
Fai melihat kalau Amira sedang istirahat dan Nala mengajak keluar dari kamar rawat itu, meminta pada anak-anak untuk tidak berisik dan menjenguknya nanti setelah bangun.
"Emang salah Fai, sih. Ngajakin Alif jenguk malam-malam gini!" kata Fai seraya melirik Alif.
"Enggak papa, kan gue juga mau antar lo," jawab Alif seraya menatap Fai.
"Kalian udah makan?" tanya Nala seraya menatap Fai dan Alif bergantian.
Fai menjawab belum.
"Iya udah, ayo kita makan! Terus kalian pulang! Udah malam!" perintah Nala dan Alif mengatakan kalau ada keperluan dan tidak bisa ikut bergabung.
"Yah, padahal gue maunya makan bareng!" kata Fai seraya tangan yang masih menggenggam tangan Alif.
"Fai, orang ada urusan, kamu jangan manja dong!" kata Nala yang menengahi.
"Iya udah deh," jawab lesu Fai seraya melepaskan tangan Alif.
"Besok kita ketemu lagi!" kata Alif dan Fai pun menyunggingkan senyum.
Dan Alif ingin mengikuti kata hatinya yang mengatakan untuk menjenguk Nindy.
Alif pun pergi ke ruangannya.
Sesampainya di sana, Alif melihat Fakhri baru saja keluar dari ruang rawat itu, Alif menghindari Fakhri, perasaannya mengatakan kalau Fakhri tidak menyukainya lalu untuk apa bertemu kalau hanya untuk memupuk rasa benci di hatinya.
Setelah Fakhri tak terlihat, Alif pun masuk dan menemui Nindy.
"Tante, Alif menepati janji, sekarang Alif udah jenguk tante lagi," kata Alif seraya tersenyum.
Mendengar suaranya membuat Nindy menggerakkan jari telunjuknya dan bibirnya bergumam memanggil nama anaknya.
"Fakh-ri!" lirih Nindy dengan terbata.
Alif yang melihat itu pun segera memanggil dokter dengan menekan bel yang tidak jauh dari brangkar.
Tidak lama kemudian suster datang dan Alif menceritakan apa yang dilihatnya.
Suster pun segera keluar untuk memanggil dokter.
Seraya menunggu, Alif mengajak Nindy bicara dengan mengatakan kalau Fakhri ada dan baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian dokter datang untuk memeriksa.
Tentu saja, dokter segera memberitahu keluarga Dhev.
Dhev merasa kalau ini adalah keajaiban.
Sekarang, semua orang berkumpul dan Fakhri tak suka melihat Alif yang pertama kali melihat dan mendengar Nindy siuman.
****
Satu minggu berlalu dan selama itu Alif menjenguknya sebanyak dua kali dan Nindy menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Semua orang bahagia walau Nindy belum sepenuhnya sembuh, ia hanya bisa duduk di kursi roda dan ada yang menutupi kesedihannya dengan berpura-pura bahagia, orang itu adalah Fakhri yang sudah mengetahui siapa dirinya dan menyembunyikan itu dari semua orang. Fakhri merasa tidak perlu untuk membongkar semua yang perlu ia lakukan adalah hanya berpura-pura tidak mengetahuinya.
Fakhri juga semakin tidak menyukai Alif yang beberapa kali menjenguk Nindy dan berhasil membuatnya bangun, sedangkan dirinya sudah bertahun-tahun menunggu dan selalu mengajaknya berbicara tetapi tak sekalipun Nindy merespon.
"Sudah jelas, karena aku bukan anaknya!" kata Fakhri yang sedang mendorong kursi roda Nindy untuk berjalan-jalan supaya tidak bosan.
Sekarang, Nindy sudah berada di rumah Dhev, ia merasa kesepian karena Doni-nya telah tiada.
"Mah, kenapa?" tanya Fakhri yang sekarang duduk di bangku taman belakang, Fakhri menatap Nindy.
"Ada yang sakit?" tanyanya.
"Hati mamah yang sakit," jawab Nindy seraya menatap Fakhri.
"Mamah rindu papah kamu!" kata Nindy dan Amira yang berdiri di belakang Nindy itu mendengar, ia pun mengajak Nindy dan semua anggota keluarga untuk berziarah ke makam Doni.
****
Sementara itu, Ken semakin dibuat frustasi oleh sikap Bila yang semakin Acuh.
Sampai sekarang Ken belum juga mendapatkan pekerjaan yang menurutnya cocok.
"Ada kerjaan tapi OB, masa gue jadi OB sih!" gerutu Ken yang sedang meminum kopi di warung kopi.
Ken tidak berani mengirim pesan pada Bila karena Bila melarangnya sampai Ken mendapatkan pekerjaan yang pantas atau kembali ke keluarganya dan kembali bekerja di kantor.
Ken yang sudah tidak bisa bersabar lagi itu pergi ke kos Bila, ingin menanyakan bagaimana kelanjutan hubungannya dan sesampainya di sana Ken melihat Bila yang sedang masuk ke mobil mewah.
Ken mengikuti mobil itu yang ternyata membawa Bila ke hotel.
"Astaga, ngapain mereka ke hotel?" tanya Ken pada dirinya sendiri.
Setelah melihat dengan siapa Bila pergi semakin membuat Ken merasa hampir gila.
Bagaimana tidak, Bila pergi dengan Kenji yang merupakan musuh bebuyutan Kenzo sejak SD dulu.
Ken tak kuat menahan rasa sakit hatinya, ia mengikuti Bila dan ingin memergoki Bila. Ia ingin mengeluarkan amarahnya.
Ken sempat kehilangan jejak Bila dan Kenji karena ditahan oleh petugas hotel.
"Tapi dia pacar gue! Gimana gue bisa disuruh tunggu!" protes Ken seraya jari telunjuk yang menunjuk wajah petugas.
"Maaf, ini akan melanggar privasi! Dan ini sudah tugas saya untuk menjaga privasi pengunjung!"
Ken pun di seret keluar, dirinya hanya bisa menangis di trotoar, membayangkan kalau Bila sedang bermain kuda-kudaan bersama Kenji.
"Bil! Pantas aja lo menghindar dari aku! Ternyata kamu selingkuh!" kata Ken, pria itu merasakan sakit hatinya di duakan. Apakah kali ini akan membuat mata Ken terbuka lebar?
Sementara itu, di kamar hotel, Bila bukanlah sedang bersama dengan Kenji.
Bila pergi menemui pria yang belakangan ini mengancam akan menyebarkan vidio juga foto tidurnya dengan Bila.
Bila merasa tidak tahan lalu menceritakannya pada Kenji dan keduanya merencanakan sesuatu untuk si pria supaya berhenti mengancam.
Sekarang, Bila sudah di kamar dan si pria itu merasa tidak sabar, ia langsung memeluk Bila dari belakang dan membawanya segera ke ranjang.
"Akhirnya, lo datang juga! Kenapa susah sekali buat lo datang!" kata si pria yang terobsesi dengan Bila seraya melepaskan kaosnya, setelah itu si pria mulai melucuti semua yang melekat di tubuh Bila.
Dengan rakusnya ia segera mencium Bila dan sekarang turun ke gundukan kembar Bila.
Bila sempat menikmati apa yang dilakukan si pria sebelum akhirnya pria itu tak sadarkan diri setelah menghisap gunung kembar itu yang ternyata sudah diberi obat tidur oleh Bila.
Bila pun menertawakannya, lalu segera memakai kembali pakaiannya, setelah itu Bila memanggil Kenji untuk membatunya menggasak semua benda milik si pria.
"Bil. Apa yang lo lakuin? Kenapa bisa secepat ini dia pingsan?" tanya Kenji seraya merogoh semua saku celana si pria yang tergeletak di lantai.
Kenji melihat ada ktp lalu menggunakan ktp itu untuk mengambil pinjam online sampai limit 80 juta.
"Gue di lawan! Dia licik gue harus lebih licik!" kata Bila seraya mencari ponsel si pria di seluruh ruangan dan ternyata si pria juga telah merekam apa yang baru saja dilakukan menggunakan laptopnya.
Lumayan, malam ini seperti ketiban rejeki nomplok, mengambil pinjaman atas nama orang lain, uang cash, ponsel dan laptop, Bila dan Kenji berbagi hasil dari merampoknya.
Sekarang, Kenji mengantarkan Bila menjual semua barang itu dan setelahnya berpesta sampai puas di kelab langganannya.
Sementara itu, Kenzo sedang menunggu di depan kos Bila, entah apa yang Ken lakukan di sana. Apakah Ken menjadi semakin bodoh?
Bersambung.
Like dan komen ya, all 🤗