
Keesokan harinya.
Doni meminta pada Dhev untuk mempertimbangkan perihal Arnold.
"Buat saja perjanjian seperti yang ku minta!" perintah Dhev dan Doni hanya bisa mengiyakan ketika bos nya sudah memerintah.
"Baik," jawab Doni yang sedikit pasrah. Ia pun melaksanakan tugasnya. Pria itu keluar dari ruangan kakak iparnya.
****
Beberapa hari berlalu.
Setelah keluar dari penjara, Arnold ingin mengetahui keadaan Ririn yang ia ketahui sudah menikah dengan Jimin.
Arnold pergi ke apartemen Jimin dan tidak sengaja melihat Ririn yang baru saja turun dari mobil lalu membawakan belanjaan Mamih Jim dan juga Siti Aisyah.
"Kenapa dia jadi kaya pembantu?" batin Arnold, pria itu memperhatikan dari kejauhan.
"Dia bukan siapa-siapa gue! Udah lah enggak usah ikut campur!" batin Arnold. Setelah itu pergi dari sana. Ia kembali ke rumah ibunya dan melanjutkan usaha cuci motor dan mobil, kali ini Arnold sendiri yang mengurusnya.
****
Membebaskan Arnold bukan berarti lengah, itulah Dhev. Pria itu memerintahkan seseorang untuk mengawasi Arnold.
Bukan tak tau kalau dirinya di awasi, Arnold paham betul dengan ke khawatiran temannya itu. Arnold pun membiarkan orang Dhev memata-matainya.
****
Di apartemen Doni. Pria yang sedang tidak di sibukkan dengan pekerjaan itu mengajak keluarga kecilnya untuk makan malam bersama di sebuah restoran.
Sebelum ibu dan bapaknya kembali ke kampung halaman, tentu saja, suster Fakhri ikut bersamanya dan jam kerjanya dinggap lembur oleh Doni karena harus pulang telat dari jam yang di janjikan.
Malam yang penuh kebahagiaan untuk Doni dan Nindy, akankah berlangsung lama kebahagiaan itu?
Di sela makannya, Doni mengatakan kalau dirinya ada tugas dari Dhev untuk keluar kota dan akan mengajak Nindy dan juga Fakhri.
"Emangnya, nanti enggak ganggu?" tanya Nindy yang duduk di sebelah Doni.
"Sekalian liburan, kita bulan madu!" kata Doni dan Nindy pun tersenyum, membayangkan betapa indahnya bulan madu bersama dengan Doni, apalagi cinta diantara keduanya sedang hangat-hangatnya dan bersemi di dalam hati.
****
Di rumah Amira, satpam melihat gelagat wanita yang mencurigakan, wanita itu adalah Mae yang sedang menggendong Alif.
Terlihat, Mae sedang memperhatikan dengan mondar-mandir di depan gerbang.
Satpam pun keluar dari pos dan menegur wanita itu.
"Maaf, ibu sedang apa? Kalau tidak ada kepentingan silakan pergi!" kata satpam yang menghampiri, berbicara dari balik pagar.
"Saya mau mencari pekerjaan, barang kali di sini ada lowongan?" tanya Mae yang berusaha masuk ke rumah Dhev.
Tetapi, satpam itu tahu betul, kalau Dhev tidak akan menerima sembarangan orang untuk bekerja dengannya.
"Maaf, di rumah ini sudah penuh dengan pekerja, silahkan pergi atau anda akan saya bawa ke kantor polisi!" ancam satpam tersebut.
"Dasar orang kaya sombong!" batin Mae seraya pergi dari kediaman Dhev.
****
Hari yang ditunggu Nindy telah tiba, ia sedang bersiap untuk pergi bersama dengan Doni.
"Udah siap?" tanya Doni yang berdiri di pintu kamar seraya menggendong Fakhri, memperhatikan Nindy yang sedang menutup resleting koper.
Nindy menganggukkan kepala. Setelah itu, Nindy memberikan koper tersebut pada suster Fakhri, memintanya untuk dibawa ke mobil.
Dan sebelum Doni pergi, ia sempat melakukan video call bersama orang tuanya yang sudah berada di kampung.
"Iya sayang, Nenek pasti selalu mendoakan untuk kalian semua, hati-hati ya, nak! Kalau lelah istirahat dulu, jangan dipaksakan untuk menyetir!" kata Ibu Fakhri.
"Baik, bu," jawab Doni seraya tersenyum, setelah itu Doni berpamitan pada ibu dan bapaknya.
Di perjalanan, keluarga kecil itu sangat bahagia karena ini adalah pertama kalinya bagi mereka pergi bersama layaknya keluarga sesungguhnya.
"Sus, nanti kalau Fakhri lapar, minta tolong ambilkan makanan Fakhri yang ada di tas itu, ya," kata Nindy seraya menunjuk tas yang berada di samping suster.
"Baik, Bu," jawab suster yang duduk di bangku belakang.
****
Di rumah Amira, Dhev juga sedang menyiapkan liburannya bersama dengan keluarga kecilnya yang selalu tertunda.
Karena pekerjaannya sudah ia percayakan pada Doni, sekarang, Dhev mengajak istri dan anaknya untuk terbang ke Turkey, sesuai janjinya dan tidak lupa membawa fotografer.
"Semua udah siap?" tanya Amira yang berdiri di pintu kamar Dhev.
Terlihat, Kenzo sedang duduk di tepi ranjang seraya bermain dengan adiknya yang berada di kereta bayi.
Nala sedang memoleskan lipstik di bibirnya dan Dhev sedang duduk di sofa membalas pesan di ponselnya.
"Sudah, Bu. Ibu yakin enggak ikut sama kami?" tanya Nala yang kemudian bangun dari duduk.
"Iya, ibu di rumah saja," jawab Amira yang sekarang sudah ikut duduk di tepi ranjang, memperhatikan Fai yang sedang bergurau ci-luk-ba bersama dengan Kenzo.
Setelah itu, datang Dadang untuk membawakan barang-barang Dhev turun.
Dadang juga yang mengantarkan Dhev ke bandara.
Di luar rumah, ada Mae yang memperhatikan keluarga kecil Dhev.
"Mereka mau kemana? Di mana anakku? Kenapa tidak terlihat?" tanya Mae dalam hati, wanita itu duduk di bawah pohon yang berada di pembatas jalan depan rumah Dhev.
Ternyata, tidak hanya Mae yang memperhatikan, ada Mika yang sedang menunggu kesempatan untuk mendekati Amira.
Setelah rombongan Dhev tak terlihat, Mika segera menemui Amira.
"Assalamu'alaikum."
Amira yang masih berdiri di pagar itu menjawab salam Mika yang baru datang.
"Waalaikumsalam, Nak Mika. Ada apa? Pagi-pagi udah di sini? Nyari Kenzo?"
"Enggak, Tan. Mika mau ketemu sama Tante, ada hal penting yang Mika mau bicarakan."
"Oh, begitu. Ayo masuk, kita bicara di dalam," kata Amira seraya mempersilahkan Mika masuk.
Walau sempat jengkel dengan ulah Mika yang berusaha menghasut Kenzo, tetapi, Amira mencoba memaafkan gadis itu, yang berlalu biarlah berlalu, begitulah pikir Amira.
"Ada apa?" tanya Amira dan keduanya sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Begini, Tan. Mika mau minta tolong, bantu bujuk Mas Dhev supaya mengembalikan butik itu karena itu satu-satunya sumber penghasilan kami."
"Maaf, Mika. Kalau soal keputusan yang Dhev buat, Tante enggak bisa bantu, lagi pula tempat itu sudah di tempati oleh anak-anak yatim, anggap saja itu adalah hukuman kamu karena telah berani mengganggu mantan kakak ipar kamu!" jawab Amira.
"Lagi pula, tante lihat toko online kamu ramai, carilah tempat lain, siapa tau rejekinya lebih bagus dari tempat pertama. Saya permisi, ada arisan sama ibu-ibu yang lain!" Amira pun bangun meninggalkan Mika yang terdiam.
Mika pun pergi tanpa permisi dari kediaman Amira dengan rasa jengkel!
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan juga difavoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca^^