DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Tetap Sayang Kenzo


Nala mengusap punggung Ken. Membuat Ken merasa sedikit membaik.


"Bu, kalau Ken punya adik, apakah kalian akan tetap sayang sama Ken?" tanya Ken yang masih tak mau melepaskan pelukan itu.


"Kenapa bertanya seperti itu, sudah pasti kami tetap menyayangi Ken, kalaupun Ken akan punya adik, tetapi rasa sayang kami akan tetap ada, bahkan enggak akan berkurang sedikitpun!" kata Nala.


"Tapi, kenapa tadi Ken enggak diajak? Ken pulang enggak ada orang di rumah, Ken merasa kalau Ken udah enggak disayang," lirih Ken.


Nala pun terkekeh.


"Kan tadi Ken pergi sama Tante Mika, gimana Ibu mau ajak kamu?"


"Oh, iya yah," Ken melepaskan pelukan itu dan meminta maaf karena sudah berbuat kasar.


"Iya, kalau ada apa-apa cerita sama ibu, ya!" kata Nala dan Ken pun kembali tersenyum.


Tanpa Nala dan Ken ketahui, sebenarnya ada yang sedang menguping, ia adalah Dhev.


Pria itu tak melihat istrinya menyambut di depan pintu dan saat naik ke lantai atas, ternyata Nala sedang menenangkan anaknya yang sedang merajuk.


Sekarang, Dhev pergi ke kamar, terlihat, baju ganti sudah tersedia.


Pria itu duduk di sofa, melepaskan jas dan membuka kancing lengan kemejanya.


Menggulungnya dan bersandar ke punggung sofa. Tersenyum, membayangkan istrinya yang masih kecil tetapi akan memiliki dua anak.


"Apa aku terlalu cepat, ya? Seharusnya aku bisa tunda kehamilannya, kasian dia masih kecil!" kata Dhev dalam hati.


"Astaga, ngomong apa aku ini, bayi itu sudah ada di rahim istriku, harus ku syukuri dan enggak boleh asal bicara seperti itu!" Dhev pun bangun dari duduk.


Pria itu berdiri di depan cermin besar, mulai mengendurkan dasinya dan saat itu juga Nala masuk ke kamar.


"Mas, kamu udah di kamar ternyata, tadi aku turun ke bawah cuma lihat mobil kamu, maaf ya. Tadi aku lagi sama Ken," lirih Nala seraya berjalan mendekat ke suaminya.


"Iya, enggak apa, terimakasih," kata Dhev seraya membawa Nala ke dalam pelukan. Dhev mencium kening Nala lalu berpindah ke leher jenjang istrinya.


Tak mencium bau wangi seperti biasa membuat Dhev bertanya.


"Tumben, biasanya sangat wangi, bikin aku bergairah setiap pulang kerja," kata Dhev seraya menatap istrinya, tangannya berada di pinggang Nala.


"Aku pusing, enggak suka bau wangi, mungkin ini bawaan bayi," jawab Nala seraya mengusap perutnya yang masih datar.


"Iya sudah, yang penting nyaman!" kata Dhev seraya membopong Nala, Dhev membawanya ke kamar mandi, pria itu meminta Nala untuk menggosok dan memijit punggungnya.


Di sana, bukan hanya mandi, tetapi Dhev juga menyapa anak yang ada di kandungan istrinya.


"Sayang, ade lagi ngapain? Sehat-sehat di dalam sana, ya. Ayah sama Ibu udah nunggu kehadiran kamu," kata Dhev, pria yang yang sedang dipijit kepalanya itu berbicara pada perut Nala.


Nala tersenyum dan mencubit gemas pipi Dhev yang sedang duduk menghadap kearahnya di dalam bak mandi.


"Jangan mancing, nanti aku pengen," kata Dhev yang padahal sudah dari tadi merasakan kalau juniornya sudah berdiri tegak di bawah busa yang menutupi separuh tubuhnya.


Pria itu ingin bermain, tetapi teringat dengan istrinya yang sedang hamil muda ada rasa sedikit tidak tega apabila setiap hari harus menggaulinya.


"Udah ya, pijitnya, aku mual, pengen makan yang asem, seger, manis," kata Nala seraya membilas tangannya, gadis itu sudah bangun dari duduknya dan menyimpan kembali kursi yang selalu ia gunakan untuk duduk kala memandikan suaminya.


"Nanti ku carikan," kata Dhev yang bagun dari duduk dan seketika Nala berteriak, menutupi wajahnya menggunakan dua tangannya, Nala masih merasa malu walau sudah terbiasa dan setiap hari melihat benda yang sudah membuatnya hamil itu.


"Haha." Dhev terkekeh melihat tingkah istrinya.


Sekarang, Dhev berdiri di bawah shower membilas sisa busa yang masih menempel di tubuhnya.


Selesai dengan mandi dan berpakaian, sekarang Dhev mengajak Nala dan Kenzo untuk berkeliling kota Jakarta di sore hari.


Dhev mencari rujak tetapi sepertinya sudah tidak ada karena semua penjual sudah pulang.


Lalu, Dhev mengajak Nala untuk membeli buah di supermarket, di sana, Nala tidak menemukan buah yang asam seperti kedongdong dan mangga muda.


"Bukan ini, ini semua buah manis, kurang seger kalau di rujak," kata Nala.


"Kita ke pasar tradisional aja, yuk. Biasanya ada penjual buah rujak di luar pasar," kata Nala seraya kembali meletakkan troli yang sudah dibawanya.


Demi istri tercinta, Dhev pun mengiyakan, padahal, di dalam pikiran Dhev, pasar itu kotor, becek dan bau.


Setelah sampai di pasar, Nala melihat penjual yang benar berada di luar pasar, ada buah rujak lengkap dan Nala segera meminta menepi pada Dhev.


"Iya, cari parkiran dulu!" kata Dhev, pria itu memarkirkan mobilnya di seberang jalan karena hanya di sana ada tempat kosong.


Dhev menggandeng tangan Nala dan Kenzo saat menyebrang, terlihat, Dhev sangat menjaga keluarganya. Tidak ingin mengulang masa lalunya.


Sekarang, Nala sudah mendapatkan apa yang dicari. Semua orang pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Nala meminta pada asistennya untuk mengupas buah dan Nala yang membuat sambal supaya sesuai selera.


Semua orang merasa ngilu saat melihat Nala makan buah asam itu seperti tidak merasakan asamnya.


"Kenapa pada bengong," batin Nala.


"Mau?" Nala menawarkan itu pada Dhev dan Amira yang sedang memperhatikan.


Sementara Kenzo, pria kecil itu ikut memakan rujaknya tetapi hanya timun dan bengkuangnya, Ken tidak suka asam.


Amira dan Dhev yang duduk di kursi depannya itu menggelengkan kepala.


"Dasar bumil!" kata Dhev seraya mengusap pucuk kepala Nala.


"Jangan banyak-banyak, takut sakit perut!" kata Dhev.


Nala pun menganggukkan kepala.


Melihat itu membuat Amira merasa sedikit bergetar, mengingat anaknya yang juga sedang hamil.


Apakah Doni memperlakukannya dengan baik atau tidak, Amira pun bangun dari duduk, ia kembali ke kamar untuk mengambil ponsel.


Amira menghubungi Nindy tetapi tidak ada jawaban.


"Sedang apa dia?" tanyanya pada diri sendiri.


****


Di apartemen, Doni dan Nindy sedang makan malam bersama. Ponselnya berada di kamar.


"Susu hamilnya diminum?" tanya Doni dan Nindy menganggukkan kepala.


"Terimakasih," kata Nindy.


"Untuk?" tanya Doni seraya memperhatikan Nindy.


"Kamu udah baik sama aku, sampai harus membelikan susu untukku," jawab Nindy yang kemudian kembali menatap piringnya.


"Sudah seharusnya begitu, kan kita teman," kata Doni, pria itu tersenyum dan Nindy juga membalas senyumnya.


Selesai dengan makan, Doni mengajak Nindy untuk melihat-lihat perlengkapan bayi dari layar ponselnya. Keduanya duduk di sofa depan televisi.


Nindy pun sudah tidak sungkan lagi mendapatkan perlakuan baik dari Doni karena memang keduanya sudah berteman dan Nindy menganggap kebaikan Doni sebagai temannya.


"Pilih yang serba biru aja, kalau bayinya cewek tetap cocok, cowok juga cocok," kata Nindy dan Doni pun mengiyakan.


"Ide bagus," kata Doni, pria itu tersenyum dan kali ini Nindy memperhatikan senyum Doni yang terlihat tulus.


"Don," lirih Nindy seraya menatap Doni.


"Iya," jawab Doni seraya menggeser layar ponselnya, masih mencari barang untuk bayi Nindy.


Bersambung.


Jangan lupa likenya setelah baca, ya. Terimakasih^^