
Di rumah Amira, Nala diam-diam pergi ke dapur, ia ingin sekali memasak mie instan kuah kesukaannya.
Selama hamil dan menyusui, Nala sudah menahan rasa itu dan sekarang seperti tidak lagi sanggup untuk menahan.
Ia mengira kalau Dhev sudah tertidur, padahal, pria itu mengerti kalau istrinya diam-diam keluar dari kamar.
Di kamar, sekarang, Dhev tidak lagi turun naik untuk mengambil air minum karena Nala sudah menyiapkannya di atas beserta galonnya.
Nala menyalakan kompor dan mulai mengambil mie instan yang biasanya tersimpan di laci, tetapi, kali ini Nala tidak menemukan satupun mie instan di sana.
"Dimana mie?" tanya Nala seraya membuka laci satu persatu dan Dhev memperhatikan istrinya yang sedang sibuk mencari mie, pria tampan yang menyender di pintu dapur itu tersenyum dan berniat untuk mengerjai istrinya.
Tetapi, kali ini tidak menggunakan topeng, ia teringat dengan tinju yang pernah Nala berikan malam itu, malam di mana menjadi sejarah bagi keduanya.
Dhev berjalan diam-diam mendekati Nala, ingin mengagetkannya.
"Dor!" seru Dhev seraya meletakkan dua tangannya di bahu Nala.
Nala terkejut, terlebih lagi ia ketahuan sedang di dapur.
"Mas! Ihh, bikin kaget aja!" gerutu Nala seraya berbalik badan.
Nala berbalik badan sedikit memukul pelan di lengan Dhev.
"Kamu ngapain tengah malam gini?" tanya Dhev seraya menarik kursi meja makan lalu duduk di sana.
Tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya karena Dhev sudah melarang Nala untuk memakan itu.
Dhev bangun dari duduk lalu mematikan kompor yang airnya sudah mendidih itu.
"Dengar, aku tau apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu cari! Tidak ada mie satupun di rumah ini, ngerti!" kata Dhev.
Nala hanya menekuk wajahnya, sudah pasrah karena tidak mungkin melawan setelah mendengar ucapan Dhev yang terdengar serius.
Setelah itu, Dhev membopongnya, membawanya kembali ke kamar, sedangkan mata Nala terus melirik pada dapur itu, seolah tidak rela untuk meninggalkannya.
Nala yakin di salah satu laci yang belum terbuka itu ada tersimpan mie yang disembunyikan oleh Bi Rasiah.
****
Jimin baru saja selesai bekerja, ia kembali ke kamar dan melihat punggung Ririn yang bergetar, pria itu tau kalau istrinya sedang menangis.
Jimin pun mendekat dan meraih ponsel yang masih menyala di tangan Ririn.
Jimin membaca isi pesan yang baru saja dikirim oleh mamihnya.
"Biarkan Jimin menikah lagi, saya menginginkan cucu!"
"Jim!" Ririn memanggil dan kembali mengambil ponselnya.
Melihat Ririn yang menangis membuat Jimin yakin kalau Ririn sendiri sudah mencintainya.
"Hm," jawab Jimin, pria itu ikut duduk di tengah ranjang.
"Nikah lagi aja sana, sesuai keinginan orang tua kamu! Lagi pula awal nikah kita juga main-main, kan!"
"Kamu ini ngomong apa? Walau awalnya main-main tapi sekarang kita saling membutuhkan, saling sayang juga cinta, bukan?" tanya Jimin seraya menghapus air mata Ririn.
"Tapi aku sakit, setiap hari orang tua kamu nanyain cucu, aku stress tau nggak!" kata Ririn seraya menurunkan tangan Jimin dari wajahnya.
"Memangnya, kalau aku nikah lagi kamu rela?" tanya Jimin dan Ririn menatap tajam Jimin.
"Kan, aku baru nanya gitu aja kamu udah melotot, kalau kamu udah terlanjur cinta sama aku bilang aja, lagian siapa yang mau nikah lagi, satu istri aja enggak habis-habis, apalagi dua!" kata Jimin seraya berbaring, menarik selimut dan Ririn merasa jengkel mendengar jawaban Jimin.
Gadis itu menarik selimut Jimin dan memukuli suaminya menggunakan bantal.
"Au, Rin. Lo kdrt tau enggak!" pekik Jimin dan pria itu menangkap bantal Ririn, sekarang, keadaan sudah berbalik, Ririn yang berada di bawah Jimin.
"Gue enakin juga lo!" atau Jimin yang kemudian melepaskan piyama Ririn.
"Aaaaaaa!" teriak Ririn, gadis itu sedang marah tetapi suaminya tidak melihat keadaan.
Keduanya bertempur sengit di atas ranjang. Ririn menarik rambut Jimin supaya melepaskan hisapan di pd nya.
"Gila!" teriak Ririn dan kali ini Jimin menyumpal mulut Ririn dengan mulutnya.
Setelah kehabisan nafas Jimin melepaskan itu.
Ririn kembali melemparkan bantal ke wajah Jimin dan Jimin tertawa melihat raut wajah istrinya yang seperti sedang diperkosa oleh suaminya sendiri.
"Ayo, kita main, buat dedek!" ajak Jimin seraya kembali mendekati istrinya.
"Gue udah enggak tahan!" kata Jimin seraya menerkam istrinya.
Malam-malam indah, tidak pernah membosankan dengan Ririn yang berhasil menghiasi malam-malamnya itu semakin membuat Jimin tergila-gila dengan Ririn.
"Gila, kenapa masih kaya perawan aja, sih?" tanya Jimin yang sedang berusaha membuka gawang.
"Gue kan perawatan dodol, kalau enggak, entar lo belok ke rumah janda, gue nangis lagi!" kata Ririn yang sedang berada di bawah Jimin.
Setelah pertempuran sengit itu, Jimin meminta pada Ririn untuk tidak membahas pernikahan lainnya.
Ririn pun menganggukkan kepala.
Setelah lelah dan bermandikan keringat, sekarang, Jimin tertidur pulas, sementara Ririn, ia tidak dapat memejamkan mata.
Belakangan ini, ia susah tidur memikirkan apa yang salah dengan dirinya.
****
Keesokan paginya, Selesai sarapan, di rumah Amira kedatangan tamu, tamu itu adalah besannya. Terlihat, Nindy juga ikut bersamanya.
Dhev masih diam pada adiknya, teringat dengan perbuatannya yang dianggap sebagai pengkhianatan, terlebih lagi Dhev harus melihat anak Arnold yang di gendong.
Dhev berlalu begitu saja, hanya menyapa ibu dan bapak dari asistennya.
"Silahkan masuk, maaf tidak bisa menemani, saya harus kembali bekerja," kata Dhev yang berdiri di teras.
Nindy sendiri segera masuk, mencari ibunya yang sedang menyemprotkan air di bunganya.
"Iya, silahkan, hati-hati di jalan, Nak!" kata Ibu Doni.
Dan setelah mengantarkan keluarga kecilnya itu, Doni pun segera berangkat bersama dengan Dhev.
Doni yang mengemudikan mobilnya dan Dhev duduk di bangku belakang.
Dhev bertanya jadwal hari ini dan Doni pun menjawabnya.
****
Dan Kenzo sudah terbiasa tidak diantar oleh Nala, ia mengerti kalau ibunya harus menjaga adik bayi. Kenzo di antar oleh suster Reza dan Mang Dadang.
Kembali ke rumah Amira.
"Kak, Fai udah suntik lagi belum?" tanya Nindy yang sudah duduk santai di ruang tengah.
"Belum, rencana hari ini. Fakhri udah belum?" tanya Nala yang seraya memberikan MPASI untuk Fai.
"Mamamam!" Nala menirukan gaya Fai mengoceh.
"Udah bisa ngoceh ya, kak?" tanya Nindy seraya memperhatikan Fai yang semakin gembul.
"Iya, Fakhri juga udah bisa ngoceh, kan?"
Nindy menggelengkan kepala seraya mengerucutkan bibirnya.
"Sabar, pertumbuhan anak-anak beda, enggak semua sama, ada yang cepat ada juga yang lambat," kata Ibu Doni yang ikut nimbrung.
"Iya, Bu." Nindy tersenyum padanya.
"Ya udah, nanti kita berangkat bareng y ke RS," kata Nala dan Nindy pun mengiyakan.
Nala dan Nindy diantarkan oleh Mang Dadang yang baru saja kembali dan juga asisten Nala yang selalu mengikutinya kemana pun pergi.
Diperjalanan, Nindy menanyakan liburan Nala yang lagi-lagi tertunda.
"Iya, waktu itu mau resepsi eh akunya mabok. Mau ganti liburan ke Turki tapi Fai masih bayi, udah gedean sekarang ayahnya yang sibuk!" kata Nala.
"Untung sabar ya, Kak!" kata Nindy dan Nala hanya tersenyum.
Sesampainya di rumah sakit, Nala dan Nindy segera ke mengantri di poli anak.
Rupanya di sana juga ada Mae, Mae sengaja kembali dan sangat sering ke rumah sakit tersebut demi mengetahui keadaan anaknya.
Berbeda dengan sebelumnya yang tak pernah melihat Nindy, sekarang, Mae merasa lega setelah melihat anaknya baik-baik saja.
Bahkan Mae sangat senang, anaknya memakai baju mahal, terlihat sangat terurus.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan juga difavoritkan, ya. Terimakasih 😇