
Nala meminta pada Dhev untuk segera mengejar Ken dan bicarakan masalah ini baik-baik, tetapi, Dhev sudah kecewa pada anaknya yang lebih percaya orang lain dari pada keluarganya.
"Biarkan saja dia! Memangnya siapa dia berani bicara kasar seperti itu sama orang tua!" jawab Dhev seraya menunjuk Ken yang sudah tidak terlihat.
Ken yang sedang pusing segera pergi untuk menemui Ruri, teman dari masa kecil sampai kemarin SMA, keduanya berpisah ketika Ruri harus kuliah di luar negeri.
Sesampainya di rumah Ruri, Ken melihat pria itu baru saja pulang yang entah dari mana.
Ken memarkirkan mobilnya dan membunyikan klakson.
Ruri yang baru saja turun dari mobil itu melihat kearahnya.
"Eh, elo Dari mana aja lo? Lama enggak kliatan!" kata Ruri seraya berjalan mendekat ke arah Ken.
Ken pun turun dari mobil dan menyambut uluran tangan Ruri.
"Gue mah enggak kemana-mana, lo yang kemana? Balik enggak ngabarin!" protes Ken.
"Gue kira lo sibuk sama perusahaan, lo tau lah gimana bokap lo berharap lo nerusin perusahaannya."
Ruri pun mengajak Ken untuk masuk dan melanjutkan obrolannya di dalam.
"Gue keluar dari rumah, Ri!" kata Ken yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa ruang tengah.
Ruri pun mengambilkan temannya itu minum lebih dulu.
"Nih minum dulu!" kata Ruri seraya mengulurkan tangan memberikan minuman kaleng.
"Gue belum makan, minum minuman kaya gini sakit perut ntar gue!" protes Ken dan sekarang Ruri yang duduk di samping Ken itu mengeluarkan ponselnya, Ruri memesan makanan online.
"Iya udah tunggu, 30 menit lagi sampai, biasa bujangan kaya gue cuma ada stok mie instan di dapur!" kata Ruri.
"Gue jadi ngrepotin!"
"Enggak kok, santai aja. Kita sahabatan udah lama! Lo kenapa? Kayanya lagi kusut banget!"
"Lo masih inget Bila, kan?"
"Oh, bidadari kampus itu yang lo suka ceritain, iya kenapa? Lo masih ngejar-ngejar dia?" Ruri pun menertawakan teringat kekonyolan Ken.
"Gue udah jadian sama dia beberapa bulan ini, gue serius pengen ngajak dia nikah, tapi apa, Ri. Ada yang jebak dia, gue enggak terima!" kata Ken dengan menggebu.
"Jebak gimana?" tanya Ruri yang mulai penasaran.
Ken merasa malu kalau sampai Ruri mengetahui permasalahan Bila dan memilih untuk tidak menceritakan yang sebenarnya.
"Iya dijebak, biar gue enggak suka lagi sama Bila, gue rasa itu kerjaan bokap yang enggak setuju sama pernikahan gue!"
"Jangan asal bicara lo, Ken. Gue kenal baik gimana orang tua lo! Harusnya lo selidiki lebih dulu siapa yang benar baru lo ambil keputusan!"
Ken mendengarkan nasehat temannya itu dan akan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah itu, belum sampai makanan datang, Ken sudah bangun dari duduk.
"Ok, makasih nasehatnya, gue pergi dulu!" kata Ken yang ingin menemui seseorang.
"Ken. Jangan marah juga sama gue!" seru Ruri yang mengira kalau Ken tidak terima dengan nasehatnya.
"Kagak!" jawab Ken seraya berlalu.
"Ini pasti kerjaan paman!" kata Ken seraya memarkirkan mobilnya. Sekarang, Ken menuju ke salon Arnold.
Sesampainya di sana, Ken langsung masuk ke ruangan Arnold dan tanpa basa-basi lagi Ken segera bertanya.
"Paman, apa ini semua kerjaan paman?"
"Apa maksud, Ken?"
"Enggak udah pura-pura, Paman! Katakan, Paman yang menjebak Bila supaya tidur dengan pria lain? Iya? Jawab, Paman!"
Ken sendiri masih berdiri di pintu dan Arnold memintanya untuk masuk.
"Duduk dulu, Ken!" perintah Arnold.
"Ken mau paman cepat jawab!"
"Paman, apa paman menjawab jujur? Paman benar-benar enggak kenal sama pria itu? Atau pria itu orang suruhan paman?"
Arnold menertawakan Ken membuat Ken merasa sebal.
"Kamu pikir ayah dan paman mu ini orang seperti itu? Justru kamu yang harus hati-hati dengan wanita itu, Ken! Saran paman sebelum kamu marah, lebih baik cari tau! Itu kalau kamu enggak percaya sama ayah dan pamanmu!"
Ken merasa bingung, di sini, Ken merasa kalau Bila adalah korban, tetapi, semua orang meminta Ken untuk mencari tau lebih dulu.
Ken pun keluar dari ruangan Arnold tanpa sepatah kata pun, Arnold melaporkan itu pada Dhev dan Dhev mengatakan kalau Ken sudah keluar dari rumah dan menuduhnya sebagai dalang.
****
Mae baru saja kembali bekerja dan melihat Fai ada di rumahnya.
"Nak Fai. Kalian makin akrab ternyata," kata Mae yang baru saja masuk ke rumah.
"Iya, kan Fai sekarang udah jadi pacar Alif, Bu," jawab Fai seraya mengambil tangan Mae untuk dicium punggung tangannya.
Mendengar itu, Mae menjadi panas dingin, merasa kalau hubungan sedarah ini adalah salahnya.
Fai merasa kalau tangan Mae tiba-tiba menjadi dingin.
"Bu, ibu sakit? Perlu ke rumah sakit?" tanya Fai dan Alif yang baru saja kembali dari menanyakan siapa yang sakit.
"Enggak, ibu enggak sakit!" jawab Mae seraya segera melepaskan tangan Fai.
"Maaf, saya harus istirahat dulu!" kata Mae yang kemudian masuk ke kamarnya.
Alif merasa ada yang aneh dengan sikap ibunya dan akan menanyakan setelah Fai pulang dari rumah.
Dan setelah makan siang bersama, Alif mengantarkan Fai untuk pulang, ia merasa tidak enak kalau Fai harus seharian bersamanya, sedangkan Fai juga memiliki keluarga.
"Tapi, gue masih mau sama lo!" rengek Fai yang tak mau pulang.
"Nanti bisa ketemu lagi! Sekarang pulang dulu, emang lo enggak capek?" tanya Alif seraya memberikan helm pada Fai.
Fai pun akhirnya menerima helm itu dan mau untuk pulang.
Di jalan saat keluar dari gang, Alif dan Fai berpapasan dengan Andra, Fai pun menganggukkan kepala sedangkan Alif terlihat cuek, Fai mengira kalau Alif tak melihat ayahnya.
Sesampainya di rumah, Fai melihat Nala yang sedang bersedih di kamarnya, sementara Dhev tidak ada di rumah, mungkin pria itu sedang mengurus pekerjaan atau ada keperluan di luar rumah. Begitulah pikir Fai.
Fai pun bertanya pada ibunya. Menanyakan apa yang terjadi.
"Kakak kamu, Fai! Lebih memilih gadis itu! Dia pergi dari rumah," lirih Nala dan Fai pun menjadi sangat geram.
"Dari awal Fai udah enggak suka sama cewek itu! Semakin ke sini semakin enggak suka, bikin keluarga kita jadi terbelah!" gerutu Fai.
"Ibu jangan sedih lagi, nanti Fai akan bantu bawa kakak pulang!" kata Fai dengan optimis. Padahal Fai sendiri masih bingung bagaimana caranya membawa Ken kembali ke keluarganya.
****
Alif pulang dengan membawa lauk pauk, ia mengira Mae sedang tidak sehat, Alif berpikir supaya Mae bisa istirahat dan tidak perlu memasak untuk makan malam nanti.
Tetapi, sesampainya di rumah, Mae menanyakan hubungan Alif dan Fai.
"Alif pacaran, Bu. Alif suka sama Fai," jawab Alif.
"Ibu enggak setuju! Sekali ibu enggak setuju tetap enggak setuju!"
"Kenapa, Bu? Apa karena Fai tomboi? Tapi dia baik, bu."
"Sadar, Nak. Dia siapa dan kamu siapa?"
"Memangnya ibu sudah mengenal Fai? Walau Fai anak orang kaya, tetapi, dia enggak mandang rendah kita, enggak mandang status sosial, bu." Alif berusaha meyakinkan Mae walau Mae sudah menangis di depannya dan itu membuat Alif semakin bertanya.
Bersambung.
Like dan komen ya all 🤗.
Gift/vote untuk dukung karya ini, Terimakasih ❤