraya memainkan ponselnya dengan tersenyum-senyum.


Sekarang, Dhev sudah duduk di bangku kemudi.


"Kenapa, Mas? Kayanya lagi seneng?" tanya Nala seraya melihat ke arah suaminya.


Bukan menjawab, tetapi Dhev mencium ganas bibir istrinya itu.


Dhev juga menurunkan bangku Nala sehingga posisinya Nala berada di bawah Dhev.


Setelah kehabisan nafas, Nala mendorong dada Dhev dan memukuli dadanya. Nala merasa sebal dengan Dhev yang tiba-tiba menyerangnya dengan ganas.


"Maaf, sayang. Aku terlalu bahagia!" kata Dhev seraya mengusap bibir Nala yang ternyata sampai mengeluarkan sedikit darah, Dhev menggigitnya.


Nala masih memanyunkan bibirnya dan Dhev menertawakan itu.


Merasa kesal akhirnya Nala mencubit pinggang Dhev.


"Ampun, sayang! Ampun!" kata Dhev yang merasa kesakitan, tangannya berusaha melepaskan tangan Nala dari pinggangnya.


****


Di apartemen Jimin. Ririn merasa heran kenapa mertuanya belum juga belum pergi dari sana, apalagi melihat siti Aisyah yang sedang di dapur.


Dengan kehadiran dua wanita itu membuat Ririn merasa kalau dirinya hanya menumpang di apartemen Jimin.


Apalagi Jimin harus lembur dan sekarang Ririn hanya bertiga dengan mereka di apartemen.


Merasa diabaikan membuat Ririn ingin keluar untuk mencari udara segar.


"Lihat! Enggak ada sopannya dia, pergi aja enggak permisi!" kata Mamih Jimin.


"Mungkin Ririn kurang suka ada aku di sini, Tan."


"Biarin, kalau dia enggak suka kenapa enggak minggat aja!" ketus Mamih Jimin.


"Ingat, ya. Kalau Jimin pulang nanti, ambil kesempatan buat deketin dia!" kata Mamih Jimin.


"Tapi, Tan. Ai enggak enak, kan Ai cewek, masa harus mulai duluan!" kata Aisyah yang sedang mencuci piring bekas makan malamnya.


"Kamu mau jadi menantu orang kaya enggak? Pengen angkat derajat orang tua kamu enggak?" tanya Mamih Jimin yang berdiri di samping Siti Aisyah.


"Tapi... emangnya aku enggak merusak rumah tangga mereka, Tan?" tanya Siti Aisyah dengan polosnya.


"Anggap saja kamu membantu kami mendapatkan keturunan! Ingat membantu orang itu mendapatkan pahala!" jawab Mamih Jimin, setelah itu, Mamih Jimin pergi dari dapur karena tidak ingin mendengar Siti Aisyah bertanya lagi.


****


Di jalan, Ririn melihat seorang pria yang masih dengan kepala botaknya, ia masih mengenal walau melihatnya dari belakang, pria itu adalah papahnya.


Terlihat badan pria itu semakin kurus tidak segemuk waktu itu.


Ririn pun memarkirkan mobilnya dan mengikuti papahnya yang masuk ke dalam gang.


Ririn mengikuti sampai pria itu pulang ke rumahnya yang sekarang. Terlihat, Adelia juga baru saja pulang bekerja.


"Kasian mereka," kata Ririn yang memperhatikan keduanya dari kejauhan.


"Kemarin, gue liat anak lo! Dia hidupnya enak sekarang! Naik mobil mewah, sama cowok yang cukup lumayan cakep, enggak jelek-jelek amat!" kata Papah Ririn seraya membuka pintu kontrakan yang sederhana itu.


"Biarin aja, dia udah milih jalan hidupnya dengan jual diri! Gue enggak mau dibikin malu karena dilabrak tetangga! Bikin malu!" ketus Adelia.


Mendengar itu, air mata Ririn jatuh dan segera tangan seorang pria menghapus air mata itu. Ririn sedikit terkejut lalu melihat kearahnya.


"Jim? Dari kapan lo di sini?" tanya Ririn seraya menghapus air matanya.


"Dari tadi, emang lo aja agak budeg gue panggilin!" kata Jimin.


"Masa sih? Gue enggak denger!" jawab Ririn seraya merapikan rambut kemudian mencepolnya.


"Bibir lo kenapa, Jim?" tanya Ririn seraya menyentuh bibir suaminya.


Jimin pun menggigit pelan jari itu yang berada di bibir.


"Udah gue bilang, lo agak budeg! Sampe enggak tau kalau suaminya berantem di belakang!"


"Hah?" Ririn benar-benar tidak tau apa yang dimaksud oleh Jimin dan Jimin pun menceritakan kejadiannya.


Jimin yang sedang melintas di jalan yang sama itu melihat dua pria mencurigakan, mereka mengikuti Ririn dari belakang dan saat salah satu pemuda itu akan melancarkan aksinya untuk menarik tas Ririn dari belakang, saat itulah Jimin menghajar keduanya.


Aksi jotos menjotos pun tak dapat dihindari.


"Astaga, maaf gue enggak tau! Gue terlalu fokus sama papah!" kata Ririn seraya menatap Jimin yang sedang bercerita.


Ririn pun mengecup bibir Jimin yang memar. Tak puas hanya dikecup membuat Jimin mengulangi dan kali ini hisapan Jimin begitu terasa kuat sehingga Ririn pun mengimbangi cara Jimin bermain sampai keduanya lupa kalau sedang berada di dalam gang sempit yang gelap.


Jimin dan Ririn tidak tau kalau ada yang terkejut saat melihat keduanya sedang berciuman. Orang itu berada di lantai atas, si pemilik tembok yang rumahnya persis di sisi gang tersebut.


Byur! Ririn dan Jimin baru menghentikan apa yang sedang mereka lakukan. Keduanya melihat keatas dan melihat ember jatuh dari lantai dua.


Jimin pun melindungi Ririn supaya tidak kejatuhan ember hitam tersebut.


Wanita itu berteriak pada Ririn dan Jimin.


Jimin pun segera menarik Ririn, membawanya pergi dari gang itu sebelum menjadi ramai dan menjadi tontonan warga setempat.


BERSAMBUNG.


Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca^^


Jangan lupa juga buat tampol giftnya, ya. Atau vote gratis untuk dukung karya ini, sampai jumpa di episode selanjutnya 🤗