
"Gantung dia di monas!" titah Dhev seraya menatap kotak bekalnya yang hanya tersisa daun selada di dalamnya.
"Maaf, Tuan. Saya tidak mau dipenjara, lagi pula Jimin tidak penting, lebih penting kita harus mengurus Arnold," jawab Doni mengingatkan.
"Ck," decak Dhev. Pria itu menutup matanya, bersender di punggung kursi.
Ya, begitu lah Dhev. Kemauannya memang keras tetapi apabila asistennya itu mengingatkan akan mendengarkan.
"Rahasiakan dulu pernikahan ku, aku enggak mau Arnold mengusik pribadiku lebih jauh lagi," kata Dhev, masih dengan posisi yang sama.
"Baik," jawab Doni seraya menganggukkan kepala, pria yang berdiri di depan bosnya itu juga mengatakan apa pekerjaan Arnold, karena Dhev harus tau itu.
"Tuan, pekerjaan Arnold adalah pengedar," lirih Doni.
"Orang sepertinya mana bisa mencari uang dengan halal! Aku kira penyelundup senjata, ternyata," kata Dhev terdengar sangat meremehkan.
"Hahahahaaa!" Dhev menertawakan Arnold yang hidupnya hancur. Sangat berbeda dengan dirinya.
"Seandainya lo enggak nusuk gue dari belakang, lo enggak akan seperti ini, Arnold!" batin Dhev.
Mendengar tawa dari bosnya membuat Doni merasa akan melakukan pekerjaan.
Benar saja, Dhev sudah membisikkan sesuatu pada Doni.
"Baik," jawab Doni yang menyanggupi pekerjaan tambahannya.
Setelah itu Dhev keluar dari ruangan tersebut, ingin istirahat di rumah, menenangkan pikirannya yang sedang kacau.
Doni pun mengekor, ikut keluar dari ruangan tersebut. Doni yang berjalan di belakang Dhev itu memperhatikan rumah lama Dhev. Tersadar sudah tidak lagi terlihat masa lalunya.
Terlihat hanya ada foto Dhev dan Kenzo, Doni merasa penasaran, siapa istri kecil bosnya yang mampu membuat Dhev kembali menatap ke depan.
****
Di sekolah, Nala menunggu di dalam mobil, tidak lama kemudian, Nala melihat Ken yang sedang berjalan, tetapi seperti bukan ke arahnya, Nala memperhatikan kemana arah Ken.
Ternyata, Ken melihat Mika yang juga sudah menunggunya.
Nala mengira kalau Ken lebih memilih untuk bersama Mika. Nala terus memperhatikan Ken, ingin turun untuk mengajak Ken bersamanya tetapi tertahan, ia masih bingung, menemui Ken sebagai pengasuhnya atau sebagai ibu sambungnya. Nala terus memperhatikan Ken.
"Halo, ayo pulang sama Tante, Tante juga pengen ke rumah Ken, udah lama enggak main," kata Mika seraya mengusap pipi Ken.
"Tapi Ken udah di jemput sama Tante Nala, Ken ke sini mau balikin ini sama Tante, sampai ketemu di rumah," kata Kenzo seraya mengembalikan kotak bekalnya pada Mika.
"Astaga, mirip banget sih sama bapaknya, susah di deketin!" batin Mika. Mika memperhatikan Ken yang sekarang sudah masuk ke mobilnya.
"Tante, Ken kangen sama Tante," kata Kenzo seraya memeluk Nala.
"Baru sehari enggak ketemu, kangen berat enggak?" tanya Nala seraya mengusap punggung Ken.
Ken melepaskan pelukan itu.
"Kangen banget, Ken mau es krim boleh?" tanya Ken seraya menatap mata Nala.
"Boleh, satu aja ya," kata Nala seraya membelai pipi Ken.
Dadang yang mulai melajukan mobilnya itu memperhatikan dari spion.
"Gimana enggak lengket, kaya ibu dan anak sungguhan," kata Dadang dalam hati.
"Bilang apa saya ini, kan memang sekarang itu ibunya Ken." Dadang masih berbicara dalam hati.
"Mang, nanti kita mampir ke minimarket yang di depan, ya."
"Baik, Non." Dadang menganggukkan kepala.
Sesampainya di depan minimarket, Dadang memarkirkan mobilnya. Ken segera turun diikuti oleh Nala.
Ternyata, di dalam Minimarket, Nala melihat Ririn yang sedang bersama dengan Arnold, terlihat Ririn menemani Arnold yang sedang memilih alat pengaman.
"Astaga, itu kan Arnold!" geram Nala dalam hati.
"Kenapa Ririn dekat dengan pria jahat itu? Apa hubungan mereka?" Nala bertanya-tanya dalam hati.
Nala yang masih menggandeng tangan Ken itu menghampiri Ririn.
"Ririn, apa hubungan kamu sama dia? Kamu tau siapa dia?" tanya Nala seraya menarik bahu Ririn dari samping.
"Nala, kamu di sini juga?" tanya Ririn yang sedikit terkejut.
Nala menggelengkan kepala melihat apa yang dicari oleh Ririn dan Arnold.
"Kami hanya teman bisnis," jawab Ririn seraya menatap Nala dan Arnold bergantian.
Sementara Arnold dengan sengaja menunjukkan kemesraannya, pria berjaket kulit hitam itu merangkul pinggang Ririn dan mengecup pipi Ririn.
Nala pun menutup mata Kenzo, menurutnya Ken tidak harus melihat itu.
Nala menarik lengan Ririn. "Jauhi dia, dia bukan orang baik!" kata Nala.
"Apaan, sih. Kamu yang lepas tau!" kata Ririn seraya melepaskan tangan Nala.
Nala tidak menyangka kalau Ririn akan memilih pria itu dari pada dirinya.
Arnold yang menerima pesan di dari ponselnya membawa Ririn untuk pergi dari hadapan Nala.
Tidak ingin membuang waktu, tidak ingin meladeni Nala yang dianggapnya tidak penting.
"Ririn, dia bukan pria baik," lirih batin Nala.
Nala hanya bisa menatap kepergian Ririn yang pergi begitu saja.
Nala menghela nafas, kemudian segera mencari apa yang diinginkan oleh pria kecil yang sedang digandengnya.
"Tante jangan sedih," kata Ken, ia menatap wajah Nala.
"Enggak, kok." Nala mengusap gemas pada dagu Ken.
****
Sekarang, Nala dan Kenzo sudah sampai di rumah. Bersamaan dengan Dhev yang juga baru sampai.
Nala meminta pada Ken untuk salim pada ayahnya dan Ken menurut. Terlihat, Dhev mengulurkan tangannya untuk Nala dan Nala mengerti maksud itu.
Pemandangan yang indah itu diperhatikan oleh Amira dari teras. "Tidak salah aku memilihkan istri untukmu, Dhev!" batin Amira.
Wanita yang matanya sembab itu kemudian masuk bersamaan dengan pasangan pengantin baru itu.
Dan Dhev mengatakan terimakasih pada Amira. Ya, Dhev mendapatkan pesan dari Doni yang mengatakan kalau pernikahan dan penggerebekan itu adalah rencana Amira.
"Terimakasih, Mah. Udah gerebek kami," kata Dhev yang berjalan di belakang Nala dan Kenzo.
Kenzo menghentikan langkah dan menanyakan apa arti dari gerebek itu pada gadis yang masih menggandengnya.
"Tante, geberek itu apa?" Kenzo menatap dengan polosnya dan Nala terkekeh.
"Gerebek sayang, bukan geberek. Gerebek itu datang tiba-tiba untuk memergoki seseorang, gitu," jawab Nala.
"Sama Ken aja, sayang-sayang," sindir Dhev, kemudian Dhev berjalan berlalu meninggalkan Nala, Amira dan Ken yang berdiri di ruang tamu.
Nala yang loading lama itu tidak mengerti kalau Dhev sedang cemburu, sedangkan Amira hanya menggelengkan kepala.
Amira masih pusing dan belum mengerti apa tindakan Dhev selanjutnya untuk Nindy.
"Dhev," lirih Amira yang mengejar Dhev.
Dhev menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang.
"Bagaimana dengan adikmu?"
"Nanti ku pikirkan, sekarang Dhev mau istirahat dulu!" jawab pria yang terlihat kusut itu.
Setelah itu, Dhev melanjutkan langkah kakinya menuju kamar.
****
Dhev menunggu Nala di kamarnya, sementara Nala sedang mengurus Ken di kamar, menemani pria kecil itu mengganti pakaiannya.
"Apa aku harus bikin rincian, rincian apa aja yang harus istriku lakukan? Kenapa hanya Ken saja yang di urus!" gerutu Dhev.
Bersambung.
Ayolah, Dhev, ngomong sama Nala biar Nala nya ngerti, kan katanya udah pro 🙈.
Ajarin jadi istri yang sesuai keinginan kamu, ehek ðŸ¤
Yuk jangan lupa untuk like, komen dan juga difavoritkan, ya. Terimakasih^^
Bagi yang masih punya vote gratis, yuk di vote Nala dan Dhevnya ☺.