
Malam ini, Mae tidak dapat tidur dengan pulas, ia dihantui rasa bersalah.
Mae terbangun karena Alif dan Fai menertawakannya bersamaan.
"Ini semua salahmu! Jangan salahkan kami saling jatuh cinta! Hahahaaa!" begitulah ucap Fai yang menertawakannya.
Mae yang berkeringat dingin pun terbangun, ia melihat Andra yang berada di sampingnya.
"Ini semua salah mu juga, seandainya kamu enggak jahat sama aku dan anakku, enggak mungkin aku ngelakuin ini!" kata Mae dalam hati.
Mae pun mengambil bantal dan bersiap membekap suaminya sampai tewas. Tetapi, Mae tersadar kalau dirinya mencintai Andra dan itu adalah keputusannya untuk mempertahankan anak yang ada di kandungannya.
Mae pun menekan kepalanya menggunakan dua tangannya, kepalanya merasakan sakit yang hebat.
Mae merintih kesakitan dan itu membuat Andra terbangun.
"Mae! Lu kenapa?" tanya Andra yang ketakutan.
Mae hanya menjawab dengan menggeleng lalu Andra mengambilkan minum di dapur.
"Apa aku harus stress dulu baru kamu perduli, Mas?" tanya Mae yang menatap Andra tajam.
"Iya, gua takut lu kenapa-kenapa, terus nanti siapa yang ngurus gua, Mae?" jawab Andra.
"Enggak pernah berubah! Jadi laki jangan maunya diurusin doang, jangan maunya dimengerti tapi enggak ngerti balik!" kata Mae dengan suara tegas.
Tengah malam Mae seperti kerasukan yang kali ini bisa menjawab ucapan Andra, bahkan Mae membuat Andra ketakutan sampai merinding.
Andra pun memilih keluar dari kamar dan tidur di kursi kayu ruang tamu.
"Aneh si Mae! Tengah malem kesambet apaan dah!" kata Andra seraya bergidik.
Andra pun tak mengambil pusing, ia melanjutkan tidurnya sampai pagi dan kembali terbangun karena Fai mengetuk pintu rumah sederhana itu.
"Siapa sih, pagi-pagi udah ganggu aja!" kata Andra seraya bangun dari tidurnya.
Andra pun membukakan pintu dan terlihat Fai yang membawa bingkisan untuk sarapan bersama itu tersenyum menunjukkan gigi putih yang berjajar dengan rapinya.
"Eh, Elu! Masuk-masuk!" kata Andra seraya memberikan jalan pada Fai dan Mae yang baru datang dari dapur itu terlihat sudah memasang dua layar koyo di pelipisnya.
Mae terlihat pucat dan Mae pun menanyakan untuk apa Fai datang.
"Mau sarapan bersama, Bu. Alif ada? Fai juga bawakan buat ibu dan bapak," kata Fai seraya menunjukkan empat bingkisan yang ia bawa.
Fai membawa bubur ayam langganan Alif komplit dengan sate usus, telur puyuh dan hati, ampela.
Sementara Mae yang melihat Fai itu teringat dengan mimpinya semalam dan sekarang, Mae melihat kalau Fai sedang menertawakannya padahal, Fai sedang duduk bersama Andra yang mengajaknya duduk dan membuka bingkisan itu.
Mae hanya bisa menekan kepalanya seraya terus memintanya pergi. Entah siapa yang Mae maksud karena Mae tak menyebutkan nama.
Alif yang baru saja selesai mandi dan bersiap itu mendengar suara Mae yang seperti kesakitan segera keluar dari kamar.
Terlihat Andra dan Fai sudah berada di kanan, kiri Mae.
"Ada apa? Kenapa sama ibu?" tanya Alif yang berjongkok di depan Mae.
Mae pun jatuh pingsan dan Fai meminta pada Alif untuk membawa Mae ke rumah sakit.
"Aduh, gimana biayanya, gua enggak punya duit!" gumam Andra seraya menggaruk kepalanya.
"Tolongin aja dulu, urusan duit belakangan!" kata Alif dan Andra pun segera meminjam mobil angkot tetangga, tidak lupa membawa sarapan tadi ikut bersamanya dan sesampainya di rumah sakit, Fai yang membiayai semua.
"Punya calon mantu orang kaya, enak juga, pagi-pagi dapat dianterin sarapan, soal biaya enggak pusing!" batin Andra seraya menyantap sarapannya.
"Sempet-sempetnya sarapan tuh orang!" batin Alif yang sedang khawatir dan menunggu hasil pemeriksaan Mae.
"Kenapa? Entar gua lemes enggak ada tenaga buat bawa ibu lu balik gimana? Baiknya lu juga sarapan! Biar tetap kuat ngurusin orang sakit!" kata Andra yang ditatap oleh Alif dan seolah mengerti apa yang dikatakan Alif dalam hati.
Fai pun membenarkan ucapan Andra dan membujuk Alif untuk sarapan.
"Gue enggak bisa sarapan liat ibu kaya gitu, apa ibu kelelahan, ya?" tanya Alif dan Fai menjawab, "Bisa jadi, sekarang kamu sarapan, ya! Aaaa!" jawab Fai seraya meminta Alif membuka mulut dan Fai menyuapinya.
Melihat itu, Andra merasa kalau Alif dan Fai adalah pasangan serasi dan bisa-bisanya Mae tidak merestui.
Alif pun merasa heran apa yang membuat Mae sampai seperti itu.
Alif yang mengerti pun menganggukkan kepala.
Sekarang, Alif masuk ke dalam dan meminta Fai untuk menunggu di luar karena Alif ingin bicara empat mata.
Fai pun mengerti dan Fai ditemani oleh Andra.
"Lu juga makan dong! Masa nyuruh doang!" kata Andra dan Fai pun menghabiskan bubur yang ada di tangannya.
Fai bergumam dalam hati, "Inikan sendok bekas Alif? Secara enggak langsung gue udah itu dong!" Fai pun menjadi senyum-senyum sendiri seolah baru saja berciuman dengan pacarnya, padahal sendok itu terasa manis karena terkena kecap manis si bubur ayam.
"Gila nih anak!" batin Andra seraya menggelengkan kepala. Andra pun ikut senyum-senyum melihat tingkah Fai.
****
Di dalam, Mae tidak mau mengatakan apa yang membuat dirinya stress.
"Bu, cerita dong, apa bapak nyakitin ibu lagi?" tanya Alif dengan lembutnya dan Mae hanya bisa menangis dan membelakangi anaknya.
"Bu, kalau ibu enggak cerita, gimana Alif tau yang bikin ibu sedih itu apa," lanjutnya dan kali ini Mae berbalik badan, Mae merasa ini kesempatan untuk meminta pada Alif mengakhiri hubungannya.
"Putuskan hubungan kalian! Ibu enggak suka!" kata Mae.
Alif hanya bisa diam, ingin menjawab dan bertanya apa penyebabnya tetapi Alif takut akan membuatnya semakin stress.
Alif hanya bisa mengiyakan di bibir sementara di dalam hatinya berkata akan mempertahankan Fai sampai ibunya dapat menerima dan merestui.
"Ibu istirahat aja dulu, Alif mau keluar sebentar!" kata Alif dan Mae pun menggenggam tangan anak itu.
"Ibu mohon, dengarkan ibu, ini demi kebaikan kalian!" kata Mae seraya menatap Alif dan Alif pun menganggukkan kepala.
Di luar, Alif mengajak Fai untuk berbicara empat mata. Sebelumnya Alif meminta maaf pada Fai.
"Maaf, bukannya gue enggak mau lo datang ke rumah, tapi, buat saat ini kita ketemu di luar aja dulu, ya. Kita bisa saling tukar kabar kalau mau ketemu, gimana?" tanya Alif.
Fai yang sedari tadi memperhatikan Alif itu mengangguk mengerti.
"Ibu kamu enggak suka ya sama aku?" lirih Fai seraya menunduk.
"Jangan berpikir kaya gitu, lo tenang aja, gue ada di sini!" kata Alif seraya menunjuk hati Fai dan Alif membawa tangan Fai ke dadanya.
"Dan lo ada di sini!"
Fai pun kembali tersenyum.
"Lo bisa aja bikin gue bahagia!" kata Fai yang kemudian menyandarkan kepalanya di lengan Alif dan Alif pun mengusap lengan Fai.
"Gue sayang sama lo! Gimana gue bisa putusin lo!" kata Alif dalam hati.
Setelah itu, Alif mengantarkan Fai untuk pulang, keduanya naik mobil angkot yang dipinjam oleh Andra.
"Lo bisa nyetir juga?" tanya Fai dan Alif menjawab dengan mengangguk.
Sekarang, Alif dan Fai sudah sampai di depan rumah mewah yang berada di tengah perumahan mewah itu.
Alif merasa minder dengan apa yang dibawanya.
Sebelum turun, Fai menyampaikan kalau nanti malam Alif diundang makan malam oleh keluarganya dan Alif pun mengiyakan.
Dan Alif merasa berdebar, banyak pertanyaan di kepalanya.
"Gue deg-degan gini? Kira-kira nanti bakal ditanya apa aja ya?" gumam Alif dalam hati.
Bersambung.
Like dan komen ya all, dukungan kalian adalah semangat ku 🤗🤗
Sampai jumpa di episode selanjutnya.