DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Gagal Lagi!


Nala menunjuk dirinya dan Dhev menganggukkan kepala. Setelah Nala bangun dari duduknya, Dhev kembali ke kamar.


"Tante," rengek Ken yang melihat Nala bangun dari duduknya.


"Sebentar, ya," kata Nala seraya mengusap pucuk kepala Ken.


"A... aaa, Tante... jangan tinggalin Ken," rengek Ken menahan tangan Nala.


"Aduh, gimana ini, anak sama ayah enggak ada yang mau mengalah," batin Nala, sepertinya Nala harus memutar otaknya supaya bisa membuat keduanya bisa memahami Nala.


"Begini, Ken, sambil nunggu kamu belajar, Tante ke atas dulu, nanti tante bacakan dongeng mau?" tanya Nala dengan menatap Ken yang terlihat sangat bete.


"Ya udah, deh," jawab Ken yang kemudian melepaskan tangan Nala.


"Anak pintar," Nala mengecup kening Ken.


Setelah itu, Nala segera menyusul Dhev ke atas, mengetuk pintu lebih dulu.


"Masuk," kata Dhev yang sedang melepaskan kancing lengannya.


"Ada apa, Om? Ken belum selesai belajar," kata Nala seraya masuk dan menutup pintu.


"Telinga ku mendadak sakit," kata Dhev seraya memasukkan jari kelingkingnya ke telinga.


"Om mau ke dokter THT?"


tanya Nala yang mengira kalau Dhev sakit sungguhan.


"Astaga," geram Dhev dalam hati.


"Dia ini terlalu polos apa terlalu bodoh, kenapa tadi berteriak memanggil sayang, sekarang jadi om lagi." Dhev masih berbicara di dalam hati.


"Ok, baiklah, kita pakai cara yang jelas dan mudah dipahami, mungkin tidak akan dilupakan," kekeh Dhev dalam hati.


"Kemarilah," kata Dhev seraya melihat ke arah Nala.


Tanpa Dhev tau, sebenarnya ada hati yang sedang tidak karuan, ada hati yang seolah ingin loncat dari tempatnya. Ada hati yang terasa jedag-jedug saat ditatap oleh si mata burung hantu.


Nala sekarang berdiri di depan Dhev, tangan Dhev menuntun tangan Nala untuk melanjutkan membuka kancing kemejanya.


Nala mencoba tetap fokus dengan tetap menatap kancing Dhev.


Dhev yang menyadari kalau istrinya sedang salah tingkah itu menahan tawanya.


Tetapi bukan Dhev namanya kalau tidak menjahili istri kecilnya.


"Berhenti memanggilku om atau kamu akan mendapatkan hukuman," kata Dhev dengan santainya.


Nala hanya diam, gadis itu mencoba mengatur detak jantungnya.


"Hukuman apa ya kira-kira, marahnya aja serem, jangan-jangan aku di hukum buat nyapu jalanan komplek lagi," batin Nala.


"Dengar?" tanya Dhev.


Nala menganggukkan kepala, merapikan anak rambut, membawanya ke belakang telinga.


Kemudian, Dhev merengkuh pinggang Nala, membuat tidak ada jarak diantara keduanya.


Seketika Nala berteriak dan mendorong dada Dhev saat pangkal pahanya mengenai benda keras yang menonjol dari balik celana Dhev.


Dhev menahan tangan Nala. Menatapnya dan berbisik. "Yang dibawah sana udah enggak sabar," bisiknya.


Nala terdiam dan sudah mengerti apa yang diinginkan oleh suaminya yaitu kewajiban sebagai seorang istri.


Dhev mengangkat dagu Nala, menatapnya dan terlihat sangat manis bibir yang tipis itu.


Dhev memajukan wajahnya sedangkan Nala memejamkan mata.


Cup! Dhev mengecup sekilas dan menuntun tangan Nala supaya berada di dadanya.


Dhev mengulanginya dan kali ini bukan kecupan melainkan menyesap bibir tipis yang sekarang menjadi candu baginya.


Terasa kaku dan Dhev mengerti kalau Nala masih sangat polos dan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Dhev karena dirinya adalah orang pertama yang menyentuh istrinya.


Nala membuka mata dan merasa tak kuat saat ditatap seperti itu, Nala kembali menundukkan kepala dan Dhev kembali mengangkat dagu Nala.


"Jangan takut," kata Dhev. Pria itu menatap, memperhatikan wajah cantik istrinya.


Nala menjawab dengan menggelengkan kepala pelan.


"Mau ku ajarin ciuman?" tanya Dhev.


Mendengar pertanyaan itu membuat Nala memukul pelan dada Dhev, tersipu malu dan Dhev kembali mencium istrinya.


"Buka sedikit bibir mu," bisik Dhev yang benar-benar akan mengajari istrinya.


Nala membuka sedikit bibirnya dan Dhev melahap dengan rakus merasa sudah tidak dapat lagi menahan hasrat yang selama ini ia salurkan sendiri di kamar mandi, sehingga suasana yang tadinya tenang sekarang sudah memanas.


Baru saja Dhev membuka kancing piyama Nala yang paling atas, Dhev dan Nala sudah mendengar teriakkan Kenzo yang akan menagih dongeng sebelum tidurnya.


Nala yang mendengar itu secara reflek melepaskan ciuman panas, segera mengelap bibirnya yang basah dan segera kembali mengancing piyamanya.


"Astaga!" Geram Dhev seraya menarik rambutnya frustasi.


Sementara Nala segera keluar dan ternyata Ken mencari Nala ke kamar.


"Ken, belajarnya udah selesai?" tanya Nala yang berdiri di belakang Ken.


"Tante dari mana, Ken cari tante enggak ada, kok sekarang udah di belakang Ken?" tanya Ken seraya memberikan buku dongeng pada Nala.


"Ada urusan penting dulu tadi," jawab Nala. Sekarang Nala menemani Ken menggosok gigi, Nala yang berdiri di belakang Ken itu terdiam, menatap dirinya di cermin wastafel dan yang terlihat adalah bayangan Dhev yang sedang tersenyum manis padanya.


Nala pun membalas senyuman itu membuat Kenzo merasa heran.


"Tante kenapa? Ken lucu, ya?" tanya Ken seraya menggosok giginya, menatap Nala yang sedang terkesima oleh suaminya.


"Ah. Iya, Ayah kamu memang nyebelin," jawab Nala yang salah mendengar pertanyaan anak sambungnya.


"Kok ayah, sih. Tante, ini Ken!" kata Kenzo seraya menarik ujung piyama Nala.


"Astaga, apa yang ku pikirkan!" gumam Nala seraya tersenyum kikuk.


Sementara Dhev, di kamar sedang menonton vidio dari Jimin untuk mengurangi sedikit rasa kesalnya, tetapi Dhev semakin kesal, karena ia ingin melakukannya dengan istrinya, bukan bermain sendiri atau menghayal.


"Astaga," Dhev menyudahi menontonnya. Pria itu memilih untuk bangun dan melihat Nala di kamar Kenzo. Terlihat Nala sedang berada di ranjang, membacakan dongeng dengan Kenzo berada di dekapannya.


Melihat itu Dhev merasa kesal.


"Seharusnya aku yang di sana, kenapa jadi anak kecil itu!" gerutu Dhev, pria yang membuka sedikit pintu kamar Ken itu menatap dengan memelas.


Dengan lesu Dhev kembali ke kamar.


"Gagal lagi, gagal lagi!" gumam Dhev.


Sesampainya di kamar, Dhev yang kesal itu melampiaskan dengan cara membredel kancing kemejanya. Sehingga sisa kancing yang belum sempat Nala buka itu terlepas semua.


melemparkannya dengan kesal ke keranjang baju kotor samping lemari. Dhev memilih mandi untuk menenangkan pikirannya.


****


Nindy tidak memakan nasi yang dibawakan oleh Amira. Hanya menatapnya kosong.


"Enggak boleh hancur hidup gue, yang ada dia harus hancur! Tapi mau cari kemana gue, gue engga tau rumahnya!" geram Nindy yang matanya sudah sangat sembab.


"Ok, gue akan mata-matain lo! Ketemu awas aja lo!" batin Nindy.


Gadis itu yang sama sekali belum mengganti pakaian kerjanya itu bangun dari duduknya, merasa ingin buang air kecil, sedari siang Nindy menahan semua rasa. Hanya ada kecewa di dalam dirinya.


Berhasilkah Nindy membalas dendam dengan tangannya sendiri?"


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Di vote juga boleh ☺.


Terimakasih sudah membaca^^