DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Patah Hati, Fai Dan Alif



Visual Fai.


****


Melihat keberadaan Alif membuat Fakhri semakin merasa terpojok.


Fakhri mengibaskan tangan pria itu lalu perkelahian pun tak dapat dihindari.


Alif dan Fakhri yang sama-sama mendapatkan didikan dari Arnold itu tidak ada yang mau mengalah. Ilmu bela diri keduanya seimbang.


Alif terus menghindari setiap pukulan dari Fakhri dan begitu ada kesempatan, Alif balik menyerang Fakhri dan Fakhri yang terkena tinju di perutnya itu pun melihat Fai yang menarik lengan Alif lalu membawanya pergi.


Sementara Mae, ia terlihat sudah pasrah! Bahkan Fai sudah mendengarnya sendiri, Mae merasa kalau ini adalah akhir dari kisahnya karena Mae yakin keluarga Dhev tidak akan tinggal diam.


"Enggak guna!" teriak Fakhri seraya pergi meninggalkan Mae yang terduduk, wajahnya pucat pasi dan hanya bisa menunggu seperti menunggu ajal.


Para siswa yang berkerumun itu pun mulai membubarkan diri.


Fakhri mengejar Fai dan Alif yang sedang menuju ke kantor Dhev, Fai ingin ayahnya melihat sendiri dengan mata kepalanya.


Seraya membonceng, Fai mengirimkan rekaman itu pada Dhev.


Motor butut Alif tentu saja bukan lawan motor sport Fakhri yang sekarang sudah berada di sampingnya.


Fakhri berniat untuk mencelakai keduanya dengan menendang motor butut Alif.


"Ayo, Lif! Lebih cepat lagi, gue harus sampai ke kantor ayah!" kata Fai seraya menepuk bahu Alif.


Alif hanya meminta pada Fai untuk mengeratkan pegangannya dan dalam hati ia bertanya mengapa Fakhri sampai seperti itu pada Fai dan tatapan Fakhri sangat tajam seolah ingin menerkam Alif hidup-hidup.


Alif fokus ke jalanan dan di depannya itu ada truk box dan truk towing yang berjajar, Alif mengambil jalan di tengah antara truk tersebut dan Fakhri yang sedari tadi tak memperhatikan jalanan itu harus menabrak truk box.


"Aaaaaaaa!" teriak Fakhri yang sudah terlambat untuk menarik rem.


Kecelakaan tak dapat dihindari, berawal dari Fakhri yang menabrak sehingga Fakhri tertabrak oleh kendaraan dari belakang dan terjadilah kecelakaan beruntun.


Alif dan Fai pun menepi setelah mendengar suara kecelakaan di belakang.


****


Di kantor, Dhev yang baru saja selesai menonton vidio kiriman itu mendapatkan telepon kalau anak-anak berapa di rumah sakit.


Dhev pun ke ruangan Arnold.


"Fakhri kecelakaan!" kata Dhev yang masih berdiri di pintu.


"Apa?" tanya Arnold yang terkejut, ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya.


Dhev dan Arnold sekarang sedang menuju ke rumah sakit, keduanya menggunakan mobil Arnold dan Dhev yang menumpang itu menghubungi Nala, ia meminta pada Nala untuk tidak mengatakan apapun lebih dulu pada Amira dan Nindy.


Sesampainya di rumah sakit, Dhev melihat Fai dan Alif yang sedang duduk di kursi panjang dan terlihat ada beberapa polisi yang sedang menginterogasi keduanya.


"Ayah!" seru Fai seraya berlari ke arah Dhev, Fai segera memeluknya.


Dhev mengusap rambut Fai, ia berusaha menenangkannya. Tetapi, Fai tidak akan tenang karena keadaan Fakhri sedang kritis.


Sementara Alif, dirinya terdiam, memikirkan apa yang diceritakan oleh Fai kalau dirinya bukanlah anak kandung Mae.


"Lalu, anak siapa? Siapa orang tua gue?" tanya Alif dalam hati.


Pria itu hanya menundukkan kepala seraya memijit pangkal hidungnya.


Kemudian datang dokter yang mengatakan kalau pasien membutuhkan banyak darah.


"Saya ayahnya, ambil darah saya!" kata Arnold dan semua orang hanya diam, Arnold sendiri belum mengetahui apapun.


Di sisi lain, Fai sangat terkejut mendengar Arnold mengakui dirinya sebagai ayah dan terjawab sudah atas perhatian yang Arnold berikan pada Fakhri karena Arnold mengira Fakhri adalah anaknya.


"Om, dia bukan-" kata Fai yang terpotong karena Dhev mendekapnya dengan erat, sebentar lagi Arnold akan mengetahuinya sendiri kalau darahnya itu tidak sama dengannya.


Arnold pun dibawa oleh suster untuk diperiksa lebih dulu dan benar saja darah Arnold dan Fakhri tidaklah sama.


"Nindy, mungkin Nindy sama dengan Fakhri!" kata Arnold pada suster dan suster menyarankan untuk segera membawa ke rumah sakit.


"Dia baru sehat, apa Dhev enggak bakal ngamuk kalau gue minta darahnya?" batin Arnold, ia tidak mau memikirkan itu lagi, baginya yang terpenting adalah keselamatan Fakhri lebih dulu.


Arnold pun membicarakan itu pada Dhev.


"Apa golongan darah Fakhri?" tanya Dhev.


"Golongan darah Nindy A, gue juga A!" jawab Dhev dan itu membuat Arnold bertanya-tanya.


"Jangan bohong, Dhev." Arnold mencengkeram kerah kemeja Dhev. Menatapnya tajam.


"Ayah enggak bohong, paman!" kata Fai seraya melepaskan tangan Arnold dari kerah baju ayahnya.


Fai pun menunjukkan vidio yang direkamnya.


Arnold terduduk dan tak percaya dengan apa yang dilihat.


"Alif, hubungi ayah dan ibumu sekarang!" perintah Arnold dan Alif tak mendengarnya.


"Alif!" bentak Arnold. Kedua pria itu sama terpukulnya oleh kenyataan.


Alif hanya mengulurkan tangan memberikan ponselnya pada Arnold.


Arnold pun membuka sandi ponsel itu yang ternyata tanggal lahir Alif.


Arnold tahu betul karena tanggal lahirnya sama dengan Fakhri.


Mae yang mendengar kabar tersebut segera pergi ke alamat yang dikirim oleh Arnold. Mae membawa serta Andra, kalau darahnya tidak cocok kemungkinan darah Andra akan cocok, begitulah pikir Mae.


Sesampainya mereka di rumah sakit, Alif menatap kosong pada Mae dan Andra yang sekarang sudah diketahui kalau bukan orang tua kandungnya.


Alif pergi dari tempatnya duduk tanpa mengatakan apapun pada semua orang. Fai pun mengejar Alif dan menemani Alif yang menangis di taman rumah sakit.


Dan Mae hanya bisa diam, ia akan menjelaskan nanti setelah memberikan darahnya pada Fakhri.


Benar saja, darah Mae lah yang cocok untuk Fakhri. Sekarang, Mae sedang dalam ketakutan yang besar, di depannya ada dua pria yang menatapnya tajam, pria itu adalah Dhev dan Arnold.


Sementara Andra, pria itu tidak mengerti apa yang terjadi, dengan mengambil darah Mae Andra mengatakan kalau itu tidaklah gratis.


"Diam kamu!" bentak Arnold dan Dhev bersamaan.


"Apakah bagi kalian orang miskin uang adalah segalanya!" bentak Arnold pada Andra, Arnold tahu betul seperti apa watak Andra, Arnold mengetahui itu karena Alif sering menceritakannya sewaktu kecil dulu.


****


Fai memeluk Alif, menenangkannya.


"Apa gue anak pungut yang enggak punya orang tua?" lirih Alif.


"Kita tanyakan sama ibu, ya!" kata Fai seraya menepuk punggung Alif.


"Tapi, gue kecewa sama dia! Kenapa dia enggak pernah cerita apapun sama gue!"


"Mungkin karena takut kehilangan lo! Lebih baik lo tanyain baik-baik, toh selama ini ibu udah ngerawat lo dengan baik, kan?"


Mendengar itu Alif membenarkan dan mengingat semua kebaikan Mae yang sudah tulus merawatnya dari bayi hingga besar.


Alif dan Fai pun kembali ke tempat orang tuanya berada.


"Cepat, katakan! Di mana anak Nindy yang sebenarnya?" bentak Dhev pada Mae dan Mae hanya bisa menangis menggigit ujung jarinya.


Sementara Andra merasa sangat pusing dengan apa yang dilakukan oleh Mae di masa lalu.


"A-alif!" lirih Mae dan ternyata semua itu di dengar oleh Fai dan Alif.


Seketika, Fai dan Alif melepaskan tangannya yang semula bergandengan.


Seolah tersambar petir di siang bolong, Alif dan Fai pun saling menatap.


Begitu juga dengan Dhev yang melihat ke arah Fai dan Alif berdiri. Dhev menatap tak percaya kalau anak dan keponakannya menjalin kasih.


Fai dan Alif berusaha mengelak dan meminta pada Mae untuk mengatakan kebenaran yang lain.


"Bu, ini semua enggak benar kan?" tanya Alif dengan pandangan yang kosong, hatinya terluka seolah pecah menjadi berkeping-keping.


Baginya, bukan anak dari keluarga Dhev pun tak apa-apa asalkan dirinya dan Fai akan tetap dapat bersama.


Fai yang tak terima dan merasa kalau Mae mengarang cerita itu berjalan ke arahnya dan bersiap menampar Mae, tetapi, tangan Fai tertahan karena Dhev tak ingin anaknya berbuat kasar pada yang lebih dewasa.


Fai yang patah hati untuk pertama kali itu menatap Dhev dan Dhev membawa putrinya ke dalam pelukan.


Bersambung.


Like dan komen ya all, jangan pelit jempol, like itu gratis ☺


maafkan typo yang bertebaran ✌✌