
"Jahat lo, mentang-mentang Nala udah balik lo sombong, enggak mau ke rumah gue lagi!" balas Jimin.
"Astaga, kayanya kesepian beneran ini bocah!" kata Dhev setelah membaca balasan dari Jimin.
Dhev yang baru saja melepaskan dahaganya itu harus kembali keluar rumah dan Amira memperhatikan Dhev.
"Malam-malam begini mau kemana, Dhev?" tanya Amira pada dirinya sendiri.
Tersadar Dhev keluar malam membuat Amira berpikiran yang tidak-tidak.
"Apa jangan-jangan Dhev jajan?" Amira terkejut, Amira pun segera mengejar Dhev tetapi Dhev sudah tidak terlihat lagi.
Amira pun mencoba menghubungi Dhev tetapi ponsel putranya itu tidak dapat di hubungi membuat Amira semakin cemas.
"Dhev, jangan sampai kamu berbuat yang tidak-tidak, ingat dosa, Dhev! Semoga anakku selalu dalam lindungan Tuhan," doa Amira dalam hati.
****
Dhev disambut dengan sangat antusias oleh Jimin dan Dhev dapat mencium aroma kebusukan dari sahabatnya itu, Dhev mengerti kalau ada yang Jimin inginkan darinya.
"Kenapa lo senyum-senyum?" tanya Dhev yang masih berdiri di pintu. Jimin pun menarik lengan Dhev membawanya masuk.
"Apaan sih, jangan pegang-pegang apa!" protes Dhev seraya melepaskan tangan Jimin dari lengannya.
"Gini, Dhev. Kan lo kaya, gimana kalau kita itu." Jimin menaik turunkan alisnya semakin menambah kecurigaan Dhev.
"Itu apa, yang jelas apa kalau ngomong!"
"Jajan, Dhev! Masa enggak tau, sih!" Jimin meninggalkan Dhev yang masih berdiri di pintu.
Dhev pun menyusul Jimin masuk.
"Astaga, paling jajan martabak aja lo kaya miskin banget sampe minta ditraktir!" Dhev menjatuhkan dirinya di sofa panjang memeluk bantal sofa seraya menatap Jimin yang juga sedang duduk di sofa dengan memasang wajah memelas yang terlihat sangat mengesalkan bagi Dhev.
"Dhev, lo tau kan, artis yang inisial A, denger-denger dia bisa diboking, Dhev! Nah lo kan banyak duit, ayo lah kita jajan, traktir gue!" Jimin semakin memelas pada Dhev yang terdiam.
"Jajan, dari pada gue main sendiri di kamar mandi, gue juga butuh, tapi gue juga enggak mau mengkhianati Ana!" batin Dhev.
Dhev masih terdiam dan Jimin seperti racun yang berbisa, mulutnya tidak dapat diam terus menghasut Dhev yang sedang berpikir.
Merasa kesal karena Jimin terus berisik membuat Dhev melemparkan bantal yang dipeluknya.
"Setan!" gerutu Dhev dan Jimin tertawa terbahak.
"Jim, mending lo merit aja sana, biar kalau otak lo ngeres tuh ada yang nyuci!"
"Kan lo tau, Dhev. Gue enggak mau terikat!" Jimin memeluk bantal yang ditangkapnya.
"Ya udah, jomblo aja terus lo!"
"Emang lo enggak kangen Dhev sama rasa itu, jangan muna deh lo! Gue yakin tadi lo habis main sendiri kan di kamar mandi!" ceplos Jimin membuat Dhev geregetan.
"Nyesel gue ke sini, ternyata di sini sarang setan. Untung Nala udah gue bawa balik!" kata Dhev seraya bangun dari berbaringnya.
"Eh, mau kemana?" tanya Jimin seraya mengejar Dhev.
Baru saja Dhev membuka pintu utama sudah dikagetkan oleh dua orang wanita seksi yang berdiri di depan pintu. Ya, Jimin yang memesannya.
"Siapa kalian?" tanya Dhev seraya menatap tajam pada dua wanita itu.
"Jangan jual mahal, sayang. Kan situ yang mesan," jawab salah satu wanita yang mengenakan pakaian seksi berwarna merah maroon seraya mengusap leher Dhev.
Belum tau siapa Dhev, wanita itu sudah berani menyentuhnya membuat Dhev merasa kesal karena tangan kotor wanita itu telah berani menyentuh lehernya.
Dhev menahan tangan itu dengan kuat. "Jauhkan tangan kotor kamu dari badanku!"
Dhev melepaskan kasar tangan itu lalu menerobosnya, meninggalkan apartemen Jimin membuat wanita tersebut merasa malu sekaligus kesal.
****
Dhev merasa kesal dan hampir berbuat yang tidak-tidak karena Jimin. Pria itu masuk ke mobilnya, menutup pintu mobil dengan sedikit keras.
Dhev pun kembali pulang, mengendarai mobilnya dengan santai.
Sesampainya di rumah, Dhev melihat Amira masih duduk di sofa ruang tamu.
"Mamah, kenapa belum tidur?" tanya Dhev seraya menutup kembali pintunya.
"Dari mana kamu, Dhev?" tanya Amira seraya bangun dari duduknya.
"Biasalah, Mah. Urusan cowok!" jawab Dhev seraya berjalan masuk dan sekarang Dhev yang berada di ruang tengah itu menghentikan langkah kakinya saat Amira kembali bertanya.
"Main perempuan?"
"Astaga, Mamah. Emangnya Dhev orang yang seperti itu?" Dhev memutar balikan badannya, menghadap Amira yang menatapnya mencari jawaban yang benar dari putranya.
Amira tak bertanya lagi karena merasa anaknya itu tidak berbohong dan Dhev kembali melanjutkan langkahnya.
Dhev berjalan dengan santai menaiki tangga dan harus melewati kamar Nala.
Terlihat kamar itu tidak tertutup rapat dan lampu masih menyala, Dhev yang merasa penasaran itu sedikit mengintip.
Terlihat si pemilik kamar sudah tertidur dengan ponsel yang tetap menyala. Dhev menggelengkan kepala, entah apa yang membuat pria itu berbaik hati berniat untuk mematikan ponsel Nala.
Dhev pun masuk dan membiarkan pintu kamar itu terbuka selama dirinya berada di dalam. Dhev kembali menggelengkan kepala saat tontonan yang Nala tonton itu ternyata sedang menayangkan adegan adegan kiss. "Astaga," gumam Dhev dalam hati.
"Kenapa di mana-mana selalu ada beginian, sih!" gerutu Dhev yang merasa imannya bisa tergoyahkan apa bila harus memikirkan hal itu terus.
Dhev mengambil ponsel yang menyender di bantal, memindahkannya ke atas nakas. Nala yang sudah pulas dengan posisi tengkurap itu sampai tidak menyadari ada yang masuk ke kamarnya.
Sebelum keluar, Dhev mematikan lampu kamar Nala. "Gimana mau istirahat kalau lampu saja masih menyala!" kata Dhev dalam hati. Setelah itu menutup rapat pintu kamar gadis tersebut.
Tanpa sadar, Dhev telah memberikan perhatian kecil untuk Nala. Walau masih diam-diam.
"Anak gadis kok teledor banget, kalau gue orang jahat gimana? Mana pakai baju enggak ada lengannya, celana pendek. Untung gue punya iman!" Dhev memuji dirinya sendiri, menganggap kalau dirinya pria yang sangat baik.
Sebelum menjatuhkan dirinya di ranjang, Dhev lebih dulu mencuci wajah, tangan dan kakinya.
****
Di kontrakan Ririn.
Kedua orang tua Ririn cemas menunggu anaknya yang sudah larut malam tetapi belum pulang.
"Dimana anak itu, coba kamu hubungi Darwin!" kata papah Ririn pada Adelia.
"Gimana mau hubungi, pulsa enggak ada, kuota juga abis!" kata Adelia yang sedang duduk di kursi depan televisi.
"Ya elah, kenapa enggak bilang, kalau sekedar beli pulsa mah papah masih punya duit!" kata papah Ririn seraya memberikan uang recehnya pada Adelia.
"Papah lah tolong beliin, kan udah malem, masa mamah disuruh keluar nyari pulsa, iya kalau konter masih pada buka," protes Adelia seraya menghitung uang receh tersebut.
"Lagian anak kamu itu, kalau begini caranya kawinin aja mereka!" ketus papah Ririn seraya mengipasi badan gendutnya menggunakan ilir.
"Jangan! Mamah berharap anak itu putus sama Darwin terus dapat ganti yang tajir. Papah lihat dong anak kita cantik!"
Adelia menatap tajam pada suaminya.
Bersambung.
Dukung author dengan vote, like dan komen. Juga jangan lupa untuk difavoritkan, ya. Terimakasih^^