DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Selamat Datang Baby!


Di rumah Nana, Mika sedang membenahi barang dagangannya, ia sendiri merasa bingung akan membuka usahanya di mana lagi, sementara tempat saja Mika tidak ada.


Mika mencoba membuka toko online.


"Sudah mamah peringatkan, kamu enggak mau dengar!" kata Nana yang berdiri di ruang tengah, ruangan itu penuh dengan barang dagangan Mika.


Mika tak menghiraukan ibunya, ia hanya mendengus sebal, bukannya membantu mencarikan solusi tetapi selalu menyalahkan.


****


Setelah beberapa bulan berlalu, sekarang waktu bersalin Nindy telah tiba.


Nala dan Amira menunggu dengan harap-harap cemas di depan ruang bersalin.


Sementara Doni berada di dalam, menemani Nindy yang sedang berjuang.


Setelah melewati proses yang menegangkan itu, sekarang bayi Nindy telah lahir dengan selamat, sehat dan sempurna.


Bayi itu begitu mirip dengan Doni, mungkin karena selama ini Doni lah yang merawatnya dan juga Nindy yang begitu mengagumi ketulusan Doni.


Nindy menitikkan air mata, terlihat kemas dan pucat setelah berjuang diantara hidup dan matinya. Doni menghapus air mata itu. "Selamat, kamu udah jadi seorang ibu!" lirih Doni seraya menggenggam tangan Nindy. Nindy pun menganggukkan kepala.


Setelah dibersihkan, sekarang Doni diminta untuk mengadzani anak tersebut. Doni pun melakukannya selayaknya seorang ayah.


Pintu bersalin di buka, Nindy dipindahkan ke ruang rawat dan bayi itu di bawa ke ruang bayi.


Amira mengikuti bayi itu, dalam pikirannya, ia takut kalau bayi itu akan tertukar.


"Bu, ini kan rumah sakit besar, bagaimana mungkin akan tertukar, kaya di sinetron aja," kata Nala, ia berusaha mengurangi rasa khawatir pada mertuanya.


"Iya juga, sih. Tapi ibu ingin melihat wajah bayi itu," kata Amira dan Nala pun menemaninya.


Di saat baru sampai pintu ruangan bayi, Nala sendiri merasakan sakit di perutnya.


"Aduh, Bu. Perut Nala sakit," kata Nala seraya mengusap perutnya.


Amira melihat kalau ketuban Nala sudah merembes.


"Kamu mau melahirkan, sayang!" Amira terlihat panik dan segera berteriak memanggil suster, setelah mendapatkan suster dan dibawa ke ruang tindakan, Amira segera menghubungi Dhev yang masih berada di kantor.


Dhev yang sedang memimpin meeting itu segera menerima panggilan itu.


"Baiklah, Dhev segera ke rumah sakit! Kirim alamatnya!" kata Dhev, ia segera pergi meninggalkan ruang meeting dan mempercayakan meeting itu pada Serena.


****


Di rumah sakit, setelah Amira pergi dari ruang bayi untuk menemani Nala.


Seorang wanita muda yang baru saja melahirkan itu dengan sengaja menukar bayinya dengan bayi Nindy.


"Kamu akan hidup bahagia bersama dengan mereka, mereka terlihat orang kaya, sedangkan kalau kamu hidup bersama dengan ibu, kamu akan menderita!" ucap wanita itu seraya berderai air mata karena akan berpisah dengan anaknya.


"Maafkan, Ibu!" katanya seraya mencium bayinya. Matanya memperhatikan CCTV yang bergerak, berusaha menghindari supaya tidak tertangkap kamera.


Wanita itu dengan sengaja mengambil kesempatan saat semua suster membantu Amira saat Amira berteriak meminta tolong.


Setelah menukar gelang bayi itu dengan hati-hati, sekarang wanita muda itu pergi dari ruangan tersebut sebelum ketahuan.


****


Dhev baru saja sampai di rumah sakit dan segera mencari Amira.


"Dhev, Nala ada di dalam," kata Amira setelah melihat putranya.


Dhev pun berjalan cepat ke arah Amira.


Seorang suster menanyakan keberadaan suami pasien.


"Saya suaminya," kata Dhev.


Suster itu pun membawa Dhev masuk, terlihat Nala sedang menangis, merasakan perutnya yang mulas.


"Sabar sayang, kalau tidak kuat kota operasi saja!" kata Dhev, pria itu merasa khawatir dan tidak tega saat melihat Nala kesakitan.


"Dok, bagaimana, kenapa bayinya tidak juga keluar?" tanya Dhev.


"Sabar, Pak. Sedang proses." kata Dokter tersebut yang berjenis kelamin perempuan.


Sementara dokter itu mencoba santai walau Dhev membuatnya ikut panik.


Dokter itu memberikan intruksi pada Nala kapan ia harus menarik nafas dan membuangnya.


Tidak lama kemudian, bayi itu pun lahir, bayi yang cantik. Nala hampir memejamkan mata tetapi Dhev memanggilnya.


"Sayang, dia sangat cantik! Seperti kamu!" kata Dhev.


Nala pun kembali tersadar.


"Dia harus cantik seperti ibunya, ibunya yang mengandung, enggak adil kalau mirip sama ayahnya!" kata Nala.


Dan Dhev mencubit hidung Nala dengan gemas.


Dua bayi lahir dengan berjenis kelamin yang berbeda sore ini. Walau di rumah sakit yang sama, Dhev tetap tidak ingin tau tentang bayi Nindy.


Bayi dari musuh bebuyutannya.


****


Ririn yang mendengar kabar itu pun segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk sahabatnya.


Ririn ikut senang dan berharap dirinya akan cepat menyusul untuk dapat menimang bayi.


Jimin yang berdiri di samping Ririn itu mengusap lengannya.


"Sabar, nanti juga kamu jadi ibu!" kata Jimin, ia mengerti perasaan Ririn.


Terlebih, mamih Jimin semakin giat bertanya tentang kehamilan menantunya semakin membuat Ririn merasa frustasi.


"Selamat ya, Nala! Oia, kapan bayinya dibawa ke sini?" tanya Ririn.


"Tadi aku tanya suster katanya sebentar lagi," jawab Nala yang masih lemas, berbaring di brangkar.


****


Setelah melihat bayi itu dan jam besuk sudah habis, Jimin mengajak Ririn pulang, di apartemen sudah berada mamih dan papihnya.


"Dari mana, Jims? Papih datang tadi sepi?" tanya papih Jimin seraya membolak-balikan koran yang sedang dibacanya.


"Istri dhev Dhev baru saja melahirkan, kami dari rumah sakit," jawab Jimin seraya ikut duduk di sofa ruang tengah.


"Kamu kapan, Jim? Kamu tau sendiri kalau mamih sudah tidak sabar ingin punya cucu. Semua teman arisan mamih selalu membahas cucu mereka, mamih bahas apa?"


"Jadi karena itu?" tanya Jim, sementara Ririn hanya diam, ia mengambil air minum dingin di kulkas untuk Jim.


"Kalian udah periksa belum?" tanya Mami Jimin yang ikut duduk di sofa ruang tengah.


"Kami sehat, mih. Tinggal tunggu waktu kapan Tuhan kasih kepercayaan itu sama Jim dan Ririn," jawab Jim seraya menerima air pemberian istrinya.


Terlihat, Jim menggenggam tangan Ririn, ia merasa tidak tega setiap kali orang tuanya datang pasti akan meributkan hal itu-itu saja, seperti tidak ada pembahasan yang lain.


"Oia, mamih bawa ini buat kamu!" kata mamih Jimin seraya memberikan satu kotak susu dus besar untuk Ririn.


"Minum susu hamil semenjak mempersiapkan kehamilan, siapa tau membantu!" kata mamih Jim.


Demi menenangkan hati mertuanya, Ririn pun menerima susu itu, padahal, Jimin juga sudah membelikan susu untuk Ririn.


"Terimakasih," kata Ririn seraya menerima susu itu.


****


Di rumah sakit, Dhev tak lepas memandangi anaknya, sekarang, anaknya sudah sepasang, lelaki dan perempuan.


"Ken, adikmu sangat cantik!" kata Dhev yang sedang menggendong bayinya.


"Harus dong, kakaknya aja ganteng!" jawab Ken yang berada di depan Dhev, keduanya sama-sama memperhatikan bayi itu yang tertidur dengan pulas.


Bersambung.


Ken selalu narsis, apa karena keturunan dari Dhev?


Jangan lupa klik like setelah membaca, ya. Difavoritkan juga, terimakasih^^