DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Masih Cemburu


Sampai malam, Doni tidak melihat Nindy keluar kamar.


Doni pun mengetuk pintu itu, ia merasa khawatir.


"Kamu udah makan belum?" tanya Doni dari balik pintu.


Nindy yang sembab itu tidak menjawab, memilih untuk diam.


"Jaga kondisi kamu, jangan sampai sakit, kasihan bayi yang berada di dalam perut kamu," kata Doni, pria itu mengingatkan sebagai teman.


"Kalau aku sakit, pasti aku merepotkan!" batin Nindy. Ia pun memilih untuk bangun dari berbaringnya, mengikat rambut lalu keluar dari kamar.


Saat Nindy keluar, Doni sudah tidak ada di depan pintu.


Nindy yang ke meja makan itu melihat susu hamil, sudah pasti itu pemberian Doni.


Nindy menangis melihat itu.


"Seandainya gue nikah sama Arnold, apa sama perlakuan yang gue dapat? Kenapa Doni sebaik ini? Apa karena aku adik dari bosnya?" batin Nindy.


Setelah itu, Nindy duduk dan makan malam sendirian, setelahnya membuat susu rasa mocca itu dan membawanya ke kamar.


****


Selesai dengan pesta pertunangan, Jimin dan Ririn membayar sejumlah uang pada orang tua palsu Ririn yang mereka sewa.


"Terimakasih, jangan lupa, beberapa hari lagi pesta pernikahan, kalian harus ada!" kata Jimin.


Kedua orang tua bayaran itu mengangguk mengerti, mereka yang sudah duduk di bangku kemudi mobilnya menerima uang tersebut.


"Ok! Siap laksanakan!" jawabnya. Setelah itu keduanya pergi dari area parkir.


"Maaf ya, Jim. Gue enggak bisa undang orang tua kandung gue, gue takut semua rencana lo jadi berantakan!" kata Ririn yang berdiri di samping Jimin.


"Iya, enggak papa, gue ngerti!" jawab Jimin.


"Ya udah, lo mau gue antar apa bagaimana?" tanya Jimin seraya menatap Ririn. Sementara mamih dan papih Jimin sudah kembali ke apartemen, mereka akan menginap sampai hari pernikahan itu dilaksanakan.


"Gue pulang sendiri aja!" jawab Ririn yang kemudian memesan taksi daring ponselnya.


"Ok, gue duluan, ya. Lo hati-hati!" kata Jimin, setelah itu Jimin pergi ke arah motornya berada.


"Iya," jawab Ririn.


Dan setelah menunggu beberapa menit, taksi yang Ririn pesan itu tak kunjung datang, Jimin yang sedari tadi masih mengawasi Ririn itu memutar balikkan motornya, Menghampiri Ririn yang masih berdiri di tepi jalan.


"Mungkin mogok taksinya, ayo gue antar!" kata Jimin, pria itu menatap lurus ke depan.


Ririn pun yang sudah kedinginan karena terkena angin malam itu segera naik ke motor sport Jimin.


Keduanya tanpa bicara sampai ke kosan Ririn.


"Terimakasih," kata Ririn yang sudah turun dari motor Jimin.


"Sama-sama!" jawab Jimin, setelah itu, Jimin pun pergi dari depan pagar kosan Ririn.


****


Di rumah, Dhev sedang memijit kaki Nala, gadis itu masih merajuk.


Nala masih diam karena Dhev dicium oleh Monic.


"Sayang, kan dia yang cium aku! Bukan aku yang minta atau aku yang mencium dia," kata Dhev seraya menatap Nala.


Nala masih tak menghiraukan, gadis itu terus membaca novel yang ada di tangannya.


"Biar kamu enggak marah lagi gimana? Aku harus apa?" tanya Dhev seraya tangan jahilnya itu semakin naik saat memijit kaki Nala.


"Tangan tolong dikondisikan!" ucap Nala, matanya melirik pada tangan Dhev yang sekarang sudah berada di pahanya.


"Jawab dulu, kalau enggak, ini enggak tau, kayanya bakalan naik ke atas!" jawab Dhev seraya mengusap genit paha Nala.


"Cuci wajah kamu pakai kembang tujuh rupa tujuh warna!" jawab Nala seraya kembali membaca majalahnya.


"Teganya, kan tadi aku udah cuci muka! Pakai sabun, kamu liat sendiri!" jawab Dhev.


"Entahlah, aku males, pokoknya aku males!" Nala menurunkan tangan suaminya dari pahanya lalu menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.


Tetapi, Dhev tidak kehabisan akal, pria itu menyusul masuk ke selimut dengan tangan yang sigap, pria itu memeluk istrinya dan sedikit memberikan rangsangan di area leher Nala.


"Iih, ini. Kamu sengaja ya mau godain aku?" protes Nala seraya berbalik badan, keduanya saling menatap dan Dhev tersenyum.


"Kenapa? Kamu mau aku godain janda itu?" tanya Dhev dengan sengaja yang semakin memancing kecemburuan Nala.


"Janda, siapa janda?" tanya Nala seraya membuka selimut, merubah posisinya menjadi duduk, menatap Dhev yang sekarang membelakanginya.


Dhev tertawa dalam hati.


"Yang tadi cium-cium aku, dia itu janda."


Seketika Dhev mendapatkan cubitan di pinggangnya.


"Aaaaa, kamu enggak boleh deket-deket sama dia, aku cemburu!" kata Nala seraya terus mencubit pinggang Dhev. Nala yang benar-benar cemburu itu hampir menangis, mungkin karena bawaan bayi yang membuat gadis itu menjadi manja.


Dhev tertawa, menertawakan tingkah Nala, pria itu menahan tangannya dan membawa Nala dalam ke pelukan.


"Aku cuma mau sama kamu, makanya, udah dong ngambeknya, masa cuma karena cipika-cipiki aja ngambeknya lama banget, gimana kalau kerjaan ku sebagai aktor senggol sana senggol sini, peluk sana peluk sini," kata Dhev dan Nala hanya diam, mengusap air matanya, menganggukkan kepala.


Dhev pun mencium kening istrinya.


Keduanya berpelukan sampai tertidur.


Dalam hati, Dhev tidak menyangka kalau dirinya akan jatuh cinta pada gadis yang dulu sempat ia benci.


****


Waktu terus berlalu, sekarang Nala sudah tidak disibukkan dengan pekerjaan, termasuk mengurus Ken karena Dhev ingin Nala menjaga kehamilannya dan Dhev memperlakukan istrinya seperti ratu di rumahnya.


Sekarang, Nala sedang menunggu Ken pulang sekolah di depan pintu, tetapi yang terlihat hanya asisten Ken.


"Dimana Ken?" tanya Nala pada Resa, asisten Ken.


"Maaf, Nyonya. Tadi saat saya menjemput Tuan, ada tantenya yang ternyata juga sedang menunggu. Saya sudah melarang, tetapi, perempuan itu memaksa. Saat saya tanyakan pada Mang Dadang memang benar perempuan itu tantenya," jawab Resa seraya menundukkan kepala.


"Mika," gumam Nala.


Dan setelah mengetahui anaknya bersama dengan tantenya, Nala sedikit lega.


"Iya sudah, enggak papa, Ken memang sering menginap juga di sana," jawab Nala, setelah itu, Nala pergi masuk dan menemui Amira yah sedang duduk santai di ruang tengah, Nala memberitahukan itu padanya.


"Iya sudah, mungkin Mika dan Neneknya kangen sama Ken."


"Iya, pikir Nala juga begitu, Bu," jawab Nala seraya ikut duduk di samping Amira.


"Nanti sore kita jenguk Nindy, ikut?" tanya Amira seraya melihat kearah Nala.


Nala menganggukkan kepala, merasa bosan juga kalau sepanjang hari hanya di rumah, seperti dipenjara.


****


Mika dan Ken sedang berada di restoran siap saji, di sana, Mika membelikan es krim untuk keponakannya.


Mika mengusap lembut rambut Ken.


"Enak?" tanya Mika dan Ken menjawab 'iya' dengan mulut yang sedikit belepotan.


Mika tersenyum dan memberikan tisu untuknya.


"Gimana perasaan kamu, mau punya adik, pasti senang?" tanya Mika.


"Senang, Tante. Kan nanti Ken punya sodara," jawab Ken dengan polosnya.


"Iya kah? Tapi kalau punya saudara itu... bukannya nanti semua bakal terbagi?" tanya Mika seraya masukkan sesuap es krim ke mulutnya. Tersenyum yang seolah menertawakan Ken.


Bersambung.


Setelah baca, klik likenya ya kakak, like itu geratis 🤗. Terimakasih^^