
Hari pernikahan pun tiba, Kenzo yang sedang berdiri di depan cermin, memperhatikan dirinya yang akan melepaskan masa lajang, memikul tanggung jawab yang tentunya tidak mudah bagi seorang kepala rumah tangga.
Tiba-tiba, bayangan Bila yang beberapa hari lalu datang dan meminta maaf itu muncul, Bila juga menanyakan cinta Kenzo pada Adila.
"Apakah kamu akan menjalani rumah tangga tanpa cinta?" tanya Bila dan pertanyaan itu seolah terngiang di telinganya.
Apakah Kenzo akan memilih Bila? Tentu saja tidak, Ken tidak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Ken yang sedang merasa tampan itu meyakini dirinya kalau cinta itu akan tumbuh dengan sering berjalannya waktu.
Begitu juga dengan Adila.
Adila merasa mantap dan yakin pada pilihan orang tuanya yang selalu menginginkan yang terbaik untuk dirinya.
Buktinya, sampai dewasa Adila merasa kalau orang tuanya adalah orang tua kandung, tak pernah terpikirkan kalau dirinya adalah anak pungut.
Fai yang berada di kamar Adila itu tersenyum padanya, memuji kecantikan sahabatnya yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.
"Kak ipar?" lirih Fai seraya memeluk Adila dari belakang, Adila yang menatap dari cermin itu tersenyum.
"Gue grogi, Fai!" lirih Adila seraya mengusap lengan sahabatnya yang berada di leher.
"Grogi kenapa? Malam pertama masih panjang, masih ada beberapa jam lagi!" jawab Fai dan Adila semakin grogi di buatnya, ia juga teringat dengan tragedi malam itu, ia takut kalau ternyata Kenzo tak menerimanya sepenuh hati.
"Udah ditunggu, ayo keluar!" ajak Fai, sekarang, Ririn dan Fai berjalan beriringan dengan Adila berada di tengah.
Semua tamu undangan yang akan menjadi saksi pagi ini terpesona dengan kecantikan alami dari seorang gadis yang berusia hampir 19 tahun itu.
Hati Kenzo dan Adila sama berdebarnya dan Dhev memberikan minum lebih dulu untuk putranya. "Biasa aja, Ken! Kalau menuruti rasa grogi nanti yang ada kamu gagal dengan sekali tarikan nafas!"
Ken menganggukkan kepala setelah itu meminum air mineral botol pemberian ayahnya.
Sekarang, Ken dan Adila duduk bersanding di depan pak penghulu dan seorang wali hakim.
Pak Penghulu itu mengulurkan tangannya dan Ken pun menyambut.
"Saya nikahkan engkau, Kenzo Putra Abraham bin Dhev putra Abraham dengan Adinda Adila resmana putri binti fulan dengan seperangkat alat sholat dan uang sebesar 2.500.000 ribu dibayar tunai!"
Penghulu pun menghentakkan tangannya menandakan untuk Ken segera menjawab.
"Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Adila Resmana Putri binti fulan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Alhamdulillah, dengan sekali tarikan nafas, Ken berhasil tanpa mengulang ijab kabul tersebut.
Terdengar kata sah dari para saksi.
Acara adat Jawa pun di laksanakan di rumah Jimin sementara resepsi diadakan di hotel berbintang.
Melihat Ken dan Adila sedang melakukan acara adat, Nala teringat dengan dirinya yang menikah karena di grebek, begitu juga dengan resepsi yang selalu gagal.
Rasanya, ia ingin mengulang masa indah pada waktu itu.
Dhev memperhatikan Nala dan seolah memahami isi hatinya.
"Kenapa? Mau diulang resepsinya?" tanya Dhev yang merangkul tubuh ramping Nala.
Nala hanya menjawab dengan senyum, melihat putra dan putrinya bahagia saja itu sudah sangat lebih dari cukup.
Ditambah lagi dengan kehidupannya yang baik-baik saja, ia tak mengalami kekurangan, tidak merasakan yang namanya gas, beras, galon, minyak dan listrik habis bersamaan, itu sangat membahagiakan bagi seorang istri.
Fai yang berdiri di depan samping Nala itu ikut memeluknya dan ikut merasakan kebahagiaan di tengah hatinya yang masih terluka.
Begitu juga dengan Alif, Alif mengajak Nindy untuk berjalan di taman samping rumah Ririn setelah mengambil foto keluarga.
"Ada apa, nak?" tanya Nindy yang sedang dituntun oleh Alif.
"Begini, mah. Mamah bilang ingin tinggal sama Alif?"
"Iya, tinggal lah bersama kami! Papah kamu itu sudah terbiasa sendiri pasti tidak akan keberatan!"
Nindy tersenyum mendengar permintaan anaknya, sayangnya, Nindy tidak dapat mengiyakan karena dirinya sudah berjanji akan bersama-sama dengan Doni di surga nanti.
Nindy pun menjelaskan, "Maaf, sayang. Mamah enggak bisa, mamah udah berjanji sama almarhum papah kamu kalau kami akan bertemu di surga-Nya nanti!" Nindy membelai wajah putranya, ia berharap kalau Alif akan mengerti maksudnya.
"Mungkin mamah sangat mencintai almarhum papah," batin Alif.
Alif pun menganggukkan kepala, ia mengerti cinta yang sedang diperjuangkan oleh ibunya yaitu cinta sehidup semati.
Setelah itu, Alif pun merubah topik pembicaraan dan di tengah kehangatan keduanya, Dhev memanggil Nindy dan Alif.
Dhev mengajak semua keluarganya untuk ke hotel dan mengingat banyaknya tamu undangan membuat Dhev berpikir untuk istirahat lebih dulu resepsi.
Fai dan Alif kembali bertemu, di hati keduanya masih ada rasa yang sama, walau keduanya mencoba menutupi, tetapi, pandangan Fai dan juga Alif tak dapat berbohong.
Dhev pun merangkul Alif dan juga Fai.
"Anak-anak ayah!" ucap Dhev seolah mengingatkan hubungan darah diantara keduanya.
Dhev melakukan itu demi keluarga besarnya, ia tidak mau menyatukan walaupun keduanya bukanlah kakak beradik kandung.
"Pakde, biar Alif bareng sama papah aja!" kata Alif yang kemudian melepaskan pelukan Dhev.
Dhev pun menganggukkan kepala dan menepuk punggung Alif.
****
Singkat cerita, selesai dengan menyalami para tamu undangan, sekarang, Adila dan Kenzo sudah berada di dalam kamar hotel yang dihias untuk pengantin.
Kelopak bunga mawar merah bertaburan di atas ranjang dan kamar yang temaram diterangi oleh cahaya lilin menambahkan kesan romantis di tengah lelahnya kedua insan yang baru saja menjadi suami dan istri.
Adila melihat Ken yang menjatuhkan dirinya di sofa lalu melepaskan tuxedo yang ia kenakan. Ken juga meminta dicarikan pakaian ganti karena merasa lelah seharian menggunakan pakaian formal.
Adila membuka lemari, berpikir kalau orang tuanya sudah menyiapkan pakaian ganti dan benar saja, di lemari itu sudah tersedia kaos oblong, kolor dan lingerie.
Adila mengambil lingerie itu dan menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi. Lalu, Adila kembali melemparkan lingerie tesebut kembali ke dalam lemari.
Adila mencari pakaian yang lain tetapi tidak menemukan.
"Ini siapa yang nyiapin baju? Kenapa enggak ada baju aku?" gumam Adila dan Kenzo yang sudah bertelanjang dada itu menyusul Adila yang sedang berdiri di depan lemari.
Aroma parfum yang tidak asing kembali tercium di indera penciuman Adila saat Ken berada begitu dekat dengannya.
Adila pun merasakan kalau hatinya berdegup sangat kencang, untung Ken tidak dapat mendengarnya, sedangkan Ken ia terlihat biasa saja.
Santai, bahkan kalau Adila mau untuk diajak bermain kuda-kudaan sekarang pun Ken sudah siap melakukannya.
"Berarti malam ini kamu pakai ini dan ini untuk besok!" kata Ken seraya mengambilkan lingerie berwarna biru tua, sangat kontras dengan warna kulit Adila dan itu semakin menambah kecantikan Adila.
"Kamu mau nurut suami enggak? Kaya ibu nurut sama ayah?" tanya Ken sebelum memberikan lingerie yang masih dipegangnya.
"Mamah juga nurut sama papah!" lirih Adila yang tak berani menatap Ken, Adila menundukkan kepala tak ingin Ken melihat wajahnya yang merona.
"Kalau begitu, pakai ini!" kata Ken seraya mengulurkan tangan, memberikan lingerie itu.
Adila menatap Ken lalu lingerie itu secara bergantian.
Ken ingin menertawakan ekspresi wajah Adila dan pipinya yang memerah. Tetapi, Ken menahan itu, takut akan membuat Adila merasa tidak percaya diri.
Bersambung.
Like dan komen ya all.
Yuk, jangan pelit jempol setelah baca ☺
Maafkan typo yang bertebaran 🙏🙏