
Siang ini, Dhev mendengar kabar kalau Ibu Arnold kembali mengalami kemalangan, wanita itu yang membuka usaha cuci motor dan mobil di depan rumahnya setelah diberikan uang oleh Dhev waktu itu harus kembali merana setelah semua uangnya dibawa kabur oleh anak buahnya yang bekerja di bagian kasir dan mengawasi semua pegawai.
Terlalu percaya, itu lah yang dialami olehnya.
"Wanita tua, buka usaha malah ditipu anak buahnya sendiri!" kata Dhev yang sedang memperhatikannya dari dalam mobil.
Setelah itu, Dhev memutuskan untuk pergi dari sana.
****
Di rumah sakit, Nala dan Nindy yang baru saja selesai imunisasi anak-anak harus bertemu dengan Mika dan Nana.
"Kalian," kata Mika yang melihat Nala dan Nindy.
"Eh, Mika. Siapa yang sakit?" tanya Nindy.
Keduanya bertemu saat akan keluar dari rumah sakit.
"Mama sakit, biasa banyak pikiran, ini juga gara-gara kakak kamu!" jawab Mika yang merasa sebal saat melihat Nala.
"Kamu, jaga mulutmu!" timpal Nana seraya melirik Mika.
"Sudah, ayo kita pulang!" kata Nana seraya menarik lengan anaknya.
Nala dan Nindy hanya memperhatikan dari belakang.
Sekarang, Nala dan Nindy pun segera pulang ke rumah.
Tanpa mereka ketahui, Mae mengikuti keduanya, tetapi ada yang satu Mae tidak tau, kalau yang dituju adalah rumah Nala bukan rumah Nindy.
Harapannya adalah akan dapat sesering mungkin untuk memperhatikan anaknya dari jauh.
Setelah mendapatkan alamat Nala, Mae kembali bekerja.
Mae bekerja sebagai karyawan laundry dan Alif selalu ikut dengannya, pemilik laundry tidak keberatan karena suka dengan anak kecil, apalagi Alif terlihat lucu dan menggemaskan, putih bersih dan tampan.
"Mae, tadi Alif jadi diimunisasi?" tanya pemilik laundry yang sedang duduk di kursi meja kasir memperhatikan anak buahnya yang sedang bekerja.
"Iya, bu. Sudah, maaf tadi mengantri jadi lama," jawab Mae seraya memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci.
Sementara Alif, ia biarkan bermain di lantai beralaskan kasur lepek.
****
Sementara itu, di penjara, Arnold sedang memikirkan Ririn.
"Bagaimana dengan kabarnya, apa dia bahagia?" batin Arnold, pria itu sedang duduk menunggu temannya sedang sholat sebelum kembali dimasukkan ke dalam sel.
Tidak lama menunggu, temannya itu sudah selesai sholat lalu menepuk bahu Arnold, temannya itu berusia lebih muda darinya dan pemuda itu masuk ke penjara karena difitnah telah memperkosa sahabatnya sendiri.
"Sholat, Bang!" kata pemuda itu.
"Halah, lo do'ain aja dulu gue buat dapat panggilan!" jawab Arnold seraya pandangan tetap lurus ke depan.
"Hidayah atau panggilan ibadah itu kita jemput, Bang. Kalau hati abang udah menjerit buat ibadah tapi abangnya enggak bangun ya itu mah abangnya aja yang banyak alesan!"
"Gitu, ya?" tanya Arnold seraya menatap temannya dan tidak lama kemudian sipir datang untuk memasukkan kembali para tahanan ke dalam sel.
"Gimana mau sholat, gue enggak tau bacaannya!" batin Arnold seraya menggaruk tengkuknya.
Pria itu terlihat semakin gondrong dan meminta pada temannya itu untuk mencukurkan.
Memiliki teman yang rajin beribadah apakah akan membuat Arnold kembali ke jalan yang lurus? Mengakui kesalahannya?"
****
Sepulang bekerja, Jimin ingin menjemput istrinya yang sedang berlatih Yoga di studio langganan.
Ririn baru saja selesai menggantikan pakaian dan segera mengambil tasnya di loker, mengambil ponsel dan membaca pesan Jimin yang sudah menunggu di depan studio.
Ririn tersenyum dan segera keluar untuk menemui suaminya.
Jimin yang duduk di atas motor sportnya itu melambaikan tangan pada Ririn.
"Istri gue makin hari makin cantik aja!" puji Jimin dalam hati dan pria itu sangat gemas saat melihat rambut Ririn yang dicepol, ingin mencium leher istrinya.
"Astaga, kapan sih gue enggak mikirin itu, padahal ini lagi di luar, masih sore pula!" ucapnya dalam hati.
"Udah lama?" tanya Ririn seraya menaiki motor Jimin.
"Enggak, sekitar 10 menit," jawab Jimin seraya memberikan helm untuk istrinya.
Di perjalanan, Ririn melihat wanita yang seperti Adelia, wanita itu mengendarai motor bebek, mengenakan seragam laundry sepertinya baru saja mengambil orderan.
Setelah melewati motor itu, Ririn memastikan kalau itu Adelia atau bukan dan ternyata iya.
"Kasihan mamah, sekarang bekerja keras," kata Ririn dalam hati.
Dan Ririn kembali fokus ke suaminya yang menarik lengannya supaya kembali mengeratkan pelukannya.
Ririn pun menyenderkan kepala di bahu Jimin.
****
Di rumah Amira.
Amira sedang menggelar tahlilan atas kepergian ibunya.
Ia menyantuni anak-anak yatim yang diundang ke rumahnya.
Begitu juga dengan Dhev. Ia melihat anak-anak itu yang tumbuh tanpa orang tua tergerak hatinya untuk segera memberikan uang.
Dhev yang masih duduk di mobil itu memanggil istrinya dengan cara menelepon. Nala pun mendekat dan menyambut suaminya.
"Maaf, tadi sibuk banget di dalam, ayo masuk," kata Nala dan Dhev yang masih duduk di bangku kemudinya itu meraih pinggang istrinya.
"Aku mau nyantuni mereka, tolong siapkan uangnya!" kata Dhev, pria itu menatap istrinya yang terlihat sangat cantik dengan dress panjang dan hijab di kepalanya.
"Kalau untuk itu udah, aku pakai uang bulanan yang kamu kasih itu," jawab Nala, gadis itu meletakkan tangannya di bahu suaminya.
"Ya udah, baik banget sih, istri siapa?" puji Dhev seraya mencubit hidung Nala.
"Istrinya Om Dhev!" jawab Nala seraya melepaskan tangan Dhev dari hidungnya.
Setelah itu, Dhev Nala masuk ke rumah melalui pintu samping.
Dhev mencuci tangannya lebih dulu sebelum menemui bayinya yang sedang berada di kereta bayi. Terlihat imut dan menggemaskan saat memakai baju muslim.
Dhev pun menggendong putrinya yang sudah bisa duduk itu.
"Anak ayah, mamam apa?" tanya Dhev yang melihat putrinya menggenggam camilannya.
Fai pun mengarahkan camilan yang dipegang itu ke wajah Dhev dan mulut Dhev menangkap camilan itu.
Dhev mengira kalau Fai ingin menyuapinya, tetapi saat Dhev memakan camilan itu, Fai menangis.
Nala pun menggantikan camilan itu yang seperti kerupuk berbentuk lonjong yang masih utuh di tangan Fai dan Fai kembali terdiam.
"Masa pelit anak ayah, mamamnya ayah makan kok nangis," kata Dhev seraya menggendong bayinya.
Setelah itu, Amira memanggil Nala.
"Nak, ayo. Ngajinya udah selesai," kata Amira dan Nala pun mengambil tasnya yang berisi amplop.
Setelah itu, Nala, Dhev, Fai dan Kenzo ikut berdiri di samping Amira yang sedang memberikan kotak nasi beserta amplop.
Masing-masing mendapatkan dua amplop dari Amira dan Nala.
****
Kembali ke Jimin dan Ririn.
Mereka yang sudah mengisi perutnya itu kembali ke apartemen dan rupanya di sana Ririn dan Jimin kedatangan tamu.
Tamu itu adalah mamih Jimin yang membawa Siti Aisyah.
Jimin sendiri merasa pangling dengan Siti Aisyah yang terlihat lebih bersih dan jerawat di wajahnya sudah mulai berkurang dan bekas jerawat itu sudah hilang.
Jimin mempertanyakan kedatangan Siti Aisyah ke apartemennya.
"Kenapa? Mamih bebas dong mau pergi sama siapa aja, mamih tadi habis belanja sama Aisyah, terus pulangnya mampir," jawab mamih Jimin seraya membawa salad buah dingin duduk di sofa panjang ruang tengah.
Ririn pun mengulurkan tangan pada mertuanya tetapi uluran tangan itu tak dibalas.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan juga difavoritkan, ya.
Terimakasih yang sudah mendukung karya ini 🤗
Mohon maaf banyak typo di mana-mana 😇