
Doni hanya bisa menjawab, "Baik."
Setelah itu, Doni pun meletakkan ponselnya, memilih kembali tidur dan kali ini tidak lupa untuk mematikan data ponsel.
Kembali ke rumah Amira.
Tidak ada malam pertama di sana, Dhev hanya menatap punggung Nala yang sepertinya gadis itu sudah terlelap, terlihat dari nafasnya yang mulai teratur.
"Dia istriku," batin Dhev.
Keesokan harinya, Nala yang terbiasa dengan bangun paginya itu terkejut, saat berbalik badan, ia melihat Dhev sudah berada di ranjang, berbaring di sampingnya, menatapnya tanpa mengedipkan mata.
"Aaaah!" teriak Nala yang terkejut.
"Kamu masih utuh, enggak aku apa-apain," kata Dhev, masih dengan menatap Nala.
"Gimana mau diapa-apain, tidurnya aja kaya kebo, masa aku kaya main sama patung," kata Dhev dalam hati.
Nala pun meraba dadanya, branya masih utuh dan tidak merasakan keanehan pada tubuhnya.
"Huhh." Nala menarik nafas.
"Aku harus menyiapkan sarapan untuk Ken," kata Nala seraya beringsut, bangun dari tidur.
"Aku sudah menahan ini semalaman dan sekarang dia mau pergi begitu saja, apa dia tidak tau, apa yang diinginkan oleh pria dewasa?" batin Dhev.
Dhev menahan tangan Nala.
Deg! Nala merasa ada getaran yang baru kali ini ia rasakan, entah getaran apa dirinya pun tidak tau. Yang Nala tau, getaran itu mampu membuat dirinya gemetaran dan hampir tidak mampu berdiri.
Nala merasa gugup dan seketika Nala sudah kembali ke ranjang.
"Om, mau ngapain?" lirih Nala seraya berusaha melepaskan tangan Dhev yang sekarang sudah merangkul pinggang Nala. Jantungnya seolah akan lepas dan Dhev melihat raut ketakutan dari Nala, melihat itu Dhev tertawa dalam hati.
"Apa lagi! Aku mau itu, hak-ku sebagai suami," kata Dhev, pria itu berbisik di telinga Nala.
Nala terdiam, dirinya tidak tau harus berbuat apa.
Dhev memajukan wajahnya seolah ingin mengecup bibir istrinya dan Nala memejamkan mata, tetapi Nala tak kunjung merasakan apapun.
Nala pun membuka mata dan cup, Dhev mencium pipi kanan Nala, setelah itu Dhev bangun dan meninggalkan Nala yang masih menatapnya.
****
Di dapur, Amira memperhatikan Nala dari belakang. Merasa penasaran apakah Dhev dan Nala sudah melakukan itu atau belum, tetapi dari pengamatan Amira tidak ada yang berubah dari cara Nala berjalan, bahkan Nala terlihat baik-baik saja.
Hanya ada satu yang berbeda, Nala yang sedang membuat bekal untuk Ken itu sesekali mengusap pipinya dengan tersenyum.
"Ekhem." Amira menghampiri Nala dan Nala sedikit terkejut, tersadar dari terkesimanya. Nala melihat kearah Amira yang sedang berjalan ke arahnya.
"Bekal untuk siapa?" tanya Amira seraya mengusap punggung Nala yang tipis.
"Untuk Ken," jawabnya.
"Kamu lupa? Ken kan menginap di rumah neneknya," Amira mengingatkan.
"Kalau begitu, bekal ini untuk suamimu saja," usul Amira.
"Tapi Nala enggak tau, om suka masakan Nala atau enggak, Bu," lirih Nala seraya duduk di kursi meja makan.
"Pasti suka, kalau kamu enggak bikinin nanti ada yang uring-uringan enggak jelas," kekeh Amira.
Setelah itu, Amira meninggalkan Nala yang masih belum mengerti maksud mertuanya.
****
Di rumah Nana, wanita tua itu memberitahu Mika kalau Dhev akan di jodohkan.
"Iya, udah tau," jawab Mika yang sedang mendandani Ken, bersiap untuk sekolah.
Nana yang berdiri di pintu kamar Mika itu pun berlalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Ini uang saku kamu," kata Mika seraya memberikan uang untuk keponakannya.
"Tapi, Ken mau bekal, biasanya Tante Nala membawakan Ken bekal," rengek Kenzo yang sedang berdiri di depan Mika, Mika yang sedang mengancing seragam Ken itu merangkum wajah tampan dan menggemaskan dari seorang Kenzo.
Ken hanya diam, terlihat sedikit cemberut.
Mika menarik nafas dan segera ke dapur, melihat ada makanan siap saji di kulkas, berniat membuatkan Ken bekal.
Sekarang, Ken sudah duduk di kursi meja makan, merasa bingung dengan tatapan dari neneknya.
"Nenek kenapa?" tanya Ken, kemudian pria kecil itu mengambil gelas susu miliknya.
"Kamu akan segera memiliki ibu, Ken," kata Nana, masih menatap tanpa ekspresi pada cucunya.
"Ken enggak mau punya ibu baru, kata temen Ken ibu baru itu jahat," jawab Kenzo.
Ken semakin merasa sendiri apabila Dhev menikah lagi dan sibuk dengan ibu barunya.
Kenzo yang merajuk itu menolak untuk sarapan. Beruntung Mika berhasil membujuknya.
"Kamu tenang aja, Ken. Ayah kamu kan sayang sama Bunda, mana mungkin mau dijodohkan," kata Mika seraya mengusap rambut hitam Ken.
Karena ucapan Mika, Ken mau untuk sarapan.
Setelahnya Mika mengantar Ken ke sekolah menggunakan motor maticnya.
Dan ternyata Dhev sudah menunggu di depan gerbang dengan tas bekal dari Nala.
Melihat Dhev, Mika pun menggandeng lengan Ken, berjalan ke arahnya berdiri.
"Assalamu'alaikum, Mas. Sudah lama?" tanya Mika yang sekarang sudah berdiri di depan gerbang.
Belum sempat menjawab salam dari Mika, Ken yang penasaran dengan ucapan neneknya itu segera bertanya pada Dhev.
"Ayah, apa benar, ayah mau menikah lagi?" tanya Ken seraya mengambil bungkusan bekal dari Nala. Seharian berada di rumah neneknya membuat Ken merindukan Nala.
"Waalaikumsalam," jawab Dhev lebih dulu.
Lalu Dhev menjawab pertanyaan Kenzo.
"Anak kecil nanyanya gitu, memangnya kenapa? Bukannya Ken suka kalau punya ibu?" tanya Dhev.
"Ibu baru itu jahat ayah, Ken enggak mau ibu baru," kata Ken yang kemudian berlari meninggalkan Mika dan Dhev masuk ke gerbang sekolah.
"Biasalah, anak kecil, takut kehilangan ayahnya, takut ayahnya lebih memilih ibu barunya," kata Mika pada Dhev.
Dhev hanya terkekeh. Dalam hati Dhev yakin kalau Ken tau siapa ibu barunya itu pasti akan menyukainya.
"Ya sudah, saya berangkat dulu," kata Dhev yang kemudian pergi meninggalkan Mika tanpa menanggapi ucapan Mika.
"Hati-hati, Mas," kata Mika dan Dhev menjawab hanya dengan membunyikan klaksonnya.
Setelah itu, Mika bergegas ke butiknya, butik peninggalan Ana.
****
Jam istirahat, Ken membawa dua bekalnya ke kantin. Sangat terlihat jelas perbedaan bekal dari Mika dan Nala.
Bekal dari Nala sangat menarik karena dibentuk karakter dan lauknya kali ini ada tumis brokoli dan udang krispi beserta susu di dalam kotaknya.
"Ini buat kamu," kata Ken seraya menyodorkan bekal milik Mika yang terlihat biasa saja. Berisi nasi dan nugget, saos sambal sachet di dalamnya.
"Enggak mau, kalau yang ini aku mau," jawab Rulli teman sebangku Ken.
"Jangan, yang ini spesial buat aku," kata Ken yang tidak mau berbagi bekal dari Nala.
Di sela-sela makannya, Ken menceritakan kekhawatirannya pada Rulli mengenai ibu baru.
Rulli pun semakin menakut-nakuti Ken. Mengatakan kalau ibu baru itu jahat seperti yang sering ia lihat di di televisi.
Ken semakin khawatir dan berniat akan menggagalkan perjodohan itu.
Apakah setelah mengetahui siapa ibu barunya itu Ken akan menerima?
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Dukungan dari kalian adalah semangat ku. Terimakasih^^