
Setibanya di Jakarta, Nindy tidak tau harus mencari Arnold kemana karena di mana rumah Arnold pun Nindy tidak tau.
"Apa dia sibuk kerja, ya?" tanyanya pada diri sendiri, sekarang, Nindy memesan taksi dan mulai bangun dari duduk, meninggalkan bandara, padahal, Nindy berharap kalau Arnold akan menjemputnya.
"Kerjaan dia aja gue enggak tau!" gerutu Nindy seraya kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Setelah apa yang telah ia beri pada Arnold membuat Nindy merasa takut kalau pria itu akan pergi meninggalkannya.
Kecemasan pun muncul di hati Nindy.
****
Hari ini Ririn tidak bekerja karena harus menemani Arnold.
Dengan sengaja Arnold mematikan ponselnya supaya tidak terganggu oleh Nindy yang selalu mengiriminya pesan.
"Darwin, maafin gue, dari pada kita seperti ini lebih baik kita putus aja, lo pantes dapetin cewek yang lebih baik dari pada gue!" batin Ririn yang sekarang sedang berada di pelukan Arnold.
Keduanya sudah tidak lagi di hotel, tetapi berada di rumah Arnold.
Merasa malu dengan ibu dan asisten rumah tangga Arnold, Ririn memilih untuk tidak keluar dari kamar pria itu, tepatnya kamar yang lain, bukan kamar pribadinya, karena di kamar pribadi itu tersimpan rahasia Arnold.
Dan baru kali ini, Arnold menanyakan pada wanita bayarannya, menanyakan ingin makan apa.
"Gue mau salad buah," kata Ririn tanpa menatap Arnold yang masih memeluknya.
Ke duanya sedang menonton film dewasa, Arnold ingin Ririn melakukan seperti apa yang sedang ditontonnya.
Padahal, Ririn yang sedang dalam pelukan Arnold itu memikirkan nasib hubungannya dengan Darwin.
****
Dhev sedang berolahraga di rumah lamanya, seraya terus memandangi foto keluarga kecilnya yang sengaja ia pajang di depan treadmill.
Dhev yang telah memutuskan akan melihat ke depan dan ingin memperbaiki semua itu berniat untuk menjual rumah tersebut.
"Kenangan itu ada di hati, kalau aku kaya gini terus aku enggak bisa lihat ke depan, bagaimana dengan nasib Kenzo? Awalnya aku rasa semua baik-baik aja, ada mamah yang mengurus Ken dan memberikan perhatian untuk Ken, tetapi aku salah. Aku yakin kalau Ana masih ada, dia akan sangat marah karena sikapku begini," batin Dhev, pria yang sudah berkeringat itu masih menatap foto keluarga kecilnya.
Dan apakah benar hanya karena hadirnya Nala dan apa yang Nala ucapkan itu mampu merubah Dhev? Bukan, bukan hanya itu, sebenarnya Dhev sering kali melihat anak-anak menjadi korban keegoisan orang tua.
Contohnya seperti tadi siang, saat Dhev sedang makan siang di restoran, Dhev melihat seorang anak kecil yang mungkin seumuran dengan Ken sedang makan bersama dengan orang tuanya, tetapi seolah sendiri karena orang tuanya sibuk memainkan ponsel.
"Ada tetapi seperti tidak ada," batin Dhev, "sama seperti Ken, ada ayahnya tetapi seperti tidak ada ayahnya," lanjut Dhev, pria itu berhenti berlari, mengambil handuk kecil untuk mengelap keringatnya.
Apa yang telah dilihatnya seolah menjadi tamparan keras di hatinya dan Dhev yakin kalau apa yang dilihatnya itu bukan hanya karena ketidaksengajaan, Dhev yakin kalau Tuhan ingin membuka mata hati Dhev dengan segala caranya.
Dhev memanggil asisten rumah tangga yang menjaga rumah tersebut. Menunggunya di ruang kerja. Tidak lama kemudian yang dipanggil pun datang mengetuk pintu.
Dhev mempersilahkan untuk masuk. Tanpa basa-basi lagi, Dhev langsung bertanya.
"Saya akan menjual rumah ini, bagaimana menurut bibi?"
"Rumah ini adalah kenangan, bisa di wariskan pada Aden Ken setelah dia dewasa nanti dan saya yakin Aden akan mengingat masa kecilnya di sini bersama keluarga kecilnya dulu," jawab bibi seolah mengingatkan kalau kenangan itu sangat berarti bagi Tuan kecilnya.
Dhev memikirkan apa yang baru saja didengar.
"Bukan kenangannya yang dibuang, Dhev! Tapi luka di hatimu lah yang harus disembuhkan!" batin Dhev.
"Baiklah, bibi boleh kembali," kata Dhev.
Pria itu memutuskan tidak akan pernah menjual rumah tersebut, membenarkan kalau rumah itu adalah milik Kenzo dan Bundanya.
****
Amira mengetuk pintu kamar Nindy. Nindy yang sedang galau dan merana itu berusaha menyembunyikannya dari Amira, tidak ingin orang tuanya tau apa yang sedang dan telah dilakukan oleh anaknya.
Berpura-pura seolah tidak ada masalah, Nindy mencoba untuk tetap tersenyum.
"Iya, Mah. Ada apa?" tanya Nindy yang hanya melongokkan kepalanya di pintu.
"Besok, kamu ikut kakak kamu ke kantor, ya! Belajar bekerja."
"Memangnya boleh? Nindy kan bisanya cuma ngabisin duit." Nindy teringat dengan ucapan Dhev, membuatnya mengungkit pada Amira.
"Sudah, jangan dibahas, nanti jadi berantem, lupakan! Kakak kamu begitu sebenarnya ingin kamu jadi orang yang berguna," tutur Amira yang masih berdiri di pintu.
"Eemm, ok. Baiklah," Nindy menganggukkan kepala.
****
Selesai mengurus Ken, mengajaknya makan malam, belajar, sekarang Nala membacakan dongeng pengantar tidur.
Setelah tertidur, Nala pelan-pelan bangun dan turun dari ranjang.
Sebelum keluar dari kamar Ken, Nala yang masih belum bisa melupakan nafas buatan itu berharap tidak bertemu dengan Dhev.
Nala ingin melupakan itu tetapi sangat sulit, selalu terbayang wajah Dhev.
Perlahan Nala membuka pintu kamar, berjalan cepat ke kamarnya yang dulu adalah milik Amira, kamar itu berada tepat di depan kamar Ken.
Bagi Amira, Nala bukan hanya pengasuh Ken. Tetapi menganggap Nala adalah anaknya, Amira harus bertanggung jawab atas hidup Nala setelah kepergian Bobi.
Dan status Nala di rumah mewah itu tidak di tanyakan lagi dan tidak membuat iri para pekerja lainnya karena mendapatkan perlakuan istimewa dari majikannya.
Sekarang, Nala berbaring seraya memainkan ponselnya dan Nala melihat banyak pesan masuk dari Ririn yang mengajaknya untuk bertemu.
"Ngapain? Mau cakar-cakar aku lagi?" tanya Nala pada layar ponselnya, Nala yang masih kecewa pada Ririn itu tak segera membalas pesan tersebut.
Nala memainkan ponselnya sampai sangat mengantuk tetapi sangat ingin membuat mie instan kesukaannya.
"Makan apa tidur ini?" tanya Nala pada dirinya sendiri seraya menatap langit-langit kamarnya.
"Makan dulu sambil nonton ah," kata Nala seraya bangun dari berbaringnya.
Nala yang mengira kalau rumah sudah sepi, merasa aman dan tidak perlu bertemu dengan Dhev itu ternyata salah, Dhev sedang ada di dapur untuk mengambil air minum dingin di kulkas.
Entah mengapa, Dhev yang biasanya menuang air dinginnya ke gelas itu langsung meminumnya dari botol kaca. Nala menganggap apa yang baru saja dilihatnya itu sangat seksi apalagi saat dirinya mendengar suara 'glek, glek, glek' dari Dhev ketika meminum air tersebut.
"Astaga," Nala sangat terkejut setelah tersadar dari kekagumannya dan perasaannya semakin aneh saat melihat Dhev.
Berdebar dan merasa harus jaga jarak dengan Dhev membuat Nala mengurungkan niatnya.
Sementara Dhev hanya tersenyum smirk saat melihat Nala yang salah tingkah.
Lalu, Dhev yang masih berdiri di depan kulkas itu merasakan ponselnya bergetar.
Dhev mendapatkan pesan dari sahabatnya. "Gue kesepian, lo harus nginap di sini!"
"Ck, siapa lo nyuruh-nyuruh gue!" balas Dhev.
Bersambung.
Dukung author dengan klik like, komen dan difavoritkan, ya. Jangan lupa vote gratisnya juga, terimakasih^^