
Tidak mengiyakan apa yang dikatakan oleh Dhev, Nala lebih memilih pekerjaannya di toko roti.
"Enggak, aku udah kerja di toko," jawabnya seraya bangun dari duduk.
Nala melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan, tetapi terdengar suara Dhev yang berhasil membuatnya menghentikan langkah.
"Berapa gaji kamu di toko?"
Nala berbalik badan, kembali teringat saat pertama kali bertemu dengan Dhev. Nala menganggap kalau pria itu selalu menyelesaikan masalahnya menggunakan uang.
"Maaf, Om. Bagiku uang bukan segalanya, tapi kenyamanan saat berkerja juga sangat penting, simpan saja uang om untuk masa depan Ken."
Dhev tertawa, tertawa yang menggelegar membuat Nala terheran dan baru kali ini Kenzo melihat sisi lain dari ayahnya yang terlihat menyeramkan saat tertawa.
Sedangkan Jimin, seandainya dia tidak menjaga martabat sahabatnya itu mungkin sudah melemparkan lalat masuk ke dalam mulut Dhev yang lebar, tetapi Jimin tidak melakukan itu.
"Nala! Nala! Bagiku uang adalah segalanya, coba tidak ada uang? Apa aku bisa membahagiakan keluarga ku? Sekarang semuanya menggunakan uang!" ucap Dhev seraya bangun lalu menyeret Nala membawanya ke kamar untuk segera berkemas.
Mendengar ucapan Dhev, Nala merasa ada benarnya, seandainya dia memiliki banyak uang tidak akan hidup terlunta di jalan seperti saat Dhev mengusirnya.
Nala duduk di ranjang dengan mengerucutkan bibirnya, memasukkan pakaian dan barang lainnya ke dalam tas gendong miliknya.
Selesai dengan berkemas, Nala bangun dan menghampiri Dhev yang berada di pintu sedang melipat tangannya di dada.
"Tapi aku nggak mau diusir lagi, aku juga enggak mau dimarahi karena hal sepele, ingat itu!" Nala berjalan melewati Dhev yang tersenyum smirk.
"Tergantung," jawab Dhev yang berjalan mengikuti Nala di belakangnya.
"Nala, om kesepian lagi dong," rengek Jimin yang masih duduk di kursi, lalu matanya menatap malas pada Dhev yang memaksa Nala.
Sementara Kenzo, ia merasa harus meniru apa yang baru saja dilihat, sehingga dirinya nanti akan mendapatkan apa saja yang diinginkan seperti ayahnya.
"Yes," ucap Kenzo seraya turun dari duduknya.
"Terimakasih, Ayah," kata Kenzo seraya menatap Dhev yang setelah sekian lama membiarkan anaknya dan sekarang akhirnya Dhev melakukan sesuatu untuk anaknya.
Melihat kebahagiaan Kenzo membuat Nala merasa benar telah kembali pada keluarga Dhev.
"Maaf, Om. Nala harus kembali, Nala udah sayang sama Ken dan Bu Amira," lirih Nala pada Jimin yang sekarang berdiri diantara Dhev dan Kenzo.
"Ya sudah lah, Om mengalah demi Kenzo," jawab Jimin seraya memijit bahu Kenzo yang berada di depannya.
****
"Rumah ini terasa sepi, sangat sepi," batin Amira yang sedang duduk di balkon kamar Kenzo seraya memangku majalah.
Di majalah itu terpampang wajah Dhev sebagai salah satu pengusaha sukses. Merasa bosan Amira memilih untuk bangun dan bertemu dengan teman-teman arisannya.
"Sudah lama tidak berkumpul, aku sangat merindukan mereka," kata Amira seraya berjalan menuruni tangga, Amira ke kamarnya lebih dulu untuk mengambil tasnya.
Semua berkumpul di kafe langganan.
"Halo, apa kabar semua," sapa Amira pada tiga temannya yang sudah menunggu.
"Halo juga jeng, kami baik, wah sepertinya sudah tidak disibukkan dengan cucu lagi, sampai bisa ikut berkumpul, apa sudah mendapatkan menantu baru?" tanya Jeng Elis si teman Amira yang paling kepo.
"Harus menyempatkan diri, me time katanya," jawab Amira yang kemudian tertawa mengajak temannya bercanda.
"Iya benar, kita juga harus memikirkan diri sendiri, kalau bukan diri sendiri siapa lagi coba," timpal Jeng Nana, teman Amira yang paling bijak.
Kedua teman Amira pun mengiyakan dan karena sudah lama tidak berkumpul kali ini Amira yang akan mentraktir ketiga temannya.
Di tengah percakapan para nenek-nenek itu, Elis yang sedari dulu ingin berteman dengan Amira itu mempertanyakan apakah Dhev sudah memiliki pendamping.
"Belum, masih seperti itu, masih dengan lukanya, masih belum mau melupakan Ana, ya memang bukan harus melupakan juga tapi setidaknya kan harus melanjutkan hidup, masih muda pasti membutuhkan pasangan untuk itu, ya kalian tau lah," kata Amira seraya menatap temannya satu persatu.
"Nah iya, masih muda apa hasratnya bisa tahan? Apa jangan-jangan suka jajan di luar, jeng?" tanya Indri teman Amira yang suka ceplas-ceplos.
"Kelihatannya enggak, selalu pulang dan berada di rumah, ya walau kadang telat pulang, tapi aku percaya sama anak," jawab Amira seraya menatap Indri.
"Oooo, semoga ya, Jeng. Gimana kalau kita jodohkan saja, carikan jodoh untuk Dhev, daripada jajan di luar nanti bisa kena penyakit kan bahaya, kasian ganteng-ganteng sakit," timpal Elis seraya menunjukkan foto anaknya yang sudah menjanda karena bercerai.
"Maaf, Jeng. Saya enggak mau menjodohkan biar pilihannya sendiri saja," jawab Amira dan Elis kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan mulut yang sedikit dimonyongkan.
"Sabar Jeng," Nana dan Indri menyemangati Elis dan Elis menganggukkan kepala seraya tersenyum yang dipaksakan sementara Amira mengusap punggung Elis.
Dan empat sekawan itu kembali melanjutkan obrolan mereka, duduk bersantai di sudut kafe.
****
Di tempat lain, Ririn sedang menunggu Darwin di depan gang, bukannya Darwin yang datang tetapi sebuah mini bus yang berhenti di depannya.
Ririn pun ditarik dan sekarang Ririn sudah berada di dalam mobil.
"Tolong!" teriak Ririn seraya berusaha melepaskan cekalan dua anak buah su bos yang sudah mengintainya sedari tadi.
Karena berisik, Ririn mendapatkan tamparan dari si jenggot membuat Ririn terdiam untuk sejenak.
"Mau dibawa kemana saya?" teriak Ririn seraya mengusap pipinya yang memerah.
"Jangan berisik, nanti juga tau! Mau digampar lagi?"
Ririn pun terdiam.
Bersambung.
Dukung author dengan vote, like dan komen juga jangan lupa difavoritkan, ya. Terimakasih^^