
ASSALAMU'ALAIKUM, DI SINI SAYA MENJELASKAN KALAU DUDA GALAK SESSIONS 1 UDAH TAMAT DENGAN LAHIRNYA DUA BAYI, TETAPI, DI SINI ADA KELANJUTAN UNTUK KEHIDUPAN ANAK-ANAK DHEV DAN SEMUA ORANG.
JADI AKU SENGAJA NULIS ADA SESSIONS DUANYA.
DAN DI EPISODE INI KITA UDAH MASUK KE SESSIONS DUA. SEMOGA CERITA INI DAPAT MENGHIBUR DI WAKTU LUANG PARA PEMBACA SEKALIAN. TERIMAKASIH ATAS PERHATIANNYA. SELAMAT MEMBACA
Di ruang rawat Nindy, Doni memperhatikan wajah bayi yang sedang digendongnya. "Kok kaya lain, ya?" gumamnya yang terdengar oleh Amira.
"Namanya juga bayi merah, wajahnya masih suka berubah-ubah," kata Amira yang sedang menyuapi Nindy.
"Begitu ya, bu?" tanya Doni seraya melihat ke arah mertuanya.
"Iya, biasanya memang seperti itu," jawab ibu mertuanya.
"Siapa nama bayinya?" tanya Amira masih dengan menyuapi Nindy.
"Mas Doni sudah menyiapkan nama, Mah!" jawab Nindy.
Doni menjawab, "Namanya Adelard Fakhri. Panggilannya Fakhri, Doni mau, kelak bayi ini menjadi kebanggaan."
Doni pun tersenyum pada bayinya.
"Nama yang bagus," puji Amira.
Nindy juga menanyakan nama anak Nala pada Amira.
"Namanya Fairus Putri Abraham, dipanggil Fai kata Nala," jawab Amira.
"Wah jadi dobel f ya hari ini. Fakhri dan Fai," kata Nindy.
Dan semua baru menyadari kalau nama keduanya sama-sama berawal dari huruf F.
Kemudian, terdengar suara bayi yang berada di gendongan Doni itu menangis.
"Mungkin dia minta nyusu," kata Doni.
"Sini, berikan," kata Nindy seraya mengulurkan tangannya dan Doni memberikan bayi itu.
Doni merasa risih saat Nindy membuka kancing bajunya begitu juga dengan Nindy, ia melirik pada Doni yang berdiri di sampingnya.
Doni mengerti dan sekarang pria itu berpura-pura untuk mencari makan.
"Sampai lupa makan, ibu mau makan apa? Biar Doni belikan," kata Doni seraya berjalan memutar brangkar.
"Apa saja," jawab Amira dan Doni pun segera keluar dari ruang rawat Nindy.
Setelah keluar dari ruangan itu, Doni merasa lega, pasalnya, selama ini, Doni belum pernah melihat bagian dalam istrinya. Pasti akan merasa malu saat akan melihat untuk pertama kalinya.
Saat Doni sedang mengantri di depan lift, ponselnya bergetar, Amira yang menghubungi.
Doni menerima panggilan tersebut. Doni mendengarkan apa yang Amira katakan, ternyata Doni memberitahu kalau ASI Nindy tidak keluar dan meminta untuk dibelikan susu formula.
****
Di kamar rawat Nala, Dhev sedang menyuapi istrinya, sedangkan Ken, ia dari sepulang sekolah selalu memperhatikan adiknya di dalam tabung.
"Ibu, kenapa Fai sangat kecil?" tanya Ken seraya mengusap pipi adiknya dengan sangat lembut.
"Namanya juga bayi, nanti semakin hari semakin besar, seperti kakak!" jawab Nala seraya mengunyah buah apel yang Dhev kupaskan.
"Mana ada bayi lahir langsung gede, Ken! Kamu juga dulu kecil," jawab Dhev, ia terkekeh dengan pertanyaan-pertanyaan Ken yang dianggapnya lucu.
"Kakak sayang banget ya sama ade, sampai dilihatin mulu dari tadi," tanya Nala.
"Habis, Fai lucu, kalau enggak tidur ya nangis," jawab Kenzo dan benar saja, Fai merasa kalau Ken mengganggu tidurnya, bayi itu menangis dan suster Nia segera mengangkatnya.
"Suster, mungkin Fai haus dan lapar," kata Nala pada suster anaknya, Serena yang baru saja mengirimnya sesuai permintaan Dhev.
Suster tersebut bernama Nia, ia pun memberikan baby Fai pada Nala.
Setelah itu, Nala memandangi wajah anaknya, tersenyum dan segera menyusui.
Awalnya, Nala kesusahan dalam memberikan ASI karena putingnya masuk ke dalam, tetapi suster rumah sakit membantu Nala dan memberitahu bagaimana cara, perlahan Nala pun mengerti.
Dhev menutup tirai brangkar Nala sehingga hanya dirinya yang melihat Nala memberikan ASI.
"Kamu mau tau caranya biar ****** kamu keluar?" tanya Dhev yang ikut duduk di brangkar.
"Kalau kamu tau kenapa enggak kasih tau dari awal?" tanyanya.
"Bukan enggak kasih tau, tapi kamu selalu nolak kalau ku ajak itu," jawab Dhev.
"Astaga, iya, kamu udah lama puasa ya, Mas. Maaf ya, soalnya bawaan bayi mungkin jadi males deket-deket sama kamu," jawab Nala seraya kembali kembali memperhatikan bayinya.
"Alesan, tuh Fai. Ibu kamu pinter banget bawa-bawa namamu, kasian anak ayah, masih bayi udah dituduh sama ibunya!"
"Bukan gitu!" rengek Nala dengan bibir yang mengerucut.
"Biarin, habis ini juga kamu puasanya lanjut sampai 40 hari!" kata Nala.
"Astaga, lama banget sayang! Udah enggak tahan!" kata Dhev yang kemudian memeluk Nala dan juga bayinya.
****
Setelah beberapa hari, sekarang Nala dan Nindy sudah diperbolehkan untuk pulang.
Dhev mendorong kursi roda Nala dan suster yang menggendong bayi mereka.
Dhev bertemu dengan Doni di lobby. Terlihat Amira yang sedang menggendong bayinya dan Doni yang mendorong kursi roda Nindy.
Doni menyapa Dhev dan Dhev membalas sapaan Doni, ingin mengucapkan selamat, tapi selamat apa, Dhev tau kalau bayi yang Nindy lahirkan adalah anak Arnold, lalu, kenapa dirinya harus mengucapkan selamat pada Doni.
Tidak... tidak. Dhev berpikir tidak akan memberikan ucapan selamat pada Doni karena itu seolah mengejeknya.
****
Setelah rombongan keluarga itu pergi datang Ririn dan Jimin yang kembali ke rumah sakit, tetapi hanya menemukan kamar kosong.
"Sialan tuh anak! Pulang enggak bilang-bilang!" gerutu Jimin seraya keluar dari kamar rawat Nala.
Saat itu juga Jimin dan Ririn melihat seorang wanita yang sedang memohon pada suster untuk memberikan bayinya.
"Kenapa dia, ya?" tanya Ririn pada Jimin.
"Entah, ayo pergi, dia bukan urusan kita!" kata Jim seraya meraih tangan Ririn, menggenggamnya, keduanya berjalan melewati si ibu yang berjongkok di depan kamar bayi.
Merasa tak tega, Ririn pun melepaskan tangan Jim dan berbalik arah. Ririn menepuk bahu wanita itu.
"Maaf, ibu kenapa?" tanya Ririn.
"Anak saya enggak boleh dibawa pulang sebelum biaya rumah sakit lunas, sedangkan semakin lama di sini semakin mahal biayanya," jawabnya dengan menangis, air matanya tak berhenti mengalir.
Melihat dan mendengar itu Ririn menjadi tidak tega, memutuskan untuk menolong.
Ririn menanyakan berapa biaya yang harus dilunasi, suster pun memberitahu kalau semua biayanya sekitar 11 juta.
"Sebentar!" kata Ririn, gadis yang sekarang berpenampilan rapi dengan dressnya itu berjalan ke arah Jim.
"Jim, gue mau bantu dia, dia pasti sedih banget karena jauhan sama anaknya."
Jimin tak melarangnya, justru ia merasa bangga pada istrinya yang mau menolong dan sebenarnya itu adalah memang sifat Ririn, selalu ingin menolong disaat ada orang susah di depannya.
Sekarang, Ririn sudah melunasi biaya rumah sakit ibu tersebut.
"Terimakasih banyak, terimakasih. Semoga Tuhan membalas kebaikan Mbak!" kata wanita itu seraya menyentuh lalu mencium tangan Ririn.
"Sama-sama," jawab Ririn dan tanpa Ririn tahu kalau bayi yang baru saja ia tolong itu adalah anak dari Arnold.
Setelah mendapatkan bayinya, ibu itu menatapnya dan kembali berderai air mata.
"Maafkan ibu, maafkan ibu, ibu janji akan menyayangi kamu seperti ibu menyayangi anak kandung ibu sendiri!" ucapnya seraya membelai wajah bayi yang ia tukar.
Dalam hati merasa sangat bersalah dan ingin menebusnya dengan kasih sayang yang akan ia berikan.
Sekarang, ibu berdaster itu pergi dari rumah sakit membawanya pulang ke rumahnya yang terlihat seperti gubuk.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Juga ⭐ limanya, terimakasih 🤗.
Mohon maaf banyak typo di mana-mana 🙏