DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Resepsi Doni


Di rumah Nana, Mika menceritakan kekesalannya pada ibunya, tentu saja, ibunya juga sebenarnya sudah merasa kehilangan menantunya dan sekarang keduanya khawatir kalau Dhev akan mengambil butik Ana untuk diberikan pada istri kecilnya.


"Jangan sampai, Mah. Itu peninggalan Kakak Ana," timpal Mika.


Dua wanita yang sedang menonton televisi itu mulai menggosipkan Nindy yang tiba-tiba menikah.


"Setau ku, pacar Nindy bukan Doni, tapi kenapa tiba-tiba nikahnya sama Doni?" Mika bertanya-tanya dengan pandangan tetap lurus ke depan.


"Entah lah!" jawab Nana singkat.


Setelah itu, Nana bangun dari duduk, meninggalkan Mika yang masih menyimpan unek-unek pada Nala.


"Harusnya aku yang ada diposisi Nala, menggantikan Kak Ana!" batin Mika, gadis itu merasa iri dan tidak ingin melihat Nala bahagia.


****


Di rumah Amira, Amira menawarkan Doni untuk duduk lebih dulu, tetapi, Doni memilih untuk langsung pulang.


Dan Nindy yang mendapatkan bingkisan itu merasa senang. Seperti pucuk dicinta ulam pun tiba.


Setelah beberapa hari, sekarang pernikahan Nindy dan Doni pun di gelar.


Untuk ijab kabul dilaksanakan di rumah dan resepsinya di hotel berbintang.


Walau membenci Nindy, tetapi Dhev tetap melaksanakan tugasnya sebagai wali dan menikahkan adiknya.


Sekarang, semua orang sudah berada di hotel, Doni dan Nindy terlihat sama-sama canggung di pelaminan, menyalami setiap tamu yang datang.


Di sudut, ada Dhev, Nala dan Kenzo yang sedang berbincang dengan salah satunya koleganya dan menanyakan kapan resepsi Dhev akan di gelar.


"Nanti, kami sedang mempersiapkan, mungkin akan di bali, sekalian bulan madu," jawab Dhev seraya melirik Nala.


Nala tersenyum dan sedari tadi hanya diam, gadis itu banyak tak mengertinya ketika Dhev dan Koleganya membahas pekerjaan. Nala memilih diam atau memperhatikan Ken.


Sementara itu, di luar hotel ada tamu undangan yang ternyata dilarang masuk, tamu itu adalah Ririn.


"Saya punya undangan, kenapa saya enggak boleh masuk?" tanya Ririn, gadis itu sudah sedikit kesal, merasa dipermainkan oleh Nala.


Mengundang tapi tidak boleh masuk.


"Maksudnya apa!" tanya Ririn pada petugas yang berjaga.


Tidak lama kemudian Serena datang dan membawa Ririn untuk pergi sebelum membuat keributan.


"Silahkan ikuti saya!" kata Serena dan Ririn pun menolak, berniat untuk menghubungi Nala tetapi ponsel Ririn diambil oleh Serena.


"Silahkan ikuti saya!" ucap Serena kembali dengan tegas.


Ya, Serena telah mendapatkan tugas dari Dhev untuk melarang Ririn masuk, tidak ingin namanya tercemar karena ada sang pelakor di acara pesta adiknya.


Setelah membawa Ririn ke sebuah ruangan, Serena pun menghubungi Dhev, mengatakan kalau Ririn sudah datang.


Dhev yang sedang duduk itu pun bangun lalu pergi untuk menemui Serena.


"Sayang, aku ada perlu!" kata Dhev seraya mengusap lengan Nala dan Nala pun menganggukkan kepala.


****


Sekarang, Dhev sudah berada di ruangan tersebut dan meminta Serena untuk mengambil sesuatu yang sudah disiapkan untuk Ririn.


"Ada apa? Kenapa saya dicekal?" tanya Ririn, gadis yang semula duduk itu sekarang berdiri.


"Lebih baik kamu pergi jangan dekat-dekat lagi dengan istriku!" kata Dhev, pria berparas tampan yang memakai setelan jas itu menatap tajam Ririn.


"Haha, jadi karena kamu enggak suka sama saya, jadi semua ini ulah kamu? Dengar, persahabatan saya dan Nala sudah ada lebih dulu sebelum kamu menjadi suaminya!"


Ririn pun disodori satu koper uang oleh Dhev, Serena baru saja masuk dan membawa koper itu sesuai perintah.


"Maaf, saya memang hidup untuk uang, tapi bukan untuk menjual persahabatan!" kata Ririn, gadis itu merasa sudah tidak ada harga diri lagi di hadapan semua orang.


Hatinya merasa sakit, Ririn pun pergi dari hotel tersebut. Ririn yang sekarang sedang menunggu taksi itu merasakan ponselnya terus bergetar, Ririn mengambil ponsel itu dari tasnya.


Tak terasa, air mata Ririn jatuh begitu saja, seseorang mengulurkan tangan, memberikan saputangan untuknya.


Ririn melihat siapa yang memberikan itu dan ternyata dia adalah Jimin.


"Terimakasih," kata Ririn seraya menerima saputangan itu.


"Mau kemana?" tanya Jimin, pria itu mengerti apa yang terjadi dan tidak menanyakannya lagi.


Jimin sendiri merasa tidak tega, pasalnya, Jimin merasa sama seperti Ririn yang suka bermain, bedanya Ririn untuk mencari uang dan Jimin untuk mencari kepuasan.


"Mau pulang!" jawab Ririn yang tak mau menatap Jimin. Berusaha menyembunyikan lukanya, merasa kalau semua yang dirasa tidak harus untuk diceritakan.


"Lo kan pacar bayaran gue, jadi lo harus ikut gue, masa gue kondangan enggak ada gandengan!" kata Jimin, pria itu berdiri di samping Ririn, memasukkan tangannya ke saku celana.


"Nanti lo kena malu!" kata Ririn, gadis itu melambaikan tangan pada taksi, tetapi taksi itu tidak berhenti karena Jimin mengatakan kalau istrinya sedang merajuk.


"Enggak usah ngaku-ngaku! Kita itu cuma pura-pura kalau di depan orang tua lo!" kata Ririn, menatap Jimin yang menggaruk tengkuknya.


"Iya udah kalau lo enggak mau ikut!" kata Jimin seraya pergi meninggalkan Ririn.


"Dasar nyebelin! Gue udah dapat taksi gagal, bukannya anter gue pulang malah pergi!" gerutu Ririn.


****


Di pesta Doni dan Nindy, Jimin memberikan selamat, setelah itu mencari Dhev yang sedang bersama dengan Nala, pria itu tidak melepaskan Nala sedikitpun.


Tidak ingin membuat Nala merasa canggung di pesta adiknya saat bertemu dengan orang-orang penting, Dhev selalu mendampingi istrinya dan memperkenalkannya dengan semua tamu yang hadir.


"Dhev, lo sendiri kapan resepsi?" tanya Jimin dan itu adalah pertanyaan yang kesekian kali harus Dhev jawab.


"Nanti juga lo tau!"


"Ingat, Doni juga harus bulan madu, nanti orang lagi bulan madu lo suruh bikin pesta!"


"Suka-suka gue lah!" jawab Dhev.


"Dhev, ada yang pengen gue tanyain," kata Jimin dan kali ini terlihat serius.


"Apa?"


"Gue kan bejad Dhev, suka main perempuan-" kata Jimin yang terpotong karena mulutnya ditutup oleh tangan Dhev.


"Jangan ngomong itu di sini, ada anak istri gue!" kata Dhev.


"Aku sama Ken mau ke sana dulu!" kata Nala seraya menunjuk Amira yang sedang bersama dengan teman-teman arisannya.


Dhev pun mengiyakan.


Setelah itu, Dhev menanyakan maksud ucapan dari Jimin.


"Maksud lo apaan?"


"Apa bedanya gue sama Ririn?"


Dhev terdiam, mengerti dengan maksud Jimin.


"Beda, Jim!"


"Jelasin Dhev!"


"Kok lo nyebelin, sih?" gerutu Dhev.


"Kenapa lo bisa terima gue sebagai sahabat, tapi lo malah mau nyingkirin sahabat istri sendiri!" Setelah mengatakan itu, Jimin pergi meninggalkan Dhev yang menatapnya datar.


"Beda Jim, kalau dia kan jual diri! Lo mah sableng aja!" batin Dhev.


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih atas segala bentuk dukungannya.