
Mae pun bangun lalu mengejar Fakhri yang merasakan sakit hati, Fakhri tidak terima kalau ternyata dirinya bukan anak kandung Nindy yang selama ini ia tunggu.
Tapi sayangnya, Mae tidak dapat mengejar Fakhri yang sekarang sudah berada di atas motornya.
Ia mengendarainya dengan kecepatan tinggi sampai harus ditilang polisi dan Dhev meminta pada Arnold untuk mengurus Fakhri karena dirinya sedang mengurus Amira.
Hari ini, Dhev juga meminta pada Arnold untuk mengurus semua pekerjaan.
"Kenapa Paman yang datang? Di mana Pakde?" tanya Fakhri, ia menginginkan perhatian dari Pakdenya, padahal selama ini Fakhri tidak pernah menolak sama sekali bantuan apapun dari Arnold.
Dan sekarang, Fakhri merasa kalau Dhev memang tidak perduli dengannya.
"Kenapa Pakde enggak perduli sama Fakhri, Paman?" tanyanya seraya menatap Arnold.
"Nanti Pan jelaskan setelah mengurus semua!" kata Arnold seraya menepuk bahu kanan Fakhri.
Fakhri pun hanya bisa memalingkan wajahnya, ia merasa kecewa pada hidupnya.
Setelah menunggu beberapa saat, sekarang, Fakhri sudah bisa dibawa pulang oleh Arnold.
Tetapi, Arnold meninggalkan motor Fakhri di sana, anak buahnya yang akan mengambil.
Arnold mengajak Fakhri masuk ke mobilnya.
"Dengar, Pakde mu sedang sibuk, mengurus omah kamu, lagi pula sudah ada paman, paman akan selalu ada buat kamu! Dan ini juga permintaan paman untuk urusan kamu biar paman yang mengurus semua, termasuk kebutuhan kamu," kata Arnold seraya menatap Fakhri yang tak mau menatapnya.
"Kenapa paman begitu baik sama Fakhri? Apa ada rahasia lain yang Fakhri enggak tau?" tanya Fakhri menyelidik, kali ini menatap tajam Arnold dan Arnold hanya membalasnya dengan senyum.
Arnold segera memarkirkan mobilnya dan melajukannya perlahan.
"Tidak ada!" jawab Arnold seraya fokus ke depan.
"Maaf Fakhri, papah akan memberitahu semua setelah mamah kamu bangun! Papah harus mendapatkan ijin darinya buat menceritakan semua, itulah janji papah pada Pakde dan Mamah kamu!" batin Arnold.
"Paman," lirih Fakhri seraya menatapnya.
Arnold pun melihat ke arah Fakhri. "Iya," jawabnya.
"Fakhri ingin bercerita, tapi Fakhri takut! Fakhri takut menerima kenyataan kalau Fakhri bukanlah anak kandung mamah," batin Fakhri.
"Iya, ada apa?" tanya Arnold pada Fakhri yang terdiam.
"Enggak jadi, paman. Fakhri mau ke rumah sakit, mau jenguk mamah!"
Mendengar itu, Arnold pun membawa Fakhri ke rumah sakit.
Arnold ikut menjenguk Nindy dan di sana, Arnold tidak mengatakan apapun, ia hanya menatap tak tega pada Nindy yang belum juga membuka mata.
"Paman, bukankah paman harus bekerja?" tanya Fakhri dan Arnold hanya mengangguk, setelah itu, Arnold keluar dari ruangan Nindy.
Dan Fakhri ternyata merencanakan sesuatu, sesuatu apa itu? Fakhri ingin memastikan sendiri kalau dirinya adalah anak kandung Nindy dan ucapan wanita itu (Mae) tidaklah benar, kali ini Fakhri akan melakukan tes DNA dengan Nindy secara diam-diam.
****
Di rumah Alif, Alif pamit pada Mae yang baru kembali entah dari mana.
"Bu, Alif mau berangkat, ibu kalau masih sakit enggak usah kerja dulu, istirahat aja di rumah," kata Alif yang sedang memakai sepatunya.
Dan Mae tidak menghiraukan Alif, ia berlalu masuk ke kamarnya.
"Kenapa Mae? Enggak biasanya cuek sama lu!" kata Andra yang sedang menonton televisi.
Alif tak menjawab, ia hanya diam lalu pergi untuk bekerja.
Alif yang sedang memarkirkan motornya itu merasa aneh dengan Mae.
"Ibu kenapa, ya? Aman enggak ya gue tinggal kerja? Gue takut ibu histeris, apa jangan-jangan ibu mengalami gangguan jiwa? Astaga! Alif, itu ibu lo, tega amat lo katain ibu sendiri gila!" batin Alif.
"Kerja dulu lah, nanti siang pulang lihat keadaan ibu sekalian bawa makan siang," kata Alif yang kemudian pergi dari halaman rumahnya.
****
Di kos Bila, ia merasa senang karena Kenzo mengajaknya untuk sarapan bersama, tetapi, setelah mengetahui kalau Ken datang dengan membawa nasi uduk untuk sarapan di kos Bila ia menjadi dingin.
Ken yang duduk di tepi ranjang Bila itu menatapnya lalu tersenyum.
"Kenapa aku harus balik? Kan aku udah pilih kamu dari pada keluarga, kita bakal mulai dari awal, Bil!" jawabnya.
"Terus mau sampai kapan, Ken?"
"Sampai aku dapat kerja, aku bisa beli rumah sendiri, buka usaha sendiri!"
"Lama, Ken!" protes Bila seraya menyantap sarapan itu dengan terpaksa, Bila teringat dengan beberapa waktu lalu, Ken selalu mengajaknya ke tempat mewah dan sekarang hanya makan berdua di kos, itu pun nasi uduk.
Bila tak menunjukkan lagi sisi agresifnya yang Ada Bila semakin ilfil dengan Ken yang tak mau menurutinya untuk segera berbaikan dengan ayahnya.
"Kalau aku balik ke rumah, aku harus terima perjodohan ku, Bil! Nantinya bukan kamu istriku," jawab Ken dan Bila mendadak tersedak nasi uduk saat mendengarnya.
Maksud hati Bila adalah, Ken berbaikan dan tetap mempertahankan hubungannya apapun yang terjadi, begitulah harapan Bila.
"Kenapa? Kamu enggak siapkan kehilangan aku?" tanya Ken seraya memberikan air mineral pada Bila.
Selesai sarapan, Ken mengatakan kalau dirinya akan mengantarkan Bila bekerja dan sekarang, Ke hanya membawa motor, ia membeli motor bekas dengan sisa uang yang dimiliki.
"Mana mobil kamu, Ken?" tanya Bila yang tak melihatnya.
Ken menggaruk tengkuknya.
"Diambil sama ayah karena itu pemberian ayah, bukan hasil beli sendiri!"
"Apa? Jadi kamu benar-benar jatuh miskin, ken?" tanya Bila yang tak percaya kalau Ken sudah tidak memiliki apapun lagi.
"Tapi kamu tenang aja, setelah aku dapat kerja, aku pasti ambil mobil buat kamu, biar kamu enggak kepanasan atau kehujanan," kata Ken seraya menarik lengan Bila supaya mau naik ke motornya.
"Aku enggak butuh janji, Ken!" kata Bila seraya melepaskan tangan Ken dari lengannya.
Bila pergi meninggalkan Ken dan memilih untuk naik taksi.
"Bil! Bila!" seru Ken yang terus memanggilnya dan Ken diabaikan oleh Bila.
"Bil, aku masih cinta sama kamu, aku harap kamu juga tetap cinta aku apa adanya," batin Ken seraya menatap kepergian Bila.
****
Mae yang tidak bekerja itu pergi ke kampus Fakhri, berharap di sana akan bertemu dengan anaknya.
Tetapi, Fakhri yang baru turun dari taksi itu mengabaikan Mae. Fakhri memilih untuk seolah tak melihatnya.
Wanita berdaster itu pun berjalan cepat kearah Fakhri dan Fakhri merasa malu dengan penampilan Mae yang seperti pembantu dan terus mengikutinya dari belakang.
"Fakhri, dengarkan ibu, Nak!" lirih Mae seraya mengatupkan dua telapak tangannya.
Tetapi, Fakhri tetap mengabaikannya, ia semakin mempercepat langkahnya dan sampai Mae terjatuh pun Fakhri tak mau melihat kebelakang.
Dan Fakhri ternyata diperhatikan oleh Adila yang baru saja tiba di halaman kampus.
"Fakhri!" seru Adila dan Fakhri pun mengabaikannya.
"Ada apa?" tanya Fai yang juga baru datang.
"Enggak tau, Fakhri kayanya lagi ada masalah," kata Adila.
"Ya jelas ada masalah, mamahnya kan belum bangun," jawab Fai seraya merangkul Adila.
"Bukan itu, tapi sama perempuan itu!" kata Adila seraya menunjuk Mae yang menatap Fakhri dari kejauhan.
"Diakan calon mertua gue, ngapain di sini? Kenal sama Fakhri juga?" tanyanya seraya memperhatikan Mae yang kemudian pergi dari halaman kampus.
Bersambung.
Like dan komen ya all 🤗
Dukungan kalian adalah semangat ku🙂
Maafkeun typo yang bertebaran ya 😁