
Di kantor Jimin, pria itu terdiam menatap layar ponselnya. Merasa jengkel dengan kedekatan Ririn dan Arnold yang baru pagi tadi ia pergoki berduaan di taman.
Jimin yang yakin kalau Ririn berada di rumah Dhev itu menyusul, tetapi saat dirinya sampai ternyata Ririn sudah pulang.
Di jalan itu lah Jimin melihat Ririn dan Arnold sedang berpelukan.
"Apa jangan-jangan lo sengaja enggak pengen punya anak? Biar lo bisa balikan sama bajingan itu lagi?" tanya Jimin seraya menatap gambar yang ia ambil untuk dijadikan bukti.
Ingin menghapus gambar itu tetapi ingin ada bukti, melihat bukti semakin sakit hati Jimin yang sudah bertahan untuk Ririn.
"Jadi pagi-pagi lo milih pergi ketemu sama dia dari pada ngurus gue?" Jimin bertanya dalam hati.
Jimin pun bangun dari duduk, entah kemana pria itu akan pergi dalam. keadaan marah, Ia pulang lebih awal hari ini.
Tetapi, ia tak juga kunjung tiba di apartemen, Ririn yang hatinya sudah merasa baikan itu memasak kesukaan Jimin yaitu ayam geprek lengkap dengan lalapannya.
Ririn melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul lima sore, tidak lama kemudian pintu apartemen terbuka dengan sedikit kasar, Ririn yang sedang mencuci perabotan dapur itu terkejut dan segera melihat ke depan.
Terlihat Jimin meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tengah dengan jengkel.
Ririn juga mengikuti langkah kaki Jimin yang masuk ke kamar lalu mengobrak-abrik kamarnya, ia membuka lemari Ririn, mengeluarkan semua pakaiannya dari sana.
"Jim, ada apa?" tanya Ririn seraya menahan lengan Jimin yang sedang mencari sesuatu.
Jelas masih terngiang di telinganya kalau Arnold menanyakan apakah Ririn masih meminum pil KB? Jimin merasa kesal dan kecewa karena Arnold lebih tau tentang Ririn.
"Dimana lo sembunyiin pil kb itu?" bentak Jimin seraya mengibaskan tangan Ririn dari lengannya.
"Gue udah lama enggak minum pil itu, semenjak kita menikah, serius! Gue enggak bohong!" jawab Ririn tak kalah dengan suara yang keras.
"Jangan bohong!" bentak Jimin dan karena berteriak itu membuat bibirnya yang jontor itu terasa sakit karena baru saja berkelahi dengan Arnold.
"Percuma, kalau pun gue jawab jujur, kalau hati lo engga percaya tetap enggak akan percaya, kan!" seru Ririn yang keluar dari kamar.
Dan Jimin tidak berhenti, ia masih mencari pil KB tersebut, lelaki yang masih lengkap dengan jaket dan sepatu kerjanya itu menyingkap seprei ranjang dan springbednya, tetapi, tetap saja Jimin tak menemukan yang ia cari karena memang Ririn sudah tidak meminum itu lagi.
Jimin yang masih terbakar api cemburu itu menyusul Ririn ke kamar yang biasa ditempati oleh maminya. Mengetuk pintu dengan keras.
"Apa sekali ******** akan tetap ********?"
Mendengar itu Ririn merasa sangat sakit hati.
"Enggak bisa didiemin! Gue udah lama tobat dan sekarang dia ngungkit itu lagi! Dia tau dari awal gue jal**ng kenapa dia malah bilang cinta sama gue!" gumam Ririn. Gadis yang sedang duduk di tepi ranjang itu bangun lalu membuka pintu kamarnya.
"Kenapa? Kenapa baru sekarang ngungkit gue? Lo tau gue ********, gue juga tau lo itu brengsek! Suka celap celup sana-sini, apa bedanya bangsa*aat!"
"Berani lo lawan gue! Gue suami lo! Apa karena lo baru mesra-mesraan sama mantan terus lo berani teriak sama laki sendiri?" Jimin mengangkat tangannya, hampir menampar Ririn yang sudah meneteskan air mata.
"Apa? Mau tampar? Tampar aja, gue udah biasa dapat perlakuan buruk dari semua orang! Tampar!" Ririn mengangkat tangan Jimin lalu mengarahkannya ke wajah sendiri.
Jimin pun terdiam, ia tak ingin melanjutkan pertengkaran ini, karena ia takut kehilangan Ririn. Ia takut kalau Arnold akan mengambilnya seperti apa yang tadi ia katakan saat berkelahi.
Ririn berlari keluar kearah pintu, tetapi Jimin yang mengikutinya itu berhasil menahan Ririn.
"Jangan pergi!" kata Jimin seraya membawa Ririn ke pelukan.
"Maafin gue, gue cuma kebawa emosi, gue cemburu, gue enggak suka lo deket sama Arnold!" kata Jimin seraya mengusap rambut hitam Ririn, gadis itu masih sesenggukan, merasa sakit karena Jimin mengungkit masa lalunya.
Ucapan Jimin terdengar oleh Mamihnya yang menguping dari luar.
"Oh, jadi cuma Arnold yang bisa bikin Jim marah sama Ririn?" gumam mamihnya yang kemudian pergi dari sana.
****
"Maaf, anda Arnold bukan? Yang waktu itu di tahan karena menculik anak Tuan Dhev?" tanya Serena yang sudah duduk di kursi plastik.
"Kenapa? Ada perlu apa?" tanya Arnold seraya menatap Serena.
"Saya mau mencuci mobil," kata Serena seraya menunjuk mobilnya yang masih terparkir di luar pagar depan rumah Arnold.
"Anda tidak melihat atau bagaimana? Jelas ini tempat cuci motor!" jawab Arnold, ia masih merasa kesal dengan ucapan Jimin yang mengatainya pria miskin tidak cocok untuk Ririn. Ditambah dengan kedatangan Serena yang seolah mengejeknya.
"Pergi!" kata Arnold, ia masih ingat betul dengan wajah Serena yang ia tolong tadi siang.
"Kenapa memang? Saya kira bisa untuk mencuci mobil di luar, seperti bapak itu, tetangga anda," jawab Serena seraya menunjukkan ke arah tetangga Arnold yang sedang mencuci mobilnya sendiri.
"Maaf, saya lelah dan harus menutup tempat cuci motor ini!" kata Arnold yang sekarang sudah berdiri di samping Serena, ia menunjuk ke arah pintu pagar, mengusir Serena.
"Begini, selain kedatangan saya untuk mencuci mobil, ada niat lain yang ingin saya sampaikan!" kata Serena yang masih duduk, ia tak mau berdiri apalagi pergi.
"Katakan!" ucap Arnold seraya mengusap ujung bibirnya yang masih terasa perih.
"Anda mengenal Tuan Dhev, bukan?"
Mendengar nama Dhev, Arnold menjadi semakin jengkel, tadi Jimin dan sekarang Dhev. Entah akan berurusan apalagi dengan mantan sahabatnya ini.
"Pergi!"
"Tolong dengarkan dulu!" kata Serena yang masih menatap Arnold.
Arnold pun menendang ember hitam yang ia gunakan untuk menampung air sabun saat mencuci motor langganannya.
Melihat itu, Serena pun bangun dari duduk, ia merasa kalau telah berhadapan dengan Dhev ke dua.
Serena pergi dari kediaman Arnold, gadis itu menggelengkan kepala.
****
Sepulang dari bekerja, seperti biasa, Nala sudah menyambutnya di depan rumah bersama dengan Fai, sementara Kenzo, ia sedang bermain di taman belakang rumah bersama dengan temannya yang akan menginap.
"Anak ayah udah mamam belum?" tanya Dhev seraya meminta Fai dari gendongan ibunya.
"Udah dong," jawab Nala yang kemudian menerima tas kerja suaminya.
Dhev pun mengajak Nala masuk ke rumah, tidak lama kemudian, Dhev memberikan Fai pada susternya dan Nala merasa kalau suaminya sedang sangat lelah, ia menggengam tangan Dhev dan Dhev pun tersenyum pada istri kecilnya.
Sesampainya di kamar, Dhev membawa Nala ke ranjang, berpelukan.
"Setelah kepergian Doni, aku merasa sangat lelah, tidak ada lagi yang sepertinya!" kata Dhev yang masih memeluk Nala, menjadikan Nala sebagai guling hidupnya.
"Jelas enggak ada, Mas. Namanya orang pasti beda-beda, enggak akan ada yang sama," jawab Nala seraya mendongak, menatap Dhev yang sedang memejamkan mata.
"Ssstttt! Diam. Dengerin aja aku bercerita!" kata Dhev seraya menutup wajah Nala dengan telapak tangannya.
"Dari pada aku di suruh diem, mending kita mandi aja, gimana?"
Mendengar kata kita, tentu saja membuat Dhev sangat bersemangat. Pria itu melepaskan guling hidupnya lalu mengajaknya dengan cepat untuk ke kamar mandi.
Bersambung.
Setelah baca, like dan komen ya bestie 😚. Like dan komen itu gratis dan membuat author semakin semangat buat up 🤗
Terimakasih banyak ya sudah vote/gift🎁. Sampai jumpa di episode selanjutnya.