DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Takut Kebenaran Akan Terungkap


Ken bangun dari jatuhnya dan sekarang matanya terbuka lebar kalau Bila mau dengannya hanya saat senang disaat susah Bila meninggalkannya.


Seraya memunguti paket yang tumpah, masih terngiang di telinga Ken kalau Dhev menyuruhnya untuk pulang saat Dhev menantangnya.


Selesai dengan itu, Ken kembali melanjutkan pekerjaannya.


****


Jam makan siang, Alif yang sudah membuat janji dengan Fai itu harus membatalkannya karena Mae seolah tak memberikan ruang untuk keduanya.


Mae datang dengan membawakan makan siang untuk Alif.


"Bu, Alif bukan anak kecil lagi, malu sama yang lain, entar dikira Alif masih ngetek di ketek emaknya," protes Alif seraya membuka bungkusan nasi itu.


"Nanti, setelah kamu menikah, ibu pasti merindukan momen ini, nak!" jawab Mae dan Alif pun hanya bisa menarik nafas.


Alif merasa kalau ibunya menjadi sangat berlebihan.


Sementara itu, Fai hanya bisa menatap layar ponselnya berulang kali, menunggu balasan pesan dari Alif dengan bete. Fai yang sedang di kantin itu duduk sendiri karena Adila masih syok dan memilih untuk mengurung diri di kamar.


Kemudian, Fai melihat Fakhri yang sekarang duduk di depannya.


"Kenapa lo? Muka ditekuk aja?" tanya Fakhri seraya mengambil jus milik Fai lalu menyeruputnya.


"Belakangan ini, gue susah ketemu sama Alif, entah... gue merasa kaya ada pembatas diantar gue sama dia!" jawab Fai seraya menatap Fakhri.


"Lupain dia, lebih baik lo putus! Masih banyak cowok yang lebih pantas buat lo selain dia, contohnya gue, misalnya!"


"Gila lo! Masa gue pacaran sama adik sepupu sendiri!" timpal Fai yang ingin menggibeng Fakhri saat itu juga.


"Canda!" kata Fakhri.


Dan setelah Mae pulang dari salon, Alif menyempatkan diri untuk membalas pesan Fai yang ia abaikan saat ada Maesaroh.


"Fai, maaf. Tadi ada pelanggan jadi jam istirahat gantian sama yang lain!" balasnya.


Fai yang sekarang sedang kelas itu membaca pesan dari Alif dan hanya menarik nafas.


"Ini alasan lo aja apa beneran, Lif?" batin Fai.


Fai hanya menjawab, "Semangat!"


Alif pun merasa kalau Fai tidak mempercayainya.


Setelah bekerja, Alif berniat untuk menemui Fai, ingin menceritakan masalah yang sebenarnya, Alif ingin Fai mengerti dan bersabar.


****


"Abang, nanti malam diundang makan malam!" Adila mengirim pesan pada Kenzo yang sedang berteduh di bawah pohon dengan meminum es kelapa.


"Ok!" jawab Ken singkat.


Dan tanpa Ken tau, sebenarnya acara makan malam itu adalah rencana Jimin dan Dhev. Dhev dan Jimin merasa kalau ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu dengan siapa mereka dijodohkan.


Singkat cerita, sepulang bekerja, Dhev dan Nala sudah berada di kediaman Jimin.


Sekarang, semua orang sedang menunggu kehadiran Ken.


Ken yang saat pergi dari rumah tanpa membawa apapun itu berdandan apa adanya, ia tidak memakai pakaian serba mahal.


Ken yang baru saja keluar dari kamar kos itu berjalan santai menuju ke parkiran dan mulai menancap gas.


Begitu juga dengan Alif, ia pergi sebelum Mae datang untuk menjemputnya.


Alif berpesan pada temannya kalau Mae datang supaya menyampaikan Alif sedang pergi bersama dengan teman-teman tongkrongannya.


Benar saja, setelah Alif sudah pergi, Mae datang dan tak mendapati anaknya. Merasa tak percaya dengan pesan Alif, Mae pun pergi ke tongkrongan anaknya dan di sana sama sekali tak terlihat batang hidung putranya.


"Berarti dia masih menemui Fai!" gumam Mae seraya kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Mae mendapatkan pertanyaan dari Andra.


"Dari mana lo? Bukannya ambilin laki makan malah ngeluyur!" cibir Andra yang sedang berdiri di pintu.


"Cari Alif!"


"Bagi gua duit! Gue mau keluar malam ini!"


"Enggak ada," jawab Mae.


"Jangan bohong kamu!"


"Belakangan ini aku ngasih makan yang enak buat anak kita! Kasihan dia enggak pernah makan enak!" kata Mae seraya menerobos Andra yang menghalangi jalannya.


"Jangan kebanyakan gaya lu. Giliran laki dikasih tahu tempe setiap hari, lama-lama gue bisa budeg, Mae!" gerutu Andra seraya menatap Mae yang sekarang sudah masuk ke kamar.


"Alif yang kerja, bukan kamu!" kata Mae dari balik pintu.


"Udah berani lawan gua lu, Mae!" seru Andra seraya menendang pintu yang tak bersalah.


****


Di rumah mewah Fai, Fakhri yang membukakan pintu untuk Alif.


"Fai enggak ada!" kata Fakhri yang berdiri di pintu utama.


"Jangan bohong! Gue udah chat duluan sebelum ke sini!"


"Dia ikut bokapnya ke rumah Adila!" jawab Fakhri seraya bersiap untuk menutup pintu, lalu terdengar suara lembut dari dalam, suara itu adalah dari Nindy yang merasa penasaran dengan siapa Fakhri berbicara sehingga nada yang didengarnya itu sangat tidak sedap.


"Siapa, Fakhri?"


Fakhri pun melihat ke belakang dan Fakhri sendiri selalu merasa khawatir apabila Nindy bertemu dengan Alif, Fakhri takut kalau keduanya akan merasakan ikatan batin.


"Malam, Tante," sapa Alif seraya sedikit mendorong sedikit pintu yang hampir tertutup rapat oleh Fakhri.


Alif pun memberanikan diri untuk masuk, sebelumnya ia membuka sepatu lepeknya dan meninggalkan di depan pintu.


Melihat sepatu itu betapa ingin sekali rasanya Fakhri menendangnya sampai jauh dan Fakhri menahannya, walau cemburu dengan Alif, tetapi, untuk apa melampiaskannya pada sepatu lepek tersebut.


Nindy yang mulai sedikit bisa menggerakkan tangannya itu seolah mengulurkan tangannya pada Alif dan Alif pun mencium punggung tangan itu.


"Malem-malem begini, cari siapa?" lirih Nindy.


"Cari Fai, Tan."


"Ada," jawab Nindy dan tidak lama kemudian Fai pun keluar dari persembunyiannya.


"Maaf ya, lama. Tadi habis buang hajat dulu!" kata Fai dengan mesam-mesem.


"Jorok!" timpal Alif dan Fai hanya tersenyum.


"Masuk, jangan di luar!" kata Nindy.


"Nak, tutup pintunya, nanti nyamuk masuk!" perintah Nindy pada Fakhri dan Fakhri pun mengikuti ucapan Nindy.


Setelah melihat Alif, entah mengapa seolah ada kebahagiaan tersendiri baginya. Nindy yang akan ke kamar itu tersenyum pada Alif dan Alif membalas senyumnya.


"Lo udah makan?" tanya Fai seraya membawa Alif duduk di sofa ruang tengah.


Alif menggelengkan kepala, ia ingin menggantikan waktu makan siang tadi yang terlewat.


"Ikut gue!" kata Fai seraya membawa Alif ke dapur, Fai memasak spageti untuk dirinya dan Alif.


Sementara itu, di pintu dapur, Fakhri hanya bisa memandang penuh benci pada Alif yang dianggapnya sebagai ancaman dalam kebahagiaannya.


Fakhri pun memilih untuk ke kamar, tidak mau melihat Fai dan Alif yang semakin dekat dan mesra.


****


Di rumah Jimin, Adila dan Kenzo saling menatap setelah tau kalau ternyata mereka telah dijodohkan.


Dhev pun meminta pada Jimin untuk menetapkan tanggal pernikahan.


Keduanya, Adila dan Ken tak dapat menolak, hanya ada rasa malu di hati Adila, ternyata pria yang dijodohkan adalah Ken yang sempat membuat hatinya berdebar beberapa waktu lalu.


Bersambung.


Like dan komen ya all 🙂