DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Terluka, Hati Ini, Sakit!


Seketika kenangan masa kecil Alif yang ditemuinya di tepi jalan, saat dirinya menggendong untuk pertama kali dan membelikannya es krim, saat menolong Alif dan menemani Alif bermain di taman, mengajari Alif banyak hal sampai ilmu bela diri itu kembali terlihat diingatan Arnold yang sekarang keluar dari ruangan Mae berada.


Arnold tak menyangka kalau selama ini ia bisa berbuat baik pada Alif karena memang memiliki ikatan batin.


Arnold duduk di kursi panjang yang tersedia seraya mengusap air matanya, ia merasa bersalah karena tidak mengenali anak itu yang sedari kecil bersamanya.


****


Alif masih memaksa Mae untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Ibu enggak bohong!" bentak Mae.


Sekarang, Alif pun mengerti alasan mengapa Mae tidak menyetujui hubungannya dengan Fai.


Alif yang terluka itu memilih untuk pergi dari rumah sakit dan Fai sempat meraih tangannya, Alif semakin sakit saat melihat air matanya, ingin menghapusnya tapi ada rasa kecewa saat harus menerima kenyataan yang ada.


Alif pun melepaskan tangan Fai yang menahannya, Alif berjalan cepat dan langkahnya terhenti saat Arnold yang sedang duduk itu memanggilnya.


"Alif!"


Dan yang dipanggil tak menoleh, saat ini Alif membenci semua orang termasuk dirinya dan itu membuat Alif tak menghiraukan panggilan itu, Alif melangkahkan kakinya dengan cepat dan entah kemana tujuannya kali ini.


Arnold segera menghubungi pengacaranya untuk mengurus Mae dan Mae segera digelandang ke kantor polisi.


Mae hanya bisa menangis, merasa bersalah pada Alif.


Setelah melihat keadaan Fakhri yang sudah melewati masa kritisnya, Dhev mengajak Fai untuk pulang.


Selama perjalanan, Fai hanya bisa diam tetapi bibirnya tak berhenti bergetar dan air mata terus mengalir.


Melihat itu, Dhev hanya bisa sakit kepala, semua akan ia berikan untuk anaknya tapi kali ini ia tidak bisa memberikan cinta yang telah melukai anaknya itu.


Dhev mengusap pucuk kepala Fai dan Fai pun semakin menangis lalu memeluk lengan ayahnya dengan erat, tangisnya terdengar sangat memilukan sampai Dhev pun ikut menitikkan air matanya.


"Ayah, ayah harus tes DNA dengan Alif! Fai curiga kalau Mae hanya mengarang cerita, bisa saja anak tante disembunyikan di tempat lain!" batin Fai, ingin sekali rasanya mengatakan itu tetapi bibirnya tak mampu untuk mengucap, semua terasa tertahan di tenggorokannya.


Sesampainya di rumah, Fai yang turun dari mobil itu berlari ke kamar, ia melewati Nala yang berdiri di pintu utama juga melewati Amira yang sedang memperhatikan Nindy belajar berjalan.


"Bagaimana keadaan Fakhri? Apa yang terjadi?" tanya Nala seraya berjalan ke arah suaminya yang terlihat sangat lesu.


Bukannya menjawab, tetapi, Dhev memeluk Nala dengan erat, Nala pun semakin berpikiran buruk tentang Fakhri.


"Setelah Nindy bangun, apakah sekarang Fakhri yang-" ucap Nala dalam hati, Nala tidak melanjutkan ucapannya itu karena tak mau mengira atau menduga kalau Fakhri telah tiada.


Amira menuntun Nindy keluar yang bertanya-tanya kenapa dengan Fai.


Setelah melihat Dhev yang terlihat sedih semakin membuat Nindy dan Amira bertanya-tanya.


"Ada apa, Kak?" tanya Nindy.


Nala dan Dhev pun saling menatap, Nala meminta pada Dhev untuk menceritakan semua supaya menjadi jelas dan Dhev pun menganggukkan kepala.


"Fakhri kecelakaan," jawab Dhev seraya menatap Nindy dan Amira bergantian.


"Apa?" seru Nindy dan Amira bersamaan.


"Gimana keadaan anakku?" tanya Nindy yang terlihat cemas.


"Dia bukan anakmu!" batin Dhev, ia merasa tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya dan lebih tak tega lagi kalau tidak memberitahu kebenarannya.


Sekarang, Dhev yang sudah meminta pada orangnya untuk mencari Alif itu hanya bisa menunggu kedatangan Alif ke rumah.


"Dia baik-baik saja, sudah melewati masa kritisnya." Setelah mengatakan itu, Dhev mengajak Nala untuk ke kamar karena banyak hal yang ingin ia ceritakan.


Sebelum itu, Dhev memberitahu nama rumah sakit di mana Fakhri berada dan setelah itu Amira memanggil Dadang dan memintanya untuk segera ke sana.


****


"Berarti, Alif dan Fai kakak beradik?" lirih Nala dan Dhev menganggukkan kepala.


Lalu, Nala memikirkan perasaan Fai yang saat ini mungkin sedang hancur berkeping-keping.


"Aku mau lihat keadaan Fai dulu!" kata Nala yang kemudian bangun dari duduknya, Dhev pun meminta pada Nala untuk menghibur putrinya, Nala menganggukkan kepala dan setelah keluar dari kamar, Nala pun menitikkan air mata, ia bersedih karena selama ini yang dibesarkan olehnya bukan keponakan yang sesungguhnya dan lebih menyakitkan lagi kisah cinta anaknya.


Nala mengerti kalau ini adalah cinta pertama Fai karena Nala dan Dhev melarang keras Fai untuk berpacaran sewaktu SMA.


Nala mengetuk pintu kamar Fai dan tidak ada jawaban darinya.


"Fai, buka pintunya!" perintah Nala dan Fai yang sedang menangis di ranjang itu hanya bisa menatap pintu itu.


Lalu, Fai kembali menatap layar ponselnya, ia ingin sekali menghubungi Alif dan menanyakan keadaannya tetapi Fai tak kuasa menahan kesedihannya sehingga terasa sangat berat untuk menanyakan itu, Fai belum bisa merubah rasa cintanya yang sebagai kekasih menjadi rasa cinta seorang kakak untuk adiknya.


****


Begitu juga dengan Alif, pria itu yang berada di rumah temannya hanya bisa menatap layar ponsel yang bergambarkan Fai dengannya dirinya saat berada di taman, saat itu keduanya tengah memakan bakso bakar dan itu adalah hari pertama mereka jadian.


Teman Alif yang bermain gitar itu hanya menatap Alif seraya menggelengkan kepala, sedari Alif datang, pria itu tak mengatakan apapun walau temannya sudah bertanya banyak hal, Alif hanya diam, tetapi, hati dan pikirannya yang terus bergelut sehingga membuat Alif merasa frustasi.


Alif yang duduk lesehan di kasur lepek temannya itu memeluk lututnya lalu menyembunyikan wajahnya yang sembab di antara lututnya.


"Kenapa? Ibu lo masih enggak setuju atau Fai berpaling ke cowok tajir?" tanya temannya itu seraya masih memainkan gitarnya.


Suara gitar itu seolah menjadi pengiring kesedihan Alif.


Alif masih diam dan temannya itu pun memutuskan untuk tak bertanya lagi, ia akan menunggu Alif untuk berpikir lebih dulu.


Seraya menemani, si teman yang tidak memiliki ahlak itu menyanyikan lagu cinta dan itu semakin membuat Alif merasa sakit hati.


Aku sepi sepi sepi sepi


Jika tak ada kamu


Aku mati mati mati mati


Jika engkau pergi


Dengarlah kesayanganku


Jangan tinggalkan aku...


Tak mampu jika ku tanpamu


Dengarlah kesayanganku


Hidup matiku untukmu


Ku mohon pertahankan aku


"Bisa diem enggak?" tanya Alif seraya menatap temannya dengan tajam.


Seketika, teman Alif pun berhenti bernyanyi, ia meletakkan gitarnya dan memilih untuk mandi.


"Iya udah, gue mandi dulu, lo puas-puasin dah kalau mau nangis juga terserah!" katanya seraya mengambil handuk yang menggantung di balik pintu kamar.


Bersambung.


Like dan komen ya all ☺.


Dukungan kalian adalah semangat ku.