
Ken baru saja pulang, ia merasa lelah dan belum sempat melepaskan helmnya, ia melihat mobil Adila yang terparkir di depan pagar kos.
"Dia pasti nemuin cowok rese itu lagi! Apanya sih yang disukai? Ganteng enggak, tengil iya!" gerutu Ken seraya melepaskan helm.
Ken juga melihat jam di tangannya, waktu menunjukkan pukul 10 malam.
"Udah malem kok masih keluyuran, Dil... Dil!" batin Ken.
"Apa om sama tante enggak nyariin kamu?" gumamnya seraya berjalan masuk ke area kos.
Sementara itu, di rumah Adila, Ririn dan Jimin sedang mengkhawatirkan Adila yang tak dapat dihubungi.
Ririn sudah mencoba menghubungi teman-teman Adila dan mereka semua tidak tau.
"Kamu terlalu membebaskan dan memanjakan dia! Jadi seenaknya dia enggak pulang-pulang!" kata Jimin yang sedang duduk di sofa ruang tengah, memperhatikan Ririn yang terlihat cemas.
"Kok aku? Bukannya kamu yang manjain dia?" timpal Ririn, ia yang semula berdiri sekarang memilih untuk duduk.
Dan yang mereka cemaskan sekarang sedang dalam bahaya.
Adila yang diberikan obat tidur oleh Rama itu sudah berbaring di ranjang kecilnya tanpa busana.
Dan Rama yang sedang memotretnya dengan berbagai pose itu mendengar seseorang berada di depan pintu kamarnya.
"Ngapain mas?" tanya seseorang pada Kenzo yang sedang menguping kamar Rama.
"Enggak papa," jawab Ken yang kemudian pergi melangkahkan kaki dari sana.
Sementara Ken merasa ada yang aneh karena terdengar sepi, tak ada suara dan mengira kalau Adila sedang berbuat yang aneh-aneh dengan Rama.
Setelah merasa aman, kembali Rama melakukan aksinya dan kali ini setelah memotret Adila seorang diri sekarang ia juga melepaskan pakaiannya dan mulai mengambil gambar bersama Adila untuk dijadikan sebagai ancaman.
Rama yakin dengan begitu, Adila yang polos tidak lagi berani untuk menolaknya.
"Sayang kalau cuma gue anggurin!" kata Rama seraya mulai menyentuh bagian-bagian sensitif Adila dan itu membuat Adila sedikit bergerak, merespon setiap sentuhan Rama.
"Gila, bening, mulus, tajir, gue enggak boleh kehilangan dia!" gumam Rama yang sekarang sudah berada di atas Adila, pria itu mulai melakukan pemanasan dan saat itu juga Adila yang mulai tersadar membuka mata.
Betapa terkejutnya Adila saat mendapati Rama sudah berada di atasnya. Dengan kepala yang masih terasa sedikit pusing,
Adila mencoba berteriak dan Rama membekap mulutnya.
Adila tak tinggal diam, ia mendorong dada Rama dan segera mencari selimut , tetapi, tak menemukannya.
Adila yang merasa malu itu sudah langsung menangis dan menutupi tubuhnya menggunakan tangan.
"Ayolah, Dil. Ini nikmat! Kalau enggak percaya coba aja dulu!" kata Rama yang berusaha membujuk Adila.
Adila terduduk di sudut ranjang menatap Rama penuh benci. Adila berpikir kalau Rama sudah melakukannya dan itu tentu saja membuat dirinya sakit hati karena Rama mengambil sesuatu yang berharga disaat dirinya tidak sadar.
"Berhenti atau gue teriak!" ancam Adila, ia menarik seprei ranjang itu untuk menutupi tubuh polosnya.
"Tenang, Dil. Tenang dulu!" Kata Rama seraya mendekati Adila.
"Lihat, enggak ada noda darah! Gue baru ngelakuin pemanasan," lanjutnya, ia sengaja mengatakan itu supaya mengalihkan perhatian Adila dan benar saja, Adila mencari-cari darah perawannya dan tak menemukan.
Begitu Adila lengah, Rama sudah berhasil kembali membekap mulut Adila.
Sementara itu, dari jendela kamarnya, Kenzo melihat mobil Adila masih terparkir dan Kenzo yang merasa lapar itu ingin memesan mie rebus di seberang kos itu keluar dari kamar.
Ia melihat ke tangga lantai atas, ia ingin memeriksa lagi ke kamar Rama dan Ken pun mengikuti kata hatinya.
"Bukan urusan lo, Ken! Toh udah dibilangin enggak nurut juga dia!" pikir Kenzo dan Ken pun yang sudah berada di tengah anak tangga itu kembali turun, tetapi, langkahnya seolah berat dan mengajaknya untuk ke lantai atas.
Lalu terdengar suara pekikan dari lantai atas, Ken pun segera naik dan kembali menguping di kamar Rama, ia takut kalau suara tadi adalah suara Adila yang membutuhkan pertolongan.
"Diam atau foto-foto ini gue sebar sekarang juga!" kata Rama tepat di telinga Adila.
Adila yang melihat foto tanpa busananya itu hanya bisa menangis sesenggukan.
"Ram, tolong jangan begini sama gue!" pinta Adila dengan memelas sementara Rama sudah menggerayangi Adila dan Adila menahan semua perasaan yang tak menentu itu, dalam hatinya ia menolak setiap sentuhan Rama tetapi di sisi lain ia juga mulai menikmati.
"Kenapa? Enak? Kita lanjut ya, Dil! Jangan putus, bilang sama mamah dan papah lo kalau lo cinta sama gue! Bukan yang lain!"
Adila menggelengkan kepala, ia sadar kalau Rama bukanlah pria baik-baik. Tersadar kalau kesuciannya yang sudah sedikit ternoda itu harus diselamatkan Adila pun menendang burung Rama sehingga membuat pria itu mengaduh.
"Kurang ajar!" kata Rama yang kemudian menampar Adila.
Dan Kenzo mendengar suara tidak beres itu mengetuk pintu kamar Rama.
"Dila! Buka pintu!" kata Rama dan Adila mengenal suara itu, ia berharap kalau Ken akan jadi penyelamatnya.
"Kurang ajar! Udah gue bilang jangan berisik!" kata Rama seraya membekap mulut Adila.
Adila pun menggigit tangan Rama dan setelah tangan itu terlepas Adila memanggil Kenzo.
"Abang, Adila di dalam!" tangis Adila.
Mendengar Adila yang menangis, Ken pun berusaha mendorong pintu yang terkunci dari dalam.
"Buka, Dil!" perintah Ken seraya mencoba mendorong pintu itu.
Mendapati dirinya sudah ketahuan, Rama pun segera memakai celananya, ia bersiap kabur dari pada harus digebuki massa.
Adila yang melihat Rama bersiap dengan memasukkan barang berharganya ke tas itu menahannya. Ia tak terima kalau Rama kabur begitu saja tanpa mendapatkan hukuman.
Adila yang bergulung seprei itu segera bangun dan membuka kunci pintu kamar tersebut.
Melihat Ken dibalik pintu, Adila segera memeluk Ken dan mengadukan apa yang terjadi, Rama dan Ken pun saling menatap.
Kenzo masuk ke kamar dan menutup pintu supaya bajingan itu tidak dapat melarikan diri.
Di dalam, Adila segera mencari pakaiannya lalu memakainya.
Sementara Kenzo dan Rama sedang baku hantam, sesekali Rama meninju Kenzo dan Kenzo yang darahnya mendidih itu seolah ingin menghabisi Ra sekarang juga.
Kenzo menendang Rama yang sedang berada di atasnya, meninjunya dan sekarang posisi itu terbalik, Ken sudah berada di atas Rama, Ken menghajar Rama tanpa ampun dan sekarang, Ken hampir memukul Rama menggunakan kursi belajar Rama.
Kalau saja di depan kamar itu tak terdengar suara penghuni kos yang mulai berkerumun mungkin Rama sudah tewas saat itu juga oleh Kenzo.
"Abang! Jangan bang! Nanti dia mati gimana?" Adila menahan Kenzo yang hampir melayangkan kursi tersebut.
Kenzo pun melemparkan kursi itu ke sembarang arah lalu menghubungi Jimin dan meminta untuk datang ke alamat tersebut.
Sementara itu, Rama sudah diamankan, ia diikat di kursi dan kali ini tamat riwayatnya.
"Sial, seharusnya tadi gue cukup ambil gambar aja tanpa harus ada niat buat per**kosa dia!" gerutu Rama yang sudah babak belur itu.
Sementara Adila, ia menangis dalam pelukan Ken, merasa malu dan sangat malu!
Ken pun berusaha menenangkannya dengan mengusap punggung Adila.
Bersambung.
Like dan komen, difavoritkan juga, ya. Jangan pelit like ya, like itu gratis kok 🙂
Maafkeun typo yang bertebaran 🙏