
Denis segera berlari ke arah Dhev berdiri, meraih tangannya dan segera mencium tangan itu.
"Astaga!" geram Dhev seraya melepaskan tangannya dari tangannya Denis.
"Saya pemilik motor itu, saya mau minta maaf, Tuan!" kata Denis seraya menganggukkan kepala.
"Oh, jadi ini orangnya! Bagus lah, tidak usah dicari pun sudah mengantarkan nyawanya sendiri!" kata Dhev yang berkacak pinggang di depan Denis.
"Doni!" panggil Dhev dan Doni pun mendekat.
"Saya, Tuan."
"Eksekusi dia! Kalau perlu potong menjadi beberapa bagian!" perintah Dhev.
Mendengar itu, Denis langsung berkeringat dingin, berpikir kalau kasus kematiannya nanti tidak akan pernah terungkap seperti banyaknya kasus-kasus orang penting yang tak pernah terselesaikan.
Denis segera bersujud di kaki Dhev.
"Tuan, maafkan saya, saya hanya di suruh!" kata Denis seraya memegangi kedua kaki Dhev, Dhev sendiri dapat merasakan kalau tangan gadis itu sudah bergemetar.
Dhev pun menendang tangan yang berani kembali menyentuhnya itu.
Tetapi, Denis kembali berusaha menyentuh kaki Dhev.
Doni yang melihat itu segera menarik jaket Denis. Membawa gadis itu berdiri.
"Siapa yang menyuruhmu!" tanya Doni.
"Janji, jangan eksekusi gue setelah gue kasih tau siapa orangnya?"
"Ck! Cepat kasih tau!" bentak Doni.
Kemarahan Dhev dan Doni dilihat oleh banyak karyawannya, setelah itu, Serena membubarkan kerumunan itu.
"Kembali kerja!" kata Serena dan para karyawan pun kembali bekerja.
****
"Siapa? Cepat katakan!" ucap Dhev dengan nada dingin.
"Adik ipar Tuan Dhev!" lirih Denis seraya mengatupkan dua telapak tangannya.
"Hah! Curut!" kata Dhev.
"Doni, bawa dia ke rungan ku!" perintah Dhev.
Mendengar itu membuat Denis mengira kalau dirinya akan di eksekusi.
"Tuan, maafkan saya, saya punya ibu yang sudah sakit-sakitan, tolong ampuni saya!" rengek Denis yang sedang di seret oleh Doni.
"Astaga, mana mungkin Tuan Dhev mau eksekusi, emangnya Tuan pembunuh!" batin Doni, tetapi, Doni tak mengatakan itu karena tau betul kalau Dhev hanya menakut-nakuti.
Sesampainya di ruangan Dhev. Pria itu ingin berbicara empat mata dengan Denis.
"Tinggalkan kami berdua!" kata Dhev yang sudah duduk di kursi kebesarannya, sementara Denis dibuat bersujud di tengah ruangan yang terasa sangat dingin itu.
"Sial, enggak seberapa uang yang gue terima, tapi gue harus berurusan sama orang kaya yang kejam macam dia!" batin Denis.
"Dibayar berapa kamu sama Mika?" tanya Dhev seraya menatap tajam Denis.
"Tidak banyak, saya melakukan ini karena dia sahabat, tapi... saya sadar kalau saya salah, seharusnya saya tidak ikut campur urusan pribadinya," jawab Denis.
Kali ini Denis menatap Dhev, memohon belas kasihan darinya.
"Maafkan saya dan saya berjanji tidak akan mengulangi lagi," kata Denis seraya mengatupkan dua telapak tangannya.
"Akan saya maafkan dengan satu syarat!" kata Dhev, pria itu bangun lalu mengambil segepok uang dari brangkasnya.
Dhev melemparkan uang itu ke mejanya.
"Ambil uang itu dan lakukan apa yang ku perintah!" kata Dhev yang berdiri di samping meja kerjanya, memasukkan tangan kirinya ke saku celana.
"Hah, kenapa gue malah dikasih duit, orang kaya emang susah ditebak! Tapi... kira-kira apa yang dia suruh nanti!" batin Denis.
"Apa yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya Denis seraya mendongakkan kepala.
"Lakukan apa yang kamu lakukan pada istri saya berlaku untuk Mika!" Dhev kembali duduk ke kursinya.
"Apa? Jadi saya harus menyerempet Mika?" tanya Denis.
"Terserah kamu, mau serempet dia, mau tabrak dia! Kalau kamu tidak melakukan itu, saya tidak akan memaafkan perbuatan mu!" kata Dhev.
Denis pun tak menyia-nyiakan uang yang menggodanya di meja. Berpikir kamu urusan Mika bisa dipikirkan seraya berjalan.
"Saya permisi, Tuan!" kata Denis seraya menganggukkan kepala.
"Katanya sahabat, tapi dikasih uang buat celakain kok mau!" cibir Dhev dalam hati.
Setelah itu, Doni kembali mengetuk pintu, memberitahu kalau Dhev kembali kedatangan tamu.
"Siapa?" tanya Dhev.
"Ibu Arnold," jawab Doni yang menundukkan kepala.
"Suruh dia masuk!" kata Dhev.
Doni pun pamit undur diri, belum sempat sampai pintu, Doni menghentikan langkah kakinya. Dhev memanggilnya.
"Iya, Tuan. Saya," kata Doni.
"Segel butik Ana! Usir semua yang ada di sana! Kalau perlu kosongkan!" perintah Dhev, pria itu benar-benar sudah tak lagi memikirkan hubungan kekeluargaan dengan Mika dan mantan mertuanya.
"Baik, Tuan!" jawab Doni.
Setelah itu, Masuklah Ibu Arnold ke ruangan Dhev.
"Ada apa?" tanya Dhev.
Ibu Arnold menatap pria itu yang terlihat sangat dingin.
"Dhev, sekarang tidak ada lagi yang menjagaku, menafkahiku, aku bisa apa dengan kaki pincang ini, bahkan untuk mengurus diri sendiri saja tidak bisa, saya memberhentikan asisten saya karena sudah tidak ada lagi dana untuk membayar jasanya," kata Ibu Arnold.
Dan Dhev terlihat acuh, pria itu membolak-balikan berkas yang ada di atas mejanya.
"Lalu?" tanya Dhev seraya menatap Ibu Arnold.
"Apa saya harus bertanggung jawab atas kekacauan yang anakmu buat?" tanya Dhev. Pria itu menggelengkan kepala, orang-orang di sekitarnya seolah tak ingin hidupnya tenang, ada saja yang mengusik.
"Bukan itu, Dhev."
"Lalu? Katakan dengan jelas supaya saya dapat mengerti!" kata Dhev, pria itu masih menatap tajam pada wanita tua yang dulunya adalah teman ibunya.
"Bebaskan Arnold, saya mohon!" pinta Ibu Arnold.
"Ck!" decak Dhev seraya membuang wajahnya.
"Saya janji akan menjaga anak saya, dia tidak akan mengganggu mu lagi, Dhev."
"Siapa bilang dia tidak akan mengganggu, kalau bukan keinginan dari hatinya untuk berhenti, siapa yang akan menjamin dia akan berhenti? Tidak ada yang tahu, dia sudah keterlaluan, mengganggu dan mengancam keselamatan keluarga ku! Ambil ini dan pergilah!" Dhev bangun dari duduknya, merasa kasihan melihat wanita tua yang tak berdaya itu, Dhev mengambil segepok uang untuknya.
"Terima ini dan pergilah, Jagan harapkan anakmu bisa berubah!" kata Dhev seraya memutar kursi roda Ibu Arnold.
"Dhev, saya bukan mengemis uang!" lirih wanita tua itu seraya mendongakkan kepala.
"Saya ikhlas, karena dulu anda adalah teman baik ibuku!" jawab Dhev.
Setelah itu, Dhev memanggil Doni untuk mengantarkan wanita tua itu turun ke lantai bawah.
Walau hatinya terluka dan diperlakukan seperti seorang pengemis, tetapi bisa apa? Memang putranya lah yang bersalah, beruntung, Dhev masih berbaik hati dengan memberikannya uang untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya.
****
Di butik. Mika sedang menonton orang-orang Doni yang diperintahkan untuk menutup butiknya.
Mika tak dapat berbuat apa-apa lagi.
Hanya Nana yang terlihat memohon untuk tidak membuang barang-barang yang ada di dalamnya.
"Tolong, jangan kasar-kasar! Nanti barang-barangnya bisa rusak!" kata Nana seraya memunguti barang-barang itu.
Tas mahal, baju-baju mahal, semua perlengkapan dan barang yang ada di dalam di lempar keluar oleh orang Doni.
Nana yang melihat Mika terdiam itu sangat jengkel, ia mengerti kalau ini adalah ulah anaknya.
Plak! Nana menampar Mika.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Silahkan Gift/Vote untuk dukung karya ini, Terimakasih sudah mendukung dan membaca^^