DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Sulitnya Mencari Pengganti


Pagi-pagi sekali, saat Arnold akan berbelanja kebutuhan salon motornya, ia melihat balita yang sedang belajar berjalan, balita itu berjalan hampir menyeberangi jalan karena mengikuti bola yang menggelinding.


Arnold yang melihat itu segera menepikan motornya lalu mengambilkan bola itu untuknya.


"Anak kecil, di mana ibumu?" tanya Arnold seraya menggendong balita itu yang tak lain adalah Alif.


Tidak lama kemudian datang Mae yang baru saja selesai menyuguhi sarapan untuk suaminya. Melihat anaknya berada di gendongan pria asing, Mae pun segera meminta anaknya.


"Kembalikan anak saya!" kata Mae seraya mengambil Alif dari gendongan Arnold.


"Jaga baik-baik bu anaknya! Jangan dibiarin main di jalan sendiri!" ketus Arnold.


Mae hanya mendengarkan karena memang salahnya membiarkan Alif keluar dari rumah dan sampai ke luar gang.


Arnold menatap Mae dan Alif sampai tak terlihat, setelah itu Arnold melanjutkan langkah perjalanannya untuk ke toko.


Selesai berbelanja, Arnold yang melewati taman kota itu melihat Ririn sedang duduk seorang diri. Terlihat raut sedih dari wajahnya.


Arnold menepikan motornya, ia menimbang pikirannya, menemui Ririn atau tidak. Tetapi, ia memutuskan untuk menemuinya.


Tentu saja, kedatangan Arnold membuat Ririn salah tingkah. Bertemu dengan seseorang yang pernah mengisi hatinya bukanlah mudah untuk bersikap biasa saja.


"Lo, lo udah keluar dari penjara?" Ririn bangun dari duduknya sementara Arnold tersenyum lalu duduk di bangku panjang, sebelah Ririn.


Arnold menarik lengan Ririn supaya kembali duduk.


"Kenapa? Lo sedih? Apa Jimin nyakitin lo? Apa dia masih suka main perempuan?" Arnold bertanya dengan pandangan tetap lurus ke depan.


"Bukan urusan lo! Ini urusan rumah tangga gue!"


"Iya udah, gue pamit, kayanya lo udah enggak mau ketemu gue lagi!" kata Arnold yang bangun dari duduk, ia melangkahkan kakinya, tetapi, Arnold kembali menghentikan langkahnya, ia mendengar suara tangis dari belakang.


Benar saja, Ririn sedang menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya.


Arnold pun kembali duduk.


"Jangan nangis begini, nanti di kira orang gue yang bikin lo nangis!"


"Lo tau, beberapa waktu ini, gue kaya lagi jalanin karma! Gue tau, gue banyak salah, tapi... apa enggak bisa sedikit aja gue bahagia?" lirih Ririn seraya menatap Arnold yang juga menatapnya.


"Bukannya lo pernah bahagia?" tanya Arnold.


"Kapan? Lo tau sendiri gimana hidup gue!"


"Waktu lo hidup sama gue!"


Mendengar itu tentu saja membuat Ririn teringat masa lalu, masa lalu saat keduanya menjalin hubungan tanpa status.


Ririn merasa kesal dan malu saat Arnold mengingatkannya, Ririn pun memukuli lengan Arnold.


"Pukul terus, kalau itu bisa buat lo lega!" kata Arnold yang terlihat pasrah saat Ririn memukulinya.


Kemudian, Ririn merasakan dekapan hangat dari Arnold, pria itu tidak tega saat melihat gadis yang masih ia puja itu menangis.


Ingin membawa kabur Ririn tetapi akan membiayainya dengan apa, sementara motor saja Arnold masih kredit, usahanya saat ini hanya pas untuk kebutuhan sehari-hari bersama dengan ibunya.


"Sabar!" kata Arnold seraya mengusap rambut Ririn dan Ririn pun menganggukkan kepala.


"Iya udah, sekarang lo pulang, ingat! Ada gue, gue pasti selalu ada buat lo disaat lo butuh atau lo mau!"


"Gue udah nikah, pengen jadi orang bener, gimana gue mau lo! Sedangkan ada suami yang harus gue layani!"


"Ck!" decak Arnold seraya membuang wajah.


Merasa kalau obrolannya akan kemana-mana, Ririn pun memilih untuk pamit pulang, ia yakin kalau Jimin sudah berangkat ke kantor, hari ini ia tidak ingin bertemu dulu dengan suaminya.


****


Di rumah sakit, Nindy masih dengan keadaan yang sama, dengan telaten Amira merawat anaknya, ia mengelap juga selalu berdoa untuk Nindy.


Tetapi, Nindy seolah terjebak di pikirannya, ia hanya ingin hidup bersama dengan Doni di masa lalunya. Dalam komanya, Nindy bahagia hidup bersama dengan bayangan Doni.


"Bangunlah, Nak!" lirih Amira yang sedang mengelap lengan Nindy.


Amira kembali menjatuhkan air matanya.


****


Di kantor, setelah kepergian Doni, Dhev belum juga menemukan seseorang yang tepat untuk menggantikan posisi Doni.


Serena merasa frustasi, sudah berapa kali ia mencari dan tidak ada yang cocok.


"Tuan, Pak Doni hanya ada satu! Tidak ada lagi yang seperti dia!" batin Serena yang sedang memijit kepalanya, ia duduk di kursi kerjanya.


Tidak lama kemudian telepon di mejanya itu berbunyi, ia tahu itu panggilan dari siapa, pasti dari Dhev.


"Ya Tuhan, kenapa engkau cepat sekali memanggil Pak Doni," batin Serena. Tidak berlama-lama Serena pun menerima panggilan itu.


Dhev memanggilnya untuk ke ruangannya. Serena pun segera bangun dari duduk, ia keluar dari ruangannya dan berjalan menuju lift khusus ke lantai atas.


Setiap kali ke lantai atas, Serena selalu melihat ke ruangan Doni yang sekarang kosong tak berpenghuni.


Merasa merinding karena Serena sering mendengar gosip tentang kertas yang bergerak sendiri di ruangan Doni.


Serena pun segera mengetuk pintu ruangan Dhev.


"Masuk!" kata Dhev yang sedang duduk di kursinya.


"Bagaimana? sudah dapat? Saya mau secepatnya kamu asisten pribadi untukku!" kata Dhev seraya menatap Serena yang berdiri di depannya.


"Ini, kamu antarkan berkas ini ke kantor Pak Handoko! Ingat berkas ini penting! Jangan sampai hilang!" kata Dhev seraya memberikan berkas tersebut.


"Kalau kamu lelah, lebih baik cepat cari pengganti Doni!" kata Dhev dan Serena hanya menganggukkan kepala.


"Gimana mau dapat pengganti, semua enggak ada yang cocok!" batin Serena.


Serena juga mendengar gumaman dari Dhev. "Tidak ada yang sepertinya!"


"Udah tau enggak ada, masih aja minta yang seperti Pak Doni, aneh memang!" gumam Serena dalam hati.


Serena pun keluar lalu memasukkan berkas penting itu ke dalam tasnya. Sekarang, Serena masuk ke mobilnya dan ternyata mobil itu mogok.


"Aihh, pake mogok segala!" Serena pun keluar dari mobil!


Tidak ada pilihan lain, Serena memesan ojek online.


Di perjalanan, ada pemuda yang mengikuti Serena, ia tertarik dengan isi tas Serena, pemuda itu terus mengikutinya sampai ada kesempatan ia menarik tas tersebut.


aksi tarik menarik tas itu pun terjadi, mendapati penumpangnya dijambret, sopir ojol itu tak tinggal diam. Ia berusaha menendang motor yang berada di sampingnya.


Tetapi jambret itu berhasil menarik tas Serena.


"Bang! Kejar. Jangan sampai lepas tas saya! Astaga!" teriak Serena, ia sudah panik, takut akan amarah Dhev apabila kehilangan berkas itu.


Serena terus berteriak 'jambret'.


Dan seseorang membantu Serena.


Seseorang yang mengenakan celana kolor sedang melintas di jalan yang sama itu membantu Serena, mengejar jambret itu sampai dapat.


Perkelahian tidak dapat dihindari, setelah bertarung sengit dan menjadi tontonan para warga, pria itu berhasil mengambil kembali tas Serena.


Serena merasa kalau pria itu sebenarnya cocok untuk menggantikan Doni, tetapi dirinya tidak yakin karena pria itu tak lain adalah Arnold.


Apakah Serena akan membawa Arnold kepada Dhev?


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya.


Vote gratis atau giftnya biar author makin semangat, yuk. Terimakasih sudah membaca 🤗🤗