DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Apakah Doni Cemburu?


Di rumah Amira, Nala baru saja akan bersiap, di sana ia sedang mengeluh, sudah merasakan begah di perutnya sekarang bra miliknya sudah mulai mengecil, Dhev sendiri tidak berani mengatakan kalau bra itu tidak mengecil karena kenyataannya PD Nala lah yang membesar.


"Iya sudah, nanti sekalian kita berbelanja, kita ganti semua ukuran bra kamu, atau kita minta Winda aja yang belikan?" tanya Dhev yang berdiri di belakang Nala seraya memeluknya, memperhatikan Nala yang sedang cemberut.


"Enggak, aku mau beli sendiri, kalau orang yang belikan nanti enggak cocok gimana?"


"Ya udah kalau itu mau kamu, sekarang pakai yang ada dulu, jangan cemberut nanti cantiknya hilang!" kata Dhev seraya mencubit pipi Nala.


Dhev menyadari kalau perubahan hormon dan rasa tidak nyaman saat hamil itu membuat istrinya mudah mengeluh.


Seperti makan sedikit masih lapar, porsi ditambah sedikit kekenyangan dan menimbulkan efek tidak nyaman pada diri Nala.


Dhev dengan sabar menghadapi tingkah Nala yang sebentar marah sebentar lagi baikan.


Dhev pun mulai bersiap, memakai baju santainya karena hari libur ini akan mengantarkan Ken berkuda juga berlatih memanah.


Sekarang, Ken sudah semakin besar yaitu kelas dua SD.


Tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar Dhev.


Dhev membuka pintu itu dan ternyata Kenzo.


"Ayah, Ibu, ayo... Ken sudah siap!" kata Ken.


Dan Dhev berbisik di telinga Ken, "Sabar, tunggu mood ibu kamu baik dulu!"


Ken pun mendorong pintu kamar Dhev terbuka. "Ibuku yang semakin hari semakin bulat dan cantik, Ken udah siap! Ibu mau Ken bantu bersiap? Ken harus bantu apa?" tanya Kenzo seraya mendekat ke arah Nala berdiri.


Nala sendiri masih dengan piyama handuknya.


Mendengar ucapan Ken, Dhev merasa heran, kenapa Nala tidak marah ketika Ken mengatainya semakin bulat, sedangkan Dhev sendiri harus menjaga ucapannya di depan Nala.


"Kalau ibu pakai ini cantik enggak?" tanya Nala pada Ken seraya menunjukkan dress berlengan pendek panjang selutut.


"Ibu kan cantik, pakai apa aja pasti cantik!" kata Ken seraya duduk di tepi ranjang Nala.


Dan Dhev dengan sengaja berjalan melewati Nala, berbisik, sengaja menggoda istrinya.


"Apalagi kalau engga pakai apa-apa! Cantiknyaaaa!"


"Mas! Ada anak kecil juga!" protes Nala seraya memperhatikan Dhev dari cermin.


"Kenapa? Ken enggak dengar!" jawab Dhev.


Setelah itu, Dhev duduk di samping Ken, memakai sepatu boots berkudanya.


"Kamu dengar enggak ayah bilang apa?" tanya Dhev seraya melirik Ken.


"Dengar," jawab Ken dengan yakin.


"Apa?"


"Ibu memang cantik!" kata Ken dan pagi ini Nala merasa sangat senang karena kedua pria yang ada di hatinya itu selalu berhasil menggoda, bukan hanya karena ingin dikatai cantik, tetapi Nala sendiri akan merasa tersinggung kalau ada yang membicarakan perubahan bentuk tubuhnya, pikir Nala semua orang seharusnya mengerti mengapa bentuk tubuhnya bisa berubah, itu semua karena dirinya sedang mengandung anak dari suaminya.


Setelah selesai bersiap, sekarang, Nala dan Dhev sudah ditunggu oleh Ririn dan Jim.


Keduanya akan ikut pergi bersama, itung-itung untuk liburan.


Setelah siap, sekarang, Dhev dan keluarga kecilnya itu turun dan menemui tamu yang sudah menunggu.


Di ruang tamu, Dhev menggelengkan kepala mendengar Jimin yang sedang menggoda ibunya.


"Maklum, anak muda dan masih pengantin baru! Apa tante mau Jim carikan jodoh lagi?" tanya Jim dan seketika bantal sofa mendarat di kepala Jimin, Dhev yang melempar.


Setelah itu, Amira pun pamit pada semua, Amira sendiri ada janji dengan Nindy dan Doni yang akan pergi berbelanja kebutuhan bayi.


"Tan, kalau ada suami kan ditemenin sama suami!" kata Jimin.


Tersenyum dengan keisengan Jimin yang tidak pernah hilang.


Nala sendiri menahan tawa saat melihat leher Ririn yang penuh dengan tanda merah dan dengan polosnya Kenzo bertanya.


"Leher tante kenapa?"


"Astaga!" Dhev menggelengkan kepala dan segera menggandeng Kenzo untuk keluar, masuk ke mobil, tentu saja suster Resa dan Winda tidak tertinggal.


"Ayo berangkat!" ajak Nala pada Jim dan Ririn.


****


Sesampainya di apartemen Doni, ternyata Amira sudah ditunggu oleh menantu dan anaknya.


Sebelum pergi berbelanja, Doni dan Nindy mengajak Amira ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan Nindy.


Waktu bulan lalu, jenis kelamin anak Nindy masih belum terlihat karena anaknya yang di dalam perut itu seolah menyembunyikan identitasnya.


Berharap bulan ini sudah bisa dilihat dan benar saja, setelah melakukan USG jenis kelamin anak itu terlihat, anak Nindy berjenis kelamin laki-laki.


"Yah, padahal aku berharap kalau anak itu cewek, kayanya lucu kalau anak cewek, tapi enggak papa yang penting sehat dua-duanya," kata Doni dan Amira tersenyum melihat menantunya itu seolah ayah dari anak tersebut.


Juga, sekarang Doni sudah memanggil Ibu pada Amira sesuai permintaan Amira.


Selesai dengan periksa, sekarang, Doni mengajak semua orang ke mall untuk berbelanja.


Di sana, Doni dan Nindy memilih serba warna biru. Kereta bayi warna biru, baju bayi warna biru, kaos kaki dan sarung tangan. Semua berwarna biru sesuai kesukaan Nindy.


Lalu, Amira yang sedang menunjukkan selimut bayi pada Doni itu melihat ke arah Nindy yang sedang memilih sepatu bayi.


Terlihat seorang pria menghampiri Nindy dan Amira tau siapa pria itu, dia adalah teman sekolah SMA Nindy.


Melihat itu, Doni pun segera mendekat dan menghalangi teman Nindy yang sudah bersiap untuk memeluk istrinya itu.


"Nindy?" sapa pria itu seraya membalikkan badan Nindy dan membuka tangan akan memeluknya.


Belum sampai memeluk sudah datang Doni. "Maaf, saya suaminya! Anda siapa?" tanya Doni seraya menahan dada pria itu, Doni berdiri di depan Nindy.


Nindy pun melongokkan kepala. "Dia teman sekolah ku dulu!" kata Nindy seraya menepuk bahu Doni.


"Oh, kenalkan. Saya Doni, suami Nindy!" kata Doni seraya mengulurkan tangannya.


Pria itu pun membalas uluran tangan Doni tetapi pria itu meringis karena Doni mengalaminya dengan sangat kencang.


"Mungkin dia cemburu!" batin pria itu seraya berusaha melepaskan tangannya dari tangan Doni.


Setelah terlepas, pria itu beralih ke Amira.


"Oh, ada tante juga, apa kabar, tan?" tanyanya seraya memeluk Amira.


"Baik, kamu sendiri gimana?" tanya Amira seraya melepaskan pelukan itu.


"Baik juga," jawab pria itu seraya tersenyum.


"Kamu ngapain di toko perlengkapan bayi? Udah punya anak juga?"


"Bukan. Beli buat kado aja, eh ternyata ketemu kalian," jawab pria itu seraya memperhatikan wajah semua orang termasuk Doni yang masih menatapnya serius.


Melihat itu, Nindy menjadi senyum-senyum sendiri, entah, di hatinya merasa senang saat melihat sikap Doni yang seperti itu.


Bersambung.


Jangan lupa like dan komen, ya. Difavoritkan juga, jangan tertinggal bintang lima nya. Terimakasih sudah membaca 🤗