
Fai menanyakan pria yang mana pada Nala dan Nala menjawab yang berada di toko helm. Fai pun mengangguk mengerti kalau pria yang ibunya maksud adalah Alif.
"Ibu lupa? Dia kan Alif yang waktu Ibu ulang tahun ikut datang sama paman," jawab Fai seraya melepaskan benda kecil yang sedari tadi menempel di telinganya.
"Oh, Alif. Tapi kaya beda," kata Nala.
"Sama aja, Bu. Cuma kan waktu ibu ulang tahun Alif pakai jas terus tadi pake hoodie."
"Oh gitu, kamu temenan sama Alif?"
"Iya bu, enggak papa kan?"
"Enggak papa, kamu kenal dari paman, pasti dia anak baik-baik!"
"Terimakasih, bu!" ucap Fai seraya memeluk ibunya dengan gemas.
Dan Nala merasa curiga kalau kedekatan keduanya bukan hanya sekedar teman.
Setelah itu, Nala pun keluar dari kamar Fai. Nala mengucapkan selamat malam dan selamat tidur.
"Malam, bu," jawab Fai yang sudah berada di bawah selimut, menatap Nala yang menutup pintu kamarnya.
****
Keesokan paginya, Fai hanya meminum susu yang tersedia di meja makan.
"Kamu enggak makan, Nak?" tanya Nala seraya memperhatikan Fai.
"Fai mau makan di luar, bu," jawabnya.
"Tumben, biasanya kamu banyak makan?" tanya Kenzo yang duduk di samping kanannya.
"Makan sama siapa?" tanya Dhev seraya memasukkan sandwich ke dalam mulutnya.
"Sama temen," jawab Fai yang kemudian bangun dari duduk. Ia pun mencium pipi Dhev, Nala dan Amira.
Setelah itu, Fai pergi ke kamar untuk mengambil tasnya lebih dulu.
Dan ternyata Fai sudah ditunggu oleh Alif yang diminta untuk menjemputnya.
Hari ini adalah jadwal Fai yang mentraktir Alif sesuai perjanjian kemarin, kalau keduanya akan bergantian untuk mentraktir di tempat makan langganannya.
Fai pun membawa Alif ke tempat bapak si penjual lontong sayur.
Sebenarnya, tempat itu bukanlah langganan Fai, Fai hanya beberapa kali makan di tempat itu bersama Fakhri.
Setelah lontong sayur itu tersedia di meja, Alif dan Fai pun segera melahapnya.
"Enak," kata Alif dan Fai pun tersenyum dengan mulut yang terisi makanan.
****
Di rumah, Fakhri merasa ingin tau dengan siapa sebenarnya Fai pergi, di matanya, Fai sedikit berbeda, biasanya akan merengek padanya meminta untuk diantarkan ke tujuannya.
Fakhri pun bertanya pada Adila tetapi Fakhri tak mendapatkan jawaban. Bahkan Adila pun tak tau dengan siapa Fai pergi.
Pertanyaan Fakhri mengundang rasa penasaran Adila tentang pria yang kemarin diceritakan oleh Fai. Adila pun menceritakan itu pada Fakhri.
"Yakin lo enggak tau, Dil?" tanya Fakhri dari sambungan teleponnya.
"Bener, kalau gue tau udah gue kasih tau!" Setelah itu Adila pun mengakhiri panggilan tersebut.
Fakhri pun mendengus sebal.
Setelah itu, Fakhri pun pamit pada Nala untuk pergi ke pertandingan basket bersama teman-temannya.
"Iya, kamu hati-hati, Nak!" kata Nala dan Fakhri pun mengiyakan.
****
Di kantor, Kenzo sudah tidak tahan lagi dengan sikap Bila yang terkesan acuh padanya.
Kenzo pun kembali mengirim pesan pada Bila.
Menanyakan bagaimana kelanjutan hubungannya.
Membaca pesan itu Bila menjawab dengan mengatakan kalau dirinya sibuk mengurus ibunya.
Kenzo pun menjadi merasa tidak enak hati karena sudah berpikiran yang tidak-tidak pada Bila.
"Maaf, Bila. Aku enggak tau, semoga ibu kamu cepat sehat."
"Makasih do'anya," balas Bila
"Boleh aku jenguk?" tanya Ken.
Dan Bila yang sedang duduk di depan layar komputernya itu pun menjawab menjawab kalau ibunya sudah baikan, bahkan sekarang Bila sudah kembali bekerja.
Bila yang masih memiliki tanda merah itu melihatnya dari cermin bedaknya.
"Duh, masih keliatan merah-merah lagi!" gumamnya.
Setelah itu, Bila meminta saran pada teman kerjanya, bagaimana cara menyamarkan bekas kemerahan dan teman Bila menyarankan untuk di kerok.
Bila pun mencoba saran dari temannya dan setelah pulang bekerja Bila meminta dikerok oleh teman kosnya, Bila beralasan masuk angin pada Kenzo.
Dan benar saja, sepulang bekerja, Ken segera meluncur ke kos Bila, di sana Ken merasa kasihan pada Bila yang merawat ibunya sampai kelelahan.
Ken pun memijit bahu Bila dan Bila menikmati itu, dengan sengaja Bila segera berbalik badan dan menurunkan tangan Ken supaya ke buah dadanya.
"Astaga!" ucap Ken seraya kembali menarik tangannya.
"Kenapa, Ken? Enggak ada yang lihat?" kata Bila seraya merangkulkan dua tangannya di bahu Ken.
"Tapi, Bil. Belum waktunya!" kata Ken seraya bangun dari duduk.
"Selalu begitu, aku juga kan mau itu Ken!" kata Bila seraya mengikuti Ken yang turun dari ranjang. Bila memeluk Ken dari belakang dan itu membuat Ken sedikit horny.
Ken yang merasakan betapa kenyal dan montoknya dada Bila itu segera tersadar, ia tidak boleh melakukan itu dan itulah yang selalu diajarkan oleh ayah dan ibunya. Ken pun segera melepaskan pelukan itu.
"Kita pergi cari makan aja gimana?" tanya Ken seraya mengambil tas kerjanya yang berada di kursi.
"Hmm!" jawab Bila.
Bila pun segera mengambil sandalnya, tetapi Ken memprotes penampilan Bila yang menggunakan kaos tipis sampai branya terlihat jelas.
"Pakaian kamu, Bil. Kamu harus tau, ini semua nanti jadi milikku! Jangan kamu pamerkan sama yang lain, ya!" ucap Ken seraya mengambilkan sweater Bila yang menggantung di balik pintu.
"Coba gue enggak cinta sama lo! Bosen gue!" batin Bila seraya menerima sweater tersebut.
Sekarang, Bila dan Ken sudah berada di mobil, Ken memakaikan sabuk pengamannya dan Bila dengan sengaja mengecup pipi Ken yang begitu dekat.
Ken pun membalasnya, mencium pipi Bila yang mulus, licin dan bersih.
Ken segera melajukan mobilnya ke restoran favoritnya dan tidak di sangka, di sana ada pria yang sempat bobok bareng dengan Bila.
Pria itu terus memperhatikan Bila dan Bila yang menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan itu melihat kearahnya.
Pria itu mengedipkan matanya dan Bila tak menghiraukan, setelah dipikir-pikir, Bila merasa pernah bertemu dengan pria tersebut, tetapi Bila lupa bertemu dan di mana.
Setelah mengingat-ingat, Bila pun tersadar kalau lelaki itu adalah yang kemarin telah menina bobokannya.
"Sayang, aku ke toilet dulu, ya!" kata Ken setelah memesan makanannya.
Bila menjawab dengan mengangguk.
Setelah Ken pergi, pria itu mendekat ke meja Bila.
"Hai cantik. Masih kenal gue?"
"Kita enggak ada urusan, lebih baik lo pergi sebelum pacar gue datang!" kata Bila dengan ketusnya.
"Ok, ini kartu nama gue! Kalau lo butuh jasa kepuasan bisa hubungi gue!" kata pria itu seraya meninggalkan kartu namanya.
Dengan cepat Bila menyimpan kartu nama itu sebelum Ken datang lalu bertanya.
****
Di salon mobil. Nala berpura-pura menjadi pelanggan dan kebetulan yang merawat mobil Nala ada Alif.
"Ini kan ibu yang waktu itu ulang tahun," batin Alif.
Pria yang sedang melakukan perawatan pada mobil Nala itu menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan. Alif pun menganggukkan kepalanya dan Nala pun tersenyum.
Saat melihat Alif, Nala merasa kalau Alif sangat mirip dengan salah anggota keluarganya, tetapi, Nala lupa dengan siapa Alif mirip.
Baru saja selesai mengerjakan mobil Nala, Fai datang dengan membawakan es boba untuk Alif dan dirinya.
"Alif, lo pasti capek! Ini gue bawa es biar lo seger!" kata Fai seraya berjalan sedikit cepat ke arah Alif.
Dan Alif seolah memberikan kode pada Fai untuk melihat ke bangku panjang yang berada di ruang tunggu.
Fai masih tidak mengerti maksud Alif dan Nala pun segera keluar dari sana.
"Jadi, Alif aja yang dibelikan?" tanya Nala yang sekarang sudah berdiri di belakang Fai dengan tangan yang melipat di dada.
Fai pun segera melihat ke belakang.
"Eh, ada ibu," ucap Fai yang merasa kalau dirinya terpergok. Fai pun menjadi malu, gadis itu cengengesan seraya merapikan anak rambutnya ke belakang telinga.
Bersambung.
Maaf kalau banyak typo 🙈, tapi tetep jangan lupa like, komen dan difavoritkan ya. Terimakasih sudah membaca 🤗🤗