DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Fakhri Cemburu!



Adila.



Alif.



Kenzo.



Fakhri.



Bila.


Untuk Fai belum nemu visualnya, dan Visual di atas kalau kurang cocok dengan bayangan reader sekalian, dipersilahkan untuk membayangkan visual yang cocok versi sendiri-sendiri, ya 🙏.


****


Setelah membahas Bila, sekarang Ken keluar dari ruangan Dhev dan Dhev pun segera menyusul Nala yang sudah menunggu di kamar.


Di kamar, Nala sedang memakai rangkaian skincarenya.


"Udah selesai, Mas?" tanya Nala seraya melihat kedatangan Dhev dari cermin riasnya.


"Udah, ada hal penting yang ingin ku bicarakan," kata Dhev yang kemudian duduk di tepi ranjang.


Nala pun menyusulnya dan menanyakan apa itu.


"Ken ingin melamar Bila, bagaimana menurutmu?"


Dalam hati Nala ingin mengatakan kalau Dhev harus mencari tau lebih dulu layar belakang Bila, tetapi, teringat dengan dirinya yang dulu bukan siapa-siapa kenapa sekarang harus menjadi pemilih, Nala pun memutuskan akan mencari tahu sendiri tentang Bila.


"Kalau Ken sudah yakin dengan keputusannya kenapa enggak, Mas?" tanya Nala.


"Entah, kita lihat saja nanti," kata Dhev yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


Setelah itu, Dhev tersadar kalau Nala sangat harum malam ini dan Dhev menanyakan parfum barunya.


"Iya, kamu suka enggak?" tanya Nala seraya mengulurkan tangannya dan Dhev mencium itu.


"Suka, wanginya kalem banget, sesuai sama karakter kamu!" puji Dhev dan Nala pun tersenyum.


Setelah itu, Nala yang sedang merindukan suaminya berpindah tempat duduk, sekarang ia sudah duduk di pangkuan Dhev.


"Mas...," lirih Nala yang sudah melingkarkan lengannya di leher Dhev dan Dhev melingkarkan tangannya di pinggang Nala.


"Iya," sahut Dhev seraya menatap istrinya.


"Anak-anak kita sudah dewasa, aku jadi teringat dulu awal kita menikah," ucap Nala.


"Kenapa? Kamu kan polos banget waktu itu! Emang ngerti pacaran?"


Cup! Nala menjawab dengan mengecup pipi Dhev dan Dhev pun membawa Nala segera ke ranjang.


Keduanya melakukan pemanasan sebelum pertempuran yang sesungguhnya dimulai.


****


Keesokan paginya, saat Bila membuka mata, ia langsung mencari ponsel yang berada tidak jauh dari bantal.


Bila pun membuka ponsel itu dan matanya melihat kalau dirinya mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal.


Bila terkejut saat melihat isi pesan itu yang mengiriminya gambar saat sedang tidur bersama dengan pria asing malam itu.


"Astaga, dari mana dia dapat nomor gua?" tanyanya pada diri sendiri.


Bila pun menanyakan maksud dari pria itu yang tak lain mengajaknya untuk bertemu kembali atau foto itu akan sampai pada kekasihnya.


"Jangan macam-macam. Kita udah enggak ada urusan!" balas Bila.


Ia merasa takut dan khawatir kalau Ken akan mengetahui sifat aslinya.


Bila menggigit ujung kuku telunjuk kanannya. Lalu, ponsel Bila kembali menyala, pria itu membalas dengan mengatakan kalau dirinya tidak dapat melupakan Bila.


"Gila! Jangan hubungi gue lagi! Ingat ya, kita enggak saling kenal dan enggak ada urusan setelah malam itu selesai! Berhenti ganggu gue atau gue laporin lo ke polisi!"


"Coba saja kalau berani!" jawabnya. Setelah itu, pria tersebut mengirim alamat tempat janjian yang ia tentukan pada Bila dan Bila mengabaikan pesan itu.


"Jangan sampai pernikahan gue sama Ken gagal!" ucap Bila seraya menutupi wajahnya menggunakan dua telapak tangannya.


"Salah gue, kenapa gue bisa ketemu cowok modelan dia!" gerutu Bila seraya turun dari ranjang.


Di tempat lain, Nala sedang menemui Arnold, Nala meminta pada pria itu untuk menyelidiki layar belakang Bila untuk Ken.


Dan sesampainya di kantor, Dhev juga menanyakan membahas hal sama yaitu tentang Ken dan Bila


"Tenang, nanti gue cari tau!" kata Arnold dan sekarang Arnold keluar dari ruangan Dhev.


Arnold pun mulai menghubungi mata-mata.


****


Pagi ini, Fai mengirim pesan pada Alif kalau tidak bisa pergi sarapan bersama karena Fakhri terus mendesaknya untuk ikut sarapan dengannya.


Alif pun mengiyakan dan karena pagi ini tidak menjemput Fai, Alif berangkat sedikit siang.


"Tumben, sarapan di rumah?" tanya Mae yang sedang menyusun piring di rak.


Alif yang sedang menyantap tumis kangkung dan goreng tempe itu pun menjawab kalau dirinya rindunya masakan Mae.


Mae merasa senang karena Alif begitu baik dengannya dan selalu bisa membuat Mae bahagia, Mae menjadi membayangkan kalau Alif adalah Fakhri pasti kebahagiaannya akan sempurna, tetapi tidak bagi Fakhri karena mungkin Fakhri tidak akan seperti sekarang ini, banyak harta dan tidak direpotkan oleh Andra. Tidak perlu merasakan rasa sakitnya menjadi Alif.


Ah, Mae, dirimu salah mengira! Sedangkan Fakhri sangat menginginkan seorang ibu dan tidak mendapatkan itu di rumah mewah yang kamu anggap surga dan kebaikan untuk masa depan Fakhri.


Sebelum Andra keluar dari kamar, Alif pun segera berangkat bekerja, ia tidak ingin pagi harinya menjadi kelabu karena mendengar ucapan Andra yang seperti kentut bagi Alif.


****


Pagi ini, Fakhri merasakan kalau Fai tidak seceria biasanya, Fakhri pun bertanya.


"Fai, lo sakit?"


Fai yang membonceng motor Fakhri itu membuka kaca helmnya.


"Apa?" tanya Fai yang tak mendengar pertanyaan Fakhri.


"Lo sakit?"


"Enggak!"


"Terus kenapa?"


"Kangen!"


"Kan gue udah di sini!"


"Bukan lo!" jawab Fai seraya menepuk punggung Fakhri yang berada di depannya. Fai merasa kalau Fakhri kegeeran.


"Jangan-jangan si Alif yang Fai maksud!" batin Fakhri seraya terus mengendarai motornya.


Setelah sampai di tujuan, Fakhri pun memarkirkan motor itu di depan warung pecel madiun yang pagi ini akan menjadi menu sarapan keduanya.


"Tau tempat ini dari mana lo?" tanya Fai seraya melepaskan helm.


"Dari IG!" jawab Fakhri.


Setelah itu, keduanya pun masuk dan mencari tempat duduk yang masih tersisa.


Dan selama menunggu makanan itu datang, Fai tak berhenti membahas tentang Alif membuat telinga Fakhri menjadi panas. Apalagi Fai juga mengatakan kalau dirinya akan membawa Alif ke tempat tersebut.


"Enggak ada bahas yang lain apa?" tanya Fakhri seraya menatap sarapannya yang baru saja mendarat di meja.


"Enggak ada!" jawab Fai dengan polosnya.


"Lo tau enggak kalau Kak Ken mau ngelamar Bila?"


"Apa?" Fai menggebrak meja makan itu membuat dirinya dan Fakhri menjadi pusat perhatian pelanggan yang lain.


Menyadari itu, Fai pun kembali tenang.


"Enggak bisa dibiarin!" kata Fai seraya melahap sarapannya dengan menggebu.


"Pelan-pelan! Fai. Nanti keselek!" kata Fakhri yang mengingatkan.


****


Selesai dengan sarapan, Fakhri yang terus menjadi pengawal Fai itu seolah tak mengijinkan Fai untuk mengingat Alif.


Sekarang, keduanya sedang duduk di bangku taman kampus.


Fakhri terus bertanya soal tugas kuliah membuat Fai merasa bosan.


"Biasanya juga lo yang pintar! Kenapa jadi nanya-nanya gue!" gerutu Fai, Fai pun segera menghampiri Adila yang baru saja tiba di kampus.


Apakah Fai akan meminta Adila untuk kembali mendekati Ken?


Bersambung.


Like dan komen ya all 🤗.


Jangan lupa difavoritkan juga ❤.